Kamis, 30 April 2015

Duh, Tuhan ...

Malam ini, aku terbangun seketika mimpi yang tadinya indah mendadak menjadi lebih menegangkan jalan ceritanya, hingga membuat jantungku terpacu lebih cepat, dan alhasil, saat bangun nafasku terengah-engah seolah habis lari sprint 100 meter. Tapi, mungkin juga bukan hanya mimpi yang membangunkan, tapi juga dingin yang mendadak lebih menusuk ketimbang hari-hari sebelumnya, dingin yang membuat kaki dan tangan juga turut kedinginan hingga kuku-kuku mulai membiru. cyanosis perifer.

Sebenarnya, walaupun kedinginan, walaupun bermimpi buruk, saat kita sudah terbangun beberapa detik itu untuk menenangkan diri bahwa yang nyata adalah saat ini, detik dimana kita bernapas lega karena baru saja terlepas dari kejaran sesuatu yang bahkan tidak bisa kita ingat bentuk dan wujudnya, saat itulah ada pilihan untuk kembali tidur atau memilih terjaga. Kembali menarik selimut, tidur dan berharap mimpinya menjadi lebih manis, atau sebaiknya justru tidak bermimpi sama sekali agar tidur ini berkualitas.  Atau memilih untuk terjaga. Meninggalkan pilihan untuk bermimpi buruk, bermimpi baik atau tidak bermimpi sama sekali saat mata terpejam nanti.

Dan aku memillih terjaga, sok-sok-an ingin berdialog dengan Tuhan, katanya, tapi mungkin sinyal pagi ini sedang runyam hingga tidak terjadi dialog. Hanya hubungan satu arah yang entah mengarah kemana. Mungkin, ketika diri ini berdiri dan memakai mukena, bersiap untuk 'memulai' dialog, niatnya masih setengah-setengah. Setengah kepikiran kasur, setengah kepikiran mimpi barusan, setengah kepikiran kerjaan yang masih belum usai di laptop yang juga terjaga sejak kemarin sore, setengah kepikiran pertanyaan-pertanyaan tugas yang belum selesai, juga setengah kepikiran percapakan dengan beberapa orang sebelum semalam jatuh tertidur. Payah. Bahkan tidak ada 'setengah' untuk kepikiran, bahwa 'aku sedang akan shalat, maka tinggalkan semua urusan yang tidak terkait dengan shalat'.

Ada orang-orang yang menganggap waktu-waktu shalat adalah waktu istirahat sepenuhnya. Aku pikir, itu karena orang itu telah menanggalkan status dan meninggalkan urusan dunianya ketika ia harus berhadapan dengan Tuhannya. Raja dari segala raja, Pemilik segala urusan. Pun, akhirnya dirinya 'terisi' spiritualnya, dan tidak kering, dan ia baru memikirkan segala urusan dunia nya lagi ketika shalatnya usai. Tapi, mungkin, aku termasuk ke dalam orang-orang yang masih belum bisa melepaskan dunia dalam urusan akhiratnya. Mungkin, aku termasuk ke dalam orang-orang yang begitu mencintai dunia. Ah, tapi, semoga tidak termasuk ke dalam orang-orang yang menafikan adanya akhirat, surga juga neraka.

Begitulah, pada akhirnya shalat malam jelang pagi itu dan pagi-pagi sebelumnya, hanya terjadi untuk sekadar menggugurkan kewajiban belaka untuk mengisi mutaba'ah yang malu jika kosong. Duh, Tuhan ... ternyata Bab Ikhlas diri ini masih belum selesai. Bahkan untuk ikhlas terhadap Tuhan -yang menciptakan saja diri ini tidak ikhlas, bagaimana ia berhadapan dengan sesama makhluk. Jangan-jangan memang diri ini selalu punya niat terselubung di balik kata ikhlas yang diucapkan, baik secar dzhahir maupun batin. Duh, Tuhan ... ternyata diri ini tidak beda dengan Abdullah ibnu Ubay yang manis kata-katanya, namun ternyata hatinya berpaling dari-Mu, juga dari kekasih-Mu.

Duh, Tuhan ...

Aku tahu hidup ini tidak mudah. Pun semua orang juga tahu hidup ini tidak mudah. Kau bahkan sudah menjanjikan ujian-ujian untuk setiap hamba-Mu. Jika hidup mudah, mungkin surga akan penuh, juga mungkin tidak perlu ada neraka. Jika hidup ini mudah, tidak perlu ada reward ataupun punishment. Tapi, Kau membuat pilihan-pilihan bagi kami, makhluk. Pilihan untuk memilih-Mu, juga pilihan untuk tidak memilih-Mu. Sayangnya, perkara pilih-memilih ini tidak semudah saat mencoblos atau mencontreng pak presiden atau pak gubernur. Dan sayangnya lagi, Kau menyukai hamba-hamba yang kuat. Bukan secara fisik. Tapi kuat hatinya. Tidak goyah dari memilih-Mu, baik di waktu sempitnya, ataupun di waktu luangnya. Tidak tergoda untuk memilih selain diri-Mu, baik di waktu sedihnya, ataupun di waktu senangnya. Tidak lepas dari mengingat bahwa ia telah memlih-Mu, baik saat ia berada di puncak tertingginya, ataupun di titik terendahnya.

Jika saja, semudah itu untuk ikhlas ...

Duh, Tuhan, mengucapkan kata 'aku memilih-Mu' itu mudah. Hanya saja, konsekuensi dari kalimat itu ternyata berat.

Jika saja, memilih berada di sisi yang Engkau ridhai semudah itu ...

Duh, Tuhan, betapa aku hanya hamba yang oportunis. Hanya memilih-Mu di saat-saat sempitku, dan mengabaikan-Mu di saat luangku. Duh, Tuhan ... maafkan atas segala kelancanganku.. Karena ternyata hidup dengan memilih-Mu, memang tidak semudah itu ... Jadi, Tuhan, jika suatu saat, aku harus terjatuh, tersandung, atau bahkan salah jalan, Tuhan, di saat-saat seperti itu, aku mohon, Tuhan, buat aku -biarkan aku- senantiasa memilih-Mu dari sekian banyak pilihan yang Kau berikan. Biarkan akan memilih-Mu dari sekian banyak solusi yang kau tawarkan. Buat aku agar senantiasa memilih-Mu, Tuhan ... Karena hati ini milik-Mu, kuasanya juga ada di tangan-Mu, Engkau mau membalikkannya ke arah mana pun juga kendalinya ada pada-Mu. Jadi, Tuhan, aku mohon, jika Kau berkenan, jika Kau tidak jijik dengan hamba yang hina lagi bodoh ini, aku mohon, senantiasa arahkan hatiku ke arah dimana Engkau berada ...

Aku mohon, Tuhan ...

nb : Maaf, Tuhan, pada akhirnya aku memilih untuk menuliskan semua pikiranku yang kusut, mengurainya melalui tuts-tuts laptop yang sedari kemarin masih menyala, hal ini semata-mata karena -seperti yang sudah aku urai- mungkin, niatku masih belum kuat, hingga aku selalu bingung harus berbicara bagaimana? Tapi, sekalipun aku menuliskannya, mengucapkannya dalam hati ataupun jahr, atau aku mengetiknya, Kau pasti mendengarku kan, Tuhan? karena Kau Sami'an Bashira, Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maaf, atas kelancanganku ....

Rabu, 22 April 2015

Usaha dan Hasil

Ada yang bilang, hasil tidak pernah mengkhianati usaha tuannya.

Tapi, bagaimana dengan yang belajar sampai jam 3 pagi tapi nilai yang didapat sama persis dengan jam tidurnya?

Bagaimana dengan yang jatuh bangun membaca materi ujian selama lima hari, tapi hasil yang didapat tidak lain dan tidak bukan angka depannya adalah jumlah hari yang dihabiskan untuk membaca materi.

Lalu, berapa waktu yang harus dihabiskan untuk bisa mendapatkan nilai yang dianggap sempurna? 100 detik? 100 menit? 100 jam? 100 hari? 100 bulan? 100 tahun?

Yang seringkali dilupakan adalah, usaha itu hak dan kewajibannya manusia, tapi, hasil adalah hak prerogatifnya Allah ...

Sabtu, 18 April 2015

Bagaimana jika, doa kita bertubrukan dengan orang lain di langit sana? Jika doa-doa yang bertubrukan itu saling menguatkan, mungkin tidak terjadi tubrukan, melainkan akan berjalan beriringan, lalu bagaimana jika doa-doa yang bertubrukan ini saling berebut atas sesuatu, atau lebih parahnya lagi, saling menafikan satu sama lain.

Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi rengking 1 di kelasnya?
Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian puluh juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi juara di piala dunia?
Doa mana yang akan dipilih Allah dari sekian ratus juta doa orang yang menginginkan dirinya menjadi salah satu orang yang duduk di kursi-kursi jabatan di pemerintahan?

Kira-kira, doa mana yang Allah pilih? Yang lebih takwa kah? Yang lebih sering diucapkan kah? Yang diucapkan saat-saat waktu mustajab kah? Yang mana? Yang mana yang akan Allah kabulkan di antara sekian banyak keinginan egois manusia?

Tapi Allah mengabulkan doa orang yang miskin, juga yang kaya. Ia juga mengabulkan doa mahasiswa juga doa presiden. Begitu pula doa seorang anak kecil, juga doa orang yang tua renta. Allah mendengarkan semua doa makhluk-Nya. Allah mengabulkan beberapa di antaranya di dunia, yang lainnya ditangguhkan saat waktunya tiba. Dan yang lain lagi ditabung di akhirat.

Allah itu adil. Dan keadilannya melingkupi dunia dan akhirat. Maka, doa-doa yang tidak dikabulkan-Nya di dunia, Ia jadikan tabungan untuk hamba-Nya di akhirat. Juga, segala hal lain yang tidak mendapatkan balasannya di dunia, ia tangguhkan di akhirat.

Karenanya, doa yang manapun, yang terkabulkan ataupun yang tidak, doa orang miskin atau orang kaya, doa mahasiswa atau presiden, doa anak kecil atau tua renta, sebenarnya semuanya 'dikabulkan', tapi dengan caranya masing-masing.


Hey. Perjalananmu sudah sampai mana? Apakah perjalananmu sudah mencukupkan resah yang belakangan hadir menerpamu? Apakah perjalananmu sudah mencukupkan penat dari segala urusan kuliah-kuliahan ini, juga hal-hal lain yang ada di tempatmu berdomisili?

Segeralah pulang. Kumohon. Aku merindukanmu. Rindu hadirmu yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah jam 22.00, membuat panik seisi rumah. Rindu derum motormu di ujung gang yang khas. Aku merindukan caci maki lucu yang keluar dari mulutmu hanya untuk bercanda.

Hey, segeralah pulang dari perantauanmu ...

Aku memang tidak pernah bilang secara gamblang, karena sejujurnya aku malu jika aku bicara seperti ini padamu, aku yakin kamu akan dengan sengaja tertawa keras-keras tidak ikhlas, ditambah dengan kata-kata "ecieee" dengan nada yang khas yang keluar dari dirimu. Tapi, aku seringkali merindukanmu ...

Jadi cepat pulang ya ...

Selasa, 14 April 2015

Kangen :')

Akhir-akhir ini saya lagi kangen sama banyak orang ... sama temen-temen gycen, sama temen-temen dan mbak-mbak di kalam, sama mbak-mbak di BIMO forsalamm, sama orang-orang FLP, sama temen-temen di medisina ... saya juga kangen mbak dan mas di rumah, kangen bapak ibu di rumah. Jadi, karena kangen, saya sms sama orang-orang ini, satu kalimat, cuma bilang "saya kangen .." atau, "saya kangen, apa kabar?" Sebenarnya nggak berharap dibales juga, cuma pengen ngasih tau kalo saya lagi kangen aja. Tapi sebagian besar bales, "Tyani kenapa?" atau "Kok tiba-tiba?" atau "Tyani sehat?" atau "Habis ngapain e?" atau "Salah makan apa e Ty?"

Nggak apa-apa, saya nggak kenapa-kenapa, tiba-tiba mungkin iya, saya sehat Alhamdulillah, saya habis mikirin kalian yang saya kangenin, dan saya nggak salah makan apa pun. Saya cuma kangen. Saya boleh kan kangen?

Yakinkah?

Apakah kita benar-benar merindukan Ramadhan, ataukah hanya pura-pura rindu?
Apakah kata cinta kita terhadap Allah benar-benar keluar dari hati, ataukah hanya sekadar menjaga image?
Apakah shalawat untuk nabi yang kita lantunkan disertai rasa hormat dan kasih sayang ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban?
Apakah Islam itu benar-benar benar buat kita, ataukah hanya karena kita terlahir Islam?

Apakah jilbab yang kita kenakan adalah karena takwa ataukah karena disuruh orang tua, disuruh suami?
Apakah kita benar-benar sudah beriman pada yang rukun enam, dan berislam pada yang rukun lima?

Apakah kita benar-benar percaya pada adanya kehidupan setelah kematian, surga dan neraka, hari pembalasan dan hari pertimbangan, ataukah hanya sekadar mempercayainya seperti dongeng, ada tapi tidak bermakna?

Apakah kita benar-benar cemburu ketika Islam, Allah, dan Rasul Allah dihina, ataukah hanya ikut-ikutan euforia yang mendadak terasa 'panas'?

Apakah ujian ini kita lewati untuk sekadar hasil, ataukah kita percaya bahwa Allah menilai proses?

Apakah kita benar-benar percaya pada Allah? Pada segala kebaikan-Nya? pada segala kebijakan-Nya yang absolut?

Apakah kita sudah yakin bahwa kita Islam?

Yakinkah kita?

Minggu, 12 April 2015

Ketika Capek Kuliah

Seminggu ini, beberapa kali saya SMS bapak cuma buat bilang, "pak, aku capek kuliah .." pada akhirnya, semalem waktu akhirnya bisa nelpon Bapak panjang lebar, bapak bilang, "Kalo kamu capek, ya ucapin aja kata capek itu seribu kali sampe kamu capek buat bilang kata capek, nanti toh ketika kamu udah capek bilang capek, kamu udah nggak capek lagi kan?"

Beliau lanjut bilang, "Jenuh itu, bosen itu akan ada batasnya. Obatnya jenuh itu ya kamu lakukan aja apa yang membuatmu jenuh sampai jenuhnya ilang. Jenuh kalau dihadapi juga toh dia akan udah nggak berasa jenuh lagi, udah akan biasa lagi. Sama kayak kamu di FK, awal-awla mungkin kaget dengan ujian -yang kata kamu setiap pekan itu, tapi toh kalo dijalanin aja, ujian setiap pekan juga sudah bukan hal yang luar biasa lagi kan, sampai-sampai kamu nggak pernah mengeluhkannya lagi .."

Habis nelfon itu, saya jadi ingat kalimatnya ustadz Rahmat Abdullah almarhum,

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Aplikasi aljabar

Pagi ini, usai ngebantu diso bikin poster penyemangat UN adik-adik kelas XII di IC, saya ceritanya mau pergi makan bareng Nadiyah, si anak biologi, yang udah lamaaa bangeet nggak ketemu. Waktu masih nyetrika baju dan perangkat-perangkat lainnya, diso tanya, "mau kemana eh?" 

"Mau makan bubur sama teman, mau nitip?" Dan diso langsung mengiyakan. Jadilah pagi itu usai muter-muter sejakal (nggak selebay itu sih sebenarnya, haha) dan mendapati bahwa bubur ayam jakarta syarifah tutup, akhirnya kami berdua (saya dan nadiyah) memutuskan untuk makan bubur ayam yang masih buku di warung tenda di pinggiran jalan kaliurang.

sebenarnya saya mau cerita betapa saya baru merasakan betapa aplikatifnya aljabar yang pernah saya pelajari di MAN dan MTs dulu haha .. karena ceritanya, waktu bayar bubur ayam, nadiyah beli bubur satu dan es teh satu, dia bayar 8.500, terus saya beli bubur dua (yang satu buat diso) dan es teh satu saya bayar 14.500 rupiah, cumannya, saya lupa nanya berapa mestinya harga satu porsi bubur.

Nah, begitu sampe kontrakan saya bilang, "diso, aku lupa e nanyain harga satu buburnya, jadi, tadi gini so, temenku beli es teh satu sama bubur satu harganya 8500, terus aku beli bubur 2 sama es teh 1 harganya 14500, jadi berapa so ya harganya?" Terus tiba-tiba diso mulai ngambil pensil sama kertas, dan membuat catatan, kurang lebih kayak gini:

a = es teh
b = bubur ayam

a+b = 8500
a+2b = 14500
____________ -
b = 6000

whoaaaa betapa aplikatifnya aljabar !!! wkwkwkwkwkwk

*minggu pagi, pasca bikin poster semangat UN*  XD