Sabtu, 04 November 2017

Saya dan Mbak S : Menuju Akhirnya

Ceritanya, saya punya temen. Sebut saja namanya Mbak S. Saya kenalan sama Mbak S ini sejak saya tahun ke-3 di kampus. Iya, sejak belajar metopen yang nilai saya jeblok banget itu-saking dudungnya saya sama statistik.

Banyak hal yang sudah sangat amat banyak yang terjadi sampai akhirnya saya sengaret ini. Eh maksudnya, sampai saya sangat lama kenal sama si Mbak S ini, sampai akhirnya saya akrab bingit. semester 6 itu berarti sekitar tahun 2014; dan sekarang saya di semester 11, dan ini tahun 2017. Uwah, Mbak, kita ternyata udah lama kenal ya :( (saya bahkan nggak tau harus sedih apa seneng). Tapi nggak papa, Mbak. Kita sedang menuju akhirnya. Kita sedang berjalan bareng menuju gerbang kehidupan berikutnya.

Dear, Mbak S. It's so nice to meet you. (haha, meski beberapa waktu lalu saya masih sangat nggak suka sama kamu, Mbak.)

Dear, Mbak S, selama kita kenal, banyak banget pelajaran yang saya dapetin. Yang bukan hanya tentang kamu. Tentang ma;rifatullah, tentang sabar, tentang kedewasaan, tentang kesiapan, tentang kecemasan, tentang rasa syukur, tentang berkumpul dengan orang sholeh, tentang harapan, tentang diri sendiri, dan tentang-tentang lainnya yang mungkin luput saya ingat detik saya menulis ini.

Dear, Mbak S. Selama kita kenal, ada banyak hal yang sudah saya alami, juga saya sadari. Saya sampe harus ke psikolog berapa kali tuh, Mbak haha. Saya depresi, saya cemas, saya mual, muntah meski bukan hyperemesis gravidarum (wkwk), saya panik, tapi juga bahagia. Somehow i also felt what you called by "guilty pleasure". Nano-nano banget rasanya. Jatuh. Bangun. Kepeleset. Jatuh lagi. Bangun lagi. Keseret. Jatuh lagi. Kesandung. Jatuh lagi. Jatuh lagi. Bangun lagi. Begitu seterusnya.

Dear Mbak S. Selama kita kenal, saya jadi menyadari hal-hal yang nggak pernah saya sadari sebelumnya. Tentang diri saya, tentang lingkungan saya. Tentang bahwa hidup ini jadi membahagiakan justru karena hal-hal kecil yang terjadi setiap harinya. Bersliweran, dan seringnya terlupa.

Dear Mbak S. Saya sungguh sungguh sunggggggguuuuh nggak suka kamu. Tapi aku nggak benci. cuma nggak suka aja. Haha.

Dear, Mbak S, terima kasih. Setelah saya berkenalan denganmu, saya rasa saya bisa menjadi sedikit lebih dewasa daripada saya kemarin. :)

Mari, melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit ini ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar