Senin, 28 Desember 2015

"Ketika ekspresi rindu adalah doa, semua cinta adalah jalan surga ..." 

-OST. Tuhan Maha Romantis

Berharap

"Bapak bakal mampir jogja ga?"

"Blom tau nih dek ... Dimana2 macet gilak ...Jalur ke jogja apalagi...
Ini jalan dari Solo ke salatiga, di boyolali sampe salatiga macet merayap"

"Apa tyani yang ke salatiga aja?"

"Di Salatiga dah ga ada siapa2 ...Bulik utik dah pulang, enes dah ke bandung, ara ga tau kemana, Bulik runik hari ini pulang surabaya. Dah sepi, bapak sama ibu tanggal 29 besuk pulang juga ..."

Sulit sekali untuk tidak berharap lebih dari yang diperlukan. Begini nih yang seringnya bikin kecewa. Berharap sendiri, kecewa sendiri. #pffft ...

Mendewasa, Ty ... mendewasa ...

Minggu, 27 Desember 2015

Utopia - Hujan | Official Video

Perjalanan

Aku selalu menyukai perjalanan. Dengan apa pun. Dari perjalanan, aku belajar banyak. Ada lebih banyak waktu untuk berkontemplasi ketika dalam perjalanan, ketimbang saat menetap dalam satu tempat, dan terkungkung dalam hiruk pikuk tempat tersebut; sibuk dengan hal-hal yang membuat pikiran penuh dan menguras energi.


Selalu begini. Jika ingin menulis memori yang terlalu menyenangkan, ujung-ujungnya cuma bisa bengong di depan laptop sambil terus memutar memorinya. Entah mengharap apa dari pekerjaan bengong tersebut.

Ada terlalu banyak cerita yang ingin saya tulis tentang hari kemarin, tentang kisah berminggu-minggu sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya ...

Tapi, saya cuma bengong. Dan berpikir, waktu berjalan cepat sekali ya?

Minggu, 20 Desember 2015

Hari 8 : What is Power?

Hari in kami membahas salah satu bab dari buku pathology of power karya paul farmer. Saya memang belum selesai membaca sampai akhir Bab, tapi mendengar komentar teman-teman di kelas saat sesi diskusi, ada pertanyaan yang sampai detik ini masih mengganggu saya, what is power exatcly?

Sebenarnya apa itu power? Jika mendengar beberapa komnetar teman yang mengatakan bahwa, baik gender ataupun ras yang memiliki ‘risiko’ untuk terdiskriminasi, akan diperparah bila mereka juga miskin. Jadi mereka tidak hanya terdiskriminasi karena gender mereka atau karena ras mereka tapi karena miskin. Dan faktor ‘miskin’ inilah yang acapkali membuat diskriminasi ini menjadi lebih parah. So then, apakah power berarti money?

Seorang teman mengatakan –ketika ditanya, power itu kekuasaan. But somehow, realitanya dewasa kini kekuasaan sulit didapat tanpa uang. Kita membutuhkan uang untuk bisa mengontrol banyak hal yang ada di dunia ini. Dan perilaku orang berkuasa yang ‘mendominasi’ dengan kekuatannya juga sedikit banyak dilakukan untuk uang.

Tapi kemudian muncul pemikiran lagi; jika ada pekerja seks komersial –yang katakanlah dalam semalam ia bisa mendapatkan ‘penghasilan’ 150 juta secara konstan setiap malamnya, maka sebulan ia bisa mempunyai uang 150x30 sekitar 450juta. Tapi, di mata masyarakat yang namanya pekerja seks komersial sekaya apapun ia tetap mendapatkan stigma masyarakat dan ujung-ujungnya juga nggak akan bisa terlepas dari ‘diskrimansi’. Ia tetap tidak punya power di mata masyarakat.

So, what is power?

Kemudian, teman saya itu bilang, tapi dengan penghasilan seperti itu dia pasti punya kuasa atas pekerja seks-pekerja seks lainnya. Bisa jadi ia adalah pekerja seks kelas atas yang mendominasi. Kemudian saya berpikir ‘ohiya bisa jadi.’ Dan akhir dari pemikiran saya ini, saya menyimpulkan bahwa semuanya akan kembali pada hal pertama yang kami pelajari di modul ini, that everything is socially and culturally constructed; even beautiful, even love, even power itself ....

17 Desember 2015

Hari 7

Hari ini saya belajar bahwa Ternyat a ada banyak ilmu di luar ilmu kedoketran yang sebenarnya sangat berguna untuk menunjang kesembuhan pasien. Tidak hanya sekadar ilmu fisiologi, anatomi, biologi; tapi juga sosial. Hari ini saya belajar memandang suatu msalah dari kacamata yang lain. Kacamata antropolog. Dan hari ini saya belajar bahwa sebagai seorang yang nantinya (mungkin) akan menjadi dokter, jangan sampai kita –jajaran tenaga medis ini- mengobati hanya penyakit pasien saja. karena terkadang, penyakit tersebut letaknya bukan hanya pada penyakitnya, tapi sosial.

Maka, hari itu kami membuktikan statement WHO yang menyatakan bahwa sehat bukanlah hanya sekedar tidak adanya penyakit, tapi juga sehat secara fisik, mental dan sosial.

16 Desember 2015

Hari 6

Hari ini saya semkain belajar bahwa teknologi memang benar-benar seperti pedang bermata dua.

Bahkan orang pintar dan terpelajar pun bisa menggunakannya untuk merendahkan martabat jenisnya sendiri, sadar atau tidak sadar. Bisa jadi yang membuat itu adalah arogansi yang ada dalam diri mereka, hingga menganggap jenisnya sendiri –dengan ‘status’ yang berbeda, (misal status pekerjaan, pendapatan, dan lain sebagainya) lebih rendah martabatnya daripada dirinya sendiri.

Teknologi, sains dan perkembangannya bisa dengan mudah membuat manusia-manusia hidup semakin arogan dan egois.

16 Desember 2015

Hari ke 5 : Teknologi dan Martabat Manusia

Hari ini (lagi-lagi) saya belajar bahwa perkembangan teknologi memang semenyeramkan itu. Mungkin bisa dibilang bahwa perkembangan teknologi adalah pedang bermata dua. Jika tidak digunakan dengan bijak dan pada kadar tertentu, ia bisa berbalik menjadi ‘tuan’ bagi manusia (mengingat kuliah hari kemarin tentang etika yang disampaikan oleh Doktor Kusmaryanto). Ia bisa meninggikan martabat manusia –yang menciptakannya; tapi bukannya tidak mungkin juga bisa merendahkan martabat manusia.

Mungkin dari cerita-ceritanya kak Sandeep kita cukup dapat banyak contoh where the technologies can dehumanize us. Tentang bagaimana orang-orang gelandangan ini digusur dari jalanan-jalanan, dan menerima obat begitu saja –seolah-olah memang itu yang mereka butuhkan (medicine is also technology). Meskipun kenyataannya mungkin mereka lebih membutuhkan care ketimbang teknologi. Tapi kita juga cukup tahu tentang bagaimana teknologi bisa membawa manusia pada peningkatan quality of life nya; seperti kuliah tentang nanoteknologi, plastic surgeary, skin anti aging, dan lain sebagainya itu.

Berarti hari ini saya belajar, bahwa ada dua opsi dalam menggunakan atau memandang kemajuan teknologi. Dan kita tidak bisa hanya memandang kemajuan teknologi ini dari opsi yang diuntungkan saja –karena ternyata ada juga manusia-manusia yang tersingkirkan dan ‘terlabeli’ dengan adanya kemajuan teknologi. Jangan sampai manusia –yang katanya adalah sebaik-baik makhluk; justru direndahkan martabatnya dengan teknologi yang diciptakannya sendiri. 

11 Desember 2015

Hari 4 : Etika, kemanusiaan, dan teknologi

Lagi, setiap kali kuliah hari itu berakhir saya semakin merasakan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang teknologi (kalau boleh meminjam istilah yang digunakan prof laksono adalah dari unconscious incompetent menjadi conscious incompetent).

Hari ini saya belajar bahwa yang sebenarnya ‘diusung’ oleh kajian etika adalah nila-nilai kemanusiaan. Bahwa manusia adalah makhluk ‘termulia’ di muka bumi, thus, semua teknologi itu tidak bisa mengalahkan kemuliaan manusia –karena sejatinya teknologi adalah alat, dan manusia adalah pencipta teknologi tersebut. Tapi jika mau menilik fenomena hari ini, tidak sedikit manusia-manusia yang justru lebih menghargai dan menilai tinggi suatu teknologi ketimbang manusia itu sendiri.

Hari ini saya juga belajar bahwa seringkali teknologi tidak berkembang bukan karena teknologi itu tidak mencapai kemajuan atau penelitinya yang tidak kompeten, melainkan adanya hegemoni mayoritas yang ‘terlihat’ mengintimidasi. Meski seringkali pandangan kita –sebagai (calon) dokter terbatasi oleh nilai-nilai yang hanya kita pegang sendiri dan membuatnya menjadi tidak lagi objektif. Sementara melihat suatu perkembangan teknologi secara komprehensif dari berbagai sudut pandang adalah hal yang sulit. Mungkin ini juga yang dialami oleh pemegang kebijakan yang duduk di bangku pejabat saat memukul palu untuk ‘membolehkan atau tidak’ suatu teknologi berkembang. Tapi, pun pandangan kita terbatas. Karenanya, saya tidak sepakat dengan istilah yang teman saya gunakan ‘budaya timur yang konvensional’. Lalu, budaya timur yang modern seperti apa? Apakah yang kebarat-baratan? Apakah budaya barat itu budaya modern? Ataukah ada budaya barat yang konvensional? Yang disebut konvensional atau modern itu seperti apa?

Well, pandangan kita terbatas hanya pada diri kita dan lingkungan di sekitar kita. Sebelum kita duduk di bangku yang sama dengan pejabat tersebut, atau duduk berhadapan, mungkin otak kita masih belum satu frekuensi tentang kemajuan sebuah teknologi dan impact nya bagi ‘manusia’ dan ‘kemanusiaan’.

10 Desember 2015

Hari 2 : Tentang Teknologi

Di hari kedua duduk di kelas ini, saya belajar, bahwa saya ternyata benar-benar sangat tidak tahu apa-apa tentang perkembangan teknologi. Bahwa ternyata teknologi begitu cepat dalam berkembang, dan juga bahwa ternyata perkembangan teknologi mempengaruhi konstruksi sosial suatu masyarakat dan begitu juga sebaliknya.

Mungkin perkembangan teknologi yang sangat cepat adalah gambaran dari sifat manusia yang tidak pernah puas, atau bahkan rakus; sementara alat pemuas kebutuhan (jika meminjam istilah ekonomi) sangat terbatas. Penelitian, penemuan, atau apalah sebutannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang semakin lama juga semakin berkembang karena ketidakpuasan manusia.
 
Awalnya mungkin manusia hanya butuh punya anak, bereproduksi, regeneratif. Gendernya apapun tidak masalah, bahkan mungkin cacat pun tidak apa. Tapi kini dengan ditemukannya gene reduction dalam ART –dimana gen-gen ‘jahat’ dieliminir sebelum kelahiran embrio; manusia menginginkan anaknya sempurna fisiknya, kognitifnya bahkan mereka bisa memilih gender yang mereka inginkan –atau butuhkan.
Awalnya mungkin manusia hanya membutuhkan kosmetik –alat pemoles kecantikan temporer untuk membuat wajah-wajah yang biasa saja –atau mungkin wajah cantik, tapi kepribadian minder untuk mempercantik wajah mereka, tapi kini mereka lelah dengan lepas pasang kosmetik mungkin hingga plastic surgery mereka samakan dengan put on cosmetic. Mereka ingin –mereka butuh, sebuah kecantikan yang permanen.

That’s it. Kebutuhan manusia berkembang. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi dengan teknologi-teknologi hari, mereka akan mencari teknolog-teknologi untuk memenuhi kebutuhan sekundernya hingga kebutuhan sekunder tersebut tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan primer. Hari itu saya juga belajar, bahwa betapa mengerikannya perkembangan teknologi yang sangat cepat, sementara di satu sisi degradasi moral terjadi secara besar-besaran. Ketika adanya pergeseran nilai moral jauh dari moral yang dianut manusia hari ini atau di masa dulu, bisa jadi teknologi yang berkembang ini tidak lagi terkontrol. Dan bukannya tidak mungkin, manusia merasa menjadi tuhan dengan segala penemuannya. Tapi, jangan-jangan di satu sisi manusia merasa menjadi tuhan, jangan-jangan di sisi lain sebenarnya mereka sedang menjadi budak-budak teknologi yang mereka ciptakan sendiri.

Who knows? 

9 Desember 2015

Hari 1 di modul HET

Sekitar tiga tahun lalu, saya pernah membuat sebuah cerpen science fiction untuk diikutkan dalam sebuah lomba. Cerpen ini berkisah tentang cyborg yang menggantikan manusia dalam melakukan kerja-kerja di pabrik karena manusia dianggap tidak efektif dalam melakukan kerja. Saat membuat cerpen itu saya berpikiran tentang sebuah teknologi, juga bagaimana teknologi tersebut dapat mempengaruhi hidup orang banyak. Saat itu saya berdiskusi dengan ayah saya tentang cyborg, tentang teknologi juga kemanusiaan dan merangkumnya dalam cerpen.

Saya dulu membuat cerpen ini dengan konteks seluruh bumi menjadi satu kesatuan wilayah. Jadi teknologi cyborg ini untuk seluruh dunia. Ini pemikiran saya dulu, tahun pertama masuk di fakultas ini. Tapi ternyata ada nila-nilai yang berubah yang saya dapatkan setelah mengikuti kuliah hari pertama di modul HET ini.

Kuliah tentang enhancement, etika, perkembangan bioteknologi di hari pertama ini membuka wawasan saya, dan membuka pikiran saya yang masih sangat sederhana. Ada banyak 'Oh' yang saya dapatkan hari itu, seperti Oh, ternyata teknologi itu tidak hanya semacam robot-robotan yang nyata bentuknya, tetapi rekayasa genetika, vaksin, obat pun juga temasuk teknologi (jika boleh mengutip kata dokter Sandeep saat diskusi, bahwa semua hal bisa menjadi enhancement tergantung dari konteksnya); juga Oh ternyata berpikir tentang etika itu tidak hanya berdasar pada intuisi saja alias pada hati -seperti saat saya membuat cerpen tentang cyborg tersebut, tapi juga bagaimana menganalisis baik buruknya sebuah kemajuan teknologi bagi orang banyak -dan tentu saja ada pengaruh politis yang tidak dapat dipungkiri di sana; juga Oh ternyata dalam mempertimbangkan etis atau tidak kita butuh suatu standar 'normal' -yang bisa jadi berbeda saat kita bergeser dari tempat kita duduk sekarang ke tempat lainnya,

Di hari pertama di duduk bersama dengan teman-teman di modul HET ada banyak pemahaman baru juga pertanyaan baru yang muncul, yang entah akan terjawab atau tidak hingga akhir blok ini nanti, karena permasalahan etika dan teknologi tidak bisa diselesaikan hanya dengan 2 minggu kuliah dimodul ini




7 Desember, 2015

Modul 4.3 : Exploring the Human Enchancement Technology


Ini kelas kami selama 2 minggu terakhir. Dan foto ini diambil di ruang teater perpustakaan FK UGM; usai mini seminar dan panel diskusi di hari terakhir kelas. kemarin jumat :') Yang duduk berjejer di depan itu Tim koordinator blok nya (kecuali hasna yang pake baju biru paling kanan). Ada kak Sandeep, Bu Erlina, prof Narto, dan Dokter Wika dari Center of Bioethics and Medical Humanity. Kurang dokter Azid yang hari itu masih jaga di rumah sakit.

Kelas ini nggak seperti kelas lainnya. Di kelas ini kami nggak belajar klinis, kami nggak ada praktikum, skill lab ataupun tutorial. Jadwal kami setiap harinya selama 2 pekan terakhir ini konstan dari jam 8 sampai jam 3 sore yang isinya antara kuliah dan diskusi, kuliah diskusi, kuliah diskusi. Atau movie session dan diskusi. Atau reading analysis. Beberapa kali kamu juga kuliah dengan teleconference bersama Benjamin, seorang antroplogis (orang luar negeri tentunya) yang pernah meneiliti kaum LGBT di Indonesia (kalao tidak salah) selama 3 tahun. Pernah juga kuliah teleconference dengan Paul Mason, seorang medical anthropologist.

Selebihnya, kami kuliah dengan para pakar teknologi dan etik di UGM, dan sesei terserunya adalah kesempatan untuk berdiskusi baik yang teknis maupun filosofis dengan beliau-beliau ini. Somehow, kami-kami ini merasa,wow, kemana aja kita selama ini? Saking sangat banyak wawasan kami yang terbuka hanya dalam waktu 2 pekan.

Di setiap topik selalu ditekankan, 'everything is depend on its social construct and so that everything is socially and culturally constructed' even beautiful, even love, even science itself.' Jadi, kami diajak bagaimana berpikir kritis dengan melihat konteks yang ada. Berpikir etis dengan membandingkan satu konteks dengan konteks lainnya.

And, this class is so awesome, with awesome teachers and awesome classmates :')

Kalo kuliah biasa, nggak akan ada yang nanya sampai sebanyak itu, sekritis itu .... whoaaa ..

note : setelah ini akan saya uplot commentaries dari day 1-last ...

Jumat, 18 Desember 2015

Hari Terakhir

Dalam hitungan satu setengah jam, saya akan masuk kelas untuk terakhir kalinya di S1 ini. Terkadang saya merasa, wow, the time past quickly, isn't it?

Tapi kalau dipikir, nggak juga. Ada waktu-waktu yang saya merasakan berjalan sangat lambat, seperti waktu menjalani tahun pertama kuliah, blok 4.2 juga blok elektif termin 2 ini, blok exploring the human enhancement technology.

Saya bersyukur saya menutup pembelajaran S1 ini dengan 'terjebak' di kelas HET ini. Somehow, dalam rentang waktu 2 minggu duduk di kelas ini, pikiran kami jadi lebih terbuka. Sangat amat terbuka bahwa ternyata ilmu kedokteran itu sempit cakupannya, dan ada banyak ilmu di luar ilmu kedokteran yang harus kami pelajari untuk menunjang profesi dokter.

Setelah kuliah ini selesai nanti, saya ingin bercerita lebih panjang tentang kelas ini, juga ingin meng-upload commentaries (semacam diari) yang kami tulis setiap harinya di discussion forum di portal akademik fk.

Setelah ini yang menanti saya untuk 2 bulan ke depan hanya tinggal ujian-ujian, remed-remed, juga skripsi. Kemudian ...

Ah.

Welcome to reality :')

Tapi, kalau dipikir-pikir sedih juga ...

Minggu, 13 Desember 2015

Terbatas

Seberapa jauh kita mau ikhtiar untuk berdakwah dan menabrak keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki untuknya?

Seberapa jauh?
Seberapa rela?
Seberapa ikhlas dan sabar?
Jika benar, semoga ini adalah memang ujian agar aku naik ke tingkat berikutnya. Jika benar, semoga ini adalah memang ujian atas niatan, amal, maupun ilmu yang ada dalam pribadi ini.

Semoga bukan azab atas kelalaian diri ini, atau atas ego yang tidak pernah mampu diri ini taklukan..

*Lillah, Lillah ... agar lelahnya tak sekadar lelah ..

Sabtu, 12 Desember 2015

Praktikum Medical Logistic : Banjir Kali Code



Yogyakarta menghadapi hujan besar selama sepuluh hari berturut-turut dengan intensitas yang bervariasi. Curah hujan tertinggi terjadi di daerah Boyolali dan Sleman. Pada hari ke-7, lahar dingin turun dari Gunung Merapi mengancam penduduk sepanjang kali Code dan Gajahwong. Level air di daerah Code dan Gajahwong naik hingga 3-5 meter, dengan aliran deras yang bercampur material vulkanik seperti abu vulkanik, batu-batuan, dan lumpur. 

Tim 11 adalah tim bantuan bencana yang dikirim oleh Fakultas Kedokteran UGM ke daerah banjir Kali Code. Tim ini beranggotakan 10 orang dengan rincian : 2 orang dokter umum, 2 orang dokter spesialis anesthesi, 1 orang dokter spesialis bedah, 3 orang perawat, 1 orang ahli gizi, dan 1 orang psikolog. Tim 11 berada di lokasi banjir selama 7 hari. Hari pertama Tim 11 tiba dan langsung melkaukan koordinasi dengan dinas kesehatan setempat dan relawan lain untuk pembagian lokasi kerja dan penanganan. Hari kedua Tim 11 menuju lokasi yang telah ditunjuk, mendirikan tenda pos pelayanan kesehatan, dan memberikan pelayanan kesehatan gawat darurat bagi korban dan pengungsi. Hari ketiga dan keempat Tim 11 selain melakukan pelayanan kesehatan, juga turut menyisir dari ujung ke ujung Kali Code untuk mencari korban yang masih terjebak banjir. Hari kelima Tim 11 menyisir lokasi yang masih terisolir. Hari keenam, Tim 11 melakukan promosi kesehatan di pos pelayanan kesehatan, termasuk promosi kesehatan tentang mencuci tangan dan kebersihan lingkungan. Di hari ketujuh, Tim 11 melakukan evaluasi internal dan evaluasi bersama dengan dinkes setempat; serta persiapan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Dalam proses pengiriman Tim 11 sebagai tim bantuan bencana terdapat beberapa kendala yang dihadapi, seperti cuaca yang tidak mendukung karena hujan deras, yang berimbas pada gangguan komunikasi jarak jauh akibat sinyal yang terganggu, serta kurang lancarnya komunikasi dan koordinasi dengan relawan lain di awal kedatangan tim. Namun, secara umum kegiatan operasional seperti memberikan pelayanan kesehatan dan pertolongan pertma bagi korban dan pengungsi dapat berjalan lancar. Demikian laporan ini dibuat sebagai dokumentasi tim manajemen bencana FK UGM dan agar dapat menjadi evaluasi dan refleksi bagi tim bantuan bencana berikutnya.

Note : 
Ini praktikum di blok lalu tentang disaster management. Sebenarnya udah pengen ngupload tulisan ini ke blog beberapa minggu lalu, tapi baru kesampaian hari ini *ada yang sok sibuk, haha*

Jadi ceritanya, tulisan di atas adalah report yang ditulis oleh saya sebagai tim leader
dari sebuah tim bantuan bencana yang dikirim FK UGM ke Kali Code yang sedang mengalami musibah banjir. Sebenarnya praktikumnya nggak benar-benar turun ke lapangan; tapi 'on the table' alias simulasi kasus dengan imajinasi. Jadi, ada skenario kasus, terus ada blanko logistik yang harus kami -satu kelompok praktikum ini-isi. Report yang dikumpulkan terdiri atas tiga hal : blanko logistik yang sudah lengkap, rencana tindakan medis lapangan, sama report yang saya tulis di atas ini.

Nah, bagian terseru adalah ketika kami harus melengkapi balnko logistik yang terdiiri atas tiga blanko : blanko logistik persola, blanko logistik tim, dan blanko logistik operasional. Hari itu, kami mendiskusikan akan membawa berapa baju, berapa celana, bawa alat mandi apa aja, bawa jas hujan atau bawa payung, bawa senter atau bawa lampu emergency, bawa perahu karet atau nggak, bawa tenda berapa banyak, bawa stetoskop pribadi atau kelompok, bawa tensimeter berapa banyak, kita mau bawa bawa obat apa aja. Waktu itu, kita diskusi mau bawa apa aja udah serasa kita mau turun ke lapangan beneran, seru banget deh. Kita berantem mau bawa telor asin atau telor bebek atau telor ayam buat logistik makanan, meski ujung-ujungnya yang ditulis di blanko kita bwa nasi bungkus. Kita berantem perlu bawa truk atau nggak, dan ujung-ujungnya ditulis kita motoran ke kali code, haha ...


Rabu, 02 Desember 2015

Bukan Kebetulan

Kemarin, dalam satu hari, saya bertemu dengan banyak orang yang sebenarnya saya paling hindari hari itu. Tapi, Allah berkehendak lain. Meski saya sudah menghindar, tetap saja Allah pertemukan. Wallahu a'lam mengapa.

Orang-orang yang saya temui hari itu, mengingatkan saya pada satu hal yang sama, "InsyaAllah ini bukan kebetulan. Allah berkehendak seperti ini atasmu. Jadi, pasti ada alasannya."

Iya, pasti ada alasannya. Mengapa saya harus di sana, dalam waktu itu, bertemu dengan orang-orang itu. Pasti ada alasan mengapa Allah tidak membiarkan saya menghindar. Mengapa Allah menginginkan saya ada di sana, pasti ada alasannya. Meski entah apa. Meski alasan itu belum tentu akan diketahui detik ini, hari ini; bisa jadi baru akan diketahui bertahun-tahun setelah hari itu.

Pasti ada alasannya. Pasti ada pelajarannya. Bukan kebetulan. Hanya saja saya cukup bersabar untuk belajar atau tidak ya?

-Semoga niat ini tidak bergeser dari menuju kepada-Nya. InsyaAllah.

Wallahu a'lam.

Selasa, 01 Desember 2015

Paham

Ada banyak hal yang saya nggak paham begitu menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dulu, saya banyak mempertanyakan hal-hal yang saya nggak paham ini. Tapi nggak banyak juga yng saya dapatkan jawabannya. Semakin saya tanyakan, semakin saya binung, dan seringpula justru jawaban itu ada ketika saya tidak menanyakannya. Tapi menjalakannya.

Jadi, sekarang meski tidak paham mengapa, saya memilih untuk tetap berjalan, sambil berdoa semoga Allah berkenan memperdalam pemahaman saya agar saya peka terhadap petunjuk-Nya. Dan biasanya jalan ini lebih mudah mendapat kepahaman, ketimbang terus-terusan bertanya, tanpa bertindak apapun.

Ihdinash shiraathal mustaqiim ...