Sabtu, 20 Februari 2016

Menolak Bantuan

Saya seringkali tidak sadar, kalau ternyata saya sedang menolak bantuan. Menolak untuk dibantu. Meski kerjaan saya juga tidak sedikit. Tapi saya yakin orang-orang yang menawarkan bantuan ini juga punya kerjaan yang nggak sedikit. Saya-hanya-tidak-mau-merepotkan orang lain lebih dari yang dibutuhkan. Sebab, pengalaman sebelumnya, ternyata orang yang menawarkan bantuan justru orang yang paling punya banyak kerjaan, banyak amanah, dan dia masih menyempatkan diri untuk membantu saya yang kelewat sering mengeluh ..., dan di situlah saya jadi ngerasa kurang berusaha, kurang berjuang, dan kurang-kurang lainnya (termasuk kurang makan haha; eh kecuali satu kelebihan tidur haha)

Tapi ...

Kalau sampai diingatkan seperti hari ini, kemudian saya jadi berpikir, apa sebenarnya di saat yang bersamaan dengan saya mencoba untuk berusaha lebih, berjuang lebih dengan kerjaan saya, saya sedang berada dalam posisi 'kesombongan' saya. Merasa bisa menyelesaikan semuanya sen-di-ri. Dan, seperti yang tadi pagi dikatakan, jangan-jangan justru saya sedang menutup pintu-pintu rahmatnya Allah, entah untuk yang membantu ataupun untuk saya sendiri.

Wallahu a'lam.

berusaha menjadi kuat itu tidak sesimpel yang dibayangkan ternyata , haha .. Semoga bisa menjadi koreksi diri sendiri.

*yaudahceritaaja.

Sabtu, 13 Februari 2016

Dear Future Doctor (Stanford School of Medicine Parody on "Dear Future H...





Nemu ini di tumblrnya nikari :" sumpah kebayang banget ahahahahaha, tapi setuju sama statemen nya nikari, bahasanya 'masochist' banget?



Februari

Februari padat merayap. Satu hal bertumpuk dengan hal lainnya. Semoga tidak ada yang tertinggal di Februari, hingga menjadi hutang.

Mau mengutip beberapa hal, yang meski lupa darimana, semoga bisa menjadi penyemangat bulan ini, juga bulan-bulan berikutnya -

"Apakah kamu berpikir kamu adalah orang yang paling menderita; sehingga pantas bagimu mengeluh?"
"Fashbir, shabran jamiilan. Jangan batasi sabar dengan mengeluh ..."
"Dan untuk segala yang diikhtiarkan, kami pada-Mu Ya Allah ..."

Kamis, 11 Februari 2016

Prioritas

Kata Murabbi saya dulu, prioritas itu tidak selalu berarti mengalahkan yang satu dan memenangkan yang satu; bisa jadi juga memberikan porsi waktu yang cukup dan adil untuk hal-hal yang diprioritaskan.

Tawazun.


.
.
.
.
.

tapi sepertinya, tetap harus ada yang dikalahkan? 

Selasa, 09 Februari 2016

Orang Tua Hebat!

Ketika menulis ini, saya baru saja  selesai menonton adik saya, Ara Kusuma, tampil di trans TV di acara tiro lestari (?) secara live. Ia bercerita tentang moo's project nya juga tentang travel learning agent nya (kalau mau tahu silakan di googling, mungkin ada, hehe) ...

Keluarga Dek Ara, Dek Enes, dan Dek Elan ini salah satu keluarga istimewa di tempat kami -dimana bagi mereka yang namanya pergi diundang sebagai pembicara di suatu acara satu keluarga adalah hal biasa. Di bawah didikan Bulik Septi dan Om Dodik, ketiganya jadi pribadi hebat dan luar biasa.

Waktu kecil, bocah-bocah ini termasuk geng saya, dan saya sebagai ketua geng (eaaa gengster); maklum, masih bocil. Jadinya, saya pun termasuk saudara yang dekat dengan ketiganya, juga Bulik Septi dan Om Dodik. Nggak sekali dua kali kok saya iri dengan mereka yang punya Ibu kayak Bulik Septi. Baik, nggak pernah marah, komunikatif, inspiratif, punya banyak game, idealis ... (wkwkwkwkwk) dan lain hal.

Ya, oke, tapi, saya nggak cuma sekali iri dengan orang tuanya orang lain. (the power of comparison). Pun suatu ketika di perjalanan pulang dari IC, dimana waktu itu saya cuma berdua aja sama Bapak di mobil, saya pernah cerita, tentang betapa saya minder sama temen-temen sekamar yang orang tuanya hebat-hebat. Fitri (bahkan ayahnya Fitri pernah ngisi di IC sampai 2 kali), orang tuanya Ifa yang dokter, orang tuanya Madam dan orang tua-orang tua temen-temen saya lainnya ...

Tetiba, saya merasa minder. saya mah cuma apa; dari orang tua yang juga cuma apa. Tapi, waktu saya bilang gitu, Bapak nggak marah. Bapak nggak bentak saya karena saya -bisa dibilang cukup kurang ajar dengan membandingkan bapak ibu dengan orang lain. Bapak cuma ngejawab dengan kalem, dengan santai kalau semua itu ada porsinya. Dan mengingatkan, bahwa harusnya saya bersyukur dengan Bapak -yang bahkan S1 aja nggak lulus; jadi Bapak sendiri nggak ada keinginan untuk menekan anak-anaknya harus gimana, atau harus masuk jurusan apa, atau harus dapet IPK cumlaude atau gimana. Bersyukur dengan Ibu; kalau detik itu saya belum kenal Ibu, sesungguhnya Ibu adalah pribadi yang banyak disegani dan disenangi banyak orang. Cuma, mungkin sayanya aja yang nggak tau -karena terlalu lama nggak ada di rumah.

Well, itu dulu. Itu dulu, jaman saya awal-awal masuk IC dimana saya dibenturkan oleh orang-orang hebat; yang sekarang saya yakin bahwa semua orang hebat ini punya orang tua yang juga hebaat. Ternyata bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya minder -secara keseluruhan, bahkan sampai pada taraf dimana saya minder tentang keluarga saya. Padahal kalo dipikir-pikir, kalo ga ada Bapak Ibu ya jelas nggak ada saya; kalau nggak melalui Bapak Ibu, ya saya nggak akan jadi saya yang sekarang.

Orang tua saya, Bapak Ibu saya terhebat untuk saya dengan segala kondisi keduanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya terhebat untuk saya dan kakak-kakak; sama sepeerti orang tua teman-teman saya adalah terhebat untuk teman-teman saya.

Hari itu, hari dimana saya pulang berdua dengan Bapak, saya belajar bersyukur, belajar qonaah. Belajar mencukupkan. Belajar bahwa tidak ada hal menyenangkan yang datang dari membandingkan. Dicukupkan. Disyukuri.

Dan di hari-hari ini saya belajar, semakin lama saya jauh dari orang tua saya, semakin sedikit waktu tatap muka saya dengan Beliau berdua ini, saya jadi mengkontemplasikan beberapa hal. Bahwa orang tua saya; Bapak Ibu saya adalah terhebat untuk saya. Sama seperti orang tua teman-teman saya terhebat untuk teman-teman saya.

Jadi ingat pesan terakhir murabbi saya sebelum beliau berpulang,
"Sholihah ...
Kondisi keluarga yang tyani miliki itu adalah bentuk sayang Allah kepada tyani ..."

:"

Ya, ini adalah kondisi terbaik untuk saya, sebentuk kasih sayang Allah untuk saya. Tidak ada yang salah dengan skenario-Nya. Tidak ada yang salah ...

Wallahu a'lam bish shawwab

Buntu

Sedang buntu.

Tapi, bukannya tak ada pilihan lain.

semoga tidak berhenti mencari jalan.

Kuatkan, ya rabb. Kuatkan ...