Minggu, 27 September 2015

Besok itu ...

Besok itu responsi farmako. Empat hari setelahnya ujian blok.

Lusa angkut-angkut barang ke kontrakan baru. Meski belum ada barang yang selesai di packing.

Tapi, kalo sendirian di kontrkan gini, mau ngapa-ngapain jadi ogah-ogahan yak. Bersyukur di awal kuliah di jogja nggak memutuskan untuk ngekos sendirian. Entah jadi apa kerjaan saya ... *meski ga tau ada hubungannya atau nggak* yasudahlah ...

Belajar Ty ...

Jumat, 25 September 2015

Hari ini, Instalasi Gawat Darurat, Anafilaksis

Hari ini, seorang teman berinisial R datang ke ruang tutorial dengan masker. Hidungnya tidak berhenti bersin. Matanya berair. Semakin lama diskusi di ruang tutorial itu berjalan, semakin parah pula pileknya, matanypun semakin berair. Usai diskusi berjalan, si R tanya, "Eh Ty, mataku bengkak ya?" Dan begitulah awalnya.

Sekitar jam sepuluhan, separuh anak kelompok tutorial saya tak sengaja bertemu saya dan A yang terdapar di pelataran Grha Wiyata depan lift lantai 2 karena nggak dapet ruangan. Tiba-tiba, seseorang dari separuh itu bilang (tapi saya lupa siapa gitu yang bilang, haha.) "Eh Ty, temenin R ke IGD yuk! Makin parah nih kayaknya alerginya." Dan saya dan A langsung mengiyakan, dan jalanlah kami ke IGD lewat jalur 'adem' alias jembatan yang menghubungkan FK dengan Sardjito di lantai 3, haha. Well, sepanjang perjalanan, jujur aja saya deg-degan karena R perlahan napasnya mulai setengah-setengah. Mulai sesak napas. Matanya terus berair nggak berhenti. Setiap saya tanyain "Mau duduk dulu po?" Dia cuma nunjuk ke depan, maksudnya 'jalan aja terus', tapi bahkan ngomong aja beliau udah kesulitan karena napasnya yang sudah mulai tersengal. Di lift turun ke bawah kami terpisah karena liftnya ga cukup. Saya R, An sama Al turun duluan ke IGD. Kita masuk ke IGD lewat jalur 'pegawai' haha. Saya nuntun R sampai ke meja dokter triase sambil degdegan. Ya gimana ga degdegan, orangnya aja udah makin ga bisa napas, jalan aja udah nyender di sepanjang dinding rumah sakit. Al sama An jalan duluan ke depan, ke meja administrasi, sementara saya sambil nyeret R, menghampiri dokter triase, "Dok, maaf ini temen saya mau periksa." Terus dokter dan perawat IGD langsung sigap menolong R yang udah susah payah berdiri, diambilin bed troli yang terdekat, dibopong untuk naik ke atasnya.

Dokternya tanya, "Ini kenapa mbak?"

Saya jawab sesuai yang saya tau aja, "Alergi dok. Alergi obat."

"Habis makan obat apa emang?"

"Neu*****n, dok"

Terus habis kejadian itu Al dan An masuk karena bingung sama administrasinya, dan teman-teman lainnya yang terpisah di lift tadi, dan saya keluar ngegantiin Al dan An ngurusin administrasi, meski saya juga ga tau apa yang harus diurus di sana ._.

Dan ternyata selama ngurus administrasi itu, R masuk ruang resusitasi, dan saat itulah dokter triase memanggil tim dokter dan bilang kalau R pasien level 1.

Dan ternyata (lagi), entah kenapa hari itu IGD Sardjito sangat amat full sekali banget. Waktu kami-kami ini nunggu di depan IGD, satu ambulan bersambut ambulan lainnya yang bawa pasien, belum ditambah mobil pribadi atau taksi yang juga bawa pasien untuk ke IGD. Kami sampai heran, waktu jamnya kami field visit ke IGD pasiennya kurnag dari sepuluh dan bisa bangetlah dihitung dengan jari. Hari ini, hari dimana salah seorang teman kami harus masuk IGD, dokter-dokter bahkan sampai bingung siapa yang harus dikeluarkan dari ruang resusitasi karena ada pasien lain yang masuk dan membutuhkan tindakan cepat.

Kalau ceritanya dari teman T yang sempat menjaga R di dalam ruang resusitasi beberapa saat, bilang kalo tadi aja tensimeter, pulseoxymeter nya gantian dari pasien ke pasien lainnya dengan cepat. Hari itu, kami bersekian yang berada di penghujung blok emergency ini, cukup takjub dengan field visit kedua kami ke IGD -meski tanpa dosen pembimbing. Tapi, kami menyaksikan langsung ke-hectic-an IGD seperti di film-film. Dan bahkan, teman saya si R itu ketika sudah stabil aja nggak dapet ruang dan dimonitoring di koridor IGD bersama dengan tiga pasien lainnya ...

Yah tapi begitulah ... hari ini. Hari yang mendadak juga menjadi hectic buat kami :)

Minggu, 20 September 2015

RumahKIta : Rumah di Kolong Jembatan #2

Sudah dua hari terakhir, begitu pulang dari luar dan kembali ke rumah ini, rumah ini menjaid lebih lenggang daripada sebelum-sebelumnya. Meski sudah terbiasa sendirian di sini karena waktu libur yang berbeda, tapi kali ini, tidak ada lagi yang kutunggu. Tidak ada lagi yang kembali kemari.

aah, aku juga harus cepat pergi.

Sabtu, 19 September 2015

RumahKita : Rumah di Kolong Jembatan #1

Pernah tidak merasa kamu ingin melakukan sesuatu, tapi semakin kamu pikirkan, semakin kamu ucapkan semakin kamu tidak ingin melakukannya? Dan itulah yang terjadi padaku hari ini. Sebelum akhirnya tertidur tadi, aku sudah berkali-kali memikirkan bahwa aku harus segera membereskan barang-barangku, mempacking nya dalam kardus-kardus kosong yang entah dari mana. Aku harus segera berpindah tempat. Hari ini, atau besok. Tapi ..

semakin aku memikirkannya, semakin aku tidak ingin melakukannya.

Jumat, 18 September 2015

Jangan Melupakan

Bila ada kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu, yang harusnya dilakukan bukanlah melupakan masa lalunya. Bukan pula melupakan diri sendiri atau hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu. Tapi maafkanlah. Maafkan orang lain yang berbuat tidak menyenangkan padamu di masa lalu. Maafkan lingkungan di masa lalu yang membuatmu menjadi seperti ini. Dan utamanya, maafkan diri sendiri yang mungkin berbuat tidak menyenangkan di masa lalu.

Karena, melupakan bukanlah solusi. Melupakan hampir sama dengan menghindari situasi. Dan sebenarnya akan selalu ada ruang -yang entah kapan akan muncul- untuk kita mengingat kembali masa lalu yang menurut kita tidak menyenangkan itu. Dan bila sewaktu-waktu tuang itu muncul di tempat dan waktu yang tidak tepat, akan membuat diri kita gagap akan masa kini, langkah kita mendadak jadi tertahan oleh masa lalu. Mau tidak mau, disadari atau tidak, jika kita hanya melupakan masa lalu tanpa memaafkannya, kita akan selalu terkekang dengannya.

Sementara bila memaafkan, itu berarti kita telah menerima. Menerima masa lalu sebagai bagian dari diri sendiri. Menerima diri kita yang tidak sempurna. Mungkin, itu yang disebut dengan berdamai dengan hati?

Penjagaan

Kalau kita mau berpikir dan kita memang meminta untuk dijaga hati dan raga kita oleh Allah SWT, sebenarnya ada banyak hal yang memang sudah Allah lakukan untuk penjagaan diri kita. Mulai dari peringtan-peringatan kecil, seperti ketidaknyamanan hati dalam menjalankan aktivitas atau mungkin yang nyata-nyata melalui teguran orang lain, atau fenomena buruk yang menimpa kita, mungkin seperti motor jatuh hingga spion patah atau ponsel menddak rusak atau laptop mendadak mati tidak mau menyala. Apapun. Tinggal kita mau peka atau tidak. Tinggal kita mau berpikir untuk memahami atau tidak.

Hanya saja, kadang-kadang hati kita terlalu bebal untuk memahami tanda dan peringatan Allah untuk segera menarik diri dari hal yang tidak Ia sukai, dan kita memilih untuk tetap melakukannya.

Atau ketika sudah tidak menyadari semua penjagaan dan peringatan dari Allah, mungkin saat itu juga sebenarnya hati kita sudah terlalu hitam, hingga tak mampu setitik pun cahaya mengalihkan kita dari segala kemaksiatan yang kita lakukan. Na'udzubillahi min dzalik ...

Kamis, 17 September 2015

Adik Binaan

"Jangan berharap adik-adik binaan kita jadi keren kalau kita sendiri nggak beproses jadi lebih keren dari kita sebelumnya."

Itu kalimat yang terlontar dari Nanda, selaku koordinator dewan pertimbangan KaLAM 1436 H saat syuro tadi sore. Kita ceritanya sedang evaluasi kinerja detim, juga evaluasi adik-adik di KaLAM dan, terlontalah kalimat itu yang bikin kita jadi berkca kembali pada diri sendiri.

Jadi, kalau adik binaan lagi futhur, lagi ga semangat beramanah atau lagi nggak semangat ibadah, coba cek lagi ke diri sendiri -selaku yang ngebina adik-adik, entah itu di mentoring, entah itu di tutorial PAI, entah itu di lembaga atau di manapun lah. Jangan-jangan sebenarnya diri sendiri yang lagi futhur dan berimbas ke adik-adik binaan kita.

Untuk kedua kalinya, jadi, semangat dan selamat berproses menjadi lebih keren dari diri kamu yang sebelumnya. Selamat dan semangat membina generasi yang lebih keren dari diri kamu yang juga sedang berproses menjadi keren. (halah, bahasanya ribet amat dah haha) ..:)

Rabu, 16 September 2015

Jas Koas #2

Saya : Za, aku kayaknya mau bikin jas koas di tempat Ibu mu aja Za. Boleh?
Izza : Oh, boleh Ty Boleh.
Saya : Nanti aku langsung fitting di tempat Ibumu atau gimana, Za?
Izza : Langsung lah Ty. Emang mau dimana lagi?
Saya : Okay, sekalian biar aku bisa ketemu Ibumu. Aku pengen ketemu Ibumu.

-terus mendadak hening-

Saya : Eh kok, berasa aku mau ngelamar kamu ya?
Izza : Haha, iya, makanya aku jadi hening haha ..

Orang yang saya ceritakan di atas namanya Izza. Fildzah Izzazi Achmadi, seorang teman yang baru saya kenal di bangku kuliah, dan ternyata memasuki tahun keempat ini tetap jadi teman sebelah saya kalo lagi kuliah, haha. Awalnya sih karena kami teman satu kelompok tutorial dan praktikum selama dua tahun, dan punya hobi yang nggak jauh beda, menulis dan membaca, termasuk juga baca manga dan anime jepang.

Yang saya lihat Izza adalah seorang yang sangat menyayangi orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Waktu masih satu tutorial, saya demen banget ngerecokin Izza kalo lagi makan siang. Suka minta makan siangnya yang dibekali sama Ibu. Ngeliat Izza ngebekal, jadi kangen rumah aja. Kangen jaman SD (yaelah, Ty jauh amat, haha). Di balik kesederhanaannya dan kerendahanhatinya, Izza adalah seorang pekerja keras. Ia bukan ornag yang mudah menyerah, pun bukan orang yang mudah mengeluh. Sejujurnya saya banyak mindernya sama beliau. Minder karena saya masih sering angkuh, juga arogan juga sombong atau hal-hal yang sejenislah, padahal nilai akademik nggak seberapa, prestasi nggak ada, karya apalagi. Kebalikanlah sama Izza. Meski dari prestasi kita sebelas dua belas (haha), tapi karya Izza nyata. Ia sudah melahirkan sekitar 3 novel dan beberapa antologi karya yang sudah dibukukan meski nggak ikut-ikutan forum kepenulisan seperti saya ini. Kalau kayak gini nih yang bikin saya jadi ngerasa sombong. Nyombongin organisasi padahal karya nggak ada. #pfffft

Saya kagum banget sama ini orang. Memang kalau dibandingkan sama anak IC, yang udah tinggal bareng selama tiga tahun dan lanjut bareng-bareng di kuliah, kenal sama Izza belum seberapalah, tapi, rasanya saya banyak banget dapat pelajaran, dapet dorongan motivasi, dapet teman seperjalanan yang keren kayak Beliau. *duh, semoga orangnya ga baca, takut nanti dia terbang nggak balik-balik, kuliahnya masih banyak euy, haha*.

Dan kalau ketemu orang keren kayak gini, saya jadi pengen tau orang tuanya kayak gimana, pengen tau lingkungan rumah yang membesarkan dirinya kayak apa. Termasuk Ibunya Izza ini (karena posisinya saat masuk kuliah, Ibu Izza menjadi single parent). Saya ingin tahu Ratu hebat macam apa yang mampu membesarkan pribadi yang seperti Izza ini. Pekerja keras yang humble banget, juga humoris, juga menyenangkan. :)

Semoga bisa mendapatkan kesempatan bertemu Beliau -dulu-dulu saya cuma rajin ngasih salam ke Ibunya Izza. Haha.

*cuman pengen cerita aja*

Iri

Jarang-jarang saya buka timeline facebook. Dan hari ini atas dasar iseng dan bosan ditambah kosongnya jadwal kuliah, akhirnya saya membuka sosmed yang emang jarang saya buka itu. Jelas notifnya ga banyak, karena saya emang bukan orang penting dan jarang posting sesuatu di facebook. Saya scroll lah timeline facebook sampai time yang saya ga tau itu kapan, haha.

Ngeliat banyak banget foto wisudaanya kakak kelas juga temen-temen yang kuliahnya ambil D3, terus foto teman-teman yang habis dari negara inilah negara itulah, juga foto teman yang sedang beraktvitas kece di organisasi ini itu, atau yang habis KKN. Aah, iri rasanya melihat mereka.

Sementara semua orang bergerak melangakah dari tempatnya berdiri sekarang, sementara itu pula saya merasa bahwa saya tidak bergerak kemana-kemana. Hanya berdiri di tempat yang sama, dengan kegalauan yang sama, dan mungkin dilengkapi dengan rasa tidak bersyukur. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang kelewat cepat, meski tahu satu-satunya cara untuk menyesuaikan diri adalah juga dengan turut berubah, turut melangkah meninggalkan diri saya yang saat ini.

Sudah tahun keempat. Sudah mau lanjut ke jenjang studi berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi galau tidak jelas yang bahkan tidak tahu galau kenapa dan solusinya apa, haha. Bergerak, Ty. Bergerak bersama perubahan yang lain. Meski harus menyeret langkah kaki atau merangkak, bergerak Ty. Bergerak meninggalkan diri yang hari ini menuju diri yang lebih baik.

Aku tahu kamu bisa, Ty.

*Semoga wisuda Mei 2016 bukan hanya wacana*

Rabu, 09 September 2015

Jas Koas

Hari ini teman-teman dari danus angkatan sudah mengumumkan jadwal fitting untuk jas koas. Jas koas loh. JAS KOAS. padahal ini masih pertengahan blok 4.1.

Ternyata koas benar-benar sudah di depan mata. Terus saya harus gimana?

yasudahlah nggak usah dijawab, nggak usah dipikir dijalanin aja. Maaf sedang sangat malas berpikir akhir-akhir ini dengan kabar ini itu yang berseliweran di otak tanpa bertemu penyelesaiannya.

Jumat, 04 September 2015

Pola Pikir

Dengan mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu, dapat mengubah pola pikir kita pula.
Sudah beberapa pekan terakhir saya menjalani terapi. Karena terapi yang saya jalani adalah Cognitive Behavioural Therapy, jadi di sini saya diajak untuk memperbaiki pola pikir saya dengan cara mengubah cara pandang saya terhadap hal yang saya takuti. Dan saya dapati cara ini mulai sedikit-sedikit memperbaiki pola pikir saya. Walau hanya sedikit-sedikit. Tidak apa. Toh, semuanya butuh proses.

#sebenarnyapengenceritapanjang
#tapimalesnulisdanmalesmikirdanharusngerjaintutorial
#lebihpengenbatagor
#yasudahlah
 .....

Selasa, 01 September 2015

Kepulangan

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, teman-teman saya, satu per satu, kembali dari pengabdiannya di desa-desa di seluruh penjuru Indonesia, setelah dua bulan di sana. Satu per satu kembali ke kota pelajar ini, memulai lagi rutinitas kehidupan seperti sebelumnya, ngampus, organisasi, laprak, makalah, dan lain-lainnya . . .

Senang bertemu kalian kembali...
Senang mendengar cerita-cerita kalian, entah yang lucu, sedih, baper, nyebelin, ngeselin, yang mana pun,
Senang melihat kalian kembali dengan selamat, sehat sentosa, . . .

aah, kangen ... :')