Selasa, 30 Juni 2015

Pesan yang Tidak Pernah Sampai

Pesan itu sebenarnya hanya pesan singkat yang mungkin hanya sepanjang sekian ratus karakter. Berisikan identitas pengirim juga tujuannya. Hanya saja, pesan itu tidak pernah sampai pada si empunya telepon seluler di belahan bumi lainnya. Entah berapa kali pesan itu dikirim ulang, dengan bahasa yang sama ataupun berbeda, dengan diksi dan rima yang sama ataupun berbeda, hasilnya tetap sama. Nihil. Pesan singkat itu tidak pernah sampai pada telepon genggam di seberang sana. Entah karena apa. Apakah cuaca mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan itu? Apakah suasana hati si empu telepon genggam termasuk salah satu faktornya? Apakah Bulan Ramadhan mempengaruhi sinyal-sinyal untuk semakin melambat dalam mengirimkan pesan karena mungkin sinyal-sinyal itu sudah terlalu lelah diaktifkan selama 24 jam nonstop dari sahur hingga menunggu buka dan usai buka hingga sahur lagi. Yang mana?

Entahlah, yang jelas, pesan singkat itu tidak pernah sampai . . .

*Balada SMS yang tidak pernah sampai ke Dosen Pembimbing Skripsi, T.T ... yang juga tidak selalu stand by di Lab. Duh, dok ... saya harus gimana, euy? T.T

Minggu, 28 Juni 2015

Menghitung Hari . . .

Hari ini 28 Juni 2015. Sudah satu bulan ternyata . . .

Harusnya siang ini saya bikin form buat pendataan FLP. Tapi entah kenapa web nya minta sign up melulu. Dan, tetikus yang menyatu dengan laptop sedang tidak bersahabat untuk bikin-bikin yang lucu-lucu. Akhirnya, saya memilih membuka dasbor blog. Membaca-baca blog dan . . . menulis tulisan ini.

Tinggal 2 hari lagi. Di saat saya menghitung mundur hari kepulangan saya ke Depok. Teman-teman sekontrakan -juga mungkin se-UGM sedang menghitung mundur hari keberangkatannya ke tepat KKN nya masing-masing. Sekontrakan saya KKN nya jauh-jauh, yang stau di kalimantan, yang satu lagi di Papua, yang satu lagi di Brebes. well, cuma saya yang nggak KKN tahun ini. Kadang-kadang saya jadi merasa ketinggalan, karena nggak ngerti omongan-omongan tentang KKN, juga waktu fifah ngamuk-ngamuk tentang kormanit, DPL, pembagian unit, dan lain-lain dan lain-lain lagi, saya cuma bisa bengong. Itu apa? ._.

Yang lain-lain sudah mulai belanja kebutuhan KKN, mulai tanya profilaksis malaria apa, beli ini dan itu, dan lain sebagainya. Sementara saya sibuk membaca materi yang akan diujikan habis lebaran nanti. . . . Pengen KKN sekarang, biar ngerasain euforia KKN nya bareng-bareng. Kalau nanti kan . . . yah ... gitulah . . .

yasudahlah. Selamat KKN teman-teman, selamat berbakti pada nusa bangsa. Tetep sehat-sehat ya kalian :') . . . 

Jumat, 26 Juni 2015

Kalau tau begini ...

Kalau tau jadinya akan begini, kemarin harusnya tidak usah sok-sok an daftar pondok,
Kalau tau jadinya akan begini, kemarin harusnya tidak perlu belagu dengan mengatakan igin menyelesaikan proposal skripsi,
Kalau tau jadinya akan begini, kemarin harusnya tidak perlu menunda kepulangan . . .

tapi, sekarang sudah terjadi, dan saya sudah jadi orang yang sok dan belagu . . .
         Kira-kira, Allah masih mau 'melirik' saya yang sok dan belagu ini nggak ya? 

Rabu, 24 Juni 2015

Menggarap Skripsi

Ngerjain skripsi itu adalah melawan diri sendiri.
-Kata Mas Iqbal, entah kapan lupa, sekitar tahun lalu saat beliau masih berjuang dengan skripsinya, dan berhasil lulus di bulan Agustus tahun lalu.

Sekarang giliran saya.

Segera menyusul, Insya Allah. 2016.

Setelah itu, jas dokter muda menanti untuk dikenakan.

Semoga ada cerita yang lebih indah ketimbang hanya sekadar mengeluh di rumah ini. :)

#TidakPenting #2

Akhir-akhir ini jogja kelewat dingin. Terlalu dingin. Sampai setiap bangun pagi hari, kalau tidur tanpa selimut lapis dua dan jaket, atau kadang-kadang harus juga dilengkapi dengan kaus kaki dan sarung tangan, sudah bisa dipastikan akan menggigil. Susah memang punya tubuh yang punya treshold sensori dingin yang rendah, terlalu mudah kedinginan. Mudah menggigil. Mungkin bisa jadi itu juga salah satu mengapa diri ini tidak suka dengan kegiatan -apapun- yang berlokasi di daerah dingin. Jogjanya dingin. Bagaimana dengan Depok?

Akhirnya memutuskan untuk membatalkan tiket tertanggal 23 Juni 2015 yang sudah dibeli sejak sekitar sebulan lalu dengan random, di tengah-tengah kuliah sore-sore. Yang dipicu dengan pertanyaan, "Udah beli tiket pulang?". Karena untuk pertama kalinya Ramadhan di Jogja tanpa adanya ujian OSCE. Objective Structural Clinical Examination -yang kalau dibahasain pakai bahasa yang lebih mudah dicerna jadi : Ujian praktik keterampilan klinik. Ujian yang menghabiskan energi paling banyak dalam setahun. Juga menghabiskan uang paling banyak, karena persiapannya harus juga mempersiapkan alat-alat medis yang harganya cukup menghabiskan uang bulanan. Latihan ujiannya sudah dimulai sejak satu semester sebelumnya bersama asisten mahasiswa, dilanjut saat jeda dari sejak ujian blok terakhir tahun ajaran itu hingga giliran OSCE secara berkelompok dengan kelompoknya masing-masing. Merencanakan kapan akan latihan sendiri, dimana, kapan, dengan siapa saja. Dan setiap kali latihan akan mengulang-ulang kalimat (yang sekarang sudah hampir jadi program otomatis dalam diri ini) "Selamat pagi/siang, pak/bu, perkenalkan saya dokter Setyani yang berjaga pagi/siang ini, dengan Bapak/Ibu siapa? Umurnya berapa Pak/Bu? Tinggalnya dimana? Pekerjaannya apa? Bagaimana Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu? dst ... dst ..." sudah semacam teller bank atau resepsionis di front office.

Waktu KRS-an kemarin, baru sadar saat ada yang bertanya di grup line angkatan, "Eh semester depan yang diambil blok apa aja? 4.1, 4.2, 4.3 aja? Nggak ada OSCE dan skripsi ya?" Dan semua (eh nggak tau deng semua atau nggak, diri ini cuma rajin nyecroll precakapan dengan sepintas) mengiyakan. Dan diri ini baru ingat, kalau, ya ini hanya kalau -karena semua bisa berubah, toh kuasa hati dan kendalinya ada di tangan Yang Maha Kuasa- semester depan benar-benar menjadi semester terakhir di S1, maka setelahnya OSCE bukan lagi OSCE KBK 1 atau 2 atau 3, tapi sudah OSCE kompre. Komprehensif. Menyeluruh. Apa yang diujikan mencakup apa-apa yang diujikan di tahun pertama, kedua, dan ketiga. Ditambah apa yang akan diberikan di tahun keempat tentang kegawatdaruratan. Berarti akan bertemu lagi (mungkin) dengan materi sirkumsisi, aseptik prosedur, pemasangan IUD/implant, menolong persalinan, dan lain-lain, dan lain-lain yang sekarang -bisa dibilang- hampir lupa. Lalu, OSCE kompre, sebagaimana OSCE KBK 3 yang akan berlangsung besok usai lebaran, harus sudah mencakup komponen 'diagnosis', 'differential diagnosis', dan 'terapi'. Padahal merasa belum paham banyak patofisiolgi penyakit, merasa masih lupa ingat cara menulis resep obat, apalagi mengingat kalau sakit ini -maka obatnya ini untuk lini pertama, lini keduanya, dan lini-lini berikutnya.

Ah iya,ya, jadi dokter itu, buat masuk kuliahnya gampang. Yang susah itu keluarnya. -___-". Entahlah, apakah diri ini akan bisa lulus dalam satu kali OSCE kompre dan ujian UKDI nantinya, eh namanya bukan UKDI lagi deng, sudah jadi ... lupa, yang jelas singkatannya lebih panjang dari hanya sekedar UKDI alias uji komprehensif dokter indonesia, biasa Indonesia mah, udah disingkat, singkatannya juga masih aja tetep panjang. Hadeeeuh ...

Sebenarnya, tadinya mau cerita kalau diri ini memilih untuk membuang kesempatan pulang cepat, tapi entah kenapa malah menggalau tentang OSCE kompre yang jaraknya tinggal satu semester lagi. Dan setelah itu koas. Oh iya, bisa jadi karena barusan mimpi kalau diri ini menjalani hari pertamanya di koas dengan penuh kebingungan dan malah mengikuti barisan mahasiswa baru bukannya dokter muda yang baru. Duh, ... semoga bukan pertanda yang tidak-tidak, hanya sekadar bunga mimpi yang lewat tanpa izin.

Atau bisa jadi efek telepon orang tua tadi pagi, saat izin untuk mengundurkan pulang dan mengabarkan bahwa diri ini -officially- diterima di pondok pesantren mahasiswi di jogja. Keduanya hanya meminta jaminan, bahwa si anak bungsu ini mampu menyelesaikan studinya hingga jadi dokter jika berniat mengambil tawaran yang baru saja diberikan. Jaminan agar diri ini benar-benar menjadi dokter. Benar-benar menjadi dokter.

Tidak sekali, dua kali diri ini berpikir untuk berhenti saja dari dokter-dokteran ini. Kemudian tanpa melanjutkan ke jenjang keprofesian, mengambil kuliah lagi yang tidak ada hubungannya dengan menjadi dokter. Ilmu perpustakaan misalnya, atau komunikasi, atau malah DKV sekalian? Tapi, sepertinya banyak yang mengharapkan diri yang masih bocah ini untuk menjadi dokter. Mungkin termasuk juga diri ini. Perlahan mulai mengharap apa yang sudah dipelajarinya selama tiga tahun terakhir dengan jatuh bangun (walaupun lebih banyak jatuhnya, daripada bangunnya) bisa membuahkan manfaat, minimal untuk keluarganya sendiri. Bagaimana pun, 'Al-ilmu bilaa 'amalin ka syajarotin bilaa tsamarin'. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Dan kalau meminjam bahasanya Bapak, ya ... diri ini sudah kadung basah, mengapa tak sekalian menyelam? Siapa tau menemukan rahasia-rahasia keindahan yang orang tidak menyelam tidak ketahui. Siapa tahu dengan menjadi dokter ada hal-hal yang menyenangkan di sana. (Ya pasti ada sih, hanya saja sekarang memang lebih besar ketakutannya ketimbang senangnya).

Sekolah tiga tahun di bidang ini, saat tahun ketiga -pada blok dengan judul 'lifestyle related complaint'- saat setiap mahasiswa diharuskan mengisi questionnare SRQ -yang diri ini sudah lupa kepanjangannya apa- ternyata membuahkan skor 12. Padahal cut off point nya 6. Dua poin lagi, bisa jadi diri ini sudah masuk fase awal skizofrenia. Bukan berharap. Hanya menjabarkan fakta. Semoga kuliah dan menjadi dokter bukan hanya ilusi dan imajinasi karena ternyata diri ini sudah terjangkit skizofrenia. Kuliahnya sudah susah, biayanya juga tidak sedikit, jangan disia-siakan. Sayang kan? (yah, walaupun, diri ini percaya bahwa tidak ada kuliah yang mudah jika kamu tidak suka dengan kuliahnya, juga tidak ada pendidikan yang murah di Indonesia jika mau bersekolah di sekolah bagus).

Yah begitulah, memang tulisan ini hanya tulisan tidak penting, yang sebenarnya bukan nomor kedua, tapi memang semua tulisan di blog ini lebih banyak tulisan tidak pentingnya daripada tulisan berkualitasnya. Hanya sekadar untuk mengurai keruwetan dan ketakutan-ketakutan dari pikiran-pikiran yang mampir sejak terbangun tepat di jam 23.53 tadi. Hanya salah satu tulisan random dari banyaknya tulisan-tulisan random yang ada di blog ini, baik yang sudah diposting ataupun masih berupa draft.

Jadi begitu. Diri ini menunda kepulangan. Kemudian jadi mengingat bahwa untuk pertama kalinya ujian OSCE tidak di bulan Ramadhan, dan bahwa semester depan adalah semester terakhir di masa studi S1 ini. Dan betapa alur pemikiran seseorang tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri sendiri. -_____________-".

Sudahlah, sudah malam ...

Sebentar lagi sahur.



Senin, 22 Juni 2015

#TidakPenting

Pulang kapan ya, kakak?
Antara masih ingin di jogja,
dengan ingin segera bertemu keluarga di depok

pulang kapan ya, kak?
Antara ingin mengahabiskan sebagian Ramadhan di kota pelajar ini,
dengan ingin menghabiskan full tiga minggu sisanya di salah satu sudut kota depok itu

Pulang kapan ya, sebaiknya kak?
Besok atau menunda seminggu lagi.

Sabtu, 20 Juni 2015

Ada di antara mereka yang mengklaim merasakan cinta kepada Allah dan meyakini bahwa jiwa mereka tergila-gila kepada Allah. Bisa jadi mereka berimajinasi tentang Allah dan berfantasi yang pada dasarnya bid’ah atau kafir. Seperti mengklaim cinta kepada Allah sebelum memahami hakikat cinta itu dengan baik. Atau mengaku cinta Allah tapi tidak lepas dari perbuatan yang dibenci Allah, lebih tertarik pada hawa nafsu dan mengesampingkan perintah Allah, atau meninggalkan beberapa perkara karena malu terhadap orang lain dan bukan karena malu kepada Allah. Ia mengaku cinta Allah, tapi melakukan itu semua dan tidak sadar bahwa semuanya bertolak belakang dengan ikrar cinta kepada Allah.

-Sa’id Hawwa dalam buku “Tazkiyatun Nafs : Konsep dan Kajian Komprehensif dalam Aplikasi Menyucikan Jiwa”

Merasa tertampar dengan kutipan di atas dari buku Tazkiyatun Nafs karya Sa'id Hawwa. Belakangan, seringkali diri ini merasa mencintai Allah. Tapi, mungkin hanya merasa. Cinta itu, tidak berimbas pada ibadah-ibadah yang dilakukan kesehariannya -hingga tak membuahkan akhlak yang baik. Cinta itu, hanya berbatas pada lisan yang kerap kali berbohong, juga hati yang masih sering enggan untuk jujur, pada makhluk atau bahkan pada Sang Khaliq. Cinta itu ... bahkan mungkin termasuk ke dalam salah satu kebohongan yang sering terlontar dari diri ini.

Kamis, 18 Juni 2015

Touchdown : Ramadhan 1436 H

Alhamdulillah, diri ini masih diberi kesempatan oleh Allah untuk sampai pada bulan Ramadhan kembali. :')

Ramadhan tahun ini, akan jadi seperti apa ya?
Dengan tiket pulang yang kelewat cepat sudah di tangan,
Dengan seorang kakak yang kini menemukan kesenangannya di sekolah perawat,
Dengan seorang kakak yang lain yang sudah berstatus karyawan bukan lagi mahasiswa,
Dengan seorang Ibu yang berstatus ibu rumah tangga tapi kerjaannya justru lebih banyak daripada yang terlihat,
Dengan seorang Bapak yang baru saja mengkhatamkan bacaan Qurannya,
Dengan seekor kucing kecil yang katanya akhir-akhir ini sering mampir ke rumah, dan seekor kucing yang dulu kecil kini telah beranjak menjadi kucing berandal di komplek rumah,
Dengan rumah yang mungkin tidak berubah, hanya kipas angin di kamar saja yang senantiasa berubah,
Juga dengan segala pernak-pernik yang menghiasi rumah di salah satu sudut kota Depok itu ...

Ramadhan tahun ini, akan jadi seperti apa ya?
Kalau waktu masih SD, menghabiskan waktu usai tarawih dan usai shubuh dengan berkeliling komplek, berlarian, sambil membawa petasan, dikejar pak RT karena berisik dan membahayakan, dan tertinggal karena menjadi anak bawang di antara jajaran anak-anak lain;
Kalau waktu MTs, tarawih saja sudah menghabiskan porsi waktu paling banyak dengan menghabiskan satu juz setiap kali tarawih, maka usai tarawih yang tersisa tinggal mengantuk dan lelah, walaupun masih harus melangkahkan kaki ke ruang kelas malam itu, kegiatan belajar malam di kelas,
Kalau waktu MA, usai tarawih masih ada taushiyah yang entah kapan selesainya, Rekor terlama dipegang oleh salah seorang wali murid yang mengisi dan kepala madrasah saat itu, mulai taushiyah pukul 20.15 dan baru usai mendekati pukul 22.00, kemudian sampai kamar yang tersisa tinggal kasak-kusuk ngerasanin,
Kalau waktu kuliah ...

Ramadhan tahun ini, akan jadi seperti apa ya?
Dengan amanah-amanah yang baru terampu di akhir tahun lalu, hingga masuk tahun ini,
Juga usia yang bertambah satu bulan mei lalu,
Juga mungkin ... akan menjadi momen untuk pertama kalinya menempati rumah baru setelah tiga tahun berjalan,
Atau malah menjadikan pindah -untuk ke sekian kalinya- sebuah wacana apik yang tersimpan rapih di salah satu sudut nurani

Ramadhan tahun ini, akan jadi seperti apa ya?

Akan selalu ada pilihan untuk menjadikan Ramadhan ini menjadi lebih baik dari tahun lalu, dua tahun lalu, juga tahun-tahun sebelumnya ...

Tapi, akan selalu ada pilihan pula untuk mengabaikan keistimewaan bulan ini, dan menjadikannya tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya ...

Hidup ini pilihan, katanya ....

Jadi, akan kujadikan seperti apa Ramadhan tahun ini?

Selasa, 16 Juni 2015

Sudah biasa kan?

*percakapan minggu lalu dengan seorang mbak lepas spreading mentoring forsalamm ke calon maba 2015

Saya (S) : Tau nggak sih mbak, sebenarnya saya nggak suka spreading kayak gini, nggak suka harus bicara face to face sama orang yang belum saya kenal, makanya saya nggak suka disuruh spreading apapun, yang presma kampuslah, partai kampuslah, atau bahkan sampai presiden indonesia ...

Mbak (M) : Terus kenapa dilakuin?

S : Buat dakwah kan mbak?

M : Nah, yaudah, emang ada yang suka dakwah? Berat, menyita waktu, butuh pengorbanan besar?

S : ya ... nggak sih, banyak yang nggak suka

M : Ya, dari dulu gitu. Berarti udah biasa kan melakukan hal yang nggak disukain?

S : ya ... iya sih ...

***

*percakapan barusan sama Bapak

Bapak (B) : Gimana itu, katanya kamu daftar pesantren? Jadi udah ada pengumumannya?

Saya (S) : Oh iya pak, jadi, kemaren daftar kan pesantrennya pesantren ekonomi gitu pak ....(menjelaskan panjang lebar dan seterusnya), terus, pas aku tanya sama mbak-mbak yang ngurusin, katanya aku kemungkin diterima besar pak

B : Oh yaudah, masuk aja. Coba ditabayyunkan dulu, bener atau nggak. Kalo bener, ambil aja.

S : Iya tapi ... ekonomi pak? Bisnis pula ...

B : Ya itu penting sih dek buat pengetahuan, menimba ilmu tuh jangan cuma satu jenis, jadi kita punya tsaqfah ilmu yang luas. Ya tapi terserah kamunya sih, kamunya kuat atau nggak ...

S : Kuat nggak ya pak? tapi toh selama ini juga, bilang nggak kuat di assalaam, tapi bertahan sampai tiga tahun. Bilang nggak suka di FK tapi bertahan sampai sekarang ...

B : Nah, yaudah to? Berarti udah biasa kan?

***

Sudah biasa. Baru sadar bahwa ternyata diri ini sudah cukup sering menceburkan diri ke arah hal-hal yang tidak disukai. Entah bermaksud untuk patuh pada Penciptanya, atau hanya untuk sekadar menantang diri sendiri ...

Mungkin, yang tersisa tinggal meluruskan niat saja, agar apa yang dilakukan tidak hanya menjadi amal yang sia-sia ... Lillah, Lillah ... karena katanya, yang berat untuk dijalani pun, jika sudah ditujukan pada Allah, maka di sana bisa pula disebut sebagai ikhlas ...

***

*di tengah-tengah kebosanan saat belajar untuk make up test blok 3.3*
Lillah, karena jika semua sudah ditujukan untuk Allah, harusnya tidak ada kata kecewa ...

Sabtu, 13 Juni 2015

Ketika Semua Sudah Lelah

kalimat "adek sudah lelah" tuh lagi ngetrend ya? wkwkwk

Tapi mungkin, memang semua sedang lelah akhir-akhir ini. Hingga banyak yang terabaikan. Mendadak menanggapi hal-hal kecil saja jadi lebih emosi. Uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Manajemen waktu yang kacau ...

Duh, mungkin memang semuanya sedang lelah. Lelah dengan kesibukan duniawinya. Lupa kalau yang memberikan kesibukan adalah Dzat yang juga punya solusi dari rasa lelah itu.

Padahal katanya, kalau Lillah harusnya biarpun lelah, akan tetap legowo dan tidak ada kecewa. Duh kita, mungkin memang apa-apa yang dilakukan hari ini, kemarin-kemarin, masih belum Lillah. Karena Allah ...

Lillah, tyani, Lillah ...

Selasa, 09 Juni 2015

Sudah Libur Ternyata #2 : Mencari Padang Ilalang yang Menghilang

Padang ilalang itu telah menghilang ketika tujuh orang ini sampai di sana. Warga sekitar berkata bahwa pemerintah daerah telah membabat habis ilalang-ilalang yang tumbuh liar itu. Begitu mengetahui hal itu, mendadak semangat tujuh orang hari itu padam. Padang ilalang itu telah hilang. Kami memang mencarinya. Tapi ia sudah raib. Bahkan sisa-sisanya sampai tak dapat dikenali, berubah menjadi lapangan luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar, dan lebih disukai warga untuk dipakai menggembala domba-domba mereka. 

Tujuh orang yang berkelana hari itu sebenarnya tidak hanya mencari padang ilalang -yang entah ada entah tiada. Perjalanan tujuh orang ini (bukan kurcaci, karena orang-orang ini memang sama sekali tidak kecil, tidak pendek, juga tidak menyebalkan, walaupun pendongeng tidak tahu apakah kurcaci memang menyebalkan?) sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa jam sebelumnya, dan padang ilalang adalah tujuan hampir terakhir ketujuh-tujuhnya. Tapi, karena ketika ketujuhnya menemukan bahwa padang ilalang telah menghilang, maka lengkaplah kekecewaan dan keputusasaan perjalanan hari itu.

Jadi ceritanya, berjam-jam sebelum itu, ketujuhnya sepakat untuk melajukan mobil mereka ke kulon progo, mencari spot terbaik untuk space yang akan mereka isi dengan foto ketujuhnya (dan tiga orang lain yang tidak bisa ikut hari itu) di buku tahunan yang akan menjadi bukti bahwa mereka pernah ada dan pernah menjalani studi di fakultas yang bersebrangan dengan RSUP dr. Sardjito itu. Nglinggo yang berada di Kulon Progo adalah tempat pertama yang menjadi tujuan ketujuhnya. Di awal, ketujuhnya masih bersemangat membayangkan kebun teh itu. Bahwa jika mampu mencapai tempatnya, berfoto di tengah kebun teh sepertinya tidak jelek.

Bayangan dan semangat itu mendadak purna mendapati perjalanan ke Nglinggo tak semulus jalanan aspal ringroad. Dengan meraba-raba jalan menuju ke Nglinggo (karena ternyata, seseorang yang paling tahu jalan ternyata tak bisa membaca peta GPS) empat orang di antaranya komat-kamit berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing, berharap jalanan yang laiknya lagu pembuka kartun Ninja Hattori itu tidak serta membawa ketujuhnya pulang dengan ambulans dan Tim SAR.

Ada dua mobil yang dibawa oleh tujuh orang ini. Satu mobil berisikan tiga orang yang kesemuanya adalah orang yang kelewat santai. Dan satu mobil berisi empat orang yang kesemuanya adalah orang-orang yang seringkali kelewat panik. Dan, -entah bisa disebut beruntung atau tidak- pendongeng berada di mobil kedua, selaku mobil penunjuk jalan. Seorang teman yang saat itu bertugas menyetir mobil membuat keempatnya semakin panik ketika dengan tiba-tiba ia berkata begitu tahu jalanan yang naik turun ini entah dimana ujungnya, 'Doakan asthmaku tidak kambuh di tengah jalan ya'. -________________-".

Yah begitulah, perjalanan yang menegangkan itu menghabiskan waktu 2 jam, dan menghabiskan entah berapa kilokalori dari masing-masing orang yang hadir saat itu. Kebun teh Nglinggo. Pada akhirnya ketujuhnya sampai di sana dengan mata berbinar bercampur lelah dan perut mual akibat jalanan yang berputar tiada henti.

Hanya lima belas menit waktu yang ketujuhnya habiskan di atas sana, di kawasan kebun teh yang pinggir-pinggirnya dipagari oleh pagar bambu. Dan dalam waktu lima belas menit itu ketujuhnya sepakat untuk mencoret opsi kebun teh sebagai latar foto. Ia memang bagus, hanya saja, tidak sebanding dengan perjalanan 2 jam naik yang harus ditempuh.

Jelang zuhur, ketujuhnya turun gunung. Melewati jalanan yang sama -yang entah kenapa terasa lebih cepat ketika balik ketimbang saat naik. Usai menepi di salah satu musholla untuk shalat zuhur, ketujuhnya sepakat untuk mengunjungi lapangan golf hyatt, kemudian ke maguwo untuk mencari padang ilalang.Tapi toh, akhirnya lapangan golf hyatt juga dicoret dari opsi karena harga yang tak mampu diampu oleh kocek mahasiswa. Harapan terakhir adalah padang ilalang, yang seperti sudah dibilang, entah ada entah tiada.

Kedua mobil itu melaju kencang di jalanan ring road utara. Tidak lagi ragu-ragu seperti saat menaiki jalanan Kulon Progo tadi pagi. Sampai di tempat yang seharusnya ada padang ilalang, ketujuhnya terdiam, bertanya-tanya satu sama lain, 'dimana? dimana padang ilalang yang dielu-elukan itu?'. Kedua mobil berkeliling area sekitar, hingga akhirnya menyerah dan bertanya pada warga, 'dimanakah padang ilalang yang dulu tumbuh subur di sana?'

Dan ternyata, padang ilalang itu telah menghilang, menyisakan gurat lelah dan putus asa di wajah ketujuhnya. Sudahlah ...

***

8 Juni 2015
Bersama 6 orang lainnya anak-anak kelompok tutorial #11 Pendidikan Dokter Reguler 2012 :)      

Sudah Libur Ternyata #1 : Kisah Sepasang Kaus Kaki

Sebenarnya kaus kaki yang hari itu dipakainya bukan kaus kaki yang paling ia sukai. Juga bukan yang paling istimewa menurutnya. Warnanya krem menyerupai warna kulit kebanyakan. Ukurannya? Ah siapa peduli dengan ukuran kaus kaki, toh siapapun bisa memakainya karena kaus kaki berbahan kaus -sehingga bisa dibilang akan melar sesuai dengan lebar kaki si empunya.

Hari itu, si empunya kaus kaki memilih membalut sepasang kaus kaki krem itu dengan sandal jepit warna hitam karena ia hendak pelesir bersama teman-temannya ke pantai selatan. Singkat cerita, setelah perjalanan yang cukup menghabiskan waktu dan tenaga karena ternyata baik dirinya maupun teman-temannya tidak cukup tahu jalan ke pantai selatan, sampailah si empu kaus kaki di Pantai Drini. Sebenarnya, tujuannya bukan pantai ini, tapi pantai yang berada di sebelahnya (?) atau sebelahnya lagi (?) atau ... sebelahnya lagi? Ya, pokoknya sebenarnya pantai ini bukan pantai yang ingin ia kunjungi, hanya saja, lelah sudah menyapa ketika harus menebak-nebak jalan manalagi dan sejauh apalagi yang harus dilewati untuk sampai ke sana. Jadilah, si empu kaus kaki dan teman-temannya memutuskan untuk berbelok ketika menemukan plang "pantai Drini".

Dan di sanalah kisah ini memilih latar tempat. Pagi itu, senyumnya merekah ketika melihat jilatan ombak yang menepi hingga sepanjang pesisir pantai basah. Si empu kaus kaki tidak bisa menahan dirinya untuk ikut menyapa ombak, ketika melihat dua teman lainnya langsung berlari menghampiri ombak ketika sampai. Tanpa tedeng aling-aling, dan tidak menyadari bahwa dua orang teman lainnya menghampiri ombak tanpa melepas alas kaki dan kaus kaki, si empu kaus kaki melepas sandal hitamnya dan kaus kaki kremnya. Ia tinggalkan sepasang kaus kaki dan sepasang sandal itu cukup jauh dari jangkauan ombak pagi itu, berjajar bersama tas-tas teman-temannya, juga seorang teman yang memilih tidak ingin basah.

Jangkauan ombak memang hanya samapi situ ketika si empu kaus kaki akhirnya ikut turun menuju ombak-ombak yang bersahut-sahutan. Tapi, begitu matahari mulai meninggi, bergeser sedikit dari tempat dimana ia bersinar beberapa waktu saat si empu kaus kaki sampai di Pantai ini, ternyata ombaknya sedikit-sedikit menggeser jangkauannya pula. Dan di saat si empu kaus kaki masih asyik bermain-main dengan ombak di satu sisi pantai ini, satu orang teman sibuk menulis di pasir tentang entah apa -sekalipun tahu ombak pasti akan menghapusnya, satu orang masih menikmati duduk di pinggiran bersama tas-tas -memilih untuk tidak basah, dan satu lagi asyik bengong menatap jauh ke garis horizon yang membagi antara laut dan langit itu, saat itulah mendadak ombak menjadi lebih jauh lagi jangkauannya. Si ombak tidak tanggung-tanggung, ia mencapai tas-tas yang -tadi- ditaruh cukup jauh dari jangkauan ombak, pun ia melahap sandal-sandal yang ditinggal di samping tas-tas itu, juga ... sepasang kaus kaki krem.

Mendadak, paniklah tiga orang yang sadar akan ombak. Yang tadi masih duduk-duduk santai, spontan berdiri menghindari ombak, tapi ombak lebih dulu datang, dan basahlah ia, bersama tas-tas yang berisi gadget-gadget canggih. Yang tadi masih sibuk menulis di pasir pantai kaget karena ombak benar-benar menghapus tulisannya dan kemudian sadar bahwa tas-tas yang ditaruh di pinggir -tadi- kini sudah tidak lagi dipinggir karena terjangkau oleh ombak. Dan yang tadi masih asyik bengong memandangi cakrawala, begitu sadar, bersegera menangkap sandal-sandal yang terbawa ombak ke tengah. Hanya saja, tidak ada yang sadar, baik tiga orang tadi, ataupun si empu kaus kaki, bahwa sebelah kaus kaki krem tadi sudah terbawa ombak lebih jauh daripada sandal-sandal, juga lebih jauh daripada pasir-pasir yang terbawa ombak.

Si empu kaus kaki benar-benar tidak sadar, hingga ketiga orang lainnya memanggilnya. Ia bahkan tidak memperhatikan tentang sepasang kaus kakinya yang kini tinggal sebelah. Hingga ombak menyapa lagi sampai ke tempat dimana ia berdiri kini, membawa sebelah pasang dari kaus kaki krem yang masih tertinggal di pesisir, membuat sebelah pasang lainnya tak sendiri terombang-ambing di tengah lautan yang menuju laut lepas itu.

Mengetahui bahwa ternyata kedua belah kaus kakinya terseret ombak entah kemana, ia hanya tertawa. Dan begitulah, karena memang kaus kaki itu sebenarnya bukan kaus kaki yang paling ia sukai. Juga bukan yang paling istimewa menurutnya.

***


si empu kaus kaki :)

Seseorang yang sibuk menuliskan namanya di pasir :')

Seseorang yang memilih untuk tidak basah, tapi basah juga akhirnya :v



7 Juni 2015
Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta
Bersama si empu kaus kaki,
Juga seseorang yang masih berusaha menuliskan namanya di atas pasir sekalipun tahu ombak akan menghapusnya,
Juga seseorang yang memilih untuk tidak basah, walaupun akhirnya ombak merasa perlu iseng terhadapnya hingga tidak hanya dirinya yang basah, tapi juga tas dan gagdet yang kini beristirahat,
Dan saya sendiri, sang pendongeng yang memilih sibuk menatap garis horizon cakrawala yang walaupun tampak tipis tapi ia ada. Ada batas antara laut dan langit.

Sabtu, 06 Juni 2015

Sudah Libur Ternyata

Dengan berakhirnya pekan lalu (tanggal 5 juni), berakhir pula semseter 6 yang penuh gejolak ini (halah, lebay .. wkwkwk). Dan masa studi di pendidikan dokter ini (resminya dan seharusnya) berakhir di semester depan untuk S1, setelah itu keprofesian. waktu cepat sekali berlalu, dan setiap harinya terasa semakin cepat.

Semester ini diawali dengan kekhawatiran yang nyata akan wujud keprofesian, juga ketakutan yang nyata tentang bagaimana jika menjadi dokter. Ketakutan dan kekhawatiran itu bertransfomarsi -Alhamdulillahnya- menjadi sebuah semangat menggebu di awal semester ini. Dan setelah beberapa semester terlewati dengan tanpa resolusi dan plan yang jelas, akhirnya semester ini saya mencoba kembali membuat rencana-rencana dan resolusi-resolusi, seperti yang saat MTs dan MA saya rutin lakukan setiap semesternya.

Salah satu resolusi saya adalah tidak kabur dari amanah. Dan, begitulah semester ini berjalan, ketika saya akhirnya terlepas dari amanah saya sebagai kepala bidang media opini di KaLAM dan PSDM di Medisina, amanah lain menyapa saya di ujungnya. Kalau saya membahasakannya sebagai 'Hukum Kekekalan Amanah'. Bahwa amanah tidak berakhir tidak pula diciptakan ia hanya berubah dan berganti bentuk hahahahaha. Mungkin, amanah-amanah yang tidak kalah beratnya ini, diberikan Allah buat saya belajar mendewasakan diri, belajar buat menghadapi masalah-masalah yang tidak sesuai dengan idealisme dan tata rencana saya, supaya saya naik satu tingkat lagi dari saya yang dulu. Dan mungkin juga, ini salah satu bentuk kasih sayangnya Allah sama saya, atas pengabulan dari doa saya yang meminta untuk ditetapkan di jalannya Allah. Jadi, harusnya, saat amanah menyapa, saya nggak boleh ngeluh (harusnya ..., kenyataannya ... mmm ... ).

Tapi, saya bersyukur. Ketika Allah masih berkenan memberikan saya amanah dakwah, itu berarti Allah masih berkenan saya berada di jalan ini. :'). Dan itu berarti masih ada kesempatan buat saya mengejar surga-Nya. (semoga, amiin). Ujian itu (amanah termasuk di dalamnya) bisa memuliakan kita juga menghinakan kita. Dan itu pilihan. Tinggal saya memilih yang mana ...

Lah? kok malah ngomongin amanah, niatnya mau cerita kalau saya udah libur. Pagi ini saya masih nggak sadar kalau hari ini dan seterusnya (selain harus make up test dan garap proposal skripsi) saya udahan kuliahnya untuk semester ini. Pikiran saya masih loading, sampai di wasap Ami, salah satu temen FK, kalau hari ini ada agenda upgrading buat PH KaLAM dan detim diminta mendampingi. Di situ baru saya sadar, kalau hari senin saya udah nggak kuliah lagi, itu berarti juga saya udah nggak senam pagi lagi di hari jumat pagi. Dan itu berarti saya akan kembali kepada kehidupan saya yang sedentary :'( ....

Wah, ternyata liburan sudah menyapa. Sekalipun fakultas lain baru pada ujian. Saya sudah liburan. Iya ya, sudah liburan ternyata. (iya kalii, nggak usah diulang 3 kali juga -_____________-").

Oh, sudah liburan ya?

Selasa, 02 Juni 2015

Momen 2 Juni #2

2 Juni, 3 tahun lalu, jam segini kayaknya yang ciwi-ciwi udah pada siap dan kumpul di gedung A, dan yang cowok-cowok masih sibuk gitaran di belakang gedung F mungkin, memanfaatkan momen-momen terakhirnya sampai detik-detik paling akhir. Kesel sih dengernya, di saat kita, yang putri-putri harus bangun sebelum subuh, siap-siap sebelum subuh, sampai harus jaga wudhu usai tahajud sampai subuh karen dirias sebelum subuh, sementara yang putra-putra jam setengah tujuh aja masih pada pakai sarung gitaran di gedung sebelah (asrama putri dan putra kelas 3 sebelahan). Duuh hahaha, ...

Momen wisuda SMA jadi momen buat saya dan beberapa orang pertama kalinya pakai sepatu dengan hak tinggi, entah itu bentuknya high heels ataupun wedges. Saya waktu itu dibelikan oleh Ibu dan kakak saya wedges, jadi yah mendinglah daripada pakai high heels. Karena putri-putri angkatan saya lebih banyak yang suka pake sendal gung, sendal jepit, flat shoes, sepatu sneaker, dan sepatu olah raga, alhasil hampir tidak ada yang terbiasa pakai sepatu dengan heels. Waktu latihan wisuda inget banget, masih pada pegangan satu sama lain pas harus jalan dengan sepatu heels. Harus naik tangga panggung pula. Maka, dari jeda waktu latihan wisuda sampai wisudaan itu, ciwi-ciwi pada pake high heels di asrama, asa buat membiasakan diri wkwkwkwk ...

Oh ya, saya inget banget, H-5 an wisuda, kaki saya keseleo, bikin saya harus izin pulang buat ngebenrin kaki saya, biar pas wisuda nggak harus menyeret-nyeret kaki saya. Alhamdulillah perizinanya mudah, (yaiya sih, udah mau wisuda, izin pulang mah gampang banget, asa bilang saya kelas 3, pasti diijinin dah; walopun entah kenapa waktu itu saya dikira anak kelas X sama Pak Oji, wakamad keasramaan, padahal udah tiga tahun di sana, dan udah jadi koor imtaq yang banyak berurusan sama beliau -,-).

Dan begitulah, akhirnya saya izin pulang tanggal 28 Mei sampai besoknya. Dan ketika tanggal 29 Mei saya balik ke asrama; meja belajar saya udah acak adul, bukunya berserakan, dan ada tulisan -kalo nggak salah- 'Selamat bertambah Usia' yang setiap katanya ditulis dengan bahan yang berbeda, ada yang pakai lotion, ada yang pake pasta gigi, ada yang pake kecap -,- dan semeja itu penuh dengan bedak. Mentang-mentang saya nggak ada di asrama pas harusnya saya ulang tahun -,- ... anak kamar saya balas dendam ternyata ... untungnya baju-baju saya aman, tidak disebar ke segala penjuru gedung H.

Hari-hari terakhir di asrama, adik-adik kelas banyak banget yang nyapa dengan 'ciyee ... kakak yang mau wisuda' ... padahal mah yang disapa maunya mewek. Sedih aja gitu pas ingat harus ninggalin teman-teman kece yang nggak pernah berhenti buat ngingetin saya buat 'balik' kalau sudah keluar jalur. Sedih aja gitu ninggalin guru-guru yang nggak pernah menyerah buat bikin saya dan teman-teman saya jadi orang yang berhasil. Sedih aja gitu ninggalin tempat yang udah jadi 'rumah' ke sekian saya.

24 jam x 7 hari kehidupan kami, saya dan 114 orang lainnya, akhiri di tanggal 2 Juni 2012. Angkatan kami memutus tradisi wisuda menggunakan kebaya, dan memulai tradisi menggunakan dress atau sebut saja gamis (untuk yang putri) dan jas (untuk yang putra) saat wisuda. :')

Kalau ditanya, seru ya di asrama? Seru, seru banget. Tapi kalo disuruh mengulangi lagi, saya nggak mau. Karena pasti ada yang berbeda, ada yang nggak sama. Dan yang dulu sudah cukup :')

Momen 2 Juni


Sudah 3 tahun ternyata.

Ketika membayangkan kembali hari itu, yang teringat pertama adalah gaung pembacaan Asmaul Husna yang dibacakan bersama-sama oleh kami di atas panggung itu. Mengalun pelan dan khidmat.

Sudah 3 tahun ternyata kami melangkahkan kami keluar dari sekolah juga tempat tinggal kami selama tiga tahun dalam rentang waktu 2009-2012. Masuk dengan jumlah 120 orang dan yang -Alhamdulillah- diberi kesempatan untuk berdiri bersama di atas panggung itu dan bersama-sama menggaungkan asmaul husna hingga ke langit-langit Gedung Serba Guna itu berjumlah 115 orang. 1 orang kembali ke Penciptanya, mendahului kami bertemu dengan Sang Khaliq. 1 orang memilih untuk melanjutkan hidup sesuai dengan idealismenya. Dan 3 orang lainnya terpaksa gugur di tengah-tengah.

Bersama 119 orang lainnya, saya tumbuh dan berkembang menjadi saya yang sekarang, karena saya yang sekarang adalah akumulasi dari saya di masa lalu. Bersama 119 orang lainnya, saya jatuh, bangkit, terseok-seok berjalan menapaki jalanan untuk tetap bertahan di sini. Bersama 119 orang lainnya, saya tertawa, sedih, bahagia, menangis, berbunga-bunga, hingga depresi. Bersama 119 orang lainnya, saya tumbuh dan berkembang menjadi saya yang sekarang.

Sudah 3 tahun ternyata.

Saat ini, saya dan 119 orang lainnya menapaki jalannya masing-masing. Kami berawal dari satu titik yang sama saat guru-guru melepas kami di gerbang kelulusan. Dan kini, masing-masing sudah menuju titik-titik lainnya yang akan membentuk sebuah garis panjang kehidupannya. Garis ini -nantinya- juga akan menuju pada satu titik yang sama akhirnya. Tuhannya. Semoga garis ini benar-benar membawa kami, saya dan 119 orang lainnya, menuju ke tempat dimana Tuhan kami berada, Surga-Nya, sehingga kami tidak perlu repot-repot menentukan tempat dimana kami harus reuni dengan jumlah yang lengkap tak kurang satu apapun. ber-120 orang.

Sudah 3 tahun ternyata.

Apa kabar kalian? 119 orang yang kini sedang sama-sama berjuang di garisnya masing-masing? 

Senin, 01 Juni 2015

Alhamdulillah, satu per satu urusan sampai pada ujungnya ...
.
.
.
.
dan urusan-urusan yang lain menanti untuk diselesaikan pula

Kamu lebih kuat dari masalahmu, lebih kuat dari sakitmu, selama Allah ada di hatimu.
sumber quotes : dari papan tulis yang ada di mustek bagian akhwat, nggak persis begitu sih kalimatnya, tapi intinya hampir sama :) karena kita lebih kuat karena kita punya Allah ...

pasca musywil FLP yogyakarta ke-6 
Gedung KPFT ruang 2.5
FT UGM