Selasa, 26 Juli 2016

Cinta Pertama

Cinta pertama saya belum berubah, dan mungkin tidak akan berubah. Pada ia yang saya dengar pertama kalinya melantunkan adzan dan iqomah di telinga saya. Jelas bukan Bilal bin Rabbah. Suaranya tak sebagus itu. Bahkan mungkin saya tidak ingat seperti apa rupa dan bentuk suaranya saat itu. Yang saya ingat suara-suara setelahnya, yang kerap kali mengajarkan, mulai dari hal terkecil, hal remeh temeh, hingga hal-hal besar. Mulai dari doa bangun tidur hingga doa saat resah. Yang kerap kali memberi dukungan, meski tak terucap. Yang kerap kali memberi apresiasi tanpa batas. 

Ia yang selalu bersabar mendengar, meski keluhnya sendiri ia tahan. Sesekali ia lepas hanya untuk mengingatkan, bahwa mengeluh bukannya tidak boleh; tapi ada hal yang perlu dilakukan agar keluhan tidak menelan kita. 

Ia -tempat saya bertanya saat saya sakit, meski bukan dokter. Tempat saya bertanya pula tentang alat-alat elektronik yang rusak, meski bukan insinyur. Tempat saya bertanya banyak hal, tentang kehidupan, tentang Islam, tentang Allah, tentang Rasulullah, meski bukan ustadz ataupun filsuf. 

Ia, tempat saya pulang. Tempat di mana hati saya berpulang. Tempat di mana saya mengenal 'tempat berpulang' sesungguhnya. 

 Ia yang berkata, "Nggak apa, Dek kaluar dari rumah, sekolah yang jauh. Dunia lebih luas dari sekedar Depok."

Ia yang meyakinkan, "Jangan menyerah di sini. Ini kan pilihanmu untuk sekolah jauh. Kamu sudah memulai, jadi selesaikan. Kamu udah basah, sekalian nyebur, diving, snorkling. Karena kamu nggak akan tahu keindahan laut yang sebenarnya kalau kamu cuma main di permukaannya," Ketika saya meminta untuk kembali ke rumah.

Dan, kini lagi-lagi, Ia yang mendorong, mendukung, menopang saya, "Kamu, lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan. Jangan memandang rendah diri kamu sendiri. Kamu pernah kok mengalami hal yang jauh lebih nggak menyenangkan daripada sekedar skripsi, dulu saat di pondok? Ketika kamu harus jauh dari orang tua di usia semuda itu, dengan tekanan seberat itu."

Lalu, Ia yang selalu menutup obrolan dengan, "Istighfar Dek, dzikir. Sebut aja kalimatullah yang kira-kira enak kamu ucapkan. Supaya kamu nggak hilang kendali."

Ia, cinta pertama saya. Dan hingga detik ini dan seterusnya, saya masih akan selalu mencintainya.  
Ia mengenalkan saya pada dunia. Juga akhirat.

Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang Bapak.


Ya, Rabb, izinkan saya menjadi kunci surga bagi kedua orang tua saya.

Selasa, 19 Juli 2016

Takjub

Saya masih sering takjub sama diri saya sendiri karena ternyata mampu bertahan hingga detik ini di jurusan ini.

Minggu, 17 Juli 2016

Shalat Yuk, Nak ...

Ternyata sesulit itu mengajak anak untuk shalat,

terutama jika tidak diajak sejak kecilnya, tidak dibiasakan sejak dini ...



-catatan pasca Junior Smart Camp 2016 di desa wisata pentingsari, kaliadem
ditulis si Perpustakaan kota jogja jam 18.23

Senin, 04 Juli 2016

Home Sweet Home

Rumah adalah tempat di mana hati kita berpulang, ...

Selamat datang kembali di rumah :)

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat melanjutkan puasa sehari lagi. :)

#29HariMenulisCinta
Sudahdirumah

Minggu, 03 Juli 2016

Rumahku, Surgaku

Adik berlarian masuk ke rumah. "Bundaaa..! Buun ...!"

"Iya, sayang?" Bunda menyambut dari arah dapur. Adik langsung memeluk Bunda.

"Salam dulu kek, Dik. Assalamu'alaikum, Bun," Ujar Kak Nda dari balik Adik.

"Assalamu'alaikum, Bundaa"

Bunda tersenyum. Sekarang anak-anak ini sudah mulai terbiasa untuk salam ketika akan masuk rumah. "Wa alaikum salam, Adik, Kak Nda. Gimana tadi ke pesta ulang tahunnya Sarah?"

Adik dan Kak Nda memang baru saja pulang dari rumah Sarah, teman Kak Nda yang merayakan ulang tahunnya ke-11 dengan mengundang teman-teman sekolahnya. Sebenarnya yang diundang hanya Kak Nda, tapi saat Kak Nda mau berangkat tadi, Adik ribut pengen ikutan ke pesta ulang tahun. Jadilah Kak Nda membawanya serta. Ketambahan satu orang sepertinya tidak apa-apa, asal Kak Nda tidak membawa serta sepupunya juga.

"Bun, Bun, rumahnya Kak Sarah gedee banget deh Bun." Celoteh Adik riang begitu semuanya duduk di ruang baca keluarga, turut menghampiri Bang Dya yang masih asyik membaca komik di sana. Membagi-bagi bingkisan yang dibawa pulang dari rumah Sarah.

"Oh iya? Dan sebesar apakah itu?" Tanya Bunda menanggapi Adik.

"Besaaar bangeeet Bun," Kata Adik sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Terus ya Bun, ada tangganya, kamarnya Kak Sarah ada di atas Bun. Terus Adik naik kan ke atas. Di atasnya juga besaaar Bun. Besaaar kayak istana Bun."

"Biasa aja kali, Dik. Lebay banget sih." Celetuk Bang Dya yang diam-diam turut memperhatikan tingkah Adik. Bunda tertawa.

"Adik suka rumah yang besar begitukah?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm.. kayak istana sih Bun ..." ada ragu terselip dalam jawabnya.

"Kalo Kak Nda sama Bang Dya gimana? Suka nggak kalo punya rumah yang besar gitu, kayak rumah Kak Sarah?"

"Nggak juga Bun. Kan kalo lagi sendirian serem." Ungkap Kak Nda yang masih sibuk membagi-bagi bingkisan makanan menjadi adil untuk bertiga.

"Kalo Abang ga bisa main sepeda di dalem rumah yang gede mah sama aja boong Bun ..." jawab Bang Dya asal. Bunda tertawa.

"Adik sini, duduk deket Bunda, Bunda bilangin sesuatu. Buat Kak Nda sama Bang Dya juga." Ketiganya merapat mendekati Bunda.

"Kalo rumahnya di dunia, rumah yang sebesar yang kita punya ini sudah cukup, Nak. Satu lantai, ada kamar untuk tidurnya, ada dapurnya untuk masak, ada kamar mandinya buat mandi, buang air kecil, buang air besar juga. Ada garasinya untuk naruh kendaraannya Abi, sepedanya Kak Nda sama Bang Dya juga.

Ada lho Nak, yang rumahnya hanya ada satu ruangan, ya masak di situ, ya tidur di situ, dan kalo mandi di sungai. Ada juga yang bahkan tidurnya ga pakai rumah. Tapi di jalan-jalan, di stasiun, di terminal. Karena memang mereka ga punya cukup uang untuk punya rumah.

Tapi Nak, ada yang merasa rumahnya luas meski hanya sepetak tanah, seluas kamar Kak Nda sama Adik tapi ditinggali oleh 5 orang. Ada pula yang merasa rumahnya sempit meski luasnya cukup untuk orang sekampung. Semuanya tergantung sama kitanya yang menempati..."

"Tergantung kita bersyukur ato nggak. Ya kan Bun?" Potong Kak Nda di tengah-tengah. Bunda mengacungkan dua jempolnya ke arah Kak Nda.

"Yup. Kita syukuri yang kita miliki. Alhamdulillah Allah masih kasih kita rumah tempat berlindung dari panas, dingin, hujan ataupun terik matahari.

Kalau di dunia itu ya Nak, tidak apa rumahnya sempit. Yang penting nyaman. Nyaman untuk ditinggali dan dipakai ibadah. Yang penting hidup dengan obrolan dan aktivitas yang baik di dalamnya juga dengan shalat penghuninya. Dan yang penting terang dengan bacaan Quran para penghuninya.

Dan kalau mau punya rumah yang besar nanti saja, di surga. Rumah yang kayak istana. Kita bangun rumahn di surganya bareng-bareng. Bunda sama Abi, sama Adik, sama Kak Nda juga Bang Dya."

"Caranya gimana Bun?" Tanya Adik. Matanya melebar tertarik.

"Shalat dhuha, Nak. Juga sedekah dan infaq. Semoga dengan yang sedikit yang kita berikan ke orang lain bisa jadi batu bata yang menyusun rumah kita, istana kita di surga nanti." Bunda tersenyum mengakhiri ceritanya.

"Kak Nda mau Bun punya rumah yang kayak istana di surga."

"Bang Dya juga mau."

"Kalau gitu, mulai besok, kalau Bunda sama Abi kasih uang saku, Kakak sama Bang Dya menyisihkan sedikit untuk diinfaqkan ke masjid. Atau dikumpulkan dulu di kotak, nanti kalau sudah banyak baru disedekahkan."

"Lah Bun, adik kan ga ada uang saku, Adik sedekah pake apa?" Tanya Adik yang baru saja masuk TK nol kecil.

"Bisa dengan senyum, sayang. Rasulullah pernah bilang, senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Senyum, dengan senyum kita bikin orang lain juga jadi senyum. Senyum itu nular, Nak kalau senyumnya dari hati. Karena yang dari hati akan sampai ke hati pula."

"Iya, Bun. Mulai sekarsng Adik ga may banyak-banyak cemberut. Biar bisa nyumbang batu bata buat istana kita di surga nanti"

Bunda memeluk ketiga anaknha sekaligus. Betapa cintanya terhadap ketiga anaknya membuatny senantiasa berdoa semoga istananya di surga benar-benar terbangun dari usaha kelima orang yang ada di keluarganya. :)

#29HariMenulisCinta
Keluarga Samudera series

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Selamat menyusun batu bata untuk rumah yang seperti istana di surga nanti :)

Jumat, 01 Juli 2016

Pulang

Ingin segera pulang, agar mengingat bahwa selalu ada rumah untuk kembali pulang.

Dan tempat pulang terbaik adalah tempat di mana kamu mampu bersyukur apapun keadaannya, tempat di mana kamu senantiasa mengingat Sang Khaliq ...

#29HariMenulisCinta
MasihdiJogja.
Hanyamengabari.