Jumat, 20 Mei 2016

suatu ketika, saat jelang shalat maghrib

T : Fi, imam gih
F : nggak mau ah, kamu aja
T : dih, kamu juga yang anak DS,
F : terus kenapa gitu kalo anak DS?
T : ya kan lebih sholihah :p
F : Mana ada ...
T : lebih bagus bacaan qurannya, lebih banyak hafalannya
F : nggak jugaa kaliii. Udah kamu aja Ty.. ntar makin lama lho shalatnya
T : Dih, ntar kalo aku yang jadi imam bacanya al ikhlas lho
F : hah?
T : Iya, surat al ikhlas sama surat an nas
F : -________- iya terus kenapa gitu Ty?
T : . . .
F : itu ceritanya ngancem?
T : hehe ...

"Tetaplah disini… dijalan ini… bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh… Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya… tetaplah disini…

Jika bersama dakwah saja…
kau serapuh itu…
Bagaimana mungkin dengan seorang diri?
Sekuat apa kau jika seorang diri…?"

-Catatan Nasihat Ust. (Alm) Rahmat Abdullah-

Syuro

sejatinya diri kita syuro setiap harinya, bukan dalam makna jama'i alias antar individu. Tapi kita syuro dengan diri kita sendiri. Antara akal dengan hati, antara masing-masing anggota tubuh. Karena hidup ini penuh dengan pilihan, dan karena kita selalu menginginkan plihan terbaik untuk diri kita. Maka mekanisme syuro kita gunakan. Tidak ada istilah voting antar anggota tubuh kan? Apalagi antara akal dengan hati.

Lantas, bila akan syuro jama'i saja kota mempersiapkan ruhiyah kita dengan baik sebelumnya dengan misal tilawah minimal satu juz sebelum syuro untuk menjaga kondisi diri kita dan syuro yang baik, maka sudah seharusnya kita senantiasa menjaga ruhiyah kita dengan baik, agar syuro-syuro yang kita lakukan dengan diri kita sendiri juga mendapatkan hasil terbaik.

-taujih seorang teman kemarin

Kamis, 19 Mei 2016

Mencintai

Mencintai yang paling baik, mungkin ketika saat mencintai kita bisa menjadi diri kita sendiri -tanpa perlu berpikir 'apa kata orang lain, termasuk yang kita cintai'; di saat yang bersamaan kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.

Dan karenanya, mungkin mencintai Sang Khaliq dengan sebenar-benarnya cinta adalah mencintai yang paling baik. Karena kita tidak perlu mendengarkan apa kata orang. Kita menjadi diri kita sendiri. Kita hanya perlu mendengarkan firmanNya, yang mana dalam firmanNya ada petunjuk, peringatan, dan pedoman untuk kita menjadi lebih baik. Kita menjadi versi diri kita yang terbaik.

Tidak semua yang muslim mampu mencintai Sang Khaliq dengan sebenar-benar cinta, dengan bulat dan utuh. Pun aku. Tapi bukan berarti tidak berusaha menuju ke sana. Toh, cinta adalah kata kerja.

Senin, 02 Mei 2016

Hari Ini

Hari ini tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional ..

Hari ini teman-teman kampus UGM merayakannya dengan 'berpesta' di sekitaran gedung rektorat. Meminta hak dan klarifikasi dari 'Ibunda'.

Riuh rendahnya tak hanya terdengar di dunia nyata. Tapi juga di dunia maya. Bahkan lebih berisik.

Hari ini seorang adik pulang dari berjuang di jakarta. Membawa memori, pengalaman, juga kemenangan. Juara.

Hari ini seorang adik yang lain sedang berjuang meraih mimpinya untuk duduk di bangku kuliah.

Hari ini seorang kakak berjuang melawan ketakutannya di ruang bersalin, demi mimpi yang tertunda.

Hari ini masih banyak lagi orang yang memperjuangkan mimpinya dengan jalannya masing-masing.

Hari ini, saya ngapain?

Berharap

Katanya, kita kecewa karena kita berharap terlalu tinggi pada makhlukNya. Pada apa-apa yang diciptakanNya atau diciptakan oleh ciptaanNya.

Makanya, katanya berharaplah hanya padaNya yang tidak akan mungkin mengecewakan. Yang tidak mungkin tidak mengabulkan.

Lantas, bagaimana jika ternyata kecewanya masih ada sementara kita sudah berharap padaNya.

Tidak.

Itu berarti kita belum berharap padaNya. Kita masih berharap pada HASILnya ...

Berharap padanya itu include percaya pada qadha dan qadar, ikhlas, syukur, juga sabar ...

Minggu, 01 Mei 2016