Kamis, 30 Juni 2016

Dipersiapkan

Yakinlah, kejadian-kejadian yang terjadi hari ini adalah untuk mempersiapkan diri ini untuk kejadian-kejadian yang akan datang di masa depan.

Bisa jadi di masa depan nanti memasuki fase yang lebih buruk dari hari ini, tapi kita tahu, kita bisa melewatinya; karena kita pernah melewati fase yang tidak jauh beda buruknya -menurut kita- di masa yang lalu.

Kita jadi kuat.

Nikmati prosesnya.

Selamat berproses menjadi baik. Yakin, bahwa Allah selalu mempersiapkan hamba-hambaNya untuk melalui setiap fase dalam hidupnya.

#29HariMenulisCinta
BerusahaYakin.
DialogMalam.

Rabu, 29 Juni 2016

Datang dan Pergi

Tarbiyahnya Allah itu bisa melalui jalan apapun. Seringkali melalui jalan yang tak diduga, tak disangka. Bisa jadi tiap langkah yang diambil juga tiap nafas yang dihela merupakan tarbiyah dari-Nya.  

Termasuk juga perkara ditinggalkan dan meninggalkan. Orang datang dan pergi bukan hal yang luar biasa. Lumrah terjadi. Setiap kali ada orang lama yang pergi, ada orang baru yang datang, pun juga sebaliknya. Orang-orang ini sudah barang tentu tidak hanya lewat begitu saja dalam hidup. Masing-masing mungkin dititipkan pesan oleh Sang Khaliq agar diri ini bisa belajar melalui orang-orang ini. Tentang bersikap mungkin, tentang dewasa, tentang pemakluman dan toleransi, tentang kasih sayang, tentang ukhuwah, tentang menghargai dan menghormati, dan tentang-tentang lainnya yang mungkin jauh lebih banyak ketimbang apa yang terlihat.

Beberapa orang ringan meninggalkan; ringan pula ditinggalkan. Tapi beberapa orang lainnya merasa sebaliknya. Bukan berarti tidak mengikhlaskan ataupun tidak mendukung keputusan apapun yang orang lain pilih. Hanya saja ini membuktikan bahwa ukhuwah di antara kita sudah melalui banyak fase, banyak tahapan -mulai dari ta'aruf hingga bullying (karena katanya pembully-an adalah tahapan tertinggi ukhuwah di atas itsar *entah sumber darimana tapi jelas bukan dari As Sunnah maupun Al Quran), hingga rasanya berat untuk ditinggalkan -maupun meninggalkan.

Banyak orang datang dan pergi dalam hidup satu orang. Tentu bukan untuk suatu hal yang sia-sia. Ada tarbiyah Allah di dalamnya. Agar semakin menjadi pribadi yang lebih, dan lebih baik lagi dari hari ini. Tinggal, seberapa peka diri ini menangkap apa makna di baliknya ...

Wallahu a'lam bish shawwab

Selamat berproses menjadi lebih baik. Dan lebih baik lagi dari hari ini. Hingga jika bertemu lagi usai keterpisahan; bisa bertemu lagi dalam pribadi yang sudah jauuh lebih baik berkali-kali lipat :)

#29HariMenulisCinta
Rapel
Adayanglunturdarimata, bukanmakeup.
Mempersiapkandiriditinggalkandanmeninggalkan.
Berhijrah

Jadi Orang Baik

Menjadi orang baik itu perlu dibiasakan. Dan pembiasaan butuh kesabaran. Butuh keikhlasan juga.

Butuh niat dan azzam. Butuh tekad juga.

Jangan menyerah untuk jadi baik. Percaya, akan ada hal-hal baik untuk orang baik. Apapun itu.

*Usai membaca [QS. An Nuur (24) : 26].

Selamat berproses menjadi lebih baik. Jangan menyerah untuk menjadi baik. Jangan sekarang. Jangan nanti.

#29HariMenulisCinta
BaladaRamadhanMengejarCintaNya

Selasa, 28 Juni 2016

Qowiyyul Jism

Catatan I'tikaf tahun ini adalah bahwa poin qowiyyul jism dalam 10 muwashshaffat bukan sesuatu yang boleh diabaikan.

Karena ketika fisik tidak sehat, ibadah pun tidak maksimal.

Selamat berproses menjadi lebih baik.
Selamat berusaha menjadi pribadi yang lebih qowiy.

#29HariMenulisCinta
Rapel.
Lambungnyapanas.
Setelahkemarinmasukangin.
Dasarlemah. Haha.

Baarakallah Adek Kece.

Either kamu memilih untuk mengambil pilihan yang ada, ataupun memilih untuk membuka jalan yang lain, jangan lupa untuk libatkan Allah.

Libatkan Allah dalam setiap urusanmu. :)

Karena Allah selalu tahu, Allah paling tahu apa yang terbaik bagimu.

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat menjadi orang baik.

#29HariMenulisCinta
Tertinggalbeberapahari.
Bapersession.
Nggakbisangomonglangsung.

:)

Sabtu, 18 Juni 2016

Waktu Egois

Ini ceritanya obrolan sesama perempuan

S : Mbak, aku mikir tahu, justru sebenarnya ketika kita haidh, kita jadi ga punya waktu egois juga waktu istirahat
M : Kenapa gitu?
S : soalnya kalo ada waktu shalat kan berarti kiylta jadi punya waktu egois. Karena kan ga ada itsar dalam ibadah. Kita mau shalat duluan kek, mau wudhu duluan, mau dzikirnya lama berarti ga masalah kan? Itu jadi ada porsi waktu egois kita yang udah dikasih sama Allah. Pas kita haidh, kita jd ga punya waktu egois itu. Kita jadi tetap ngerjain kerjaan orang lain juga. Karena pasti ada aja yang bilang 'dikerjain aja sama yg lagi ga shalat' . .
M : mm iya sih tapi justru itu jadi ladang amalnya yang lagi haidh, karena bolong shalatnya, iya ga? Masing-masing punya ladang amalnya sendiri ...
S : hmm iya juga ya mbak ...

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat berpuasa.

#29HariMenulisCinta
Rapel karena ketinggalan

Doa

seringkali manusia berdoa untuk hal duniawi, padahal rezekinya di dunia sudah ditetapkan. Dan lupa berdoa akan akhiratnya, padahal akhiratnya masih belum pasti.

Padahal jika berdoa meminta akhirat, dunia pasti mengikuti, katanya ...

Hikmah kemarin sore usai suatu forum melingkar.
Mari berdoa. Selamat berproses menjadi lebih baik.

#29harimenuliscinta
tertinggal beberapa hari

Selasa, 14 Juni 2016

:)

Bingung Mau Menulis

Saya bingung mau menulis apa. Akhirnya saya menulis seperti ini saja. Menyampah dulu, siapa tahu nanti-nanti ada beneran yang bisa saya tulis. Saya kalau sedang stagnan seperti ini jadi inget saran dari para sesepuh di FLP jogja, tiap kali materi kepenulisan dengan beliau-beliau ini. Beliau-beliau ini selalu bilang, "ya kalau bingung menulis sesuatu, tulis saja apapun. Bahkan kalau kalian bingung, tulis saja 'aku bingung nulis' dan seperti itu, nanti insyaAllah bakal ada aja sesuatu yang bisa ditulis"

Dan lagi-lagi, saya mengingat suatu tulisan yang saya baca di dasbor goodreads saya, (saya lupa sih ini sitasi dari siapa), bahwa menulis itu seperti air yang dialirkan dari keran. Selama kita tidak membuka kerannya, ya airnya tidak akan keluar. Selama kita tidak mulai menulis, ya, bisa jadi tidak ada sesuatu yang bisa ditulis. Jadi, kadang dalam menulis itu ada dua alasan : kita ada ide, lalu kita tulis atau kita menulis, maka kemudian ide itu hadir. 

Seperti tulisan ini.


Tapi yang selalu saya heran, kenapa skripsi meskipun sudah dipandangi dan dipelototi dan mencoba membaca, tetap tidak ada ide untuk menulis ._.



Selamat berproses menjadi baik. Selamat berpuasa.
#29HariMenulisCinta
Ketinggalan. Tulisan hari Sabtu yang baru publish karena koneksi terbatas kemarin --"

Namanya Rayhan

Rayhan ini seorang adik di kelas Sanggar Menulis Cahaya, Perpustakan Kota Yogyakarta. SMC ini adalah program kerja sama antara Forum Lingkar Pena Yogyakarta dengan Perpustakaan Kota. Sudah sekitar sebulan ini saya menjadi tentor menulis di kelas hari Jumatnya, meski sebenarnya kemampuan menulis saya masih sangat jauh dari kata Kece. Dan di sanalah saya bertemu dengan banyak adik, salah satunya Rayhan ini.

Rayhan sebenarnya sama seperti anak SD laki-laki pada umumnya, yang belum tentu penurut, suka ngejahilin teman-temannya, pun ditambah dia suka protes. Yang protes "Mbak, udah dong Mbak, ndang ditutup, ayo mulih." atau "Mbak, uwis tho Mbak, aku arep main komputer," atau "Mbak, aku wegah nulis," dan sebagainya. Nggak sekali dua kali juga teman-temannya dijahili, terutama teman-teman perempuan, yang acapkali menimbulkan adu mulut yang heboh antara dia (saja) versus teman-teman putrinya di kelas. 

Tapi, seprotes-protesnya, ada suatu hari dimana saya kagum sekali sama anak ini. Dibalik kelakuan bocahnya dia; ada kedewasaan yang sampai sekarang saya masih wow. Haha. Jadi, di kelas saya ini saya menerapkan sistem bintang. Satu bintang untuk setiap satu tulisan yang ditulis di buku tugas mereka; entah itu ditulis hari H, ataupun ditulis saat di rumah. Setiap kali terkumpul 5 bintang, yang itu artinya terkumpul 5 tulisan; maka boleh ditukar dengan satu item berupa alat tulis ataupun buku dengan budget yang setara. Di awal, saya tidak bilang ke adik-adik akan ditukar dengan apa 5 bintang itu. nah, ketika, sudah banyak adik yang bintangnya hampir mencapai 5, adik-adik yang perempuan ribut bertanya, "Mbak, Mbak bintangnya ditukaer apa Mbak?" Bahkan ada yang protes (meski barangnya belum dikasih), "Mbak, jangan alat tulis doong," dan yang semirip itulah. Tiba-tiba ditengah riuh rendah itu Rayhan nyeplos, "Uwis tho, wis dikasih ki bersyukur, iso ne protes wae," Masya Allah, adik sekecil ini -kelas 5 SD saja sudah paham konsep bersyukur; dan belakangan saya tahu bahwa nilai Rayhan di sekolah sebenarnya masih di bawah teman-teman putri (yang satu sekolah dengannya); tapi ia tidak lepas dari kata bersyukur itu.

Satu hal lagi yang membuat saya terenyuh adalah, pertemuan pekan lalu, bintang Rayhan sudah mencapai 5, yah dengan berbagai macam tulisan. Yang paling panjang adalah ketika dia menuliskan tentang perang Baratayudha, mecapai 2 lembar buku tulis yang besar. Dan yang paling pendek paling hanya 3 baris. Tapi tetap saya kasih bintang, apresiasi atas usahanya dan keinginannya untuk datang ke kelas dan menulis, di saat teman-temannya yang putra sudah mulai malas datang ke kelas. 

Karena hari itu juga kondisi badan saya lagi agak tidak fit, jadi saya hanya menjabarkan sedikit materi, lalu membebaskan adik-adik mau menulis atau mau membaca, kalau sudah selesai baik itu menulis atau membaca silakan lapor ke saya untuk dapat bintang yang lainnya lagi. Rayhan waktu itu memilih untuk membaca, saat selesai di lapor -yang saya minta untuk menceritakan ulang tentang buku yang ia baca. Selesai itu, dia tiba-tiba bilang, "Mbak, aku uwis limo yo bintange",

Saya bilang, "Iyaa, Ray, mau dituker apa?"

Dia jawab (sambil gambar di kertas presensi saya), "Mbak, bintangku dituker spidol 12 warna yo; kanggo adikku. Adikku ngegambar soalnya Mbak." lagi-lagi saya dibuat terpukau; di saat-saat teman -teman lainnya sibuk mengandai-andai item apa yang akan jadi milikinya, Rayhan ini justru minta sesuatu dan sesuatu itu bukan untuk dirinya, tapi untuk adiknya. Di balik segala keributan yang ia buat, ia adalah seorang penyayang. Penyayang pada Rabbnya, juga pada manusia. 

irham man fil ardhi yarhamka man fiissamaa'i   
Sayangilah olehmu yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh Yang Di langit.

Saya bersyukur waktu itu saya mengambil tawaran menggantikan Mbak Lian untuk jadi tentor menulis di SMC ini, hingga akhirnya saya belajar banyak dari adik-adik ini, dan salah satunya adalah Rayhan ini. Jangan kapok ya dek, haha :)

Belajar dari mana pun. Belajar dari apa pun. Belajar dari sekarang. Selamat berproses menjadi lebih baik. :)
#29HariMenulisCinta
Ketinggalan kemarin.
Btw, sebenarnya ini tulisan hari jumat, baru selesai sekarang --"

Kamis, 09 Juni 2016

Menghafal Al Quran

Siang ini tadi saya baru saja nonton film Surga Menanti yang berkisah tentang seorang anak yang berjuang menjadi hafidzh, meski cobaan satu demi satu datang padanya. Mulai dari Ibunya yang kena leukimia, hingga ayahnya yang meninggal. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Berjuang menjadi hafidzh -ataupun hafidzah, seorang penjaga ayat-ayat Al Quran juga merupakan cinta dan cita saya sejak dulu (Amiin ya rabb). Pun saya yakin yang mencitakan hal tersebut tidak hanya satu dua orang. Tapi banyak. Banyak. (dibaca dengan nada ala ala iklan toko online gitu). Tapi, seperti kata Mas Pandhu, ketua Halaqah Quran Forsalamm, bahwa yang menginginkan untuk menghafal quran itu ada banyak. Tapi yang mau hingga mengazamkan itu lebih sedikit daripada itu. Dan yang melakukan aksi terhadap azam tersebut jauh lebih sedikit lagi daripada itu.

Wallahu a'lam saya termasuk yang mana. Tapi suatu ketika di masjid Nurul Ashri, Deresan, usai shalat ashar saya bertemu seorang ibu yang tiba-tiba mengajak ngobrol.

"Mbak santri sini?" (merujuk pada rumah tahfidzh jogja, dan saat itu bertepatan dengan dauroh penerimaan rumah tahfidzh).
Saya jawab, "Nggak Bu, Saya di sini cuma numpang shalat, hehe."
"Nggak daftar Mbak?"
"Mm .. saya pengen sih Bu, cuma karena tahun ini saya juga koass, InsyaAllah. jadi sama Bapak saya disuruh nyelesein dulu, takutnya malah nggak ada yang maksimal dari kedua hal itu. Terus nanti kalo udahan koasnya Bapak mempersilakan kalo mau tahfidzh dengan mondok"
"Alhamdulillah, seenggaknya Mbak adanya rasa ingin hafalan Quran, jadi santri itu harus disyukuri. Karena nggak semua orang loh Mbak punya keinginan yang seperti itu. Minimal punya keinginan dulu."

Saya tertegun. Ke belakang, si Ibu cerita kalo anaknya susah banget diajak ke kajian, nggak mau mondok, ngaji dan lain-lain. Iya ya, mungkin memang adanya keinginan untuk menghafal adalah cara awal kita memulai menghafal quran, hingga nanti entah ada aksinya atau tidak. Sama seperti jihad. Paling tidak kita meniatkan dulu untuk berjihad. Maka, ada keinginan untuk menjadi lebih baik ini mungkin bisa jadi sesuatu hal yang srringkali luput untuk disyukuri oleh kebanyakan orang. Alhamdulillah masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menginginkan hal-hal baik. :-)

Mari Bersyukur. Dari hal yang paling kecil. Dari sekarang. Dari diri sendiri.

Selamat berproses menjadi lebih baik.:-)

#29HariMenulisCinta
Go Go Power Ranger
*telat karena tepar kemarin -_-

Rabu, 08 Juni 2016

Membangunkan dan Dibangunkan

Kali ini saya mau sedikit membahas perkara membangunkan dan dibangunkan dalam konteks tidur, baik itu tidur siang, tidur malam ataupun dalam posisi ketiduran; yang pasti bukan tidur dalam kubur (halah apasih). Karena sejak lulus SD saya di pondok, lalu lanjut sekolah berasrama, dan sekarang pun jauh dari rumah; jadi yang namanya dibangunkan dan membangunkan sudah menjadi sebuah kebiasaan tersendiri buat saya.

Bagi beberapa bocil yang tidak terbiasa bangun pagi, bisa jadi kehidupan pondok menjadi siksaan tersendiri karena paling tidak sebelum shubuh sudah harus bangun dan mengantri mandi (iya, dulu saya mandi sebelum shubuh, karena 1 kamar mandi dipakai mengantri sekitar 20 orang atau lebih). Ya kalo nggak, konsekuensinya bisa telat masuk sekolah.

Alhamdulillah, saya termasuk orang yang terbiasa bangun pagi sejak kecil. Dibiasakan oleh orang tua saya, jadi saya termasuk orang yang -Alhamdulillah-nya survive. Tapi waktu tahun pertama di MTs saya bukan orang yang bangun paling pagi. Saya bangun pagi, tapi bukan yang paling pagi. Jadi saya masih jadi orang yang dibangunkan, baru setelah naik kelas 2 MTs saya terbiasa membangunkan orang hingga detik ini.

Perkara dibangunkan dan membangunkan ini saya belajar dari seorang teman, Qonita namanya (sekarang beliau kuliah di Klantan, Malaisya). Waktu kelas 2 MTs itu saya, bisa dibilang termasuk orang yang gemesan dan nggak sabaran kalo bangunin orang. Alhasil saya, dulu, kalo bangunin pasti galak banget. Yah macemnya, "Eh bangun woy. Bangun sebentar lagi shubuh, mau telat?" terus intonasi dan nadanya tinggi udah berasa kayak apaan tau. Terus kalo gemes maksimal saya bakal mengguncang-guncang orangnya tanpa ampun.

Tapi Qonita nggak melakukan hal itu., dan bahkan orang yang susah dibangunin aja bangun sama dia dengan cara ngebanguninnya yang lembut, sopan santun, dan ngayomi. Dia ga pake acara ngeguncang-guncangin badan orang dengan heboh kayak saya, dia cuma megang lengan orangnya, terus dengan lembut bilang "Ty, bangun yuk udah shubuh". Eaaa asa kayak dibangunin sama bidadari dah. Haha.

Itu pelajaran pertama yang saya ambil dari Beliau. Bahwa membangunkan orang ada adabnya juga. Ada caranya juga. Dan pelajaran utama dari membangunkan orang adalah kesabaran. Sabar ketika orang yang dibangunkan malah justru marah-marah, meski dia sendiri yang minta dibangunin. Sabar ketika yang dibangunin bilang "5 menit lagi dong", dan berkata hal yang sama setiap 5 menit kita ngebangunin. Sabar juga ketika yang dibangunin baru bangun ketika kita ngebangunin dia untuk yang entah keberapa kalinya.

Dan ketika orang dibangunkan dengan halus, maka kita membantu orang yang kita bangunkan untuk punya mood yang baik sejak pagi. Nggak kesel karena kita banguninnya pake acara nyiram air misalnya (ekstremnya sih). Termasuk saya belajar untuk tidak menyalakan lampu kamar orang-orang yang biasa tidur dengan mematikan lampu; bukan apa-apa sih, meski itu cara efektif buat bangunin orang, tapi menurut saya itu juga sudah termasuk kasar sih (ya, standar kasar orang beda-beda). Soalnya saya pun ga suka bila ada orang yang menyalakan lampu mendadak ketika saya sdg tidur (meski saya tidak termasuk orang yang tidur dengan mematikan lampu).

Pelajaran kedua yang saya ambil dari teman saya adalah, Qonita adalah orang yang selalu bilang "Makasih ya udah ngebangunin" sambil senyum waktu pas pertama kali dibangunin, meski habis itu tidur lagi. Haha. Tapi kata makasih itu buat saya nyentuh banget. Ada apresiasi atas usaha orang yang ngebangunin. Dan btw, langsung senyum waktu pertama bangun itu susah loh. Nggak jarang saat bangun pertama mood udah jelek. Dan, jangankan bilang makasih, kadang-kadang mungkin doa bangun tidur aja lupa. haha.

Saya sejak mengenal teman saya itu sampai sekarang masih sedang mengusahakan dua hal ini dalam hidup saya yang lebih lama habis di antara teman-teman ketimbang keluarga, di mana di dalamnya banyak yang mengandalkan saya untuk membangunkan mereka. Dan suatu saat pun saya akan mengandalkan orang untuk membangunkan saya (suatu keniscayaan sih ini). Saya ingin ketika saya ada di posisi membangunkan, saya tidak merusak hari orang dengan mengacaukan mood nya sejak bangun tidur. Dan saya pun ingin ketika saya ada di posisi dibangunkan, saya bisa mengucapkan terima kasih dan nggak bikin orang yang membangunkan jadi sebal.

Sedang mencoba membuatnya menjadi akhlaq. Karena katanya akhlaq adalah sesuatu yang spontan kita lakukan. :)

Selamat berproses menjadi baik. selamat berpuasa.

#29HariMenulisCinta
Go Go Power Ranger!

Selasa, 07 Juni 2016

Cinta dan Mencintai

Cinta itu kata kerja. Jadi ia bisa ditumbuhkan. Bahkan pada apa-apa yang kita benci.

Karena ia kata kerja, maka sebenarnya mungkin istilah yang pas adalah bangun cinta. Sehingga cinta itu terbangun dan membangun kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Bukan jatuh cinta. Karena jangan sampai kita jatuh dalam kecintaan yang tidak seharusnya atau jangan sampai kita terjatuh karena cinta.

*sedang mencoba mencintai skripsi

Hari #2 Ramadhan
#29HariMenulisCinta

Senin, 06 Juni 2016

Ramadhan (lagi)

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, masih diberi kesempatan untuk memasuki bulan mulia ini, dan semoga diizinkan pula untuk menyelesaikannya hingga akhir (meski sejak seorang perempuan baligh, kemungkinan untuk bisa puasa full sebulan itu sangat kecil).

Tadi pagi saya merenungi hari ini, hari pertama puasa.

Saya harus memetik hikmah sebanyak-banyaknya di bulan ini, menuai pahala sebanyak-banyaknya karena ramadhan kali ini saya literally nganggur. Mungkin tahun depan saya nggak bisa senyaman ini Ramadhannya. Pun mungkin juga nggak bisa mudik saat lebaran.

Atau mungkin tahun depan tidak lagi bisa bertemu Ramadhan. Who knows?

Selamat memaknai Ramadhan :) meski ia hadir setiap tahunnya ...

Minggu, 05 Juni 2016

Bosan

Belakangan, rasanya jadi lebih sering merasa bosan. Hmm memang sih lebih sering tidak melakukan apa-apa ketimbang melakukan apa-apa. Meski pun sebenarnya banyak kerjaan yan harus dikerjakan. Dan ujung-ujungnya tidak ada yang selesai; atau bahkan tidak ada yang tersentuh.

memang sih, belakangan hidup saya makin sporadis haha. Mengerjakan apa-apa tanpa perencanaan. Untuk orang-orang tertentu mungkin tidak masalah, tapi untuk saya, saya jadi nggak tahu sejauh apa hidup saya sudah berprogres. Sejauh apa achievement yang sudah saya dapatkan. (Terus, kalo saya bilang kayak gini, njuk ada yang komen : golongan darah A ya ty? -_-)

Mungkin, belakangan saya jadi lebih hati-hati merencanakan. Atau jadi lebih takut? Mungkin, idealisme saya sudah mulai terkikis realita bahwa tidak semua hal yang kita rencanakan berbuah manis saat itu juga. (halah, bahasa gue).

Atau mungkin semua ketidakberesan hidup dan amanah saya belakangan sebenarnya karena iman saya sedang luntur? Sedang saya masih mencari-cari pembenaran atas semua kemalasan saya.

Subhanallah. Maha Suci Allah. Dan manusia hanyalah makhluk hina dan bodoh.



Jumat, 03 Juni 2016

2 Juni yang lain lagi

Kemarin, kali keempat kami melewatkan 2 juni yang lain lagi setelah 2 juni tahun 2012. 2 juni yang menjadi hari pelepasan siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia angkatan 15. 2 Juni yang menjadi hari terakhir kami melantunkan senandung asmaul husna untuk terakhir kalinya bersama-sama seangkatan dalam naungan atmosfer IC.

Sejak 2 Juni 4 tahun lalu, hingga kini, sudah terjadi banyak hal rupa-rupanya. Ada yang menikah, sampai punya momongan. Ada yang ke luar negeri untuk lomba, conference, hingga exchange. Ada yang sudah wisuda, koas, bahkan mungkin sudah kerja. Ada juga yang seperti saya .. masih mengumpulkan niat untuk mengerjakan S*****i.

Sejak 2 juni lalu, dan tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya, komunikasi kami terbatas ruang, meski teknologi sudah semakin advance dengan segala macam fitur; tetap saja rasanya terbatas.

Lalu, sejak 2 juni hari ini, hingga 2 juni tahun depan, akan ada kejadian apa lagi ya kira-kira?

Hari itu, 2 Juni, kami menjadi alumnus.