Rabu, 28 Oktober 2015

Jatuh Cinta pada Ide Tentang Seseorang

Awalnya judul ini gue dapetin di buku Teman Imaji-nya Kak Mutia Prawitasari. Ketika Kica, si tokoh utama diperingatkan oleh Kak Rasya agar jangan jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Tapi, setelah kemaren ngerandom bareng anak kampus dan berujung pada nobar film Paper Town-nya John Green, gue jadi mengingat kalimat itu lagi.

Film Paper Town ini dengan cukup jelas menggambarkan kalimat yang gue pake sebagai judul. Jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Film ini berkisah tentang Quentine yang biasa dipanggil Q dengan Margo, tetangganya yang baru. Bagaimana Q, laki-laki yang -sangat tidak mau terlibat masalah- jatuh cinta pada Margo -yang selalu tertarik akan misteri. Bagi Q, karena ketertarikan Margo akan misteri, ia menjadi bagian dari misteri itu. Bagi Q, Margo adalah misteri. Semua orang, termasuk Q memandang Margo sebagai sesosok gadis sempurna, yang sangat menikmati kehidupannya. Ia enjoy dengan petualangan-petualangan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia melakukan perjalanan yang tidak pernah dilakukan oleh anak SMA dengan bahagia. Dan ia memiliki segalanya, teman, pacar, perhatian, populer. Semakin keduanya beranjak dewasa, semakin keduanya tidak pernah berbicara. Hingga suatu ketika Margo menyelinap diam-diam ke kamar Q melalui jendela. Memintanya menjadi partnert 'balas dendam' nya atas perselingkuhan pacarnya. Q tidak menyangka hari itu akan datang. Hari dimana akhirnya mereka berdua berbicara kembali.

Lalu, sehari setelah kejadian balas dendam itu, Margo menghilang. Entah kemana. Anehnya, ia meninggalkan petunjuk pada Q, kemana ia menghilang. Dari sanalah Q -dibantu oleh teman-temannya mulai mencari Margo dengan segala petunjuk yang ada. Di akhir cerita, akhirnya Q bertemu dengan Margo setelah memutuskan menunggu di Paper Town. Dan menyatakan cintanya pada Margo.

Tapi, Margo mulai perlahan menjelaskan ini itu yang membuat Q sadar bahwa, yang ia  cintai adalah Margo yang ada dalam pikirannya. Yang ia cintai adalah ide tentang Margo yang ia bangun. Dan mungkin bukan Margo itu sendiri.

Begitu. Dan setelah dari sana, beberapa temen kecewa karena akhirnya gitu aja. Tapi menurut gue ceritanya bagus. Pemaknaannya bagus. Mungkin banyak yang mengangkat tema tentang cinta, either itu happy end atau sad end. Tapi, Paper Town nggak happy end, tapi juga nggak sad end. John Green membuatnya akhirnya menjadi adil. Adil untuk Margo yang ingin menemukan dirinya -yang bukan image yang ia bangun selama ini. Adil untuk Q yang akhirnya sadar bahwa ia bukan jatuh cinta pada Margo, tapi pada ide tentang Margo.

Mungkin, di kehidupan sehari-hari pun, nggak jarang terjadi. Yang namanya jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Seringkali orang membangun image dalam dirinya sendiri tentang seseorang yang ia cintai secara berlebihan. Melebih-lebihkannya, menyimpannya dengan sangat rapih. Padahal jangan-jangan, orang yang kita cintai tidak benar-benar seperti apa yang kita bayangkan. Pada akhirnya, karena kita membangun image baik yang berlebihan itu, kita juga jadi membangun image diri kita yang bukan diri kita. Alias kita jadi -tidak-menjadi-diri-sendiri-saat kita mencintai.

Dan, lebih jangan-jangan lagi adalah, jangan-jangan jatuh cinta itu cuma ada dalam pikiran kita. Bukan hati kita ...


Ternyata, jatuh cinta itu tidak sederhana.

Senin, 26 Oktober 2015

Meletus

Aku kira, balon hijau yang kemarin meletus, sudah sepenuhnya meletus. Sudah semua udaranya keluar dan memecah belah dinding karet si balon.

Ternyata tidak.

Balonnya tidak benar-benar meletus. Ia tidak pecah. Hanya udaranya saja yang keluar melalui pintu masuk. Tapi masih ada sisa udara di dalamnya.

Dan kini, balon itu diisi udara lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi....
      Dan entah masih butuh berapa "Lagi" untuk menggambarkannya,

Hingga pemiliknya tak sadar, balonnya sebentar lagi (mungkin) pecah.

DOR!

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hari Dokter Nasional bersama Pendidikan Dokter Reguler 2012


Selamat Hari Dokter Nasional -24 Oktober 2015- Untuk seluruh dokter dan calon dokter di Indonesia! :)

Especially for everyone in School of Medicine batch 2012, Gadjah Mada University :)

Bersamamu aku tumbuh.
Bersamamu aku berkembang.
Sebentar lagi masing-masing dari kita menjejak ranah realita. Kehidupan klinik yang jauh dari idealita yang diajarkan di bangku perkuliahan.
Semoga kita tidak tumbang dalam perjalanan menuju cita-cita untuk meraih gelar kemuliaan.
Kita kuat, dan saling menguatkan.

Dan,
kita sehat dan harus mensehatkan ...

Tidak ada yang mudah dalam mencapai impian yang besar.
Tapi bersamamu, aku yakin kita mampu melewati ketidakmudahan itu ..
Hingga tanpa sadar kita sudah berjalan bersama dengan guru-guru kita, kakak-kakak kita, sesama spesies berjas putih ...

Kita kuat, dan saling menguatkan.

Kita adalah (calon) dokter. Dan sejak kita mendeklarasikan diri untuk menjadi (calon) dokter, hidup kita sudah bukan milik kita lagi, hidup kita sudah bukan sekadar mempersoalkan diri kita lagi; tapi hidup kita sudah menjadi milik pasien ...

Sudah siapkah kita?

Tidak apa, kita kuat, dan saling menguatkan :)


Foto diambil : 
Jumat, 23 Oktober 2015; Jam 11 lewat sekian usai kuliah panel tentang Interprofesional Education. 
Blok 4.2 : Health System. Di depan KPTU FK UGM.

Jumat, 23 Oktober 2015

Janji


Jumat lalu, melalui telepon seluler

"Dek, kamu besok ada kuliah?"
"Nggak, Bu. Tapi besok pagi tyani ngisi. Terus siangnya tyani ngurusim acara krn panitia."
"Oh besok Ibu sama Bapak balik ke Depok. Kalo kamu kosong Ibu mampirin Jogja. Kalo km sibuk ibu lgsg ke Depok."
"....."
"Gitu ya Dek?"
"Hari Minggu aja Ibu ke sininya ..."
"Ibu senin ada jadwal ngaji, Bapak udah mulai detlen majalah"
"....."
"ya kamu kan sibuk toh ..."
"Mmm siang deh bu ke sininya. Nnti tyani kan cuma konsum, siang udah selesai palingan ..."
"Eh jangaan.. Kalo ada kerjaan gitu dikerjain sampai selesai lah, dek .."
"....."
"Nanti Ibu ke tempatmu kalo Ibu Bapak ke jogja aja ya ..."

"...."
Nanti itu kapan ya?


Kapan ya terakhir kali percaya sama kata 'nanti'?
Kapan terakhir kali benar-benar percaya sama janji?

Kalau sudah begini, cuma bisa berdoa, semoga masih bisa bertemu, entah besok, lusa, satu bulan lagi, satu semester lagi, atau bahkan bertahun-tahun kemudian saat diri ini menyandang gelar baru ...

Semoga, semoga, Ya Allah ...

 

Senin, 19 Oktober 2015

Cermin : Hening

Kita sama-sama terdiam. Sama-sama bingung harus memulai darimana pembicaraan kita.
"Jadi ..."
"Jadi ..." tanpa sengaja, kita berujar bersamaan, berniat dulu-duluan memecah kesunyian yang menyiksa. Tapi kemudian tak ada satu pun dari kita yang melanjutkan. Hening lagi. Kita sama-sama menunggu. Meski entah menunggu apa. Kita sama-sama terdiam. Meski entah karena apa. Kita sama-sama tidak berani memandang satu sama lain. Meski, kita tahu kita sama-sama merindu.

Hening masih belum pecah. Masih belum ada dari kita yang berniat untuk melanjutkan kata "Jadi" yang terucap tadi. Aku mengulum bibir. Ragu-ragu mau berbicara. Kamu pun gelisah, sedari tadi memutar-mutar jam tangan yang melingkar di lenganmu, kebiasaanmu sejak dulu jika sedang gugup.

Kita sama-sama gugup. Gelisah ingin bersuara. Gelisah ingin berbicara banyak hal. Mengobrol ini itu. Ngalor ngidul sampai jauh dari topik awal. Seperti dulu lagi.

Tapi kita masih sama-sama diam. Hening ini semakin menyesakkan, beriringan dengan suara detikkan yang tiada habisnya.

Kita sama-sama menunggu. Meski entah menunggu apa. Kita sama-sama menunggu keheningan ini pecah entah oleh apa saja, atau siapa saja!

Kita masih menunggu. Dan hening masih menggantung ...



Note :
tadinya mau di post pas ada lomba cermin di salah satu grup wa. tapi entah kenapa urung saya post di sana. Jadi saya post di sini saja. karena namanya cerita mini. Jadi ceritanya emang cuma segini. Bahkan saya aja ga tau maknanya apa. wkwkwkwk ....

Rabu, 14 Oktober 2015

Sedang sangat ingin pulang. Meski entah kemana.

Salatiga, 14 Oktober 2012

Minggu, 11 Oktober 2015

Tahun ke-10

Diingatkan Fitri tadi, sepulang rapat, sepulang makan; Ternyata, tahun ini sudah tahun ke-10 berada di perantauan. Sudah separuh dari usia diri ini.

Sudah dapat apa Ty selama 10 tahun terakhir?

Kamis, 08 Oktober 2015

*Bukan Copy Paste

ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis
Husnudzhon alias berpikir positif terhadap sesuatu memang sulit dilakukan, karena manusia cenderung berpikiran negatif.

-Suatu ketika dalam ruang terapi
I got all I need when I got You and I
I look around me, and see sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night
Can’t stop my heart when You shinin’ in my eyes
Can’t lie, it’s a sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night

(Flashlight, Jessie J) 

Rabu, 07 Oktober 2015

Sudah bulan sekian ...

Sudah bulan sekian. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian tahun. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian status, dari mahasiswa preklinik menjadi mahasiswa klinik.

Sudah bulan sekian. Sisa sekian bulan menuju pergantian tahun. Semoga diri ini diberi kesadaran, diperdalam pemahaman, dan diperluas hatinya.

Sudah sekian bulan, sekian tahun berada di tempat ini. Kapan sadar?

Gedung Radiopoetro FK UGM
10.56 WIB

Minggu, 04 Oktober 2015

Bersyukur atas . . .

Berysukurlah ketika kita masih diringankan langkahnya untuk datang ke forum ilmu. Bersyukurlah ketika hati kita merasa tidak nyaman ketika berbuat yang tidak baik. Bersyukurlah karena masih bisa bersyukur.

Karena itu berarti Allah masih mau memberikan 'Nur'nya dalam hati kita ...

*refleksi dua hari ini ...
Bersyukur Ty ...

Rumah di Ujung Jalan

Rumah itu berada tepat di ujung jalan. Rumahnya bukan rumah kokoh yang dibangun dengan beton, bata, atau sejenisnya. Ia hanya rumah kecil dengan dinding kayu yang bisa rubuh kapan saja. Awalnya aku mengira rumah itu hanya gubuk kosong atau pos penjagaan yang sudah tidak terpakai. Tapi, sekali waktu aku lewat di depannya, ada seorang kakek-kakek duduk di bangku kayu di depannya. Bangku yang juga sama reotnya dengan rumah itu. Sekali waktu yang duduk di sana seorang nenek-nenek. Dan sekali waktu keduanya duduk berdua di depan. Keduanya tidak melakukan apapun. Hanya duduk saja di sana, menikmati cuaca Jogja yang akhir-akhir ini memanas beberapa derajat.

Tapi keduanya terlihat menikmati suasana saat duduk di depan rumah reot itu. Entah karena keluhannya sudah terpendam jauh selama hidupnya, atau karena memang tidak ada keluhan lagi yang perlu dikeluhkan? Atau memang sebenarnya tidak perlu ada keluhan. Karena kebahagiaan adalah sebuah persepsi. Pun keluhan dan masalah juga buah dari persepsi.

*Semoga ketidaknyamanan ini hanya sesaat.
Baytul Quds, di siang yang panas, di hari-hari kesabaran dan 
keridhaan akan takdirnya Allah sedang sangat dibutuhkan. 
Fashbir Shabran Jamiilan.

Menjadi Peduli

Tertanggal kemarin malam, seorang teman mengepost di salah satu grup whatsapp, seperti ini : Mau nanya

"Tak usahlah kita memperdulikan orang yang tak peduli dengan kita"
 adakah yang salah dengan kalimat ini?
*jawab besok aja kalau berkenan

Pertanyaan ini teggelam oleh pengumuman lomba menulis  akhirnya. Sebenarnya saya punya pemikiran tentang ini, tapi saya sepertinya enggan muncul di grup massal selain untuk memberi emoticon terompet (haha).

Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Dengan kalimat yang sama, tapi yang kalimat 'jawab besok aja'-nya nggak ada. Haha. Di satu sisi, seperti jawaban seorang teman, nggak ada yang salah dengan kalimat ini. Tapi toh ini semua bergantung pada individu masing-masing akhirnya. Bergantung pada pilihan hidupnya, because life is choice. Apakah ketika ada yang kita akan tetap memperdulikan orang yang bahkan nggak sedikit pun peduli dengan kita, atau kita memilih bersikap yang sama dengan orang tersebut. Dia tidak peduli dengan kita, so, kita juga tidak perlu peduli dengan mereka.

Kalimat ini pun, salah atau tidaknya akan bergantung pada konteks situasi dan kondisinya. Saya merasa kalimat ini sangat salah ketika konteksnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang pada kemunkaran, atau lebih simpelnya bolehlah disebut dalam dakwah. Dalam berdakwah, orang setidak peduli apa pun, toh kita tetap harus, wajib, kudu, berdakwah ke orang tersebut, karena kita nggak tau pintu hidayah yang mana yang akan dibukakan oleh Allah untuknya. Rasulullah pun begitu, tetap mengajak orang-orang mentauhidkan Allah, meski orang-orang tersebut menolak, juga tidak peduli alias abai. Kita pun, sebagai pewaris risalah para nabi punya kewajiban yang sama. Memperdulikan orang yang tidak peduli. Membuat orang-orang yang tidak peduli ini agar jadi peduli. Dan jangan sampai yang sudah peduli malah jadi nggak peduli.

Saya jadi ingat waktu forum pekanan, di suatu pagi, dimana kami membahas tentang kesabaran, ada salah seorang teman yang bilang, bahwa 'mengajak orang itu nggak ada kata selesai, nggak ada kata orangnya udah nggak bisa diajak lagi, atau orangnya udah nggak bisa diapa-apain lagi nih', kalau sudah begitu, berarti kitanya yang mungkin sedang lelah. Orang itu masih bisa diajak sebenarnya, setidakpeduli apapun ia, kita mengenal Umar bin Khattab, kita mengenal Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, tapi berkat kesabaran Rasulullah dan para sahabat dalam mengajak pada ketauhidan, akhirnya Allah membukakan pintu hati keduany hingga kini kita mengenalnya sebagai salah satu sosok sahabat Rasul yang sangat membela Islam.

Iya itu. Tapi kalo konteks lainnya adalah misal kita mau pakai baju, atau kita mau presentasi atau apa, terus kita mengkhawatirkan presepsi orang alias kita takut dengan tanggapan orang, padahal orang lain juga belum tentu peduli atau bahkan nggak peduli sama sekali, ya yang kayak gini mah buat apa peduli. Eh, atau ini jadinya malah 'Tidak usah memperdulikan tanggapan orang, toh mereka belum tentu peduli'. Haha. Yah, jadi beda konteks deh. Haha.

Yah, pokoknya intinya gitulah.

Kamis, 01 Oktober 2015

Sampai Jumpa RumahKita, RumahWacana!

Kepindahan kami -anak-anak RumahKita, rumah di kolong jembatan teknik, Kali Code, sebenanrya sudah tertunda berkali-kali. Maklum, ketiga orang penghuninya adalah detlener sejati. Haha. Atau procastinator? Akhirnya, saat benar-benar akhir september tiba -bertepatan dengan hari dimana kita harus membangunkan Green Day atas permintaannya melalui lagu "Wake Me up When September End"- itu barulah ketiga bocah ini, dibantu oleh seorang "Bundo" si 'Afifah, mau pindahan total. Lemari, juga kasur dan setumpukkan kardus-kardus berisi entah apa, diangkut oleh pick up yang ditemui sedang nangkring di pinggir jalan, bareng sama supirnya.

Pindah. Akhirnya RumahKita yang sudah sejak tiga tahun lalu mewacanakan untuk pindah rumah -tapi tetap saja hanya jadi wacana- benar-benar pindah di tahun keempat kuliah. Dan pisah rumah (bukan pisah ranjang, karena emang kagak ada ranjangnya). Dua orang mondok dengan rajinnya di Inayatullah, Jalan Monjali. Dan satu orangnya bermalas-malasan di kontrakan yang baru. Tetap saja lebih sering tidur ketimbang belajarnya. Haha. Meski pindahannya pun pas di hari terakhir kontrakan habis. Di hari dimana Ibu kontrakan nyamperin ke rumah, nanyain, memastikan bahwa kami benar-benar akan pindah. Haha.

Pasti, akan merindukan masa-masa tiga tahun di RumahKita, sama para penguhinya, sama rumahnya, sama Ibu kontrakannya, sama tetangga-tetanggnya, sama suasana turun dari jembatannya. :) Pasti akan sangat merindukan :)

Welcome to Baytul Quds

Rumah ini bernama Baytul Quds, entah karena apa. Entah siapa yang memberi nama atau memilih namanya. Dulunya berlokasi di daerah Pogung Lor, yang berjarak sepelemoaran batu dari warung SS di Pandega Marta. Tapi kini, rumah ini sudah pindah, bergeser beberapa kilo meter dari sana, menyebrangi ring road utara, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meski ini bukan pertama kalinya saya ke sini, bukan pertama kalinya pula saya tidur di sini, tapi hari ini (sebenarnya terhitung sejak kemarin), saya resmi menjadi salah satu penghuni Byatul Quds ini. Barang-barang saya, kini sudah turut pindah, bukan hanya orangnya seperti saat masa-masa OSCE KBK 3 kemarin. Haha. Kini, penghuninya genap 10 orang dengan saya, kesemuanya adalah anak prodi dokter 2012. Rumah ini jadi sedikit lebih ramai. Semoga juga menjadi lebih baik :)