Sabtu, 31 Desember 2016

Mencapai Ujungnya #2

Sementara saya bengong, bimbang, bingung, waktu tetap berjalan. Semakin terasa cepat setiap harinya. Tau-tau, 2016 sudah mencapai ujungnya.

Sementara TV saya menyala menyetel film High Strung, laptop saya memutar lagu-lagu pentatonix, dan HP bergetar perkara notif-notif yang entah penting entah tidak, waktu tetap berjalan. Pun ketika saya menulis atau pun tidak.

2016 sudah mencapai ujungnya.

Sepanjang tahun 2016 ini, rasa cemas dan depresi silih berganti datang. Ya, pokoknya kondisi saya kalau tidak sedang cemas ya sedang depresi. Kadang-kadang saya mual, kadang-kadang saya muntah. Sesekali pula menangis tanpa sebab. Sesekali yang lain saya cuma diam menghadap laptop. Sesekali ingin berteriak kencang. Sesekali hanya berguling-guling.

Saya merasa tidak bergerak sesenti pun dari sejak saya masuk tahun 2016 hingga kini. Skripsi saya gitu-gitu aja. Blog pun jarang terisi. Bimo forsalamm nggak maju-maju juga. Urusan di FLP pun begitu-begitu aja. Saya banyak menghilang tahun ini. Menghilang dari peredaran sosial media mau pun forum-forum ketemu langsung. Kapasitas diri pun tidak banyak ter-upgrade. Kalau sudah seperti ini, jangan tanya soal ruhiyah dan tarbawi.

Saya banyak nggak jujur sama diri saya tahun ini. Saya banyak menyalahkan diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak iri dengan orang lain tahun ini. Saya membenci diri saya sendiri tahun ini. Saya banyak nggak bersyukur tahun ini.

Dan saya merasa sangat buruk rupa tahun ini.

Saya melupakan betapa menyenangkannya menulis. Membayangkan setiap adegan dalam kepala dan menceritakannya kembali pada khalayak melalui tulisan.Yang ada di kepala saya cuma dua ; (1) kenapa saya sangat nggak mau ngerjain skripsi (sampai pada taraf 'rasanya pengen nggak lulus aja'), dan (2) gimana caranya ngejalanin amanah saya tanpa merasa bahwa itu beban?

well, tapi saya ngerasa ya hal-hal itu pada akhirnya cuma ngeblunder di kepala. Saya lari terus dari kenyataan. Saya lari dari amanah, saya lari dari skripsi. Saya lari dari diri sendiri. Saya nggak pernah benar-benar ambil langkah ataupun sikap terhadap diri saya. Katanya, kalau kita nggak keras sama diri kita sendiri, lingkungan akan keras pada kita. Dan, itu mungkin yang saya rasakan selama 2016, terutama pada 6 bulan terakhir.

Semakin saya berpikir skripsi, semakin saya nggak mau ngerjain. Dan semakin saya mikir bahwa amanah bukan beban, semakin saya kebebani. Saya mikir : saya kenapa?

Ada apa dengan saya? Saya nggak menikmati membaca maupun menulis. Kalau pun saya baca, it's all just an act. Kalau pun saya nulis, rasanya nggak dari hati dan nggak jujur. something is wrong.

Terus saya keasyikan mikir tentang kenapa saya hingga akhirnya banyak hal yang terbengkalai selama 2016 ini. Saya depresi, tapi nggak berani ngomong sama siapa pun. Kalo di depan orang tetep aja senyum. Tetep aja ketawa, begitu ditinggal sendirian nangis. Mau cerita sama orang bingung, orang saya sendiri aja ga tau saya kenapa. Dan seringnya takut mengganggu. Mau cerita ke Bapak takut, takut buat khawatir.

Kemudian suatu ketika, di masa-masa di mana saya benar-benar depresi, saya sholat. Saya meyakinkan diri saya sendiri buat jujur sama Allah. Jujur sama diri sendiri. Saya cerita semuanya (ya meski tidak terlisankan), saya minta bantuan sama Allah. Nggak tau bentuknya apa, terserah Allah aja. Karena saya tahu kalau saya mencoba menyelesaikan pikiran saya sendirian saya tidak mampu.

Selang dua atau tiga hari, saya bertemu dengan seorang senior di FLP, Uni Yova namanya; dan di situlah saya merasa, ini nashrullah; ini pertolongan Allah yang saya minta (ternyata memang semudah itu minta sama Allah, semudah itu Allah kasih; tinggal kita mau minta atau nggak, kita mau memantaskan diri untuk dikabulkan permintaan kita atau nggak). Kembali tentang Uni Yova, Beliau sedang menyelesaikan magister psikologi klinis. Waktu tinggal berdua aja, Uni langsung tanya, "Dek, gimana?" Dan tumpahlah semua keluhan ditambah tangisan (padahal itu di perpusat T.T). Singkat cerita, Uni mengambil kesimpulan, "Dek, kamu itu sebenarnya nggak mau ngerjain skripsi atau udah nggak mau lulus?"

Saya mikir, saya mikir, saya mikir.

Dan setelah dipikir-pikir (meski sudah malas mikir), saya berkesimpulan bahwa sebenarnya yang membuat saya nggak mau skripsi bukan karena topik tidak menarik, tapi karena saya sudah nggak tertarik dengan lulus. Selidik punya selidik, ini bermula dari niat saya yang sudah nggak lagi lurus.

Begini, mungkin orang mikir, apa sih lebay banget. but, hey, niat itu sama dengan tujuan. Awal kita menetapkan niat adalah awal kita menetapkan tujuan. Tapi memang, niat yang sepaket dengan tujuan ini perlu diperbaiki dan diperbaharui setiap harinya, karena hati manusia mudah berubah dan terombang-ambing. Karena hati manusia mudah ragu, mudah bimbang.

Waktu itu, Uni Yova bilang, "Kalo aku sih, Dek, sekarang ngerjain thesis udah bukan buat siapa-siapa lagi, tapi buat kebahagiaan diriku sendiri." Saya jadi mikir, apa selama ini saya nggak bahagia selama setahun ini karena saya melakukan banyak hal buat orang lain? Bukan buat diri saya sendiri?

Saya jadi inget, pernah baca di suatu tempat, yang intinya dia bilang kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain itu tidak akan membuat kita bahagia. Saya dulu mikir, kok gitu sih? Bukannya kita hidup untuk menolong orang lain ya? Tapi kemudian, setelah mengalami ini itu sepanjang tahun ini, saya jadi mikir, emang gitu yah.

Jadi gini, ada dua hal yang berbeda di sini 'melakukan sesuatu karena orang lain' atau 'melakukan sesuatu untuk menolong orang lain'. Melakukan sesuatu untuk menolong orang lain akan balik ke kita. "fain ahsantum ahsantum li anfusikum" (Al-ISra' :7). Setiap kebaikan akan balik ke kita sendiri. Tapi melakukan sesuatu karena orang lain nggak banyak memberikan apa pun. Dan, bisa jadi malah berujung pada kecewa. Mungkin saya perlu mengingat kata Murabbi saya dulu, setiap apapun yang dikerjakan niatnya untuk Allah, tidak ada rasa kecewa. Bila kita masih kecewa, mungkin niat kita belum selurus itu.

Tahun ini, saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya kecewa dengan apa yang saya lakukan. Dan buruknya lagi saya kecewa dengan banyak orang. Bahkan mungkin tanpa sadar saya sudah kecewa sama Allah yang memberikan kondisi seperti ini pada saya. Astaghfirullah ...

Mungkin saya sering diingatkan untuk memperbaharui niat saat liqo, saat syuro, tapi ya untuk keperluan itu aja, untuk hari itu dan saat itu saja. Kemudian saya jadi lupa memperbaharui niat jangka panjang saya. Buat (si)apa saya hidup? Buat (si)apa saya kuliah? Buat (si)apa saya bermanah? Buat (si)apa saya menikah? Buat (si)apa saya berumah tangga? Buat (si)apa saya bekerja dan lain sebagainya  ...

Dan mungkin dari sanalah saya jadi lalai terhadap apa yang perlu saya kerjakan. Mana yang butuh dikerjakan dan mana yang saya ingin kerjakan.

Kondisi di mana saya udah nggak kuliah lagi tapi masih harus skripsi itu membuat saya jadi jarang bertemu orang-orang shalih-shalihah, dan seringnya membuat saya lalai. Alhamdulillahnya, Allah masih mau ngasih saya amanah di tahun ini, yang itu berarti, saya masih ngumpul sama orang-orang yang memikirkan umat, paling tidak sepekan hingga dua pekan sekali dalam syuro ataupun dalam agenda lainnya. Tapi ya kalau saya lagi kabur dari amanah, ya sudah, lalai aja terus.

Karena lupa dengan tujuan seharusnya antara Adz-Dzariyaat: 56 ataupun Al Baqarah : 30, saya jadi sering mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu. Di amanah karen disuruh murabbilah, kuliah karena disuruh orang tualah. Meski pun itu hal yang benar, tapi saya sepakat dengan murabbi saya, kalau masih ada celah pada diri kita untuk selain Dzat Yang Maha Kuasa, tentu ada celah untuk kecewa.

Misal, kita manut orang tua untuk menyelesaikan kuliah. Bilangnya biar orang tua kita bangga, iya kalo beneran bangga, kalau ternyata orang tua kita malah nuntut terus tanpa pernah bangga terhadap prestasi anaknya (well, bukan orang tua saya tapi), gimana? Bisa jadi kita malah jadi kecewa pada orang tua kita. That's it.  Saya lupa kalau saya pernah bilang ke orang, niat kita melakukan sesuatu buat orang tua itu benar, ketika kita memang mengingat bahwa ridhallah fii ridha walidayn. Tapi ketika kita terbatas cuma pada biar orang tua kita bangga atau biar orang tua kita bahagia, itu mungkin yang perlu ditambahkan. Itu mungkin yang membuatnya menjadi bukan niat tertinggi.

Dan sebenarnya, kita memang melakukan kebaikan, nulis skripsi, beramanah, kuliah, ngeliqoi, syuro, dan kebaikan lainnya bukan buat siapa-siapa. Tapi buat diri sendiri. Buat kebahagiaan diri kita sendiri. Dan setelah melalui ini itulah saya akhirnya paham apa makna 'buat kebahagiaan diri sendiri'.

Orang tua kita bahagia ketika kita lulus, itu pun karena kita bahagia. Orang lain bahagia ketika kita bahagia. Jangan dibalik, kita bahagia ketika orang lain bahagia. Motivasi eksternal adalah motivasi terendah untuk menjadi motor penggerak bagi hati, badan, maupun otak kita. Bahagia itu menular memang. Tapi kalau cuma ngeliat kebahagiaan orang lain, sementara diri sendiri nggak bahagia, lama-lama yang muncul jadi envy. Perasaan iri, dengki, dan sejenisnya.

Jadi, saya mencapai kesimpulan, buat diri sendiri bahagia dulu, baru kita bisa bahagia untuk orang lain. Bisa tulus bahagianya buat orang lain.

Saya nolongin orang, saya ngeliqoi, saya beramanah, saya kuliah sampai saya nraktir orang bukan buat siapa-siapa. Tapi buat saya sendiri. Supaya saya ada effort untuk menunjukkan pada Allah, bahwa saya pantas untuk mendapatkan kebahagiaan karena saya sudah berbuat baik, di dunia maupun di akhirat. Saya pantas berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya boleh berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya berhak berbahagia untuk semua kebaikan yang saya lakukan. Saya cuma ingin bahagia karena Allah menilai saya pantas, dengan melakukan kebaikan yang sebanyak-banyak. Kebahagiaan hakiki. Yang berlanjut hingga akhirat.

Mungkin, nasihat-nasihat itu klise untuk diucapkan, tapi jelas sekali sulit buat dipraktekan. Semacam, bersyukur, ikhlas, qonaah adalah kunci menuju kebahagiaan itu sendiri. Dan, setelah melewati tahun 2016 hingga akhir, saya paham, hal-hal tersebut cuma bisa dilakukan ketika tujuan kita straight tertuju pada Allah, dan niat kita memang karena Allah. Ternyata, semuanya memang bersumber dan berakhir pada Allah, Dzat Yang Awal dan Yang Akhir (Huwal awwalu wal aakhiru).

Dan kebahagiaan itu ternyata sesederhana kita senantiasa dekat sama Allah.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, 2016 sudah mencapai ujungnya. Seburuk-buruknya saya tahun ini, Allah masih membuka hati saya untuk menerima pelajaran. Meski saya slow learner, karena butuh setahun untuk memahami ini -_-. But, mungkin disitu ujiannya. Katanya ujian bisa memuliakan derajat seseorang, atau justru menghinakannya. Semoga buat saya hasilnya bukan opsi yang terakhir. Begitu juga dengan siapapun yang membaca ini.

Semoga Allah masih kasih kesempatan saya buat memperbaiki banyak hal, menyiapkan lebih banyak bekal, meluruskan kembali segala niat yang sudah melenceng jauh, karena meski ini ujung dari tahun ini, tapi, siapa tahu? Bisa jadi setelah menulis ini saya meregang nyawa? Who knows?

Tapi karena katanya, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kamu mati besok; mari memperbaiki plan hidup jangka panjang. Manusia merencanakan, Allah menentukan.

Wallahu a'lam bish shawwab.

*segala yang ditulis di sini cuma pendapat pribadi.
Mohon maaf untuk semua pihak yang terdzholimi sepanjang tahun ini, semua pihak yang sudah sangat saya repotin karena depresi saya, semua pihak yang sudah mengkhawatirkan saya. Terima kasih, terima kasih buat supportnya, paling tidak, saya tahu, saya tidak pernah sendirian. :). Jazaakumullah khayran katsiiran. Cuma Allah yang bisa balas, karena Dia Yang Maha Memiliki. Dia Yang Maha Segalanya.

~    

Jumat, 16 Desember 2016

Mencapai ujungnya

2016 sudah mencapai ujungnya.
Kukira aku juga ikut bergerak maju.
Tapi ternyata, sesenti pun aku tak beranjak
dari tempatku berdiri
di awal tahun ini

cemas dan depresi
silih berganti
memenuhi ruang kosong
yang seharusnya diisi
bukan dengan kesedihan

sepertiga hidup sudah habis
sisa dua per tiga
yang entah akan terjalani
atau justru berakhir esok
atau detik berikutnya

2016 sudah mencapai ujungnya
sisa dua pertiga hidup ini
mau diapakan?

meski katanya kegelapan juga hadiah
hanya saja, kepahaman tidak
selalu langsung datang
detik itu juga
bisa jadi tahun depan
bisa jadi windu depan
bisa jadi abad depan

perjuangan tidak boleh putus,
katanya
tapi untuk bergerak saja
harus menyeret langkah

semangat,
katanya
tapi jangankan berpikir semangat
berpikir hidup saja
tersengal

lalu,
benci
pada
diri
sendiri
semakin
dalam

2016 sudah mencapai ujungnya,
.
.
dan kita merayakan kepanikan akan harapan yang belum tuntas

Jumat, 18 November 2016

Kehilangan

Masih terlalu sering mendemgarkan suara ribut dalam otak. Pertentangan antara cemas, ketakutan, realita sampai pikiran positif. Seru sekali mendengarnya. Hingga lupa mana yang harusnya aku dengar dan cermati. Mana yang harusnya dieliminir.

Belum lagi ditambah dengan kata orang lain yang juga masuk ke dalam ingatan. Turut pula meramaikan suara-suara dalam otak.

Sesekali aku berteriak. "Berhenti berisik bisa tidak?!"

Hm, tapi sepertinya hanya jadi diam sesaat. Aku tidak cukup berpengaruh untuk diriku, ternyata.

Bagaimana caranya, agar aku mau mendengar diriku?

harus semangat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
katanya gitu ...

Kamis, 27 Oktober 2016

Gugur Bunga

Pengarang / Pencipta Lagu : Ismail Marzuki

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

...
Selamat jalan Eyang Kakung.

Apa sih yang kamu lakuin?
Ini dan itu
Terus, apa yang menghambat?
Ya banyak
misalnya apa?
takut orang mikir apa, takut orang kecewa, takut ...
jadi yang menghambat ketakutan itu?
mmm
emangnya sepenting apa testimoni mereka terhadap kamu?
penting
pentingnya apa?
mm, kalau mereka tiba-tiba tidak ingin berteman, atau tidak lagi menganggapku ada, bagaimana?
Memangnya selama ini itu pernah terjadi?
mm, sekali. atau dua kali atau beberapa kali?
yakin kejadian itu ada? atau hanya perasaanmu?
mmm
memangnya semua orang yang menjauh?
ti, tidak juga
lalu, memangnya harus semua orang ada untukmu? harus semua orang menyukaimu?
mm, itu nggak mungkin
terus, kenapa takut? kenapa cemas?
ekspektasi. Aku takut pada ekspektasi.
well, aku setuju itu menakutkan. But, hei, memang ada apa dengan ekspektasi?
dia berat.
Kalau begitu tidak usah dipikirkan. dijalani saja.
Tapi, itu nggak mungkin.
kenapa nggak mungkin? Kamu yang membuatnya nggak mungkin.
...
Kamu yang terus berantem sama diri kamu sendiri antara memenuhi ekspektasi orang terhadap kamu, dengan kamu ingin menjalani sesuai dengan pace yang kamu miliki.
...
memangnya kamu yakin bahwa orang berekspektasi terhadapmu?
mm, asumsi.
Nah! fantasi yang lain lagi!
...
kamu terlalu sering berfantasi. mengasumsikan ini itu, yang terlalu jauh dari realita. mungkin maksudmu adalah antisipasi hal terburuk; sebuah coping mechanism yang kamu jalankan. Tapi, hey, kamu jadi selalu bingung dan uring-uringan kan dengan semua kecemasanmu, asumsimu, ketakutanmu. memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang tetap menemanimu, meski kamu berjalan lambat ataupun saat kamu berlari? memangnya, kamu tidak percaya kalau akan ada orang yang mendukungmu, mendorongmu dari belakang ketika kamu ketinggalan, ataupun menarikmu; meski dengan paksaan? Memangnya selama ini, teman-temanmu itu sejahat itu hingga kamu merasa selalu sendirian?
tidak ...
kamu itu terlalu sibuk ketakutan, terlalu sibuk cemas, hingga nggak sadar, ada banyak tangan terulur membantu di sekelilingmu. Dan itu cukup untuk mengurangi kecemasanmu. cukup untuk mengilangkan ketakutanmu.
.
.
.
sudahi su'udzhonmu.
aku tidak bersu'udzhon.
Merasa sendirian itu sebentuk su'udzhon pada teman-temanmu, karena kamu menganggap mereka tidak mau membantumu. Juga sebentuk su'udzhzon billah, karena kamu merasa Allah tidak membantumu.
...
jadi, bagaimana?

Jumat, 09 September 2016

Tujuan

Kalau kita nggak punya tujuan, atau nggak tujuan kita apa, ya kita bakal terus-terusan muter-muter aja di sana, kesasar, muter lagi, Alhamdulillah kalau sampai pada tempat yang baik, kalau nggak?

#Kudukuat

Senin, 29 Agustus 2016

Berita Pernikahan

Menyambung, dan menyempilkan dari postingan sebelumnya tentang wisuda, ternyata di tengah hiruk pikuk kabar wisuda ini, ada kabar yang nggak kalah bahagia datang dari seorang teman. Dirinya akan menikah bulan depan. Sejak dua pekan lalu, kita-kita (gycen) yang di jogja sudah mulai menebak-nebak siapa yang akan menikah. mulai dari si A lah, si M, si M kedua wkwkwk .. tapi memang nggak ada yang bener. Pikiran kita seringkali melayang pada ukhti-ukhti jilbab lebar kalo terkait dengan 'menikah muda', pada kenyataannya temen saya yang mau nikah ini bukan tipikal 'ukhti-ukhti berjilbab lebar dan ikut halaqah pekanan'. wkwkwk ...

wallahu a'lam kenapa, tapi pun di kampus, di kalangan teman-teman yang nggak berjilbab bahkan,  juga acapkali 'mbak-mbak yang sering ikut halaqah dan rajin datang pengajian' itu terlabel dengan 'pasti menikah muda'. Jadi, asa ada berita yang mau nikah, kita-kita, yang halaqah ini sering jadi tertuduh yang menikah duluan. Padahal mah ya, ternyata saya dan beberapa teman yang halaqah ini, udah keduluan kok sama teman-teman yang lainnya. Saya yang kalem ini juga udah keduluan sama yang lebih petakilan daripada saya (temen Mts sih ini). Terus, orang-orang semacam Nikari-yang-biasa-menasehati-tentang-pernikahan juga udah dilangkahi sama orang-orang yang mungkin lebih memilih 'jalanin aja dulu pernikahannya' wkwkw.

weleh, malah jadi rasis. Saya salut dengan teman-teman yang sudah mampu memutuskan untuk menikah lebih cepat dari kebanyakan orang. Yang menikah sambil kuliah, ataupun yang menikah sembari koas (kayak temen saya yang akan menikah bulan depan ini). kuliah dan koas ini sendiri bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi ditambah dengan rempah-rempah rumah tangga, yang juga pasti bukan hal yang mudah. Belum lagi yang sudah menikah, sambil kuliah, sambil organisasi, sambil kerja.

Dulu Fitri pernah tanya, yang saya juga nggak tau jawabannya apa, "Ty, gimana sih caranya tau kita siap nikah?" waktu itu saya jawab sembarang aja. Tapi mungkin, ketika kita siap nanti, akan tau sendiri. Ketika siap untuk memikirkan tidak hanya diri sendiri, tapi juga diri orang lain yang akan jadi pasangan kita, juga yang bakal jadi anak-anak kita nantinya. Saya juga nggak tau sebentuk siap menikah itu seperti apa. Kriteria umum dan khusus nya ada atau nggak. Tapi, saya jadi inget katanya Nikari, yang itu kata sepupunya, kira-kira begini redaksinya, "suatu saat nanti kita akan butuh untuk menikah, bukan karena teman-teman kita yang lain udah pada nikah atau bukan karena kita terus ditanya, 'kapan nikah?'"

Tapi, mungkin untuk mencapai kesiapan dan kebutuhan seperti yang dibilang Nikari, butuh tahapan, dan butuh kejadian, apapun kejadiannya. Dan masing-masing orang berbeda. Jadi mungkin, pertanyaan "Apa sih yang membuat seseorang siap menikah?" tidak bisa ditanyakan ke orang lain. Tapi ditanyakan pada diri sendiri.

Btw, baarakallahulakumaa wa baaraka 'alaykuma wa jama'a baynakumaa fii khayr Eja dan calon suami :) Pernikahan ke -5. maaf ya, kami bahkan nggak terbersit sedikit pun kalo kamu yang bakal nikah --" . semoga dilancarkan segala urusan sampai hari H dan seterusnya.

Wis, udah : Refleksi Mahasiswa Tingkat Akhir #1

Rentang periode Agustus-September ini, nggak cuma satu dua orang teman saya yang telah menyelesaikan studi sarjana satunya. Alhamdulillah wa baarakallah. Semoga ilmunya berkah, bagi dirinya, juga bagi orang lain. Saya -yang sudah mulai kehilangan semangat untuk kuliah dan menyelesaikan studinya ini, mau nggak mau keseret-seret untuk segera menyelesaikan tugas akhir karena gemes ditanyain mulu, "Kamu sih kapan wisuda?" atau bahkan ada yang ngasih selamat, meski skripsi belum tersentuh sejak seminar proposal beberapa bulan lalu, "Selamat ya Kak ..." terus dilanjutin, "Selamat siang .." -______-

Memang, kondisi dimana kita sudah-nggak-ada-kelas-lagi-dan-tinggal-ngerjain-tugas-akhir sebenarnya adalah kondisi berbahaya, terutama buat saya. Begitu ada jam-jam kosong, rasanya pengen dipenuhin, dengan les ini, les itu, ikutan nyantri di sini dan sebagainya -sebagai kompensasi waktu yang saya sulit dapatkan selama masa kuliah yang padat dan penuh reschedule.

Tapi, ya gitu, ketika waktu-waktunya sudah dipenuhi, justru, skripsi ini nggak kepegang. Kadang saya berpikir, kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara saya suka banget nulis. Kenapa segitu susahnya ngerjain skripsi, sementara, saya merasa segitu menyenangkannya mengerjakan karya tulis ilmiah waktu MTs dan MA (iyakah? haha). Dan, meski seringkali kesulitanya itu sebenarnya datang dari diri sendiri yang kurang baca, plus menunda-nunda; tapi kadang-kadang malah jadi menyalahkan yang lain, dosennya beginilah, topiknya lalalili lah dan seterusnya, dan seterusnya.

Padahal, kata Bapak, "Semakin ditunda akan semakin berat,"

well said. Memang begitu ternyata, semakin saya menunda, semakin semakin semakin berat terasa. (tapi tetep aja nggak dikerjain, wkwkwk).

Sebenernya masih pengen nulis banyak seputar ini sih. Tapi malah ngebundet di pikiran. wis, udah, pokok e dikerjakan sik ....

Rabu, 17 Agustus 2016

Mencapai Bintangku [Tata AFI Junior]



kulihat malam terbentang
berhiaskan sribu bintang
diantara bintang yang bersinar
satu pasti milikku
walau jauh dan tak terbatas
pastilah didirku mampu

doa dan restumu
bagaikan seribu sayap
menghantarku membumbungku
terbang melayang
meraih bintang yang bersinar
di langit tinggi
mencapai bintangku
pasti akan kugapai cita cita

kerlipmu mengajaklu terbang
menggapai cita masa depan
diantara bintang yang bersinar
satu pasti milikku
walau jauh dan tak terbatas
pastilah didirku mampu

doa dan restumu
bagaikan seribu sayap
menghantarku membumbungku
terbang melayang
meraih bintang yang bersinar
di langit tinggi
mencapai bintangku
meraih cita cita

meraih bintang yang bersinar di langit tinggi

Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan Kalah

Kalau kamu malas, kamu udah kalah sama diri sendiri. Kalau sekarang aja kamu udah kalah, ke depannya kamu bisa terpuruk. Dunia pasca kampus itu lebih sulit lagi perjuangannya. Lebih heboh lagi ujiannya. Jangan kalah.

-Bapak, sembari menunggu kereta datang.

di rumah memang menyenangkan. Tapi kadang melenakan. Karena amal saya nggak di sini.

*bersiap kembali beramal.
Semoga Allah menguatkan hati-hati yang lemah akan dunia.

Rabu, 10 Agustus 2016

Kebersihan Sebagian dari Iman

Seminggu lagi Kak Nda akan masuk SMP di sebuah pondok pesantren. Dan hari ini Bunda mengajak Kak Nda belanja kebutuhan untuk sebulan. Tadinya, Bunda hanya mengajak Kak Nda biar nggak ramai. Tapi eh tapi, entah kenapa semuanya jadi ikut. Adik yang pertama rewel minta diajak, akhirnya Abi memutuskan belanjanya habis Abi pulang dari kantor. Dan jadilah semua ikut, bahkan Bang Dya yang sebenarnya diam saja.

"Sini Kak, Kakak mau deterjen yang kayak gimana?" Panggil Bunda. Kak Nda menghampiri diikuti Adik.

"Nggak tau Bun, baiknya yang kayak gimana? Kalau yang kayak di rumah gimana?" Kak Nda balik bertanya.

"Hmm, kalau di rumah kan kita pakai mesin cuci. Kalau besok Kakak di pondok nggak ada mesin cuci, Kak. Harus nyuci sendiri pakai tangan, kayak pas dulu Bunda ajarin. Jadi, milih deterjennya yang nggak panas di tangan aja. Nah, misalnya ini." Bunda mengambil satu deterjen dari jejeran deterjen.

"Hmm, wangi ya Bun!" Seru Adik tiba-tiba.

Bunda tersenyum, "Iya Dik, wangi. Tapi ya Kak, Dik, sewangi apa pun deterjennya, kalo kita bilasnya nggak bersih, jemurnya belum kering udah diambil, atau bahkan jemurnya kelamaan sampai berhari-hari, baunya malah jadi apek."

"Oh gitu Bun?" Ujar Kak Nda dan Adik hampir bersamaan.

"Kakak kispray-nya mau yang mana?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm, yang mana Bun. Kakak bingung. Banyak banget yang harus dipilih. Deterjen, kispray, pewangi, shampoo, sabun, odol ..." Kak Nda mulai menghitung dengan jarinya.

Bunda tertawa kecil, "Kan Kak Nda bakal hidup nggak sama Bunda sampai tiga tahun ke depan. Jadi nanti, untuk bulan-bulan berikutnya Kakak nggak bingung lagi kalau menentukan mau pakai deterjen yang mana, sabun yang mana, sampo yang mana, daan lain hal. Ini baru Kakak mau masuk pondok, belum kalo Kak Nda nanti jadi ibu, lebih banyak lagi Kak yang harus dibeli dan dipilih sebaik mungkin untuk keluarga." Jelas Bunda.

"Iih, Bunda, Kak Nda masuk SMP aja belum..." protes Kak Nda. Bunda tertawa lagi. Sebenarnya ada sesak sedikit terselip dalam tawa Bunda. Belum rela melepas anak sulungnya untuk hidup jauh dari dirinya.

"Kak, shampo-nya mau disamain aja sama di rumah?" Tanya Bunda lagi.

"Iya deh Bun, Kakak bingung sih."

"Kak, nanti pas di pondok itu, kegiatan dan jadwalnya kan sudah diatur. Jadi, Kak Nda dikira-kira ya waktunya cukup atau nggak kalau mau shampo-an. Jangan rambutnya masih basah, eh gara-gara mepet mau kegiatan terus langsung pakai jilbab, Nanti malah Kakak bisa pusing. Bisa ketombean jiga Kak rambutnya kalau kayak gitu. Bahkan mungkin bisa kutuan. Kakak nggak mau kan rambutnya kutuan? Nanti gatel terus loh."

"Hiii, nggak mau Buun.."

"Iiih, kutuuu..." seru Adik menambah dramatis pernyataan Bunda.

"Tapi, jangan nggak keramasan juga cuma gara-gara kegiatannya sangat padat. Sepadat-padatnya kegiatan, kalau kita mau meluangkan waktu pasti ada waktu kok Kak. Paling nggak tiga hari sekali lah ya keramas. Jangan nggak keramas, nanti bau rambutnya, eh malah mendzholimi temen sekamar."

"Iya, Bun ..."

"Kalau kata pepatah arab, Kak, menjaga kebersihan itu sebagian dari iman. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, kita jadi nyaman buat beribadah, buat belajar, juga buat istirahat. Tapi Kak, jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan diri. Dengan menjaga kebersihan diri, kita menjaga hubungan kita dengan orang lain; karena orang lain nyaman dengan kita yang bersih."

"Menjaga hubungan itu maksudnya gimana Bun?" Celetuk Adik tiba-tiba.

"Iya Adik, coba deh misalnya, Bunda nggak mandi berhari-hariii, terus nggak nggak ganti baju berharii-hari, nggak keramas, nggak sikat gigi, pokoknya jorok deh. Adik mau nggak deket-deket sama Bunda?"

"Hiii ... berkutu lho Bunda!" Seru Adik,

"Hahaha, iya gitu jadi Kak, Dik. Dengan menjaga kebersihan diri sendiri kita sedang memberikan hak tubuh kita, juga sedang menjaga persahabatan kita dengan orang lain. Dan lagi ya Kak, kita kan nggak tau jalan rejeki kita, bisa jadi dengan menjaga kebersihan ini ada rejeki yang Allah kasih ke kita."

"Eh maksudnya gimana Bun?" kali ini Kak Nda yang bingung.

"Jadi, siapa tau orang yang nyaman dengan kita karena diri kita bersih, itulah yang akan membantu kita waktu kita susah, ya kan nggak tau kan Kak?"

"Ooh .." Kak Nda manggut-manggut. Pun Adik, meski masih belum terlalu paham penjelasan Bunda. Bunda gemas, kemudian mengelus-elus kepala Kak Nda dan Adik.

"Bun, udah belum belanjanya? Abang laper Bun ..." Tiba-tiba Bang Dya yang sedari tadi liat-liat alat tulis ditemani Abi datang menghampiri. Mungkin lelah menunggu ketiga perempuan ini belanja sekaligus ngobrol.

"Ahaha, sudah yuk. Sudah semua kan ya Kak Nda? Kita makan habis ini." Ajak Bunda.

"Ayuk Buun!" Jawab Kak Nda dan Adik. 

*** 

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Menjaga kebersihan berarti kita sedang menunaikan hak atas diri sendiri.


"Udahin ngeluhnya. Emang apa yang bisa dibanggain dari mengeluh?"

- Bapak. selagi nungguin tukang sate selesai bakar sate.

Garis lurus

Garis yang lurus tidak selalu lebih dekat daripada garis melengkung dan berkelok

Kata Bapak. Karena ibarat kata, kalo kita minjem duit ke tetangga aja kalo ujug-ujug ngomong bisa jadi justru nggak dikasih, ketimbang kamu cerita ngalor-ngidul dulu, baru ternyata dikasih dengan mudah.

Senin, 08 Agustus 2016

Menulis

Sepertinya saya sepakat dengan Kurniawan Gunadi tentang menulis. Beliau pernah bilang di suatu seminar kepenulisan, bahwa "menulis adalah untuk berdiskusi dengan diri sendiri." Saya sepakat. Dengan menulis saya jadi menemukan. Menemukan banyak hal tentang suatu masalah, tentang suatu kejadian, juga tentang diri sendiri.
Mungkin saya sudah terlalu banyak berbicara. Dan sedikit membaca. Juga sedikit menulis. Juga sedikit mengaji. Juga sedikit mendengarkan.

Kalau begini terus, mungkin sebentar lagi, saya akan jadi 'tong kosong nyaring bunyinya.'


Selasa, 26 Juli 2016

Cinta Pertama

Cinta pertama saya belum berubah, dan mungkin tidak akan berubah. Pada ia yang saya dengar pertama kalinya melantunkan adzan dan iqomah di telinga saya. Jelas bukan Bilal bin Rabbah. Suaranya tak sebagus itu. Bahkan mungkin saya tidak ingat seperti apa rupa dan bentuk suaranya saat itu. Yang saya ingat suara-suara setelahnya, yang kerap kali mengajarkan, mulai dari hal terkecil, hal remeh temeh, hingga hal-hal besar. Mulai dari doa bangun tidur hingga doa saat resah. Yang kerap kali memberi dukungan, meski tak terucap. Yang kerap kali memberi apresiasi tanpa batas. 

Ia yang selalu bersabar mendengar, meski keluhnya sendiri ia tahan. Sesekali ia lepas hanya untuk mengingatkan, bahwa mengeluh bukannya tidak boleh; tapi ada hal yang perlu dilakukan agar keluhan tidak menelan kita. 

Ia -tempat saya bertanya saat saya sakit, meski bukan dokter. Tempat saya bertanya pula tentang alat-alat elektronik yang rusak, meski bukan insinyur. Tempat saya bertanya banyak hal, tentang kehidupan, tentang Islam, tentang Allah, tentang Rasulullah, meski bukan ustadz ataupun filsuf. 

Ia, tempat saya pulang. Tempat di mana hati saya berpulang. Tempat di mana saya mengenal 'tempat berpulang' sesungguhnya. 

 Ia yang berkata, "Nggak apa, Dek kaluar dari rumah, sekolah yang jauh. Dunia lebih luas dari sekedar Depok."

Ia yang meyakinkan, "Jangan menyerah di sini. Ini kan pilihanmu untuk sekolah jauh. Kamu sudah memulai, jadi selesaikan. Kamu udah basah, sekalian nyebur, diving, snorkling. Karena kamu nggak akan tahu keindahan laut yang sebenarnya kalau kamu cuma main di permukaannya," Ketika saya meminta untuk kembali ke rumah.

Dan, kini lagi-lagi, Ia yang mendorong, mendukung, menopang saya, "Kamu, lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan. Jangan memandang rendah diri kamu sendiri. Kamu pernah kok mengalami hal yang jauh lebih nggak menyenangkan daripada sekedar skripsi, dulu saat di pondok? Ketika kamu harus jauh dari orang tua di usia semuda itu, dengan tekanan seberat itu."

Lalu, Ia yang selalu menutup obrolan dengan, "Istighfar Dek, dzikir. Sebut aja kalimatullah yang kira-kira enak kamu ucapkan. Supaya kamu nggak hilang kendali."

Ia, cinta pertama saya. Dan hingga detik ini dan seterusnya, saya masih akan selalu mencintainya.  
Ia mengenalkan saya pada dunia. Juga akhirat.

Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang Bapak.


Ya, Rabb, izinkan saya menjadi kunci surga bagi kedua orang tua saya.

Selasa, 19 Juli 2016

Takjub

Saya masih sering takjub sama diri saya sendiri karena ternyata mampu bertahan hingga detik ini di jurusan ini.

Minggu, 17 Juli 2016

Shalat Yuk, Nak ...

Ternyata sesulit itu mengajak anak untuk shalat,

terutama jika tidak diajak sejak kecilnya, tidak dibiasakan sejak dini ...



-catatan pasca Junior Smart Camp 2016 di desa wisata pentingsari, kaliadem
ditulis si Perpustakaan kota jogja jam 18.23

Senin, 04 Juli 2016

Home Sweet Home

Rumah adalah tempat di mana hati kita berpulang, ...

Selamat datang kembali di rumah :)

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat melanjutkan puasa sehari lagi. :)

#29HariMenulisCinta
Sudahdirumah

Minggu, 03 Juli 2016

Rumahku, Surgaku

Adik berlarian masuk ke rumah. "Bundaaa..! Buun ...!"

"Iya, sayang?" Bunda menyambut dari arah dapur. Adik langsung memeluk Bunda.

"Salam dulu kek, Dik. Assalamu'alaikum, Bun," Ujar Kak Nda dari balik Adik.

"Assalamu'alaikum, Bundaa"

Bunda tersenyum. Sekarang anak-anak ini sudah mulai terbiasa untuk salam ketika akan masuk rumah. "Wa alaikum salam, Adik, Kak Nda. Gimana tadi ke pesta ulang tahunnya Sarah?"

Adik dan Kak Nda memang baru saja pulang dari rumah Sarah, teman Kak Nda yang merayakan ulang tahunnya ke-11 dengan mengundang teman-teman sekolahnya. Sebenarnya yang diundang hanya Kak Nda, tapi saat Kak Nda mau berangkat tadi, Adik ribut pengen ikutan ke pesta ulang tahun. Jadilah Kak Nda membawanya serta. Ketambahan satu orang sepertinya tidak apa-apa, asal Kak Nda tidak membawa serta sepupunya juga.

"Bun, Bun, rumahnya Kak Sarah gedee banget deh Bun." Celoteh Adik riang begitu semuanya duduk di ruang baca keluarga, turut menghampiri Bang Dya yang masih asyik membaca komik di sana. Membagi-bagi bingkisan yang dibawa pulang dari rumah Sarah.

"Oh iya? Dan sebesar apakah itu?" Tanya Bunda menanggapi Adik.

"Besaaar bangeeet Bun," Kata Adik sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Terus ya Bun, ada tangganya, kamarnya Kak Sarah ada di atas Bun. Terus Adik naik kan ke atas. Di atasnya juga besaaar Bun. Besaaar kayak istana Bun."

"Biasa aja kali, Dik. Lebay banget sih." Celetuk Bang Dya yang diam-diam turut memperhatikan tingkah Adik. Bunda tertawa.

"Adik suka rumah yang besar begitukah?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm.. kayak istana sih Bun ..." ada ragu terselip dalam jawabnya.

"Kalo Kak Nda sama Bang Dya gimana? Suka nggak kalo punya rumah yang besar gitu, kayak rumah Kak Sarah?"

"Nggak juga Bun. Kan kalo lagi sendirian serem." Ungkap Kak Nda yang masih sibuk membagi-bagi bingkisan makanan menjadi adil untuk bertiga.

"Kalo Abang ga bisa main sepeda di dalem rumah yang gede mah sama aja boong Bun ..." jawab Bang Dya asal. Bunda tertawa.

"Adik sini, duduk deket Bunda, Bunda bilangin sesuatu. Buat Kak Nda sama Bang Dya juga." Ketiganya merapat mendekati Bunda.

"Kalo rumahnya di dunia, rumah yang sebesar yang kita punya ini sudah cukup, Nak. Satu lantai, ada kamar untuk tidurnya, ada dapurnya untuk masak, ada kamar mandinya buat mandi, buang air kecil, buang air besar juga. Ada garasinya untuk naruh kendaraannya Abi, sepedanya Kak Nda sama Bang Dya juga.

Ada lho Nak, yang rumahnya hanya ada satu ruangan, ya masak di situ, ya tidur di situ, dan kalo mandi di sungai. Ada juga yang bahkan tidurnya ga pakai rumah. Tapi di jalan-jalan, di stasiun, di terminal. Karena memang mereka ga punya cukup uang untuk punya rumah.

Tapi Nak, ada yang merasa rumahnya luas meski hanya sepetak tanah, seluas kamar Kak Nda sama Adik tapi ditinggali oleh 5 orang. Ada pula yang merasa rumahnya sempit meski luasnya cukup untuk orang sekampung. Semuanya tergantung sama kitanya yang menempati..."

"Tergantung kita bersyukur ato nggak. Ya kan Bun?" Potong Kak Nda di tengah-tengah. Bunda mengacungkan dua jempolnya ke arah Kak Nda.

"Yup. Kita syukuri yang kita miliki. Alhamdulillah Allah masih kasih kita rumah tempat berlindung dari panas, dingin, hujan ataupun terik matahari.

Kalau di dunia itu ya Nak, tidak apa rumahnya sempit. Yang penting nyaman. Nyaman untuk ditinggali dan dipakai ibadah. Yang penting hidup dengan obrolan dan aktivitas yang baik di dalamnya juga dengan shalat penghuninya. Dan yang penting terang dengan bacaan Quran para penghuninya.

Dan kalau mau punya rumah yang besar nanti saja, di surga. Rumah yang kayak istana. Kita bangun rumahn di surganya bareng-bareng. Bunda sama Abi, sama Adik, sama Kak Nda juga Bang Dya."

"Caranya gimana Bun?" Tanya Adik. Matanya melebar tertarik.

"Shalat dhuha, Nak. Juga sedekah dan infaq. Semoga dengan yang sedikit yang kita berikan ke orang lain bisa jadi batu bata yang menyusun rumah kita, istana kita di surga nanti." Bunda tersenyum mengakhiri ceritanya.

"Kak Nda mau Bun punya rumah yang kayak istana di surga."

"Bang Dya juga mau."

"Kalau gitu, mulai besok, kalau Bunda sama Abi kasih uang saku, Kakak sama Bang Dya menyisihkan sedikit untuk diinfaqkan ke masjid. Atau dikumpulkan dulu di kotak, nanti kalau sudah banyak baru disedekahkan."

"Lah Bun, adik kan ga ada uang saku, Adik sedekah pake apa?" Tanya Adik yang baru saja masuk TK nol kecil.

"Bisa dengan senyum, sayang. Rasulullah pernah bilang, senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Senyum, dengan senyum kita bikin orang lain juga jadi senyum. Senyum itu nular, Nak kalau senyumnya dari hati. Karena yang dari hati akan sampai ke hati pula."

"Iya, Bun. Mulai sekarsng Adik ga may banyak-banyak cemberut. Biar bisa nyumbang batu bata buat istana kita di surga nanti"

Bunda memeluk ketiga anaknha sekaligus. Betapa cintanya terhadap ketiga anaknya membuatny senantiasa berdoa semoga istananya di surga benar-benar terbangun dari usaha kelima orang yang ada di keluarganya. :)

#29HariMenulisCinta
Keluarga Samudera series

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Selamat menyusun batu bata untuk rumah yang seperti istana di surga nanti :)

Jumat, 01 Juli 2016

Pulang

Ingin segera pulang, agar mengingat bahwa selalu ada rumah untuk kembali pulang.

Dan tempat pulang terbaik adalah tempat di mana kamu mampu bersyukur apapun keadaannya, tempat di mana kamu senantiasa mengingat Sang Khaliq ...

#29HariMenulisCinta
MasihdiJogja.
Hanyamengabari.

Kamis, 30 Juni 2016

Dipersiapkan

Yakinlah, kejadian-kejadian yang terjadi hari ini adalah untuk mempersiapkan diri ini untuk kejadian-kejadian yang akan datang di masa depan.

Bisa jadi di masa depan nanti memasuki fase yang lebih buruk dari hari ini, tapi kita tahu, kita bisa melewatinya; karena kita pernah melewati fase yang tidak jauh beda buruknya -menurut kita- di masa yang lalu.

Kita jadi kuat.

Nikmati prosesnya.

Selamat berproses menjadi baik. Yakin, bahwa Allah selalu mempersiapkan hamba-hambaNya untuk melalui setiap fase dalam hidupnya.

#29HariMenulisCinta
BerusahaYakin.
DialogMalam.

Rabu, 29 Juni 2016

Datang dan Pergi

Tarbiyahnya Allah itu bisa melalui jalan apapun. Seringkali melalui jalan yang tak diduga, tak disangka. Bisa jadi tiap langkah yang diambil juga tiap nafas yang dihela merupakan tarbiyah dari-Nya.  

Termasuk juga perkara ditinggalkan dan meninggalkan. Orang datang dan pergi bukan hal yang luar biasa. Lumrah terjadi. Setiap kali ada orang lama yang pergi, ada orang baru yang datang, pun juga sebaliknya. Orang-orang ini sudah barang tentu tidak hanya lewat begitu saja dalam hidup. Masing-masing mungkin dititipkan pesan oleh Sang Khaliq agar diri ini bisa belajar melalui orang-orang ini. Tentang bersikap mungkin, tentang dewasa, tentang pemakluman dan toleransi, tentang kasih sayang, tentang ukhuwah, tentang menghargai dan menghormati, dan tentang-tentang lainnya yang mungkin jauh lebih banyak ketimbang apa yang terlihat.

Beberapa orang ringan meninggalkan; ringan pula ditinggalkan. Tapi beberapa orang lainnya merasa sebaliknya. Bukan berarti tidak mengikhlaskan ataupun tidak mendukung keputusan apapun yang orang lain pilih. Hanya saja ini membuktikan bahwa ukhuwah di antara kita sudah melalui banyak fase, banyak tahapan -mulai dari ta'aruf hingga bullying (karena katanya pembully-an adalah tahapan tertinggi ukhuwah di atas itsar *entah sumber darimana tapi jelas bukan dari As Sunnah maupun Al Quran), hingga rasanya berat untuk ditinggalkan -maupun meninggalkan.

Banyak orang datang dan pergi dalam hidup satu orang. Tentu bukan untuk suatu hal yang sia-sia. Ada tarbiyah Allah di dalamnya. Agar semakin menjadi pribadi yang lebih, dan lebih baik lagi dari hari ini. Tinggal, seberapa peka diri ini menangkap apa makna di baliknya ...

Wallahu a'lam bish shawwab

Selamat berproses menjadi lebih baik. Dan lebih baik lagi dari hari ini. Hingga jika bertemu lagi usai keterpisahan; bisa bertemu lagi dalam pribadi yang sudah jauuh lebih baik berkali-kali lipat :)

#29HariMenulisCinta
Rapel
Adayanglunturdarimata, bukanmakeup.
Mempersiapkandiriditinggalkandanmeninggalkan.
Berhijrah

Jadi Orang Baik

Menjadi orang baik itu perlu dibiasakan. Dan pembiasaan butuh kesabaran. Butuh keikhlasan juga.

Butuh niat dan azzam. Butuh tekad juga.

Jangan menyerah untuk jadi baik. Percaya, akan ada hal-hal baik untuk orang baik. Apapun itu.

*Usai membaca [QS. An Nuur (24) : 26].

Selamat berproses menjadi lebih baik. Jangan menyerah untuk menjadi baik. Jangan sekarang. Jangan nanti.

#29HariMenulisCinta
BaladaRamadhanMengejarCintaNya

Selasa, 28 Juni 2016

Qowiyyul Jism

Catatan I'tikaf tahun ini adalah bahwa poin qowiyyul jism dalam 10 muwashshaffat bukan sesuatu yang boleh diabaikan.

Karena ketika fisik tidak sehat, ibadah pun tidak maksimal.

Selamat berproses menjadi lebih baik.
Selamat berusaha menjadi pribadi yang lebih qowiy.

#29HariMenulisCinta
Rapel.
Lambungnyapanas.
Setelahkemarinmasukangin.
Dasarlemah. Haha.

Baarakallah Adek Kece.

Either kamu memilih untuk mengambil pilihan yang ada, ataupun memilih untuk membuka jalan yang lain, jangan lupa untuk libatkan Allah.

Libatkan Allah dalam setiap urusanmu. :)

Karena Allah selalu tahu, Allah paling tahu apa yang terbaik bagimu.

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat menjadi orang baik.

#29HariMenulisCinta
Tertinggalbeberapahari.
Bapersession.
Nggakbisangomonglangsung.

:)

Sabtu, 18 Juni 2016

Waktu Egois

Ini ceritanya obrolan sesama perempuan

S : Mbak, aku mikir tahu, justru sebenarnya ketika kita haidh, kita jadi ga punya waktu egois juga waktu istirahat
M : Kenapa gitu?
S : soalnya kalo ada waktu shalat kan berarti kiylta jadi punya waktu egois. Karena kan ga ada itsar dalam ibadah. Kita mau shalat duluan kek, mau wudhu duluan, mau dzikirnya lama berarti ga masalah kan? Itu jadi ada porsi waktu egois kita yang udah dikasih sama Allah. Pas kita haidh, kita jd ga punya waktu egois itu. Kita jadi tetap ngerjain kerjaan orang lain juga. Karena pasti ada aja yang bilang 'dikerjain aja sama yg lagi ga shalat' . .
M : mm iya sih tapi justru itu jadi ladang amalnya yang lagi haidh, karena bolong shalatnya, iya ga? Masing-masing punya ladang amalnya sendiri ...
S : hmm iya juga ya mbak ...

Selamat berproses menjadi lebih baik. Selamat berpuasa.

#29HariMenulisCinta
Rapel karena ketinggalan

Doa

seringkali manusia berdoa untuk hal duniawi, padahal rezekinya di dunia sudah ditetapkan. Dan lupa berdoa akan akhiratnya, padahal akhiratnya masih belum pasti.

Padahal jika berdoa meminta akhirat, dunia pasti mengikuti, katanya ...

Hikmah kemarin sore usai suatu forum melingkar.
Mari berdoa. Selamat berproses menjadi lebih baik.

#29harimenuliscinta
tertinggal beberapa hari

Selasa, 14 Juni 2016

:)

Bingung Mau Menulis

Saya bingung mau menulis apa. Akhirnya saya menulis seperti ini saja. Menyampah dulu, siapa tahu nanti-nanti ada beneran yang bisa saya tulis. Saya kalau sedang stagnan seperti ini jadi inget saran dari para sesepuh di FLP jogja, tiap kali materi kepenulisan dengan beliau-beliau ini. Beliau-beliau ini selalu bilang, "ya kalau bingung menulis sesuatu, tulis saja apapun. Bahkan kalau kalian bingung, tulis saja 'aku bingung nulis' dan seperti itu, nanti insyaAllah bakal ada aja sesuatu yang bisa ditulis"

Dan lagi-lagi, saya mengingat suatu tulisan yang saya baca di dasbor goodreads saya, (saya lupa sih ini sitasi dari siapa), bahwa menulis itu seperti air yang dialirkan dari keran. Selama kita tidak membuka kerannya, ya airnya tidak akan keluar. Selama kita tidak mulai menulis, ya, bisa jadi tidak ada sesuatu yang bisa ditulis. Jadi, kadang dalam menulis itu ada dua alasan : kita ada ide, lalu kita tulis atau kita menulis, maka kemudian ide itu hadir. 

Seperti tulisan ini.


Tapi yang selalu saya heran, kenapa skripsi meskipun sudah dipandangi dan dipelototi dan mencoba membaca, tetap tidak ada ide untuk menulis ._.



Selamat berproses menjadi baik. Selamat berpuasa.
#29HariMenulisCinta
Ketinggalan. Tulisan hari Sabtu yang baru publish karena koneksi terbatas kemarin --"

Namanya Rayhan

Rayhan ini seorang adik di kelas Sanggar Menulis Cahaya, Perpustakan Kota Yogyakarta. SMC ini adalah program kerja sama antara Forum Lingkar Pena Yogyakarta dengan Perpustakaan Kota. Sudah sekitar sebulan ini saya menjadi tentor menulis di kelas hari Jumatnya, meski sebenarnya kemampuan menulis saya masih sangat jauh dari kata Kece. Dan di sanalah saya bertemu dengan banyak adik, salah satunya Rayhan ini.

Rayhan sebenarnya sama seperti anak SD laki-laki pada umumnya, yang belum tentu penurut, suka ngejahilin teman-temannya, pun ditambah dia suka protes. Yang protes "Mbak, udah dong Mbak, ndang ditutup, ayo mulih." atau "Mbak, uwis tho Mbak, aku arep main komputer," atau "Mbak, aku wegah nulis," dan sebagainya. Nggak sekali dua kali juga teman-temannya dijahili, terutama teman-teman perempuan, yang acapkali menimbulkan adu mulut yang heboh antara dia (saja) versus teman-teman putrinya di kelas. 

Tapi, seprotes-protesnya, ada suatu hari dimana saya kagum sekali sama anak ini. Dibalik kelakuan bocahnya dia; ada kedewasaan yang sampai sekarang saya masih wow. Haha. Jadi, di kelas saya ini saya menerapkan sistem bintang. Satu bintang untuk setiap satu tulisan yang ditulis di buku tugas mereka; entah itu ditulis hari H, ataupun ditulis saat di rumah. Setiap kali terkumpul 5 bintang, yang itu artinya terkumpul 5 tulisan; maka boleh ditukar dengan satu item berupa alat tulis ataupun buku dengan budget yang setara. Di awal, saya tidak bilang ke adik-adik akan ditukar dengan apa 5 bintang itu. nah, ketika, sudah banyak adik yang bintangnya hampir mencapai 5, adik-adik yang perempuan ribut bertanya, "Mbak, Mbak bintangnya ditukaer apa Mbak?" Bahkan ada yang protes (meski barangnya belum dikasih), "Mbak, jangan alat tulis doong," dan yang semirip itulah. Tiba-tiba ditengah riuh rendah itu Rayhan nyeplos, "Uwis tho, wis dikasih ki bersyukur, iso ne protes wae," Masya Allah, adik sekecil ini -kelas 5 SD saja sudah paham konsep bersyukur; dan belakangan saya tahu bahwa nilai Rayhan di sekolah sebenarnya masih di bawah teman-teman putri (yang satu sekolah dengannya); tapi ia tidak lepas dari kata bersyukur itu.

Satu hal lagi yang membuat saya terenyuh adalah, pertemuan pekan lalu, bintang Rayhan sudah mencapai 5, yah dengan berbagai macam tulisan. Yang paling panjang adalah ketika dia menuliskan tentang perang Baratayudha, mecapai 2 lembar buku tulis yang besar. Dan yang paling pendek paling hanya 3 baris. Tapi tetap saya kasih bintang, apresiasi atas usahanya dan keinginannya untuk datang ke kelas dan menulis, di saat teman-temannya yang putra sudah mulai malas datang ke kelas. 

Karena hari itu juga kondisi badan saya lagi agak tidak fit, jadi saya hanya menjabarkan sedikit materi, lalu membebaskan adik-adik mau menulis atau mau membaca, kalau sudah selesai baik itu menulis atau membaca silakan lapor ke saya untuk dapat bintang yang lainnya lagi. Rayhan waktu itu memilih untuk membaca, saat selesai di lapor -yang saya minta untuk menceritakan ulang tentang buku yang ia baca. Selesai itu, dia tiba-tiba bilang, "Mbak, aku uwis limo yo bintange",

Saya bilang, "Iyaa, Ray, mau dituker apa?"

Dia jawab (sambil gambar di kertas presensi saya), "Mbak, bintangku dituker spidol 12 warna yo; kanggo adikku. Adikku ngegambar soalnya Mbak." lagi-lagi saya dibuat terpukau; di saat-saat teman -teman lainnya sibuk mengandai-andai item apa yang akan jadi milikinya, Rayhan ini justru minta sesuatu dan sesuatu itu bukan untuk dirinya, tapi untuk adiknya. Di balik segala keributan yang ia buat, ia adalah seorang penyayang. Penyayang pada Rabbnya, juga pada manusia. 

irham man fil ardhi yarhamka man fiissamaa'i   
Sayangilah olehmu yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh Yang Di langit.

Saya bersyukur waktu itu saya mengambil tawaran menggantikan Mbak Lian untuk jadi tentor menulis di SMC ini, hingga akhirnya saya belajar banyak dari adik-adik ini, dan salah satunya adalah Rayhan ini. Jangan kapok ya dek, haha :)

Belajar dari mana pun. Belajar dari apa pun. Belajar dari sekarang. Selamat berproses menjadi lebih baik. :)
#29HariMenulisCinta
Ketinggalan kemarin.
Btw, sebenarnya ini tulisan hari jumat, baru selesai sekarang --"

Kamis, 09 Juni 2016

Menghafal Al Quran

Siang ini tadi saya baru saja nonton film Surga Menanti yang berkisah tentang seorang anak yang berjuang menjadi hafidzh, meski cobaan satu demi satu datang padanya. Mulai dari Ibunya yang kena leukimia, hingga ayahnya yang meninggal. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Berjuang menjadi hafidzh -ataupun hafidzah, seorang penjaga ayat-ayat Al Quran juga merupakan cinta dan cita saya sejak dulu (Amiin ya rabb). Pun saya yakin yang mencitakan hal tersebut tidak hanya satu dua orang. Tapi banyak. Banyak. (dibaca dengan nada ala ala iklan toko online gitu). Tapi, seperti kata Mas Pandhu, ketua Halaqah Quran Forsalamm, bahwa yang menginginkan untuk menghafal quran itu ada banyak. Tapi yang mau hingga mengazamkan itu lebih sedikit daripada itu. Dan yang melakukan aksi terhadap azam tersebut jauh lebih sedikit lagi daripada itu.

Wallahu a'lam saya termasuk yang mana. Tapi suatu ketika di masjid Nurul Ashri, Deresan, usai shalat ashar saya bertemu seorang ibu yang tiba-tiba mengajak ngobrol.

"Mbak santri sini?" (merujuk pada rumah tahfidzh jogja, dan saat itu bertepatan dengan dauroh penerimaan rumah tahfidzh).
Saya jawab, "Nggak Bu, Saya di sini cuma numpang shalat, hehe."
"Nggak daftar Mbak?"
"Mm .. saya pengen sih Bu, cuma karena tahun ini saya juga koass, InsyaAllah. jadi sama Bapak saya disuruh nyelesein dulu, takutnya malah nggak ada yang maksimal dari kedua hal itu. Terus nanti kalo udahan koasnya Bapak mempersilakan kalo mau tahfidzh dengan mondok"
"Alhamdulillah, seenggaknya Mbak adanya rasa ingin hafalan Quran, jadi santri itu harus disyukuri. Karena nggak semua orang loh Mbak punya keinginan yang seperti itu. Minimal punya keinginan dulu."

Saya tertegun. Ke belakang, si Ibu cerita kalo anaknya susah banget diajak ke kajian, nggak mau mondok, ngaji dan lain-lain. Iya ya, mungkin memang adanya keinginan untuk menghafal adalah cara awal kita memulai menghafal quran, hingga nanti entah ada aksinya atau tidak. Sama seperti jihad. Paling tidak kita meniatkan dulu untuk berjihad. Maka, ada keinginan untuk menjadi lebih baik ini mungkin bisa jadi sesuatu hal yang srringkali luput untuk disyukuri oleh kebanyakan orang. Alhamdulillah masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menginginkan hal-hal baik. :-)

Mari Bersyukur. Dari hal yang paling kecil. Dari sekarang. Dari diri sendiri.

Selamat berproses menjadi lebih baik.:-)

#29HariMenulisCinta
Go Go Power Ranger
*telat karena tepar kemarin -_-

Rabu, 08 Juni 2016

Membangunkan dan Dibangunkan

Kali ini saya mau sedikit membahas perkara membangunkan dan dibangunkan dalam konteks tidur, baik itu tidur siang, tidur malam ataupun dalam posisi ketiduran; yang pasti bukan tidur dalam kubur (halah apasih). Karena sejak lulus SD saya di pondok, lalu lanjut sekolah berasrama, dan sekarang pun jauh dari rumah; jadi yang namanya dibangunkan dan membangunkan sudah menjadi sebuah kebiasaan tersendiri buat saya.

Bagi beberapa bocil yang tidak terbiasa bangun pagi, bisa jadi kehidupan pondok menjadi siksaan tersendiri karena paling tidak sebelum shubuh sudah harus bangun dan mengantri mandi (iya, dulu saya mandi sebelum shubuh, karena 1 kamar mandi dipakai mengantri sekitar 20 orang atau lebih). Ya kalo nggak, konsekuensinya bisa telat masuk sekolah.

Alhamdulillah, saya termasuk orang yang terbiasa bangun pagi sejak kecil. Dibiasakan oleh orang tua saya, jadi saya termasuk orang yang -Alhamdulillah-nya survive. Tapi waktu tahun pertama di MTs saya bukan orang yang bangun paling pagi. Saya bangun pagi, tapi bukan yang paling pagi. Jadi saya masih jadi orang yang dibangunkan, baru setelah naik kelas 2 MTs saya terbiasa membangunkan orang hingga detik ini.

Perkara dibangunkan dan membangunkan ini saya belajar dari seorang teman, Qonita namanya (sekarang beliau kuliah di Klantan, Malaisya). Waktu kelas 2 MTs itu saya, bisa dibilang termasuk orang yang gemesan dan nggak sabaran kalo bangunin orang. Alhasil saya, dulu, kalo bangunin pasti galak banget. Yah macemnya, "Eh bangun woy. Bangun sebentar lagi shubuh, mau telat?" terus intonasi dan nadanya tinggi udah berasa kayak apaan tau. Terus kalo gemes maksimal saya bakal mengguncang-guncang orangnya tanpa ampun.

Tapi Qonita nggak melakukan hal itu., dan bahkan orang yang susah dibangunin aja bangun sama dia dengan cara ngebanguninnya yang lembut, sopan santun, dan ngayomi. Dia ga pake acara ngeguncang-guncangin badan orang dengan heboh kayak saya, dia cuma megang lengan orangnya, terus dengan lembut bilang "Ty, bangun yuk udah shubuh". Eaaa asa kayak dibangunin sama bidadari dah. Haha.

Itu pelajaran pertama yang saya ambil dari Beliau. Bahwa membangunkan orang ada adabnya juga. Ada caranya juga. Dan pelajaran utama dari membangunkan orang adalah kesabaran. Sabar ketika orang yang dibangunkan malah justru marah-marah, meski dia sendiri yang minta dibangunin. Sabar ketika yang dibangunin bilang "5 menit lagi dong", dan berkata hal yang sama setiap 5 menit kita ngebangunin. Sabar juga ketika yang dibangunin baru bangun ketika kita ngebangunin dia untuk yang entah keberapa kalinya.

Dan ketika orang dibangunkan dengan halus, maka kita membantu orang yang kita bangunkan untuk punya mood yang baik sejak pagi. Nggak kesel karena kita banguninnya pake acara nyiram air misalnya (ekstremnya sih). Termasuk saya belajar untuk tidak menyalakan lampu kamar orang-orang yang biasa tidur dengan mematikan lampu; bukan apa-apa sih, meski itu cara efektif buat bangunin orang, tapi menurut saya itu juga sudah termasuk kasar sih (ya, standar kasar orang beda-beda). Soalnya saya pun ga suka bila ada orang yang menyalakan lampu mendadak ketika saya sdg tidur (meski saya tidak termasuk orang yang tidur dengan mematikan lampu).

Pelajaran kedua yang saya ambil dari teman saya adalah, Qonita adalah orang yang selalu bilang "Makasih ya udah ngebangunin" sambil senyum waktu pas pertama kali dibangunin, meski habis itu tidur lagi. Haha. Tapi kata makasih itu buat saya nyentuh banget. Ada apresiasi atas usaha orang yang ngebangunin. Dan btw, langsung senyum waktu pertama bangun itu susah loh. Nggak jarang saat bangun pertama mood udah jelek. Dan, jangankan bilang makasih, kadang-kadang mungkin doa bangun tidur aja lupa. haha.

Saya sejak mengenal teman saya itu sampai sekarang masih sedang mengusahakan dua hal ini dalam hidup saya yang lebih lama habis di antara teman-teman ketimbang keluarga, di mana di dalamnya banyak yang mengandalkan saya untuk membangunkan mereka. Dan suatu saat pun saya akan mengandalkan orang untuk membangunkan saya (suatu keniscayaan sih ini). Saya ingin ketika saya ada di posisi membangunkan, saya tidak merusak hari orang dengan mengacaukan mood nya sejak bangun tidur. Dan saya pun ingin ketika saya ada di posisi dibangunkan, saya bisa mengucapkan terima kasih dan nggak bikin orang yang membangunkan jadi sebal.

Sedang mencoba membuatnya menjadi akhlaq. Karena katanya akhlaq adalah sesuatu yang spontan kita lakukan. :)

Selamat berproses menjadi baik. selamat berpuasa.

#29HariMenulisCinta
Go Go Power Ranger!

Selasa, 07 Juni 2016

Cinta dan Mencintai

Cinta itu kata kerja. Jadi ia bisa ditumbuhkan. Bahkan pada apa-apa yang kita benci.

Karena ia kata kerja, maka sebenarnya mungkin istilah yang pas adalah bangun cinta. Sehingga cinta itu terbangun dan membangun kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Bukan jatuh cinta. Karena jangan sampai kita jatuh dalam kecintaan yang tidak seharusnya atau jangan sampai kita terjatuh karena cinta.

*sedang mencoba mencintai skripsi

Hari #2 Ramadhan
#29HariMenulisCinta

Senin, 06 Juni 2016

Ramadhan (lagi)

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, masih diberi kesempatan untuk memasuki bulan mulia ini, dan semoga diizinkan pula untuk menyelesaikannya hingga akhir (meski sejak seorang perempuan baligh, kemungkinan untuk bisa puasa full sebulan itu sangat kecil).

Tadi pagi saya merenungi hari ini, hari pertama puasa.

Saya harus memetik hikmah sebanyak-banyaknya di bulan ini, menuai pahala sebanyak-banyaknya karena ramadhan kali ini saya literally nganggur. Mungkin tahun depan saya nggak bisa senyaman ini Ramadhannya. Pun mungkin juga nggak bisa mudik saat lebaran.

Atau mungkin tahun depan tidak lagi bisa bertemu Ramadhan. Who knows?

Selamat memaknai Ramadhan :) meski ia hadir setiap tahunnya ...

Minggu, 05 Juni 2016

Bosan

Belakangan, rasanya jadi lebih sering merasa bosan. Hmm memang sih lebih sering tidak melakukan apa-apa ketimbang melakukan apa-apa. Meski pun sebenarnya banyak kerjaan yan harus dikerjakan. Dan ujung-ujungnya tidak ada yang selesai; atau bahkan tidak ada yang tersentuh.

memang sih, belakangan hidup saya makin sporadis haha. Mengerjakan apa-apa tanpa perencanaan. Untuk orang-orang tertentu mungkin tidak masalah, tapi untuk saya, saya jadi nggak tahu sejauh apa hidup saya sudah berprogres. Sejauh apa achievement yang sudah saya dapatkan. (Terus, kalo saya bilang kayak gini, njuk ada yang komen : golongan darah A ya ty? -_-)

Mungkin, belakangan saya jadi lebih hati-hati merencanakan. Atau jadi lebih takut? Mungkin, idealisme saya sudah mulai terkikis realita bahwa tidak semua hal yang kita rencanakan berbuah manis saat itu juga. (halah, bahasa gue).

Atau mungkin semua ketidakberesan hidup dan amanah saya belakangan sebenarnya karena iman saya sedang luntur? Sedang saya masih mencari-cari pembenaran atas semua kemalasan saya.

Subhanallah. Maha Suci Allah. Dan manusia hanyalah makhluk hina dan bodoh.



Jumat, 03 Juni 2016

2 Juni yang lain lagi

Kemarin, kali keempat kami melewatkan 2 juni yang lain lagi setelah 2 juni tahun 2012. 2 juni yang menjadi hari pelepasan siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia angkatan 15. 2 Juni yang menjadi hari terakhir kami melantunkan senandung asmaul husna untuk terakhir kalinya bersama-sama seangkatan dalam naungan atmosfer IC.

Sejak 2 Juni 4 tahun lalu, hingga kini, sudah terjadi banyak hal rupa-rupanya. Ada yang menikah, sampai punya momongan. Ada yang ke luar negeri untuk lomba, conference, hingga exchange. Ada yang sudah wisuda, koas, bahkan mungkin sudah kerja. Ada juga yang seperti saya .. masih mengumpulkan niat untuk mengerjakan S*****i.

Sejak 2 juni lalu, dan tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya, komunikasi kami terbatas ruang, meski teknologi sudah semakin advance dengan segala macam fitur; tetap saja rasanya terbatas.

Lalu, sejak 2 juni hari ini, hingga 2 juni tahun depan, akan ada kejadian apa lagi ya kira-kira?

Hari itu, 2 Juni, kami menjadi alumnus.


Jumat, 20 Mei 2016

suatu ketika, saat jelang shalat maghrib

T : Fi, imam gih
F : nggak mau ah, kamu aja
T : dih, kamu juga yang anak DS,
F : terus kenapa gitu kalo anak DS?
T : ya kan lebih sholihah :p
F : Mana ada ...
T : lebih bagus bacaan qurannya, lebih banyak hafalannya
F : nggak jugaa kaliii. Udah kamu aja Ty.. ntar makin lama lho shalatnya
T : Dih, ntar kalo aku yang jadi imam bacanya al ikhlas lho
F : hah?
T : Iya, surat al ikhlas sama surat an nas
F : -________- iya terus kenapa gitu Ty?
T : . . .
F : itu ceritanya ngancem?
T : hehe ...

"Tetaplah disini… dijalan ini… bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh… Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya… tetaplah disini…

Jika bersama dakwah saja…
kau serapuh itu…
Bagaimana mungkin dengan seorang diri?
Sekuat apa kau jika seorang diri…?"

-Catatan Nasihat Ust. (Alm) Rahmat Abdullah-

Syuro

sejatinya diri kita syuro setiap harinya, bukan dalam makna jama'i alias antar individu. Tapi kita syuro dengan diri kita sendiri. Antara akal dengan hati, antara masing-masing anggota tubuh. Karena hidup ini penuh dengan pilihan, dan karena kita selalu menginginkan plihan terbaik untuk diri kita. Maka mekanisme syuro kita gunakan. Tidak ada istilah voting antar anggota tubuh kan? Apalagi antara akal dengan hati.

Lantas, bila akan syuro jama'i saja kota mempersiapkan ruhiyah kita dengan baik sebelumnya dengan misal tilawah minimal satu juz sebelum syuro untuk menjaga kondisi diri kita dan syuro yang baik, maka sudah seharusnya kita senantiasa menjaga ruhiyah kita dengan baik, agar syuro-syuro yang kita lakukan dengan diri kita sendiri juga mendapatkan hasil terbaik.

-taujih seorang teman kemarin

Kamis, 19 Mei 2016

Mencintai

Mencintai yang paling baik, mungkin ketika saat mencintai kita bisa menjadi diri kita sendiri -tanpa perlu berpikir 'apa kata orang lain, termasuk yang kita cintai'; di saat yang bersamaan kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.

Dan karenanya, mungkin mencintai Sang Khaliq dengan sebenar-benarnya cinta adalah mencintai yang paling baik. Karena kita tidak perlu mendengarkan apa kata orang. Kita menjadi diri kita sendiri. Kita hanya perlu mendengarkan firmanNya, yang mana dalam firmanNya ada petunjuk, peringatan, dan pedoman untuk kita menjadi lebih baik. Kita menjadi versi diri kita yang terbaik.

Tidak semua yang muslim mampu mencintai Sang Khaliq dengan sebenar-benar cinta, dengan bulat dan utuh. Pun aku. Tapi bukan berarti tidak berusaha menuju ke sana. Toh, cinta adalah kata kerja.

Senin, 02 Mei 2016

Hari Ini

Hari ini tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional ..

Hari ini teman-teman kampus UGM merayakannya dengan 'berpesta' di sekitaran gedung rektorat. Meminta hak dan klarifikasi dari 'Ibunda'.

Riuh rendahnya tak hanya terdengar di dunia nyata. Tapi juga di dunia maya. Bahkan lebih berisik.

Hari ini seorang adik pulang dari berjuang di jakarta. Membawa memori, pengalaman, juga kemenangan. Juara.

Hari ini seorang adik yang lain sedang berjuang meraih mimpinya untuk duduk di bangku kuliah.

Hari ini seorang kakak berjuang melawan ketakutannya di ruang bersalin, demi mimpi yang tertunda.

Hari ini masih banyak lagi orang yang memperjuangkan mimpinya dengan jalannya masing-masing.

Hari ini, saya ngapain?

Berharap

Katanya, kita kecewa karena kita berharap terlalu tinggi pada makhlukNya. Pada apa-apa yang diciptakanNya atau diciptakan oleh ciptaanNya.

Makanya, katanya berharaplah hanya padaNya yang tidak akan mungkin mengecewakan. Yang tidak mungkin tidak mengabulkan.

Lantas, bagaimana jika ternyata kecewanya masih ada sementara kita sudah berharap padaNya.

Tidak.

Itu berarti kita belum berharap padaNya. Kita masih berharap pada HASILnya ...

Berharap padanya itu include percaya pada qadha dan qadar, ikhlas, syukur, juga sabar ...

Minggu, 01 Mei 2016

Sabtu, 30 April 2016

Orang Selo

"Aku kadang mikir, kenapa saat orang lain sibuk kok aku justru selo banget. Tapi mungkin itu hikmahnya. Itu salah satu bentuk letak adilnya Allah.

Karena aku jadi bisa bantu orang-orang sibuk yang butuh bantuan, kayak kamu gitu ..., jadi di sini ladang amalku. Ladang amalmu di kesibukanmu."

-kata orang yang sok selo suatu ketika kepada orang yang sok sibuk

Orang-orang Keren

Sebenarnya nggak hari ini saja saya merasa berada di antara orang-orang keren, orang-orang yang kece badai. Mungkin kesadaran itu saya dapat karena saya masuk IC, dan lulus dari sana.

Di IC, temen-temen saya itu meski keliatannya petakilan, ngeselin, jayus, aneh, nggak jelas, tapi mereka itu orang-orang yang namanya hampir nggak pernah absen dari prestasi, baik saat di IC ataupun di kampus. Mulai dari OSN sampai yang skala internasional. Terus, di kampus juga nggak kalah ... Ada juga yang tiap tahunnya jadi pengajar OSN di sekolah entah apa, dan anak didiknya juga sampai taraf OSN. Ada juga yang tiap tahunnya ke luar negeri untuk exchange (eh, ada nggak ya? hehe). Ada juga yang tiap tahunnya ikut PIMNAS. Ada... dan itu nggak cuma satu dua orang.

Itu temen-temen IC. Sekarang pun, di lingkungan teman-teman kampus, Bimo Forsalamm, pun teman-teman FLP juga, isinya orang-orang keren sampai bikin saya minder. Pake banget.

Mungkin nulis gini efek dari kemarin dapet kabar seorang adek di bimo mau ngisi seminar internal. Terus minggu lalu juga dapat kabar seorang adek di FLP jadi semifinalis lomba paper. Terus beberapa waktu lalu juga dapat kabar seorang adek yang lain pergi ke Jepang untuk exchange. Dan lain lain, dan lain lain

Dan di posisi saya saat ini di bimo forsalamm pun -tanpa sengaja- ternyata saya merekrut orang-orang yang lebih kece dari saya .-. ... yang lebih banyak karyanya dari saya, yang ilmu kepenulisan dan jurnalistiknya lebih mantep dari saya ....

pun di FLP juga ... haha. Terus rasanya pengen menyeduh diri sendiri, katena tetiba ngerasa jadi butiran jasjus -yang tinggal diseduh aja jadi .. T^T

meski minder -luar biasa amat sangat minder dengan orang-orang kece di sekitar saya; tapi saya bersyukur ada di lingkungan ini. karena saya jadi banyak belajar dari orang-orang kece ini. Meski saya nya belum kece kayak mereka, semoga suatu saat nanti saya bisa juga jadi orang keren; dan bikin orang lain juga jadi keren :"

*btw, punya rasa minder yang kebangetan itu agak menyulitkan langkah untuk bergerak. jadi, jangan ditiru ya haha
**dan, btw lagi .. sebenarnya saya juga nggak punya patokan dan definisi yang pakem dan jelas tentang apa itu keren, wkwkwk ... tapi percaya deh kalo kalian kenal orang-orang yang saya kenal, pasti kalian juga akan merasa mereka sangat keren.

Jumat, 29 April 2016

Try Everything -Shakira (OST Zootopia)

[Intro]
Oh oh oh oh oooh
Oh oh oh oh oooh
Oh oh oh oh oooh
Oh oh oh oh oooh

[Verse 1]
I messed up tonight, I lost another fight
I still mess up but I'll just start again
I keep falling down, I keep on hitting the ground
I always get up now to see what's next

[Pre-Chorus]
Birds don't just fly, they fall down and get up
Nobody learns without getting it wrong

[Chorus]
I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again
No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail
I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again
No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

[Post-Chorus]
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh

[Verse 2]
Look at how far you've come, you filled your heart with love
Baby you've done enough that cut your breath
Don't beat yourself up, don't need to run so fast
Sometimes we come last, but we did our best

[Chorus]
I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again
No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail
I won't give up, no I won't give in
Til I reach the end and then I'll start again
No I won't leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

[Bridge]
I'll keep on making those new mistakes
I'll keep on making them every day
Those new mistakes

[Outro]
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh
Try everything
Oh oh oh oh oooh
Try everything



source : http://www.justjared.com/2016/01/09/shakira-drops-zootopias-try-everything-full-song-lyrics/

Kamis, 28 April 2016

Nggak Mudah

Hidup itu nggak mudah.
Jadi dewasa itu nggak mudah
Skripsi itu nggak mudah
Pun juga kuliah ...
Berorganisasi juga nggak mudah
membina dan dibina pun nggak mudah

hidup itu nggak mudah,
tapi kalau ingat ada orang-orang yang membersamai di masa-masa yang nggak mudah itu rasanya jadi menguatkan hati ya ....

saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik. .. :)

Rabu, 27 April 2016

Almost

Bulan depan di tanggal ini, saya akan bertambah usia, terlepas dari apakah Allah masih mengizinkan saya untuk hidup atau tidak.

Biasanya, tiap tahunnya saya menulis evaluasi setahun ke belakang. entah itu di blog, di laptop, ataupun di notes. Mereview setahun ke belakang saya udah ngapain aja, udah belajar apa aja, udah dapat apa aja, ada perubahan pada pribadi atau nggak; sekaligus saya menulis harapan ke depannya untuk saya sendiri.

Tapi, saya kehilangan catatan tahun lalu. saya nyari di blog ga ada, saya nyari di laptop juga ga ada. Eh belom nyari di notes juga sih haha ... terusan tadi mikir, hmm kalo tahun lalu kelewatan nulis itu bisa jadi wajar sih mengingat akhir mei tahun lalu lagi dalam kondisi sangat hectic ini itu.

waktu itu lagi heboh musywil FLP, lagi heboh di bimo forsalamm juga, lagi riweh jadi finalis lomba esai juga (ciee), dan ada yang lain juga ...

terang aja kalo ga nemu tulisan review setahun. haha. terang aja kalo setahun kr belakang akunya juga lala lili wkwkwk .. 

semoga tahun ini nggak kelewat untuk menuliskan review setahun ke belakang. ada begitu banyak hal yang saya lalui selama setahun ke belakang. Banyak sekali. Ada banyak kejadian baru yang juga membawa pemahaman baru bagi saya.

Selama setahun ke belakang yang sangat terasa mungkin ujian tentang kesabaran. Semoga tidak hanya terasa tapi juga bisa menjadi akhlak bagi pribadi saya.

ah tapi, namanya ujian kesabaran, keikhlasan, dan lain-lain itu seumur hidup sih, jadi saya pun nggak bisa bilang kalau saya sudah lulus di sini :)

hari ini bulan depan, semoga bisa menuliskan pelajaran dan perjalanan setahun ke belakang, sekaligus menulis resolusi untuk setahun ke depan dan seterusnya. Tidak hanya saya untuk diri sendiri, tapi juga saya untuk keluarga dan  saya untuk dakwah ...

mangatse!

Minggu, 24 April 2016

Belajar

Ujiannya Allah itu seumur hidup ... makanya, belajar sabar, ikhlas, syukur, dan sifat-sifat baik lainnya itu juga seumur hidup ...

kalau menyerah sekarang untuk belajar ikhlas, untuk belajar sabar, ataupun belajar syukur,

lantas, sisa hidupnya mau diapain, tyani?

Minggu, 17 April 2016

Liqo Hari Ini


Katanya, kita merindukan liqo zaman dulu. Zaman dimana komunikasi terbatas telepon kabel dan surat menyurat. Zaman dimana tak ada kendaraan bukan kendala berarti dalam menuntut ilmu. Zaman yang katanya liqo masih sembunyi-sembunyi. Pun pakai jilbab masih banyak dipersoalkan dan dipertanyakan. Apalagi pakai niqab dan cadar.

Katanya, kita merindukan zaman itu. Ketika para murabbi rela menempun jarak berkilo-kilo meter dengan jalan kaki. Lalu lanjut menempuh jarak berkilo meter lainnya untuk mengisi kajian.

Katanya, kita merindukan zaman itu. Ketika para mutarabbi berkumpul dalam satu tempat, menyembunyikan sandal-sandalnya agar tidak digerebek aparat. Meski sibuk di kampus atau sekolahnya atau tempat kerjanya, tidak lupa bahwa liqo adalah prioritas. Karena, dari mana lagi mereka mendapat pembinaan iman, sementara lingkungan begitu mencekam bagi Islam?

Katanya, kita merindukan zaman itu.

Katanya, zaman sudah berubah sekarang.

Sudah ada teknologi telepon tanpa kabel dengan segala modifikasinya. Kini, mengirim pesan singkat maupun telepon tidak lagi mengeluarkan berpuluh ribu pulsa. Cukup hanya dengan paket data. Mengirim broadcast dari murabbi untuk semua mutarabbi.

Liqo hari ini, kita dimanjakan oleh teknologi informasi dan komunikasi. Berkurang kesulitan komunikasi antara murabbi dan mutarabbi. Untuk menentukan jadwal liqo pun jadi lebih komunikatif.

Katanya, liqo hari ini seperti itu.

Mudah sekali berkomunikasi hari ini. Saking mudahnya berkomunikasi, hingga izin tidak hadir saat liqo dimulai pun bisa-bisa saja. Atau tiba-tiba membatalkan di hari H pun perkara mudah. Toh, komunikasi sekarang jadi lebih mudah kan?

Dari delapan mutarabbi dalam satu kelompok yang ada, yang konfirmasi hanya empat. Yang membatalkan di hari H ada tiga, yang benar-benar hadir satu orang.
Murabbi juga tidak bertanya ada apa. Toh, nanti-nanti masih bisa dihubungi via whatsapp atau line. Yang nanti itu entah kapan.

Ini liqo hari ini.

Katanya, zaman sekarang sudah berubah.

Kendaraan bermotor sudah lebih banyak, entah itu kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Tapi, tidak sedikit juga yang tidak hadir liqo dengan beralasan tidak ada kendaraan. Atau justru karena punya kendaran pribadi, akhirnya salah estimasi waktu. Waktu janjian liqo jam 15.45, berangkat dari kos pukul 15.45. Katanya, “saya cepat kok, naik motor.”

Ini liqo hari ini.

Katanya, zaman sudah berubah.

Kebebasan berpendapat dan berkumpul sudah terjamin hari ini. Liqo tidak lagi perlu sembunyi-sembunyi hingga perlu membawa masuk sandal ke dalam ruangan. Kini, masing-masing murabbi maupun mutarabbi dituntut mengisi pos-pos organisasi yang ada, karena kebebasan berorganisasi pun sudah terjamin hari ini. Baik murabbi maupun mutarabbi sama-sama sibuk berdakwah. Tidak membiarkan adanya kekosongan kader dalam organisasi. Syuro setiap pekan bisa lebih dari dua kali.

Lalu, masing-masing sibuk. Lupa kalau liqo (harusnya) ada di prioritas atas. Untuk menjaga ruhiyah kader agar tidak kolaps di lapangan.

Alasan ketidakhadiran liqo adalah untuk syuro. Entah untuk membahas rencana strategis dakwah ataupun hanya sekedar syuro untuk menentukan syuro berikutnya kapan.

Ini liqo hari ini.

Katanya kita merindu zaman dulu. Jangan-jangan kita tidak memaknai kata rindu itu sendiri. Kita hanya merindu, tanpa aksi. Padahal cinta adalah tentang pembuktian melalui kepahaman, keikhlasan, amal, perjuangan, pengorbanan, ketaatan, keteguhan, kemurnian rasa, ukhuwah dan kepercayaan, bukan sekadar rasa yang letaknya hanya di lisan saja.

Ini liqo hari ini.

Meski, katanya, kita merindu zaman itu.

Jogjakarta, 15/04/2016
-Fatiyatul Islam

Selasa, 12 April 2016

"Kamu itu keliatannya aja kuat, bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Padahal sebenarnya hati kamu itu rapuh. Riskan hancur. Karena overload sama semua pikiran yang kamu pikirin sendiri. Dan nggak ada yang tau itu. Orang ngeliatnya kamu baik-baik aja. Padahal kamunya sangat sedang tidak baik-baik aja. Tau-tau ilang, tau-tau amanahnya terbengkalai. Tapi orang nggak tau kamu kenapa, karena kamu keliatan baik-baik aja.

Coba deh, dikomunikasiin. jangan takut keliatan lemah, karena sejatinya kita semua lemah. Kita butuh bantuan orang lain. Jangan songong cuma karena pengen keliatan keren. Kita butuh orang lain. Dan yang utama kita butuh Allah. Udah minta tolong sama Allah belum?

kalo udah, udah komunikasiin ke orang-orang yang bersangkutan belum?

Semua orang rapuh, semua orang lemah. Makanya Allah nyiptain manusia ga cuma adam doang. ada hawa juga, ada keturunannya juga, buat saling bantu. ta'awanuu 'alal birri wat taqwa ...

Jangan songong ..., jangan takut keliatan lemah ..."

*mengingat pembicaraan yang nggak persis kayak gini ... untuk mengingatkan seseorang yang udah kelamaan lari dari tanggung jawab. kapan mau balik ty?

Senin, 28 Maret 2016

ingin menulis sesuatu di sini. tapi pikirannya masih penuh sama ini dan itu. jadi nulis gini aja dulu. semoga besok-besok berlanjut ...

Sabtu, 20 Februari 2016

Menolak Bantuan

Saya seringkali tidak sadar, kalau ternyata saya sedang menolak bantuan. Menolak untuk dibantu. Meski kerjaan saya juga tidak sedikit. Tapi saya yakin orang-orang yang menawarkan bantuan ini juga punya kerjaan yang nggak sedikit. Saya-hanya-tidak-mau-merepotkan orang lain lebih dari yang dibutuhkan. Sebab, pengalaman sebelumnya, ternyata orang yang menawarkan bantuan justru orang yang paling punya banyak kerjaan, banyak amanah, dan dia masih menyempatkan diri untuk membantu saya yang kelewat sering mengeluh ..., dan di situlah saya jadi ngerasa kurang berusaha, kurang berjuang, dan kurang-kurang lainnya (termasuk kurang makan haha; eh kecuali satu kelebihan tidur haha)

Tapi ...

Kalau sampai diingatkan seperti hari ini, kemudian saya jadi berpikir, apa sebenarnya di saat yang bersamaan dengan saya mencoba untuk berusaha lebih, berjuang lebih dengan kerjaan saya, saya sedang berada dalam posisi 'kesombongan' saya. Merasa bisa menyelesaikan semuanya sen-di-ri. Dan, seperti yang tadi pagi dikatakan, jangan-jangan justru saya sedang menutup pintu-pintu rahmatnya Allah, entah untuk yang membantu ataupun untuk saya sendiri.

Wallahu a'lam.

berusaha menjadi kuat itu tidak sesimpel yang dibayangkan ternyata , haha .. Semoga bisa menjadi koreksi diri sendiri.

*yaudahceritaaja.

Sabtu, 13 Februari 2016

Dear Future Doctor (Stanford School of Medicine Parody on "Dear Future H...





Nemu ini di tumblrnya nikari :" sumpah kebayang banget ahahahahaha, tapi setuju sama statemen nya nikari, bahasanya 'masochist' banget?



Februari

Februari padat merayap. Satu hal bertumpuk dengan hal lainnya. Semoga tidak ada yang tertinggal di Februari, hingga menjadi hutang.

Mau mengutip beberapa hal, yang meski lupa darimana, semoga bisa menjadi penyemangat bulan ini, juga bulan-bulan berikutnya -

"Apakah kamu berpikir kamu adalah orang yang paling menderita; sehingga pantas bagimu mengeluh?"
"Fashbir, shabran jamiilan. Jangan batasi sabar dengan mengeluh ..."
"Dan untuk segala yang diikhtiarkan, kami pada-Mu Ya Allah ..."

Kamis, 11 Februari 2016

Prioritas

Kata Murabbi saya dulu, prioritas itu tidak selalu berarti mengalahkan yang satu dan memenangkan yang satu; bisa jadi juga memberikan porsi waktu yang cukup dan adil untuk hal-hal yang diprioritaskan.

Tawazun.


.
.
.
.
.

tapi sepertinya, tetap harus ada yang dikalahkan? 

Selasa, 09 Februari 2016

Orang Tua Hebat!

Ketika menulis ini, saya baru saja  selesai menonton adik saya, Ara Kusuma, tampil di trans TV di acara tiro lestari (?) secara live. Ia bercerita tentang moo's project nya juga tentang travel learning agent nya (kalau mau tahu silakan di googling, mungkin ada, hehe) ...

Keluarga Dek Ara, Dek Enes, dan Dek Elan ini salah satu keluarga istimewa di tempat kami -dimana bagi mereka yang namanya pergi diundang sebagai pembicara di suatu acara satu keluarga adalah hal biasa. Di bawah didikan Bulik Septi dan Om Dodik, ketiganya jadi pribadi hebat dan luar biasa.

Waktu kecil, bocah-bocah ini termasuk geng saya, dan saya sebagai ketua geng (eaaa gengster); maklum, masih bocil. Jadinya, saya pun termasuk saudara yang dekat dengan ketiganya, juga Bulik Septi dan Om Dodik. Nggak sekali dua kali kok saya iri dengan mereka yang punya Ibu kayak Bulik Septi. Baik, nggak pernah marah, komunikatif, inspiratif, punya banyak game, idealis ... (wkwkwkwkwk) dan lain hal.

Ya, oke, tapi, saya nggak cuma sekali iri dengan orang tuanya orang lain. (the power of comparison). Pun suatu ketika di perjalanan pulang dari IC, dimana waktu itu saya cuma berdua aja sama Bapak di mobil, saya pernah cerita, tentang betapa saya minder sama temen-temen sekamar yang orang tuanya hebat-hebat. Fitri (bahkan ayahnya Fitri pernah ngisi di IC sampai 2 kali), orang tuanya Ifa yang dokter, orang tuanya Madam dan orang tua-orang tua temen-temen saya lainnya ...

Tetiba, saya merasa minder. saya mah cuma apa; dari orang tua yang juga cuma apa. Tapi, waktu saya bilang gitu, Bapak nggak marah. Bapak nggak bentak saya karena saya -bisa dibilang cukup kurang ajar dengan membandingkan bapak ibu dengan orang lain. Bapak cuma ngejawab dengan kalem, dengan santai kalau semua itu ada porsinya. Dan mengingatkan, bahwa harusnya saya bersyukur dengan Bapak -yang bahkan S1 aja nggak lulus; jadi Bapak sendiri nggak ada keinginan untuk menekan anak-anaknya harus gimana, atau harus masuk jurusan apa, atau harus dapet IPK cumlaude atau gimana. Bersyukur dengan Ibu; kalau detik itu saya belum kenal Ibu, sesungguhnya Ibu adalah pribadi yang banyak disegani dan disenangi banyak orang. Cuma, mungkin sayanya aja yang nggak tau -karena terlalu lama nggak ada di rumah.

Well, itu dulu. Itu dulu, jaman saya awal-awal masuk IC dimana saya dibenturkan oleh orang-orang hebat; yang sekarang saya yakin bahwa semua orang hebat ini punya orang tua yang juga hebaat. Ternyata bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya minder -secara keseluruhan, bahkan sampai pada taraf dimana saya minder tentang keluarga saya. Padahal kalo dipikir-pikir, kalo ga ada Bapak Ibu ya jelas nggak ada saya; kalau nggak melalui Bapak Ibu, ya saya nggak akan jadi saya yang sekarang.

Orang tua saya, Bapak Ibu saya terhebat untuk saya dengan segala kondisi keduanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya terhebat untuk saya dan kakak-kakak; sama sepeerti orang tua teman-teman saya adalah terhebat untuk teman-teman saya.

Hari itu, hari dimana saya pulang berdua dengan Bapak, saya belajar bersyukur, belajar qonaah. Belajar mencukupkan. Belajar bahwa tidak ada hal menyenangkan yang datang dari membandingkan. Dicukupkan. Disyukuri.

Dan di hari-hari ini saya belajar, semakin lama saya jauh dari orang tua saya, semakin sedikit waktu tatap muka saya dengan Beliau berdua ini, saya jadi mengkontemplasikan beberapa hal. Bahwa orang tua saya; Bapak Ibu saya adalah terhebat untuk saya. Sama seperti orang tua teman-teman saya terhebat untuk teman-teman saya.

Jadi ingat pesan terakhir murabbi saya sebelum beliau berpulang,
"Sholihah ...
Kondisi keluarga yang tyani miliki itu adalah bentuk sayang Allah kepada tyani ..."

:"

Ya, ini adalah kondisi terbaik untuk saya, sebentuk kasih sayang Allah untuk saya. Tidak ada yang salah dengan skenario-Nya. Tidak ada yang salah ...

Wallahu a'lam bish shawwab

Buntu

Sedang buntu.

Tapi, bukannya tak ada pilihan lain.

semoga tidak berhenti mencari jalan.

Kuatkan, ya rabb. Kuatkan ...

Minggu, 31 Januari 2016

31/366

Kertasnya masih kosong. Antara belum dimulai atau juga sudah dihapus kembali.

Masih ada sisa sekian ratus hari. Tapi, mau menunda sampai kapan?

Jumat, 29 Januari 2016

Kerja . . .

Akhir-akhir ini obrolan nggak akan jauh-jauh dari TA dan juga kerja atau koas (kalo ngomong sama anak jurusan).

Selain anak-anak yang habis lulus masih harus ambil sekolah profesi, macam jurusan saya, atau jurusan sebelah, atau fakultas sebelah (sebut saja anak medika, haha); satu per satu orang sudah mulai merancang usai wisuda mereka akan kemana?

Bahkan teman saya yang baru akan ambil skripsi semester ini pun galaunya nggak jauh-jauh dari sana. habis lulus mau ngapain? Karena kita-kita yang sudah menjejak tingkat akhir kuliah atau bahkan sudah bergelar mahasiswa tua atau mahasiswa bangkotan ini sudah menjejak level akhir dari pendidikan formal utama -terutama kalo mau keterima kerja yang lumayan (S2, S3 atau profesi sebagai tambahan kecuali anak-anak medika). Setelah ini, mungkin sudah harus terjun ke masyarakat, kerja, menggantikan ibu-ibu dan ayah-ayah kami yang berjuang. Siklus kehidupan terus bergulir, sementara kami masih menyocokkan diri dengan kuliah, TA dan akan kerja apa nantinya.

Saya pun meski belajar di fakultas dengan sekolah keprofesian, nggak sekali dua kali berpikir untuk nggak jaid dokter. Apalagi teman-teman yang kuliah di jurusan bukan ilmu terapan (FK itu ilmu terapan, lainnya ilmu murni semacam MIPA, atau biologi, dkk).

Baru-baru ini saya lagi baca komik Ansatsu Kyoushitsu, komik tentang sebuah kelas terbelakang di sebuah SMP elit. Kelas 3 E, kelas yang punya guru yang -sebut saja unik. Oh, saya nggak akan ngereview komik itu di sini, (haha). Yang saya titik beratkan adalah, adegan dimana anak-anak 3E ini harus mengumpulkan formulir rencana karir mereka dan mendiskusikannya dengan wali kelas, serta ada komunikasi antara orang tua dan wali kelas. Dari situ saya memahami bahwa di luar negeri anak-anak sudah mendapat bimbingan karir, bahkan sejak mereka SMP. Lalu, SMA mana yang akan jadi tujuan mereka akan ditentukan bersama dengan mereka mau masuk univ mana (CMIIW, cuma baca manga sama anime soalnya, haha). Saya nggak tau, sekarang di Indonesia di sekolah dasar maupun menengah apakah sudah seperti itu juga atau nggak. Tapi, waktu jaman saya SMA (atau bahkan SMP) saya nggak dapet bimbingan karir. Saya cuma dapet bimbingan masuk univ. Haha ...

Itu saya, yang dapet bimbingan konseling pendidikan dari guru BK superkecesuperkerennya Ic, Bu Rini. Bagaimana dengan sekolah yang biasa-biasa aja? Pada akhirnya, kebanyakan dari kami menentukan kerja ya dekat-dekat periode wisuda. Mulai berpikir mau kerja apa, mau menyambung hidup dan lepas dari orang tua dengan penghasilan yang kayak apa. Mau menghidupi keluarga dengan profesi yang seperti apa. Dan ya jadinya begini lah indonesia (halah, apadah hahaha)

Lalu, di akhir begini, saya jadi sadar kenapa Jogja dibilang kota pelajar. Karena isinya memang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin belajar, mahasiswa, pelajar. Bukan orang-orang yang ingin bekerja. Setelah dirasa cukup belajar dari kota ini, mereka wisuda, mereka mendapat kerja atau bekerja di luar daerah jogja. Ada yang memang balik ke kota sendiri, mengabdi di tanah kelahiran, ada yang tuntutan beasiswa daerah, ada yang memang dapet kerjanya di luar jogja.

Aah, satu per satu orang meninggalkan jogja ...  

Menghindar

Hari in dua orang teman SMA saya pendadaran. Nida' sesama anak FK, dan satu lagi Isti, anak sasindo UGM. Doanya dan pertanyaannya pasti nggak akan berubah, 'Kapan ty nyusul pake item putih? Semoga disegerakan ya' ... Saya mengamini baik jahr maupun sirr dengan setulus hati, dengan keikhlasan (haha) ...

Mungkin memang doa-doa orang-orang yang sedang saya butuhkan. Doa-doa dan kalimat-kalimat yang bisa jadi pembangkit tenaga cinta (halah) buat menggerakkan seluruh jiwa dan raga saya buat bertahan di depan skripsi. Buat saya, mengerjakan karya tulis kayak gini, penelitian kayak gini harusnya udah bukan lagi masalah, karena sejak SMP bikin karya tulis macam skripsi gini udah saya lakuin.

Cumannya, saya baru sadar sejak saya terapi phobia dulu, kalau saya tipikal orang avoidance. Tipikal bocah-bocah yang doyan lari (dari kenyataan dan dari amanah) hahaha. Dan baru akan nggak lari ketika kepepet. Masalahnya mengerjakan skripsi itu nggak didetlen tanggal. Nggak dikejar dosen. Nggak ditekan siapa-siapa. Jadi, sayanya terlalu nyantai buat terus-terusan lari (dari skripsi).

Saya jadi inget, kakak saya pernah bilang, skripsi itu adalah ajang kita ngelawan diri kita sendiri. Ajang buat ngalahin hawa nafsu buat males-malesan, buat lari dari skripsi.

Tapi menghindar dari yang wajib itu mudah banget ya? haha *ketawa miris ceritanya

Yang susah adalah konsekuensinya. Konsekuensi ketika akhirnya harus ngerjain skripsi sendiri, konsekuensi makin stress ketika ngeliat satu per satu temen udah pendadaran, dan ternyata tersisa seorang diri yang belum pendadaran ... dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.

terus, kenapa masih menghindar? (ceritanya nanya ke diri sendiri)

aaah, akhir-akhir ini jadi terlalu sering melegalkan pikiran-pikiran negatif yang mengganggu untuk melakukan ketidakbaikan, sepertinya ..

Minggu, 24 Januari 2016

Karena yang boleh sombong itu cuma Allah.

karena adanya ujian akan membuktikan seberapa erat ukhuwah yang sudah terjalin. Tak ada ukhuwuah erat tanpa melalui ujian. tanpa melalui tahapan sebelumnya : fahmu, ikhlas, amal, jihad, tadhiyyah, taat, tsabat, dan tajarrud ...

karena husnudzhon sama saudara yang sudah sama-sama paham itu, cenderung sulit. Tapi bukannya tidak bisa.

karena prioritas orang beda-beda.

pun untuk rasa memiliki.


Pulang

Pulang adalah ritual untuk mengendapkan nilai-nilai. Mengemasnya agar mendarah daging, tidak hanya di otak, tapi juga di hati.

Pulang juga saat saya kembali menemukan hati saya di antara tumpukan-tumpukan pikiran negatif yang terkumpul selama perjalanan. 

Pulang juga untuk menata ruang-ruang dalam pikiran dan hati. Memilah dan memilih mana yang masih perlu disimpan, mana yang sebaiknya disingkirkan dulu. Memberi ruang baru untuk sesuatu yang baru, yang menanti di ujung kepulangan.

Pulang adalah soal mencari. Dan menemukan.

Mungkin begitu.

Senin, 11 Januari 2016

Anak-Anak Senja







Tak ada senja yang tak indah, jika bersamamu
Anak-anak Senja ...

9.1.2016
Kebun Binatang Gembira loka
D.I. Yogyakarta

Kamis, 07 Januari 2016

Urusan

Katanya, dahulukan dan selesaikan urusanmu sama Allah dulu, nnati Allah akan menyelesaikan urusan duniamu ...

(obrolan sama Upi, seorang anak senja; malam itu)

Rabu, 06 Januari 2016

Januari #2

Sepertinya, bulan januari tahun ini tidak  seperti bulan januari lainnya, yang saya lewati dengan hahahihi di rumah adem ayem dan leyeh-leyeh.

Liburan kali ini, aturannya kuliah saya sudah kelar sejak desember lalu. Tapi saya memutuskan untuk tidak pulang. Membereskan remed-remed; membereskan OSCE kompre; membereskan skripsi -yang entah kenapa terasa nggak beres-beres. Dan membereskan hal-hal di luar akademik.

Bulan ini sepertinya akan jadi bulan dengan kebaperan tingkat dewa karena akumulasi stress di akhir kuliah. Hahaha. Bisa dilihat, akhir-akhir ini jadi lebih mudah emosi karena hal-hal kecil. Saya nggak akan heran kalo di bulan ini jerawat bisa akan tumbuh lebih banyak ketimbang biasanya. haha.

Meski kata Bapak jangan stress; tapi sulit sekali untuk mencerna kalimat itu untuk saat-saat ini. Itu seperti kamu dibilangin buat jangan nangis, tapi kamu udah nangis. yah begitulah ....

Sepertinya (lagi), januari kali ini akan jadi bulan yang panjang~
Semoga bisa menikmatinya dengan mensyukuri segala hal yang terjadi. Mensyukuri ketidaktahuan dan kebodohan karena tidak bertanya sebelumnya. Mensyukuri pengalaman menunggu dosen berjam-jam di depan lab. Mensyukuri setiap pembelajaran dari remed-remed. Mensyukuri proses pembalajaran OSCE kompre. Mensyukuri periode stress di bulan januari ini.

Semoga, saya tidak lupa bersyukur, tidak jengah bersyukur di tengah-tengah semua kehebohan agenda bulan ini. Sehingga di akhir nanti, apapun hasilnya, apapun yang terjadi, saya tidak kecewa terhadap diri saya.

Sehingga, di akhir nanti, ketika saya sudah diperbolehkan untuk pulang karena telah selesai semua urusan; saya bisa tersenyum dan mentertawakan hari-hari di bulan januari tahun ini :"

Aah, jangan lupa bahagia ...

Note ; akhir-akhir ini isi blognya memang hanya tentang ujian dan skripsi. Maklum mahasiswa tingkat akhir. Baper dengan segala hal terkait ujian dan skripsi. haha. Sudahlah, sudah, yudisium 1 sudah direlakan kok ~ haha

Bapak ; nggak papa dek, masih ada waktu-waktu lain untuk lulus. :" (well, semua bergantung pada apakah Allah sudah melihatmu siap untuk lulus)