Rabu, 05 Agustus 2015

Pasca OSCE

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, OSCE KBK 3 telah berlalu dengan segala bentuk pengalamannya. Mulai dari persiapannya yang menyulap Baytul Quds lantai dua jadi ruang belajar sepenuhnya, baik itu kamar-kamar maupun ruang tengahnya hingga hari-H nya yang begitu mendebarkan.Semasa persiapan kami mengklaim lagu 'I really like you' nya Carly Rae Jepsen sama lagu 'stiker syahrini' nya Eka Gustiwana jadi soundtraack yang senantiasa menemani selama seminggu persiapan OSCE. Hahaha ...

Setiap harinya, semkain dekat dengan hari H ujian, semakin kencang pula debaran jantung kami. Mencoba menebak-nebak kasus apa yang kira-kira keluar, siapa pengujinya, akan seperti apa penampilan kami. Setiap harinya sejak usai shubuh hingga larut malam kami mengoceh tak jelas tentang hal-hal yang terkait ujian, menulis berlembar-lembar resep obat yang mungkin akan diminta untuk dituliskan saat ujian. Mulai membuka bungkus makanan dengan gunting jaringan atau scalpel saking benda-benda itu memang berserakan di antara kertas-kertas dan buku-buku, membuat kami harus berhati-hati saat ingin duduk.

Maka, usai OSCE, Baytul Quds yang selama seminggu terakhir selalu ramai dari sebelum shubuh hingga larut, mendadak sepi. Dari bersekian orang memang paling banyak yang ujian tanggal 3 Agustus, tapi masih ada yang ujian di tanggal 4. Tanggal 3 malam menjadi momen terakhir orang-orang ini memegang perkakas OSCE. Dan tanggal 4, usai shubuh, begitu keluar kamar, baytul quds benar-benar sepi. S.E.P.I. Mungkin semua orang tepar, kehabisan energi setelah seminggu energinya habis untuk mempersiapkan OSCE haha ...

Aah ... ini menjadi yang terakhir, Insya Allah. Semester depan sudah berganti menjadi OSCE Komprehensif. Entah akan jadi apa kontrakan Baytul Quds saat waktu itu tiba haha. Entah akan menjadi zombie selama berapa hari saat akan melalui hal tersebut. Yasudah dipikir nanti saja. Haha.

Sekarang mari beralih mengurusi skripsweet :)

Sabtu, 01 Agustus 2015

Jelang OSCE KBK 3


Sudah seminggu terakhira saya mengungsikan diri ke kontrakana Baytul Quds (yah walaupun kontrakan itu juga bakal jadi kontrakan saya juga nantinya). Belajar bareng buat persiapan OSCE untuk tanggal tiga nanti. Dan Cuma balik ke kontrakan buat mandi dan ganti baju aja.  Walaupun kata temen saya udah aja mandinya s.1.d.d.1 atau s.p.r.n aja hahaha (hayolooh apaan nnooh haha). 


Sudah bisa dipastikan baytul quds akan ramai dengan bocah-bocah dari muslimah community PD reguler 2012. Dan memang begitulah adanya. Waktu saya datang, garasi udah semacam dealer motor seken, haha. Mulai dari depan sampe belakang udah penuh sama motor dengan berbagai macam merk dan warna. Lanjut, masuk dan naik ke lantai dua , ternyata anak-anak baytul quds udah bikin rangkaian stase di sana mulai dari stase IPM-neuro-mata’THT-bedah minor-konseling-MME-IV line insertion-catheter. Tapi sampai hari ini kita belum muter buat OSCE like test. Dan pada akhirnya membiarkan seluruh lantai dua penuh dengan kertas-kertas resep obat bukan resep makanan yang berserakan, juga ceklis ujian, buku-buku panduan praktik klinis dokter layanan primer, kapita selekta FK UI sampai buku blok dari Blok 1.2 sampai blok 3.6. Habis itu, saat mulai mereview materi teorinya, semua bocah yang ada di situ mulai bertanya-tanya pada diri sendiri yang ternyata disuarakan : selama tiga tahun kita belajar apa ya? Kok mendadak kalo lagi kayak gini lupa semua . . . T.T

Mulai melancarkan lidah dengan kalimat-kalimat,

“Selamat pagi pak, perkenalkan saya dokter Setyani, dokter jaga siang ini, dengan Bapak siapa?”

atau kalimat,

“Baik pak, jadi tadi Pak X mengeluhkan sakit kepala sudah seminggu terakhir ya Pak? Sudah diobati dengan paracetamol namun sakitnya tidak hilang, kemudian tidak ada mual tidak ada demam, tidak ada batuk atau pilek ya Pak? Begitu Pak ada yang mau ditambahkan lagi dari yang saya simpulkan tadi Pak?”

Atau kalimat,

“Selamat pagi Pak, saya dokter Setyani, dokter jaga siang ini, benar ini dengan Bapak X usia yy, kemarin didiagnosis dengan demam berdarah, dan saat ini akan dipasang infus dengan cairan ringer laktat 20 ml dalam satu jam, ya Pak?”

Atau kalimat,

“Baik pak, setelah ini saya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada fisik bapak untuk menegakkan diagnosisnya ya, Pak. Kalau dari kesimpulan yang Bapak jabarkan tadi saya curiga Bapak terkena demam typhoid atau typhus. Jadi setelah ini saya akan memeriksa bagian perut Bapak, nanti akan kita lihat apakah benar typhus atau bukan. Nanti saya mungkin akan tekan-tekan sedikit pak perutnya, akan saya ketuk, dan akan saya dengarkan dengan stetoskop pak. Mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi saya akan berusaha untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut Pak dengan profesional. Bagaimana Pak, bisa kita lanjutkan?”

Dan semua kalimat-kalimat itu harus diucapkan dengan sangat cepat tanpa jeda, sebelum waktu lima belas menit setiap stasenya habis. (Habis ujian bisa dipastikan air sebotol lebih langsung habis, langsung tepar, langsung lapar hahaha).

Untuk OSCE KBK 3, dari tiga kali OSCE akan jadi osce yang paling sedikit stasenya. Tahun pertama ada 9 stase, tahun kedua ada 11 stase. Untuk tahun ini hanya ada 7 stase dengan satu stase bedah minor, satu stase emergency (IV line dan katheter), satu stase konseling dan empat stase lainnya adalah stase IPM. Integrated Patient Management. Stase yang harus diselesaikan tidak hanya pada edukasi seperti tahun pertama dan kedua saja, tapi juga sampai menulis resep obat dan surat rujukan ke lab atau ke dokter spesialis, bukan ke KUA atau ke mantan (?) jika diperlukan. Itulah yang bikin dari kemarin kami-kami ini dengan rajin menulis berlembar-lembar prediksi resep obat yang kira-kira akan diujikan besok. Hmmm ... mungkin setelah OSCE kami bisa menerbitkan satu buku resep ... obat hehehe ... (siapa gitu yang mau beli, haha).

Entah kenapa OSCE memang ujian yang selalu menghabiskan energi paling banyak, memebutuhkan waktu lebih banyak untuk belajar, dan menghabiskan uang paling banyak buat beli alat-alat medis buat latihan. Untung (atau malah nggak untung ya?) setahun Cuma sekali, setiap akhir semester genap.  Tempo hari saya maen ke kontrakan Mbak Rima. Di sana, di sela-sela waktu yang dipakai buat bercanda dan bermain (aslinya sih masak siomay, tapi kebanyakan becandanya haha), saya menyempatkan diri menyelesaikan membaca ceklis ujian. Ceklis lho, bukan materi. Itu baru ceklis. Dan semua orang menanggapi dengan sama, atau mungkin karena beliau-beliau ini tidak sefakultas dengan saya? yah kira-kira tanggapannya adalah ‘rajin bangeet, ujian masih minggu depan udah belajar dari sekarang’. Maunya juga belajarnya H-1 aja atau H-60 menit haha, tapi masalahnya belajar dari dua minggu sebelumnya aja tahun lalu masih ada satu stase yang nggak lulus, dan sekian stase yang dijalani dengan grogi. Apalagi H-1 baru belajar T.T. OSCE itu bukan Cuma masalah teori sih ... tapi juga kelancaran berbicara, kepiawaian menanggapi masalah dan keluhan pasien, juga terbiasa memegang alat-alat medis yang akan diujikan.

Dan dengan terbiasa pada akhirnya jadi memupuk kepercayaan diri pada harinya ujian nanti, hingga paling tidak ada sekian persen rasa grogi yang berkurang. Meski tetap ada sekian persen ruangan yang ada dalam diri ini untuk rasa grogi yang muncul ketika berhadapan dengan pasien simulasi dan dokter penguji. Mungkin, ini yang disebut sebagai alah bisa karena biasa?

Whoaa yasudah, nulis ini saya jadi makin grogi. Haha. Mohon doanya buat yang iseng baca tulisan ini, haha. Saya maju senin siang besok. Semoga Allah memampukan saya dan teman-teman saya, semoga ilmu kami dapat bermanfaat ~ Amiin

*s.1.d.d.1 = signatura 1 kali 1 hari
s.p.r.n = signatura pro re nata = tandai seperlunya