Senin, 20 November 2017

Setelah ini (2)

Setelah ini, ada banyak hal yang ingin diceritakan, dilakukan, dituangkan ke dalam karya atau apapun.
Setelah ini, kamu menjadi lebih dewasa satu langkah.

Tersenyumlah, karena kamu telah belajar banyak hal. Dan ke depannya akan lebih banyak lagi hal yang dapat dipelajari.
Tersenyumlah, karena kamu sudah menang.


Gedung Ghra Wiyata FK UGM
20 november 2017. Jam 11.22

Rabu, 08 November 2017

Laa haulaa wa laa quwwata illa billah.

Ya Rabb, sungguh tiada daya dan kekuatan selain dengan kehendak-Mu, Ya Rabb.

Kun fayakun,
jika Kau menginginkan sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Sungguh, Allah kuasa-Mu lebih besar dari apapun. Kekuatan-Mu lebih tangguh dari apapun. Kebesaran-Mu tidak ada duanya.


Selasa, 07 November 2017

give something ....

                              expect nothing.

Setelah ini ...

Setelah ini,
aku mau nulis yang banyak
aku mau nulis lagi tentang Adik, Bang Dya, sama Kak Nda
aku mau baca buku yang kemarin aku colong dari rumah
aku mau ngulang baca naruto dari awal sampe chapter 700
aku mau ngulang baca fairy tale sampe chapter 545
aku mau ngulang baca bleach lagi
aku mau ngulang baca eyeshield 21
aku mau ngulang baca shokugeki no souma
aku mau lanjut baca tower of god
aku mau lanjut baca noblesse
aku mau ngulang baca chihayafuru
aku mau  ngulang baca gokusen
aku mau baca fruit basket
aku mau baca haikyuu
aku mau baca ballroom e youkoso
aku mau nulis surat yang banyak buat banyak orang
aku mau main just dance yang lama
aku mau nonton haikyu season 3
aku mau nonton ulang pinocchio
aku mau main harmonica yang lama
aku mau genjreng genjreng pake gitar vita meski nggak jelas nggenjreng apaan
aku mau ikut kelas tahsin
aku mau belajar bahasa jawa
aku mau nulis di blog
aku mau ngirim surat ke ibu bapak
aku mau ngirim ngirim tulisan ke mana mana
aku mau makan es krim aice rasa mangga
aku mau makan es krim spongebob campina
aku mau minum strawberry milkshake pake float
aku mau makan roti tawar pake telor sama keju
aku mau makan indomie kuah rasa ayam spesial pake telor
aku mau bikin nutrijel mangga sama melon
aku mau nonton bioskop apapun filmnya
aku mau jalan-jalan ke taman pintar
aku mau main ke pantai sama 'afifah
aku mau nyanyi-nyanyi lagu ONE OK ROCK keras-keras
aku mau pulang ke depok dengan bahagia :)

[Saya dan Mbak S] Memori #3


ini omurice. Jelas bukan saya yang bikin. Saya mah cuma bisa masak emih pake telor, ato goreng-goreng makanan instan macam sosis atau nugget wkwk. Saya tuh susah banget makan, lebih tepatnya sering abai sama makan. Tapi temen saya satu kamar di kontrakan Baytul Quds part 2 (iya part 2, pas rumahnya masih di jalan sulawesi), namanya Nisa selalu jadi orang yang ngeladenin aku di kontrakan soal makan memakan ini.

Sebenarnya saya nggak expect sampai sering dimasakin sama Nisa gitu. Tapi kayaknya Nisa nya yang sangat amat terlalu perhatian sama temen kamarnya ini. Bisa jadi dia juga yang paling sering nanyain, 'Ty, udah makan?'

Y Rabb, Allah tuh kurang baik apa coba sama saya? Dikasih temen-temen superb yang kayak gini T.T

Senin, 06 November 2017

[Saya dan Mbak S] Memori #2



Saya sempet donlot-donlotin foto-foto semacam ini, dipajang di hape, biar saya inget bahwa saya bisa menyelesaikan semua ini. Biar saya inget kalo saya sedang berjuang melawan banyak hal, dan menerima banyak hal.

Sabtu, 04 November 2017

Saya harus Bahagia!

Sebenarnya saya baper liat grup wa. Seru ya, saya juga pengen deh ikut itu. Saya baper liat twitter. Seru ya,, saya pengen nulis kayak gitu juga. Saya nggak baper liat IG, karena IG saya udah lama saya uninstall, cuma occasionally aja buka via web.

Tapi saya nggak boleh baper, paling nggak sampai akhir november ini. Saya harus bahagia. Nggak boleh nge-down. Saya harus bahagia. Biar paling nggak, saya menyelesaikan semuanya dengan bahagia. Jadi, saya bisa ikut-ikutan yang saya baperin itu juga dengan bahagia.

Saya harus bahagia. Dan bahagia saya nggak terletak pada orang lain. Bahagia saya, ada pada diri saya sendiri.

Dan kebahagiaan saya tertinggi ada pada setiap niatan yang tertuju pada Sang Khaliq.
Ya Rabb, saya bahagia. Terima kasih, Allah, sudah membuat saya bahagia. :)

[Saya dan Mbak S] Memori #1 : Jadwal


Ini adalah foto Jadwal yang dibikinin Nida'. Nida' ini temen sekamar saya sekarang, temen SMA dulu, temen sekampus juga. Temen ngereceh bareng. Berapa kali ya Nida' bikinin aku sama 'Afifah jadwal nykripsi, tapi ya cuma awal-awal jadwal aja yang berjalan, selebihnya aku kabur wkwk.

Terus nida' juga yang sering reminderin jadwalnya. e tapi terusan pas dia masuk statse koas besar, kita sesama lupa jadwal wkwk.

:)

Saya dan Mbak S : Menuju Akhirnya

Ceritanya, saya punya temen. Sebut saja namanya Mbak S. Saya kenalan sama Mbak S ini sejak saya tahun ke-3 di kampus. Iya, sejak belajar metopen yang nilai saya jeblok banget itu-saking dudungnya saya sama statistik.

Banyak hal yang sudah sangat amat banyak yang terjadi sampai akhirnya saya sengaret ini. Eh maksudnya, sampai saya sangat lama kenal sama si Mbak S ini, sampai akhirnya saya akrab bingit. semester 6 itu berarti sekitar tahun 2014; dan sekarang saya di semester 11, dan ini tahun 2017. Uwah, Mbak, kita ternyata udah lama kenal ya :( (saya bahkan nggak tau harus sedih apa seneng). Tapi nggak papa, Mbak. Kita sedang menuju akhirnya. Kita sedang berjalan bareng menuju gerbang kehidupan berikutnya.

Dear, Mbak S. It's so nice to meet you. (haha, meski beberapa waktu lalu saya masih sangat nggak suka sama kamu, Mbak.)

Dear, Mbak S, selama kita kenal, banyak banget pelajaran yang saya dapetin. Yang bukan hanya tentang kamu. Tentang ma;rifatullah, tentang sabar, tentang kedewasaan, tentang kesiapan, tentang kecemasan, tentang rasa syukur, tentang berkumpul dengan orang sholeh, tentang harapan, tentang diri sendiri, dan tentang-tentang lainnya yang mungkin luput saya ingat detik saya menulis ini.

Dear, Mbak S. Selama kita kenal, ada banyak hal yang sudah saya alami, juga saya sadari. Saya sampe harus ke psikolog berapa kali tuh, Mbak haha. Saya depresi, saya cemas, saya mual, muntah meski bukan hyperemesis gravidarum (wkwk), saya panik, tapi juga bahagia. Somehow i also felt what you called by "guilty pleasure". Nano-nano banget rasanya. Jatuh. Bangun. Kepeleset. Jatuh lagi. Bangun lagi. Keseret. Jatuh lagi. Kesandung. Jatuh lagi. Jatuh lagi. Bangun lagi. Begitu seterusnya.

Dear Mbak S. Selama kita kenal, saya jadi menyadari hal-hal yang nggak pernah saya sadari sebelumnya. Tentang diri saya, tentang lingkungan saya. Tentang bahwa hidup ini jadi membahagiakan justru karena hal-hal kecil yang terjadi setiap harinya. Bersliweran, dan seringnya terlupa.

Dear Mbak S. Saya sungguh sungguh sunggggggguuuuh nggak suka kamu. Tapi aku nggak benci. cuma nggak suka aja. Haha.

Dear, Mbak S, terima kasih. Setelah saya berkenalan denganmu, saya rasa saya bisa menjadi sedikit lebih dewasa daripada saya kemarin. :)

Mari, melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit ini ...

Kamis, 02 November 2017

Chrome, Is That You?


Tiba-tiba aplikasi chrome kebuka sendiri pas nyalain laptop, dan muncul notifikasi semacam yang tertera di gambar.

"Give Chrome a Chance"

Padahal kayaknya dulu download mozilla firefox pake chrome.
.
.
.
Eh apa pake microsoft edge ya? wkwk

Chrome aja nggak nyerah Ty biar dia dipake, masa kamu mau nyerah? 
.
.
.
wkwk

Jumat, 20 Oktober 2017

Gusti

Allah, paringna
kawula
kekumiyatan
kaliyan
kesarantosan
lebet
ndumugekaken
urusan
-
urusan kawula

Kamis, 05 Oktober 2017

Screenshot Film Princess Agent Episode 26

Dying is always the easiest way

What really hard are
You have to live no matter how much you want to die

Selasa, 05 September 2017

Romansa di Jalan Dakwah

Adakah hal yang paling romantis daripada dua orang yang saling mencintai karena kecintaannya pada Sang Khaliq?

Adakah hal yang paling romantis daripada dua orang yang saling bahu membahu dalam perjuangan menuju kecintaan pada Penciptanya? Saling memikul harta dan jiwa. Memberi dorongan moriil maupun materi.

Adakah hal paling romantis daripada dua orang yang cintanya sehidup sesurga? Dua orang yang saling menarik juga mendorong untuk terus berada pada jalan menuju surga. Hingga hidupnya tak terhenti pada kebermanfaatan pribadi lantas ia hanya menjejak surga sendiri.

Adakah yang lebih romantis daripada dua orang yang hidup karena cintanya pada Sang Khaliq, dan senantiasa mengharap pertemuan dengan-Nya. Kerinduannya begitu membuncah, mendesak rongga dadanya. Gelisah. Syahid dirindukannya. Meninggal karena-Nya.

Adakah yang lebih romantis dari romansa di jalan dakwah?
Romansa tentang aku dan kamu yang tertaut hatinya karena Allah.

Romansa tentang aku dan kamu yang terpaut cintanya pada kebenaran yang Haq. Allah, Allah, dan Allah.

Romansa tentang aku dan kamu yang melambungkan kerinduannya akan pertemuan dengan Sang Khaliq pada doa-doa yang terpanjat setiap saat. Dalam dzikir lirih yang tidak diketahui semua orang.

Romansa yang tidak hanya berjalan secara horizontal. Hablumminannas. Tapi juga secara vertikal. Hablumminallah.

Romansa tentang perjuangan, peluh, darah, air mata, luka. Juga tentang senyum-senyum yang terukir di antaranya. Bahagia yang tercipta di sela-selanya. Tawa yang mengaung darinya. Juga cinta yang menautkan hati-hati yang taat.

Adakah romansa yang lebih indah daripada romansa di jalan dakwah?

Yang bercerita tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang Haq. Mahabbatullah.


-Kalasan, 6 September 2017. 00.20 WiB

Dan tentu engkau adalah salah satu perantara Allah yang mengenalkanku pada romansa di jalan dakwah, mbak Khalia. Tentang perjuangan berjama'ah. Tentang mempertahankan Aqidah. Tentang perjuangan melawan hawa nafsu. Dan tentang tentang lainnya, yang membawaku pada kecintaan yang bertambah-tambah pada Sang Khaliq.

Dear Mbak Khalia, sungguh, Mbak adalah sebentuk kasih sayangnya Allah untukku <3

Rabu, 30 Agustus 2017

Oleh-oleh dari Cangkrukan #1

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya berkesempatan menjadi volunteer di acara Cangkrukan sebagai tim P3K. Cangkrukan ini semacam sebuah family camp yang diadakan sama Om Dodik, Bulik Septi beserta anak-anaknya. Acaranya ngapain aja? Secara umum, dalam pelaksanaannya, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok : kelompok orang tua, yang acaranya sebagian besar adalah lecture ataupun sharing baik dari Om Dodik, Bulik Septi, Dek Enes, ataupun Ibu-Ibu/Bapak-Bapak yang hadir sebagai peserta maupun undangan; Kelompok remaja yang tampil dengan nama beken (jiaaah) teenchanger yang difasilitatori oleh Dek Elan; yang terakhir adalah kelompok krucils di kids corner yang didampingi oleh kakak-kakak dari Sekolah Lebah Putih, Salatiga.

Pada kelompok orang-orang tua bahasannya adalah tentang homeschool ataupun home based education, sebagaimana ranah konsentrasi Bulik Septi dan Om Dodik. Benar-benar kupas tuntas homeschool. Mulai dari kenapa homeschool? untung ruginya, kekhawatiran orang tua, dan sebagainya dan sebagainya. Pada saat Kamtasia (kemping keluarga di tahun 2016 dengan bahasan community based education, dengan penyelenggara yang sama, kebetuan saya juga menjadi volunteer P3K saat itu) padat lecture, tapi saat cangkrukan, sebagai mana namanya cangkrukan -yang kalau diartikan ke bahasa indonesia secara bebas artinya ngobrol bareng; lebih banyak nyangkruknya. Mungkin kalo bahasanya mas-mas dan mbak-mbak mahasiswa 'lebih banyak diskusi'nya gitu kali ya hehe.

Pada kelompok TeenChanger, mereka membuat project yang dari tema sampai projectnya apa ditentukan oleh mereka sendiri. Belajar bertanggungjawab. Kelompok ini didampingi oleh Elan yang juga sama-sama remajanya. Di Cangkrukan mereka dibagi ke beberapa kelompok untuk bikin project video tentang boardgame? (iya itu tanda tanya karena saya juga nggak ngeh banget apa yang mereka kerjakan, dan penjelesan Elan waktu presentasi agak njlimet haha).

Dan terakhir di kids corner isinya dedek-dedek krucils, yang bener-bener krucils (sekitarusia di bawah 10 tahun), mereka bersenang-senang bermain, outbond bersama kakak-kakak lebah putih.

Terus saya ngapain di sana? Haha.
Ini kali kedua saya jadi volunteer. Yang pertama saya jadi volunteer P3K juga di acara Kamtasia, acara sejenis cangkrukan juga, hanya pokok bahasannya aja yang beda. Waktu Kamtasia, saya dateng telat karena suatu hal, jadi acara udah mulai, saya baru dateng. Percaya deh dateng telat dalam suatu acara itu nggak enak, karena kita jadi kehilangan kesempatan untuk kenal dengan orang-orang lain. Saat orang-orang udah mulai kenal, terus kita baru kenalan-kenalan padahal itu udah masuk agenda lain, kan jadi nggak enak.

Waktu Kamtasia juga, di hari kedua saya nggak full di salatiga karena kudu LPJ-an, jadi saya pergi pagi balik siang Salatiga-Jogja, vice versa. Dan karena perjalanannya aja Jogja Salatiga aja udah makan waktu 2 jam sendiri, jadi hari kedua bener-bener saya nggak banyak ikut. Tapi Alhamdulillah, pas cangkrukan ini saya bisa ikut full. Dan qadarullah, pas kamtasia nggak banyak yang perlu diobati; sementara pas cangkrukan ini luar biasa para krucils itu. Haha. Nggak jarak jauh, udah ada aja yang ngehampirin, 'Mbak, mbak itu ada yang kakinya berdarah..' mulai dari lecet kena besi, lecet kepleset, lecet nggak tau kenapa habis shalat (ini yang nangis paling heboh, haha), lecet yang nggak tau udah sejak kapan (ini bahkan bocahnya ngegunting sendiri kulitnya yang sobek, luar biasa emang), yang kukunya sempal, lecet kegasruk, dan lecet-lecet lainnya. di akhir, masih sisa beberapa obat oral karena emang yang minta obat demam, alergi, obat maagh nggak banyak. yang berkurang banyak adalah betadin, kassa, hypafix, plester, kapas. Alhasil, melihat tolak angin junior yang masih utuh, kita-kita selaku volunteer merasa perlu menghabiskan dan mengemilnya, haha.

Di Cangkrukan ini juga saya ketemu dan kenalan sama banyak orang keren yang mungkin sebenrnya pas kamtasia kita udah ketemu, tapi ya karena lalalili, akhirnya saya baru benar-benar mengenal mereka sekarang. Ada tim volunteer lainnya selain saya sama 'Afifah (sebagai partnert di tim medis, yang akhirnya nyasar bantu-bantu di administrasi, ya saya juga sih ahaha), ada Lyris sama Lintang, usia 14 tahun yang sekarang sedang menjalani homeschooling. Dan kalau nanya anak homeschooling itu bukan tanya kelas berapa?, melainkan tanya, sekarang lagi belajar apa? Selidik punya selidik, Lyris ini lagi belajar musik, piano, biola, juga seni tari; di samping dia preparing untuk ambil ujian paket B biar dapet ijazah SMP aja. Begitu juga Lintang, eh tapi Lintang sedang mendalami seni rupa. Dan ketemu Lintang tuh langsung klop karena sesama penyuka anime dan manga. Hahaha. Mendadak heboh begitu kita tau sesama otaku.

Saya jadi kenal mbak-mbak pegawai di Padepokan Margosari (tempatnya Bulik Septi), ada Kak Anie dan Kak Yusti bagian administrasi, ada Kak Erma (yang ternyata seumuran --a) di Edutrip (start up di bidang trip edukasi gitu, tapi ke area-area yang emang di Salatiga ataupun punya komunitasnya Bulik Septi, semacam ke lebah putih, dll), ada Kak Noor di Teti (start up yang membuka coding course yang menyenangkan?; well, buat saya tetep aja kalo ada angkanya jadi bingung haha, tapi boardgamenya teti seru deh, saya sempet main bareng-bareng volunteer).

Kenal sama beberapa tante dan om peserta cangkrukan yang luar biasa. Ada tante (siapa ya namanya ya? haha) yang share tentang bagaimana beliau membuat kurikulum di rumahnya untuk anak-anaknya yang homeschooling dengan metode gamification. Dan tante-tante dan om-om lainnya yang juga menyulut semangat belajar saya hanya dengan memperhatikan mereka. Mereka luar biasa. Saya yakin biaya yang dikeluarkan untuk family camp itu nggak sedikit. Apalagi, di Cangkrukan semua fasilitas disediakan, tenda, matras, sleeping bag, makan, coffee break, minum dan galon, kit yang isinya kaos, tote bag dan notebook. Bisa dibilang keluarga dateng udah tinggal bawa perlengkapan pribadi, sama diri aja. Ya kalo mau bawa cemilan-cemilan itu mah bebas ya. Haha.

Dengan seringnya saya berinteraksi dan bersinggungan dengan Bulik Septi, keluarga dan acaranya, saya jadi sedikit banyak memahami tentang homeschooling, dan terjawab pula beberapa pertanyaan yang umum muncul, semacam, nanti kalo homeschooling, anak-anak interaksinya gimana? homeschooling mahal kan ya karena harus menghadirkan guru ke rumah? (itu homeschooling atau privat bu? haha) Nanti menyusun kurikulumnya gimana? Dan sebagainya dan sebagainya.

Jarang sekali ada kesempatan dimana kamu dapat ilmu luar biasa banyak, luar biasa keren, dan secara gratis. (iya, saya masuk secara gratis sebagai volunteer, dengan syarat membantu penanganan pertama orang-orang yang sakit, itu aja.). Dan saya merasa betapa luar biasanya hal itu. Alhamdulillahnya, saya ditemani 'Afifah sebagai partnert. 'Afifah adalah teman saya sejak SMA, konco kentel bangetlah. Dan 'Afifah ini teman luar biasa untuk diajak ngobrol dan berkontemplasi. Jadi, setelah sehari selesai, kemudian ada masa dimana saya ngobrolin materi hari sebelumnya sama 'Afifah, mengkontemplasikan dan mengkorelasikan dengan hal-hal yang sudah kami terima selama ini.

well, Sekian dulu catatan oleh-oleh dari Cangkrukan. Semoga berkesempatan menulis bagian kedua (dan ketiganya kalau ada).

 

Simple Plan - SUMMER PARADISE feat. Taka from ONE OK ROCK

Kamis, 24 Agustus 2017

selingan

Pikiran saya sedikit refresh setelah menulis lagi. Memang menulis sudah menjadi kebutuhan rupanya.

Rasanya Malu

Belakangan, rasanya saya malu bertemu adik-adik binaan di halaqah. Semangat mereka masih membara, sebagaimana anak-anak tingkat satu-tingkat dua kuliah. Sudah setahun ini berjalan bareng dengan adek-adek yang sekarang saya pegang. Sejujurnya, saya nggak tau apakah saya sudah jadi murabbi yang baik atau belum, toh sepanjang tahun saya megang bertepatan dengan social anxiety saya yang semakin parah. Saya banyak ngilang dari mereka. Dan mungkin, dari sana saya banyak dzhalim.

Lalu, rasanya lebih malu lagi ketika mereka dengan semangat nanyain kabar saya, sementara saya jarang tanya kabar mereka. Dengan semangat nanya kapan liqo, sementara saya masih belum menyiapkan kurikulum untuk beberapa minggu ke depan. dengan semangat bertanya banyak hal saat halaqah, sementara saya jawabnya seringkali normatif.

Saya malu mengakui diri saya murabbi, yang seharusnya menjadi pendidik akan karakter daawy adik-adik. Sementara, justru setahun ke belakang saya stagnan atau bahkan mengalami kemunduran.. Saya malu pada adik-adik yang setiap harinya semakin berkembang, sementara saya selalu bilang, yang namanya dakwah itu, 'kita jadi baik dan mengajak orang lain menjadi baik juga'. Jadi baiknya bareng-bareng. Tapi, rasanya saya menelan sendiri omongan saya. Saya masih stagnan.

Setahun ke belakang saya memang banyak membahas seputar tauhid, seputar aqidah, seputar sirah, sembari sedikit-sedikit menyerempet dakwah; agar nanti kerja-kerja mereka bukanlah karena mereka harus berdakwah. Tapi karena memang kecintaan mereka pada Allah. Pun seandainya saat jenuh menyapa, mereka bisa mengengiat apa-apa yang telah kami pelajari bareng-bareng; sebagaimana saya selama ini.

Lalu pekan lalu saat bertemu dengan mereka, mereka mulai mempertanyakan, mulai mencerna value-value yang memang seharusnya seorang dai punya. Visi dakwah. "Mbak, dulu aku ikut organisasi karena mau ngisi waktu aja, terus sekarang banyak dapet tentang dakwah, tentang ini, tentang itu, terus aku jadi bingung." Katanya. Dear, kebingungan adalah tanda bahwa mereka belajar. Tinggal bagaimana merumuskan langkah setelah kebingungan itu.

Tapi, justru rasanya saya tertohok dengan hal-hal polos yang mereka lontarkan. Hasil dari segala kebingungan, kegelisahan mereka. Mereka belajar. Saya? Apa yang sudah saya dapat selama mengelola halaqah mereka setahun ke belakang? Apakah itu mendorong saya menjadi lebih baik? Atau apa?

Setahun terakhir memang tahun yang berat buat saya. Saya depresi. Saya cemas. Saya membuat keputusan-keputusan besar, memilah dan memilih mana yang bisa mendukung kehidupan dan dakwah saya, mana yang perlu saya lepas. Waktu-waktu kritis di penghujung kuliah dan di penghujung jabatan organisasi ekstrakampus juga. Tapi, harusnya saya belajar sesuatu. Nyatanya saya masih merasa stagnan. stagnan dalam kondisi yang begini-begini aja. Ketakutan untuk melangkah. Ketakutan untuk merencanakan. Saya merasa tidak banyak berkontribusi untuk apapun selama setahun ke belakang. Untuk organisasi yang saya ikuti, untuk dakwah, untuk apapunlah.

Dari situ, saya mengingat kembali tentang hijrah. Saya jadi paham mengapa berhijrah itu penting. Karena dengan berhijrah, kita jadi bisa melihat lebih jelas hal-hal yang tidak kita lihat dalam kondisi sebelumnya. Karena dengan berhijrah kita jadi menemukan hal baru, semangat baru, tantangan baru. Karena dengan berhijrah, kita jadi bersyukur.

Saya harus segera berhijrah dari kondisi saya yang masih mahasiswa S1. Saya harus bergerak, biar saya yang udah mlempem ini nggak semakin mlempem. Biar adik-adik saya nggak ikut mlempem karena saya. Biar adik-adik saya bisa jadi adik-adik yang lebih keren dari saya. Lebih keren dari generasi murobbi saya.

Seandainya saya nggak terlanjur jatuh cinta sama membina dan adik-adik saya, sudah saya tinggalkan sejak dulu karena saya benar-benar malu dengan kondisi saya yang menjadi murobbi ala kadarnya. :(

Ada Masanya

Ada masanya aku sangat ingin melepaskan diri dari jalan ini.
Lalu kemudian berpikir, setelah ini apa? Maka, aku mencoba mencintai. Karena katanya mencintai adalah kata kerja.

Ada masanya aku ingin menyerah dari apa-apa yang aku lakukan sekarang.
Lalu kemudian berpikir, setelah ini apa? Maka aku menyerah berpikir untuk menyerah. Karena katanya sudah terlanjur basah.

Ada masanya aku ingin melepaskan semua yang terasa memberatkan. Meski katanya yang memberatkan itu bisa jadi justru yang baik bagiku.Lalu, aku berpikir, lantas bagaimana? Maka kemudian, aku meneruskan menggenggamnya di tangan, meski tergopoh-gopoh.

Tapi kata orang, ada masanya kita harus melepas beberapa. Menyerah beberapa. Membuang beberapa. Sehingga kita bisa maju.

Tapi rupanya, kecemasanku lebih besar daripada keinginanku melepas, menyerah, membuang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan pada akhirnya, aku membawa semuanya.
Bersama dengan kecemasan.

Jumat, 11 Agustus 2017

Jakal dan Margonda

Belakangan, jakal mengingatkan saya pada jalanan margonda. Macet, penuh mobil, juga penuh motor. Terutama di jam-jam berangkat kerja dan sekolah juga pada jam-jam pulangnya.

Sekesal-kesalnya saya, meski saya badmood juga kalo udah macet di jakal, tapi rasanya saya jadi bisa bernostalgi tentang depok -yang udah lama tidak saya lihat. Meski jelas beda. kulturnya juga beda. but, somehow saya jadi kangen sama Depok.

Saya jadi ingat temen-temen IC yang kerja di jabodetabek, ya mereka-mau nggak mau-menikmati kemacetan jabodetabek, apalagi mereka berangkat dan pulang bersamaan. rush hour. Mau kesel atau badmood juga, gimana gitu? Orang udah jadi makanan tiap hari.

Kalau ada orang bilang, kok mau sih tinggal di jabodetabek? kan macet. Saya juga nggak tau harus jawab apa. Saya udah tinggal di sana sejak sebelum lahir. Jadi, saya menikmati Depok dan segala kemacetannya. Because it just what makes depok become depok. Dan itu berlaku pada semua jabodetabek.

Haha, mungkin karena saya nggak tinggal setiap hari di depok? Haha. Jadi saya bisa menikmati kemacetan Depok yang jarang banget saya nikmati. Saya jadi belajar, semakin terbiasa kita pada suatu keadaan, semakin kita tidak bersyukur. Eh, semakin sulit kita bersyukur. Misal, kita terbiasa makan enak, terus karena setiap hari kita makan enak, seringkali kitanya jadi luput untuk bersyukur akan makanan yang kita makan setiap hari itu.

Dari situ juga saya jadi paham kenapa Allah menyuruh orang muslim untuk hijrah, Rasulullah mencontohkan, ulama terdahulu pun. Karena berdiam pada suatu kondisi dalam jangka waktu lama membuat kita jadi nyaman pada kondisi itu, dan bisa bikin kita jadi luput untuk mensyukuri hal-hal kecil.

Ah, saya rindu depok.

Selasa, 08 Agustus 2017

Toleransi

Tulisan ini bukan tulisan intelek tentang bagaimana bertoleransi. Pun juga bukan (semoga bukan) tulisan ofensif terhadap siapapun, apapun. Sejujurnya saya belakangan takut untuk menulis ini itu, meskipun, apa yang saya tulis bukan tulisan kece nan keren yang bisa dapat perhatian darimana-mana. cuma tulisan curcol ecek-ecek. Tapi, hey, tulisan curhat aja sekarang bisa kena UU ITE mengatasnamakan perbuatan tidak menyenangkan, mencemari nama baik, dsb, dsb.

bukan itu sih. Saya mau curcol aja, betapa enegnya saya dengan isu toleransi yang sedang sangat mencuat di Indonesia. eneg-seeneg-enegnya. isu SARA itu selalu tajam untuk dibahas. tapi sayangnya, sulit untuk meniadakan persoalan SARA dalam kehidupan. karena bahkan hidup saya sebagai seorang muslim, sudah diatur oleh agama saya sejak bangun tidur sampai tidur lagi, sejak kecil sampa besar, perkara individu ataupun kemasyarakatan, perkara Tuhan ataupun kemanusiaan. Terus, gimana ceritanya saya memisahkan hidup saya dan obrolan saya dari agama? bahkan pandangan hidup saya pun berada dalam frame Islam, yang sudah diajarkan pada saya sejak kecil. (njuk, ada yang bilang yang seperti ini ekstrimis lagi -,- duh saya gak paham lagi).

belum lagi, tata krama saya dibangun dan dididik sebagai orang jawa yang banyak unggah ungguhnya, sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua saya, dan orang tua-orang tua saya lainnya (semacam guru, tante, om, bude, pakdhe, eyang).

Apakah ini efek dari sosial media? Hingga isu-isu ini jadi semakin tajam. Isu toleran-intoleran lah, isu SARA lah, dsb dsb.

Beberapa tahun lalu, ada beberapa teman yang masuk salah satu pondok pesantren mahasiswa yang punya bahasan idealisme "islam moderat". Kami bahas tentang Islam moderat ini beberapa kali.Saya berasumsi yang dimaksud dari Islam moderat ini -mungkin adalah islam yang tawazun, karena memang umat Islam diarahkan oleh Rasulullah untuk tawazun. Tawazun akan dunia dan akhirat. But, somehow, banyak orang mengartikan Islam moderat ini menjadi Islam toleran. Nggak salah juga sih.

njuk, muncul pertanyaan, toleran ini apa? batasnya sampai mana? Nah loh. Saya aja sampe bingung. Sekarang mudah sekali orang bilang dan 'menuduh' kalau perilaku x, ucapan x, perbuatan x itu termasuk sikap intoleransi, lantas perilaku y, ucapan y, perbuatan y termasuk sikap toleransi. (apa itu x apa itu y, silakan terjemahkan masing-masing, saya nggak mau bikin tulisan ini semakin ofensif).

Kemudian, dalam rentang waktu yang bersamaan, saya baca tulisan yang dishare sama kakak kelas saya terkait Islam moderat ini. Saya lupa siapa yang nulis, sumbernya juga apa, si kakak ini ngeshare via sosmednya, intinya bilang bahwa si penulis bilang kalau dia Islam. Ya, cukup itu aja. Bukan Islam ekstrimis, bukan Islam toleran, bukan juga Islam moderat. Karena Islam yang benar adalah Islam. Yang sesuai sama Al-Quran dan Assunnah, pedoman hakiki yang udah ditinggalin Rasulullah untuk orang-orang yang lahir setelah wafatnya beliau.

Tapi yaudahlah ya, mari sibukkan diri ngaji Quran, ngaji sunnah, ngaji fiqh dan ilmu-ilmu lainnya, biar nggak keserimpet sendiri sama istilah toleransi-intoleransi, istilah ekstrimis, moderat, maupun liberal. Karena kata murobbi saya, semakin dalam ilmu yang kita punya, harusnya semakin kita tidak mudah menjudge orang. Seumpama anda menemukan saya masih sangat terlalu judgemental dalam tulisan-tulisan saya maupun secara personal, bisa jadi karena memang ilmu saya yang masih sangat seiprit.

Yasudah sudahi saja tulisan tidak berfaedah ini, njuk segera ganti tab ke ms word, ms excel, dan spss.




Senin, 24 Juli 2017

Agustus (lagi)

Sebentar lagi Agustus (lagi).

Dimana, kebosanan akan bertemu dengan kepanikan, bergabung menjadi kecemasan.

Ya Rabb, Ya Rabb, sungguh tiada daya dan upaya selain milikMU semata....

Jumat, 19 Mei 2017

Talk to myself

it's been five days since musywil of FLP Jogja. I truly became a neet now. I was lazying around this whole week. And worrying too much about what will I do after this. Well, for the first time after entering college, I dont have any structural position in some organization. I started to realize that being busy is one of His blessing that often forgotten.

Too much spare time is not good for your healthy, though. -_-

And it's been two days since I got dyspepsia. while I'm enduring the ache of my stomach, I keep starring at the blank page of document on my laptop. I'm drowning in my own thought, my own anxious. worrying about what i should do after this. worrying about the LPJ which I should revise. worrying about the data set which i abandoned this past two weeks. worrying about the life after graduation.

Even though I remember every session I took with my psychologist, but it's not easy to overcome the anxious, to stop the thought of being useless. to stop being a perfectionist. :(

Well, I should stop this -unrealistic-personal-rules within me.

Okey, let's think. I have the data set to finish. I have halaqah to care. And remember that I just joined an online institute.See? I'm not useless at all. I still have the will to learn. So dont stop now just because my irrational worry. Stop being so perfectionist. no one think that you're useless, it's just you. the one with that thought is you. You should treasure yourself more. just like yous said to one of your sister last week. Because, no one will treasure you, except yourself.

the thought is just the thought. the thought is not a fact. (it's the words from my psychologist).

So, your thought is not a fact. And your thought is controlling your feeling. if you stop overthinking, you stop being anxious.

your thought is just a thought. the thought is not a fact.

semangat! mungkin semuanya nggak perlu dilawan, cuma perlu diterima, dan berjuang bersama dengan segala anxious yang dipunya.

(sorry for bad grammar, i just finished some chapters of online comic, and it influenced me to using english wkwkwk .-.)

Kamis, 11 Mei 2017

Ngalor Ngidul

sudah seminggu lebih saya mengalami kesulitan tidur, bahasa kerennya insomnia. Meski sudah berkali-ali mengalami LPJ-an, tapi tetap saja rasa tegangnya tidak pernah sedikitpun berkurang. Justru bertambah seiring dengan bertambahnya usiaku (?).

Sebelum-sebelumnya saya mengalami prosesi LPJ dan persiapannya sebagai staff atau kepala divisi. Mulai dari staff divisi Imtaq di tahun 2010, kadiv Imtaq di tahun 2011, staff media opini kalam di tahun 2013, kadiv media opini alam di tahun 2014, dewan pertimbangan kalam di tahun 2015, staff creative media FLP di tahun yang sama, yang terakhir kemarin, ketua Bimo forsalamm di tahun 2016. Dan, saat saya menulis ini jelang 2 hari untuk musyawarah wilayah FLP Jogja.

Dan saya baru tahu kalau jelang LPJ-an, sestres ini menjadi sekretaris. Di saat kamu juga harus menyiapkan teknis (dan ini berarti mengorganisasikan orang-orang -dan tentu ini sangat stresful buat saya yang punya social anxiety), juga menyusun LPJ yang sampai detik ini masih ada yg belum mengumpulkan.

Meski tentu ada faktor-faktor penambah stres lainnya macam dikejar-kejar dosen untuk segera menyelesaikan olahan data (yang bahkan belum saya sentuh), juga satu dan hal lain..

Sejujurnya, setiap harinya saya pengen banget teriak-teriak. Tapi takut dikira makin sedeng. Akan lebih baik kalau bisa nangis sih. But, i couldnt. Saya cuma duduk terpaku di depan laptop, bengong. Atau guling-guling baca komik atau nonton yucub yang ga ada faedahnya. Mau nontonin kajian lagi sebenernya tapi njuk ngerasa tertuduh dan jleb-jleb, akhirnya langsung ganti nontonin hal yang nggak berfaedah lagi.

Ya Rabb, saya nggak paham lagi. Sepertinya malam ini saya nggak tidur. (meski kalo akhirnya tidur, ya Alhamdulillah).

pengen teria. pengen teriak. pengen teriak. pengen teriak.

well, saya nulis ini cuma buat nyampah sih. menumpahkan segala kecemasan yang nggak ada ujungnya ini. (Tapi saya nggak mau dikomentarin, 'ngga usah cemas, tyani', it's just like adding bunch of salt on the scar. Kalo ada orang dengan anxietas dibilang 'ngga usah cemas' malah justru kadang semakin cemas, karena dia jadi mikir lagi, 'apakah harusnya saya nggak cemas?' 'apakah saya lebai cemasnya?' and so on.).

yaudahlah

Kamis, 20 April 2017

Randomly Talk (3)

Dan hidup di antara cemas dan depresi itu sa.ngat. a.mat. melelahkan.

Itu seperti,
pikiranmu hidup di masa lalu, lalu melompat ke masa depan, sedang ragamu hidup hari ini. Tanpa nyawa.

Randomly talk (2)

Hidup dalam kecemasan itu sangat melelahkan. 

Ketika kamu, tanpa diminta atau meminta, cemas bagaimana caranya berbicara dengan orang baru. Bagaimana jika nanti kamu salah berbicara dengan orang itu. Bagaimana jika nanti orang yang kamu ajak bicara itu tidak nyaman denganmu karena mungkin kamu terlalu banyak bicara, atau terlalu sedikit bicara, atau kehabisan ide, atau mungkin penampilanmu membuatnya tidak nyaman, atau lainnya, atau lainnya.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas bahkan saat Kan membeli makan. Nanti bagaimana cara memesannya. Bagaimana kalau kamu salah cara memesan. Bagaimana jika ternyata meski kamu panggil waiters, tapi tidak ada yang menyahut, lalu kamu diam berjam2 memandangi menu, terlalu takut untuk memanggil kembali waiters. Atau bagaimana jika sebenarnya para waiters ini menganggap dirimu tidak sopan. Bagaimana jika ternyata menu yang sangat diinginkan habis. Bagaimana jika kamu tidak jadi memesan karena tidak ada menu yang kamu inginkan. Bagaimana jika kamu ternyata tidak menghabiskan makan, perutmu sudah kenyang, sementara kamu terpikir, jangan-jangan di antara pegawai rumah makan ini pun ada yang kekurangan makan, sementara kamu membuang-buang makanan. Bagaimana jika kamu ingin meminta bungkus dan lalu harus kembali berhadapan dengan orang, yang sudah barangtentu sangat mencemaskanmu. 

Pada akhirnya, kamu melewati semua rumah makan. Dan memilih memak mie instan, yang sudah berhari-hari pula kamu makan.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas untuk kembali hadir di kampus yang sudah lama kau tinggalkan. Bagaimana jika nanti kamu bertemu adek kelasmu, lalu dia mulai bertanya -yang sebenarnya tidak berniat menyinggung, tapi kamu tidak mampu menjawab dan mungkin seidikit banyak pertanyaan itu menyinggung. Bagaimana jika kamu bertemu dosen lama mu di kampus sembari kamu jalan. Kamu harus menyapakah? Atau pura-pura tidak kenal? Bagaimana ketika kamu mencoba menyapa, tapi ternyata beliau tidak ngeh, dan kemudian membuatmu malu. Atau bagaimana jika tiba-tiba justru beliau yang bertanya. Tentang ini maupun tentang itu, yang membuatmu semakin tidak nyaman. Bagaimana jika kamu bertemu dengan dosen lain yang tidak ingin kamu temui, kemudian kamu kembali cemas harus menyapa atau tidak. Lantas memilih tidak menyapa, dan kemudian bagaimana jika keputusan itu justru berujung masalah? Bagaimana jika kamu bertemu kakak angkatanmu yang mulai menggoda ini itu dan kemudian membuatmu iri, sementara kamu sangat takut bila mulai iri, kamu akan mulai membanding- bandingkan dirimu dengan yang lain.

Lalu kamu mulai merasa tidak berguna, dan tidak ada apa-apanya. Kamu mulai depresi.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas ketika harus hadir rapat -meski itu kamu yang menjadi penanggung jawabnya. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya kamu memimpin forum dengan serius tapi santai. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya mencapai tujuan rapat hari itu. kamu cemas dengan bagaimana reaksi orang terhadap sikapmu hari itu. Kamu cemas seandainya hal-hal yang dirapatkan tidak berjalan sesuai dengan rencanamu. Kamu cemas jika kamu ditanya sementara, kamu tidak dapat menjawab. Kamu cemas kamu tidak dapat mempertanggungjawabkan hal yang seharusnya pekan lalu kamu kerjakan. Kamu cemas jika yang lebih tinggi jabatannya memandangmu konyol dan tidak capable. Kamu pun cemas jika subordinat mu memandangmu tidak layak memimpin.

Padahal bahkan, kamu tidak punya harapan untuk dirimu sendiri. Kamu sudah lama mengurangi harapan, agar tidak lagi menambah kecemasan-kecemasan lain.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas harus presentasi atau berbicara mengisi forum. Kamu cemas bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan, Kamu cemas jika penonton tidak berkenan atau bosan mendengarmu. Kamu cemas jika penyimak tidak paham apa yang kamu sampaikan. Kamu cemas terdengar menggurui. Kamu cemas kamu tiba-tiba blank di tengah kamu menyampaikan. Kamu cemas jika tidak mampu menjawab audiens. Kamu cemas jika kamu tergagap di tengah. Kamu cemas dan cemas dan cemas.

Semua kecemasan itu sering pula bercampur menjadi satu, hingga tidak lagi tahu sebab dari kecemasan itu sendiri. Cemasnya mengaduk-aduk perut, membuat mual, hingga muntah.

berbutir-butir obat mual ataupun obat maagh tidak mampu menahan mualnya. 

Kamu menghilang dari manapun. Menyisakan ruang yang hanya terisi kamu dan pikiranmu, menatanya. Satu hari. Kamu masih cemas. Dua hari. Cemasnya masih belum hilang, rencana belum tersusun. Tiga hari. Cemasnya belum hilang, hingga kamu tak sadar bahwa sudah berhari-hari kamu di sana. Berusaha menekan cemas itu agar tak mengganggu orang.

Tapi cemas itu tidak mudah pergi. Ia di sana ketika kamu keluar dari persembunyianmu. Hanya saja dalem fase dorman. Hingga suatu waktu nanti, ia bisa kembali aktif bagai bom waktu. Dan membuatmu cemas lagi.

Kamu cemas. Dan terus cemas. Ketika kamu bercerita ke orang tentang kecemasanmu, reaksi mereka bahkan sama dengan logikamu, sama dengan keinginanmu. "Nggak usah cemas," atau, "nggak usah mikir kemana-mana," atau bahkan, "tidak usah berlebihan,".

Lalu kamu berpikir, bagaimana caranya untuk tidak cemas? Seandainya mudah bagimu untuk tidak cemas. Seandainya mudah bagimu untuk menyuruh kepalamu diam dan tidak lagi mencemaskan hal yang tidak perlu. Seandainya semudah itu, sudah sejak dulu mungkin kamu lakukan, hingga kamu tidak perlu lelah setiap harinya karena cemas.

Seandainya ...

Dan seandainya-seandainya itu membuat cemas bahwa kamu akan cemas di kemudian hari untuk yang ke sekian ratus ribu juta kalinya, untuk hal-hal yang orang lain tidak cemas.

 
 


Rabu, 19 April 2017

Randomly talk

Kamu pernah ngerasa depresi?

Dimana hari-harimu menjadi terasa lebih cepat saat siang dan lebih panjang saat malam. Di saat yang biasa kamu lakukan adalah tidur karena lelah menangis atau terbangun tengah malam lantas menangis lagi. Tidur tidak lagi bisa membuatmu lupa terhadap masalah, karena masalahmu turut masuk ke dalam mimpi. Bertransformasi menjadi sebentuk rupa menakutkan. Membangunkanmu. Tidur yang kamu kira sudah berjam-jam, dan kamu berharap pagi sudah datang ketika kamu membuka mata, pupus sudah. Kamu hanya tidur sekian menit. Sepersekian jam. Dan kamu terbangun lelah setelah berkejaran dengan masalahmu di dalam mimpi.

Kamu terbangun dan menangis. Separuh dirimu tau kamu harus tidur. Separuh yang lain terlalu takut tidur. Separuh yang lain cemas dirinya belum melakukan apapun hingga tak lagi mampu tidur. Bahkan meski kamu memejamkan mata berjam-jam seperti biasanya. Kamu hanya di sana, terjaga, sembari memejamkan mata. Dan itu membuatmu frustasi, hingga yang keluar dari mulutmu cuma isak tangis, yang sudah beberapa hari membersamai malammu.

Lagi-lagi, malam terasa panjang.

Dan saat pagi tiba, kamu bahkan enggan untuk beranjak dari kasur. Sisa mengantuk semalam masih menggelayut. Bercampur dengan keengganan bertemu manusia lainnya. Karena, itu hanya akan membuat depresimu lebih buruk saat kembali. Saat kamu keluar, kamu melihat temanmu yang dengan kerennya berbicara di depan forum. Sementara, kamu merasa tidak mampu. Saat kamu keluar, kamu melihat temanmu tertawa, sementara kamu terpaksa tertawa, karena bahkan kamu lupa caranya tertawa! Saat kamu keluar kamu melihat temanmu berkelakar, tentang betapa jeleknya dirimu saat ini, tapi kamu bahkan tidak bisa menanggapi kelakarnya. Saat itu kamu menjadi 100% yakin akan jeleknya dirimu, secara fisik maupun kepribadian.

Saat kamu keluar, kamu melihat teman-temanmu menyelesaikan masalahmu, satu per satu. Tapi kamu jadi enggan, bahkan, untuk mencampuri masalahmu sendiri. Sudah ada ternyata yang menyelesaikan, pikirmu. Kemudian kamu berpikir, ternyata aku tidak berguna dalam menyelesaikan masalahku sendiri.

And the rest of the day, you just couldn't stop thinking that you are useless. Dan setiap harinya semakin tidak berguna.

Kemudian kamu berpikir, apa nilai gunamu dalam hidup?
Tidak ada.
Apa kamu bermanfaat untuk orang lain?
Tidak.
Apa kamu bahkan berguna untuk dirimu sendiri?
Tidak.
Lalu, buat apa kamu hidup?
Tidak tahu.

Lalu ide itu terasa tepat untuk kondisimu saat ini. Kamu yang tidak berguna, juga tidak jelas hidup untuk apa. Mati mungkin solusi. Diakhiri saja hidup ini lebih cepat, toh kamu hidup dengan tidak berguna.

Tidak ada nilainya. Bahkan untuk dirimu sendiri.

Dalam masa-masa itu, yang orang tahu kamu menghilang dari peredaran. Baik di sosmed maupun di kehidupan riil. Mereka mengira kamu baik-baik saja, atau bahkan kamu sedang berlibur dari semua masalahmu, atau apalah!

Yang sebenarnya terjadi adalah, kamu melawan dirimu setiap hari. Hidup di antara badan yang masih terbangun setiap harinya, dan pikiran yang terus menginginkan kematian. Kamu melawan dirimu setiap hari berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif dan merubahnya jadi positif, tapi ternyata bahkan tidak satu pun pikiran positif hinggap dalam otakmu. Kamu berusaha mengingat Tuhan, tapi bahkan kamu tidak tahu Tuhan dimana, seperti apa, dan kenapa masih membiarkanmu hidup!

Dan segala pelajaran tentang Tuhan sejak kecil itu, menguap entah kemana. Meski kamu tetap berusaha mengingatnya.

Yang orang tahu, kamu hanya menghilang. Menjadi orang asosial atau sombong. Dan mungkin, tidak sedikit juga yang menganggap kamu sudah enggan mengkontak mereka karena tidak penting.

Kamu pernah?

.
.
.
Salatiga, 19 April 2017
Karena depresi bersifat reversible, dan laten. Yang tahu hanya si orang tersebut. Karena perjuangan orang melawan apa, tidak semua orang tahu.

Kamis, 09 Maret 2017

Di rumah

Di rumah, kamu bukan aktivis dakwah yg kudu syuro ke sana kemari
Di rumah, kamu bukan Murobbi,
Di rumah, kamu bukan anggota aktif ataupun sekretaris Forum Lingkar Pena wilayah DI Yogyakarya
Di rumah, kamu bukan eks ketua bimo forsalamm

Di rumah,
Kamu cuma anak bungsunya Bapak Ibu
Juga Adik paling kecilnya Mbak dan Mas.

Di rumah,
.
.
Ternyata senyaman ini.

.
.
.
.
Tau gitu pulang dari dulu yah, tyani?

Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
9.03.2017. 20.24.
Tidak ingin beranjak pergi.

Kamis, 02 Februari 2017

Hati yang lemah datangnya dari hati yang jauh dari Allah.

Kalo hari ini hati ini masih merindukan hal duniawi, barangkali hati ini belum utuh mencintai Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Segalanya, Yang Maha Dicintai lagi Maha Pemurah.

Playlist Skripsi #4 : Isyana Sarasvati - Keep Being You

Cerita Skripsi : Membaca dan Menulis

Menulis itu perkara apa yang ia baca.
.
.
Kalau membaca saja tidak mau, bagaimana mau menulis?

***

Ini ceritanya sedang merenungkan keyword seperti apa yang harus dipakai supaya bisa dapet jurnal atau bacaan yang tepat.

Minggu, 22 Januari 2017

Doa #2

Harusnya, kita nggak mengeluh ya ketika mendapat ujian dari Allah berupa hal yang sulit dilalui, entah itu perkara musibah, atau apapun yang menurut kita sulit untuk kita lalui hari ini. Karena bisa jadi itu adalah sebentuk pengabulan doa yang pernah kita panjatkan di masa lalu.

Misalnya, kiat minta sama Allah supaya jadi anak yang nggak cengeng, terus dikabulin doanya sama Allah dengan cara kita 'dipindahkan' ke kota antah berantah. Di sana banyaaak banget hal mungkin bikin kita jadi mudah nangis. But, hey, di sana sebenarnya kalo dipikir-pikir lagi Allah sedang ingin menguatkan kita. Menguatkan hati kita supaya nggak cengeng lagi.

Jadi harusnya nggak boleh ngeluh ya. Karena jangan-jangan apa yang sedang kita lalui hari ini adalah sebentuk pengabulan doa kita di suatu waktu di masa sebelum hari ini.

*be strong. be brave.

Repost : Doa

Bagaimana jika, doa kita bertubrukan dengan orang lain di langit sana? Jika doa-doa yang bertubrukan itu saling menguatkan, mungkin tidak terjadi tubrukan, melainkan akan berjalan beriringan, lalu bagaimana jika doa-doa yang bertubrukan ini saling berebut atas sesuatu, atau lebih parahnya lagi, saling menafikan satu sama lain.

Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi rengking 1 di kelasnya?
Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian puluh juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi juara di piala dunia?
Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian ratus juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi salah satu orang yang duduk di kursi-kursi jabatan di pemerintahan?

Kira-kira, doa mana yang Allah pilih? Yang lebih takwa kah? Yang lebih sering diucapkan kah? Yang diucapkan saat-saat waktu mustajab kah? Yang mana? Yang mana yang akan Allah kabulkan di antara sekian banyak keinginan egois manusia?

Tapi Allah mengabulkan doa orang yang miskin, juga yang kaya. Ia juga mengabulkan doa mahasiswa juga doa presiden. Begitu pula doa seorang anak kecil, juga doa orang yang tua renta. Allah mendengarkan semua doa makhluk-Nya. Allah mengabulkan beberapa di antaranya di dunia, yang lainnya ditangguhkan saat waktunya tiba. Dan yang lain lagi ditabung di akhirat.

Allah itu adil. Dan keadilannya melingkupi dunia dan akhirat. Maka, doa-doa yang tidak dikabulkan-Nya di dunia, Ia jadikan tabungan untuk hamba-Nya di akhirat. Juga, segala hal lain yang tidak mendapatkan balasannya di dunia, ia tangguhkan di akhirat.

Karenanya, doa yang manapun, yang terkabulkan ataupun yang tidak, doa orang miskin atau orang kaya, doa mahasiswa atau presiden, doa anak kecil atau tua renta, sebenarnya semuanya ‘dikabulkan’, tapi dengan caranya masing-masing.

*repost tulisan ini dr tumblr anakanaksenja, sedang ingin mengingatkan diri sendiri.

Rabu, 18 Januari 2017

Amel :)



Meet @amelfirza !!! .
The busiest person in the world. Haha. Temen terbaek terketjeh tercintah tersayang di RumahKita :).


Hari ini Amel balik ke kampung halaman. Dia tidak lupa di halaman berapa kampungnya berada. Entah ke depannya apakah akan menetap di sana, hingga nanti beranak cucu atau akan kembali merantau.

Sedih sebenernya, pengennya ya semua tetep di jogja aja. Becanda kayak biasa pas kalo lagi kumpul, sampe lupa kalo barusan lagi badmood. Sedih sebenernya, karena satu per satu org bakal ninggalin jogja. Dan Amel sudah menyelesaikan segala urusannya di jogja lebih dulu, nyusul isti, nyusul ivan, ninggalin jogja. .
 
Saking sedihnya sampe nggak tau mau ngomong apalagi. Suka banget sama waktu2 yg aku habisin brg amel sejak di 204H, di kontrakan kolong jembatan itu sampe sekarang. Sukak banget pas liat amel rajin pake rok, jilbab didobel, dan masuk pondok (meskk cuma sekian bulan, hihi). Sukak banget sama @amelfirza. 

Sayang banget sama Amel. .

Mel, udahan mel pacarannya, nikah aja langsung.

Kayak gimanapun amel, kayak apapun amel, aku tetep sayang amel :)
Baik2 ya mel di pati. We'll miss you :*

Selasa, 17 Januari 2017

Sosial Media

Mungkin berbicara di sosial media itu seperti kita ingin cerita tapi nggak tau cerita kemana. So we just tell our story to a random people who *accidentally* saw our social media.

Mungkin dewasa kini yg namanya kekuatan membaca pikiran orang sudah nggak diperlukan superhero lagi, toh kita bisa mendengarkan pikiran orang dengan berselancar di dunia sosmed.

Meyakinkan

Saya baik-baik saja. Dan saya pasti bisa menjalani semuanya sampai pada akhirnya semua ini akan terlewati. Dan pada hari di mana semua ini selesai, saya pasti bisa tersenyum lagi, ketawa lagi.

Jadi saya baik-baik saja, dan akan baik-baik saja.

Ketakutan

Setiap orang punya ketakutannya masing-masing.
Yang belum lulus, takut menghadapi ujian, takut menghadap dosen, takut kalau tugas tidak selesai, takut kalau hari esok datang tapi skripsi belum juga ada progress, takut tidak lulus, dan takut-takut lainnya.

Yang sudah lulus, takut menghadapi lingkungan baru, takut menghadapi orang baru, takut nggak dapet kerja, takut kinerja tidak sesuai ekspektasi, dan takut-takut lainnya.

Semuanya takut. Semuanya punya ketakutannya masing-masing. So, it will be fine. Karena yang punya perasaan itu banyak. Yang senasib dan sepenanggungan banyak.

Senin, 16 Januari 2017

Kalau ...

Kalau kita tidak sedang melakukan kebaikan, bisa jadi kita sedang melakukan keburukan. Kalau kita tidak sedang sibuk dengan kebaikan, jangan-jangan kita sedang sibuk dengan keburukan.


meng-uninstall corel


akhirnya coreldraw dan kawan-kawan corel lainnya saya uninstall -demi-untuk-laptop-yang-tidak-lemot. *Tapitetepajanggakrelamenguninstalladobecreativesuitenya*

sedih sebenernya. Tapi kalo ga meng-uninstall program berat ini nanti laptopnya lemot mulu, nanti skripsinyanggakdikerjainterusdenganalasanlaptoplemot.
 T.T

Apakah ngaruh?
.
.
Yah, lumayanlah

Senin, 09 Januari 2017

Resolusi #3

Berani.

Syaja'ah (keberanian) akan timbul sebanding dengan keimanan kita terhadap Allah. [materi liqo tahun pertama].

Resolusi #2

Saya mau lebih menerima diri saya, segala kekurangan dan kelebihan; sehingga saya bisa mencintai diri saya sendiri. Lalu bisa mencintai orang lain dengan tulus. Tanpa iri, tanpa dengki, tanpa cemburu.

Resolusi

Saya mau jujur sama diri saya sendiri tahun ini.

Minggu, 01 Januari 2017

Buat Ibu

Happy birthday for my beloved mother.

Terima kasih ibu atas kasih sayang dan perjuanganmu menghidupi kami-kami yang songong, bandel, susah makan, kalo dipanggil nggak nyaut-nyaut, males mandi, berisik, nggak perhatian, males masak nasi, males ngupas buah sampe harus dikupasin, males bikin teh smpe selalu dibikinjn, males manasin makanan, jajan mulu, kasar, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya...
.
Ibu terhebat buat kami. Meski di luar sana ada banyak ibu yang -katanya hebat, tapi buat kami cukup ibu saja. Buat kami, sudah pasti 100% ibu terhebat. Tidak ada ibu yang lebih hebat buat kami, selain Ibu.
.
Ibu, katanya terima kasih terbaik adalah melalui doa-doa baik yang terlantunkan setiap shalat. Ibu, ketahuilah, tidak pernah sekalipun kami absen berdoa "allahummaghfirlii wa liwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayanii shaghiiraa". Ibu, ketahuilah, tidak pernah sekalipun kami absen mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Ibu. Karena, kami sejatinya nggak punya apa-apa, Bu, yang bisa bikin Ibu ketawa, bahagia, dan sehat selalu. Makanya kami selalu minta itu sama Dzat Yang Maha Memiliki buat ngasih Ibu hati yang senantiasa lapang, bersyukur, ikhlas, qanaah, tawadhu. Makanya kami selalu minta sama Dzat Yang Maha Mengabulkan buat ngasih Ibu kebahagiaan hakiki, bahagia dunia hingga akhirat. Makanya, Bu, kami selalu minta sama Dzat Yang Maha Tinggi, buat menempatkan Ibu pada tempat yang mulia, di dunia maupun di akhirat. :)
.
Baarakallah fii umrik, kullu 'aamin wa antum bikhayrin.