Minggu, 29 Maret 2015

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal tidak akan ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Allah lebih tahu, Allah lebih tahu. Maka, ada baiknya semua pilihanmu dikembalikan pada Allah. Karena Allah lebih tahu. Tidak ada yang lebih tahu tentangmu, tentang semua masalah yang sedang kamu pikirkan, tentang ketakutan yang kamu rasakan, tentang apa-apa yang kamu inginkan selain Allah. Ia bahkan lebih tahu daripadamu tentang seberapa kuat sebenarnya dirimu. Dan karenanya, ia tidak pernah -tidak akan pernah memberikan ujian melebihi kapasitas dirimu. Allah juga tidak akan -tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Kalau kamu merasa tidak dibersamai Allah, mungkin bukan karena Allah menjauhimu, tapi karena kamunya sedang jauh dari Allah, kamunya sedang perlahan-lahan mundur teratur dari setiap ibadah-ibadahmu, perlahan-lahan sadar atau tidak mulai mengurangi porsimu 'berdialog' dengan Sang Khaliq.

Jika kamu merasa tidak dibersamai Allah pada saat masa-masa -yang kamu rasakan- berat, mungkin karena sebenarnya kamulah yang sedang perlahan-lahan, sadar atau tidak menjauh dari-Nya ...

Segeralah kembali ...

Segeralah kembali ...

Selasa, 24 Maret 2015

Postingan ke-200!!

Ini postingan ke 200 yang diterbitkan di blogger ini setelah 5 tahun berjalan. Haha. Sedikit banget yak? 200/5, kalau dirata-rata, berarti sekitar 40 tulisan setahun, padahal satu tahun ada 365-366 hari. Tapi, toh saya nggak konstan nulis, saya juga pernah mandeg nulis berbulan-bulan, saya juga pernah sok sibuk sampe sok nggak sempet nulis, padahal mah alasan aja gitu haha ...

Semoga setelah ini, saya bisa mengkonsistenkan untuk menulis ... :)

obrolan tentang Kehidupan setelah kematian

Waktu ngobrol-ngobrol dengan seorang teman di sela-sela belajar anatomi tadi, kami sempat membahas tentang kehidupan setelah kematian. Beliau bilang begini, "Sebenernya, Ty, aku percaya adanya kehidupan setelah kematian itu karena aku mikir kayak gini, di dunia ketika aku hidup ini, ada banyak orang baik yang diadili secara tidak adil oleh hukum-hukum yang dibuat manusia, misalnya aja kayak nenek yang diadili karena mencuri kayu, sementara koruptor yang menyengsarakan orang lebih dari apa yang dilakukan si nenek pelaksanaan hukumnya tidak seberapa. Jadi, aku percaya akan ada hari dimana orang-orang yang baik yang diadili secara tidak adil di dunia ini dan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya di suatu masa, dan masa itu aku yakin nggak di dunia..." dan seterusnya dan seterusnya, kurang lebih seperti itu yang diucapkan Beliau.

Kehidupan setelah kematian, saya jadi inget pembahasan kajian manhaj hari minggu lalu yang diisi oleh seorang ustadz dari rumah fiqh, beliau bilang kira-kira begini, "Kalau mengacu pada perkataan Rasulullah, kehidupan di dunia ini bisa diibaratkan seperti menyebrang jalan. Dan setelah kita menyebrang jalan itu, akan ada jalan yang jauh lebih panjang dan lebih berat yang akan kita lalui, itulah kehidupan setelah kematian. Nah, kehidupan di dunia yang seperti menyebarang jalan itu singkat, sangat singkat. Dan justru yang membutuhkan lebih banyak bekal adalah perjalanan setelah menyebrang jalan tadi, perjalanan yang jauh lebih berat dan jauh lebih panjang. Jadi, sebenarnya, ada dua hal yang perlu kita lakukan di dunia ini; yang pertama adalah menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan yang lebih jauh, kehidupan setelah kematian, dan yang kedua adalah membuang beban sebanyak-banyaknya, alias menggugurkan dosa-dosa kita dengan bertaubat, agar di perjalanan nanti tidak banyak beban yang kita bawa, hingga perjalanan kita jadi lebih ringan."

Sulit memang membayangkan adanya kehidupan setelah kematian, ya karena kita masih hidup dan belum mati. Tapi, kata Allah itu ada. Kata Allah, kata Rasulullah, akan ada kehidupan setelah kematian, maka yang perlu orang beriman lakukan hanyalah mempercayainya. Mempercayai apa yang telah digariskan Tuhannya, karena ada rahasia-rahasia yang hanya Tuhan yang tahu, ada rahasia-rahasia yang makhluqnya tak perlu tahu, agar manusia-manusia seperti saya terus berjuang, terus berusaha menghimpun bekal berupa ilmu, berupa amal, berupa pahala, dan berusaha untuk merayu Sang Maha Kuasa atas segalanya untuk mendapatkan pengampunan dari-Nya untuk semua dosa yang telah dilakukan.

Kehidupan setelah kematian, sulit memang membayangkannya, akan seperti apa, kita akan menjadi seperti apa dan lain sebagainya, tapi Allah bilang, Rasulullah bilang hal itu ada, dan pasti terjadi, walaupun hanya Allah yang tahu kapan hal itu akan terjadi. Jadi, untuk hal-hal yang tidak diketahui sebagai suatu ciptaan Allah, yang perlu kita lakukan hanyalah percaya pada Sang Pencipta. Percaya bahwa janjinya adalah sebuah kepastian, bukan harapan palsu.

Minggu, 22 Maret 2015

Di Ujung Bahagia

Di Ujung sedih, katanya ada bahagia. Tapi itu berarti di ujung bahagia juga bisa terjadi kesedihan.

Tapi, kalau nggak ada sedih, mungkin nggak ada bahagia ya? Kalau nggak ada yang buruk, yang dianggap baik pun tidak ada ya? Kalau tidak ada yang jelek, yang cantik mungkin juga tidak ada?

Lantas, mengapa yang baik, yang cantik, yang bahagia acapkali memandang rendah yang sedih, yang jelek, yang buruk?

Kamis, 12 Maret 2015

Pengen Nulis

Sebenarnya saya pengen nulis, tanggungan nulis juga udah numpuk, mulai dari ngisi tumblr bersama, antologi karya proyek FLP, sampe kumcer kolaborasi, plus proposal skripsi. Tapi, begitu buka laptop, buka windows media player, buka word, terus pasti malah nulis yang baru bukan yang kemaren-kemaren dilanjutin. Kalo buka file-file yang kemaren, terus rasnaya saya stagnan. Bengong di depan laptop sambil nyanyi ngikutin lagu yang diputer, walopun saya yakin saya nyanyinya nggak bernada.

Saya jadi inget, pernah beberapa waktu lalu, saya bahkan nggak bisa nulis sama sekali. Apapun yang saya tulis terasa salah untuk ditulis, terasa salah untuk dibaca, bahkan untuk diri saya sendiri. Sampai suatu ketika saya diskusi sama seorang mbak-mbak di FLP, mbak ummi namanya. Beliau bilang, tanggung jawab menulis itu sama kayak tanggung jawab kita berbicara. Apa yang kita tulis, akan dipertanggungjawabkan sama kayak apa yang kita bicarakan. Tapi,jangan sampe hal itu membuat kita jadi menyimpan sendiri ilmu yang kita punya. Sampaikan sejauh apa yang kita ketahui saja.

Dan terakhir, saya inget pernah baca di suatu tempat, tapi saya lupa dimana, pokoknya intinya si sesuatu itu bilang, kalau menulis itu seperti mengalirkan air dari keran. Airnya nggak akan ngalir kan kalau kerannya nggak dibuka? Sama seperti kita, kita nggak akan nulis kalau kita emang nggak mulai, nah mulainya darimana? Mulainya bisa dari menulis hal-hal kecil yang ada di sekitar kita, atau menulis dari hal-hal yang sudah menumpuk di otak kita.

Oke, semangat menulis!

Kamis, 05 Maret 2015

Malam Menangis Kita

Kalimat "Aku kangen kamu" adalah kode dariku buatmu untuk memulai setiap malam-malam kita yang akan menjadi panjang, tidak lupa dengan sekotak tissue dan berliter-liter air mata. Sebenarnya, kalimat itu tidak sengaja menjadi kode, hanya saja, mungkin kamunya kelewat peka, ketika dengan tiba-tiba tanpa badai tanpa petir, aku bilang dengan gamblang, "Aku kangen kamu". Kamu menyadarinya, sedang ada sesuatu tentang diriku, atau tentang sekitarku. Sesuatu yang ingin aku bagi denganmu.

Jika sudah begitu, kamu cuma perlu bertanya, "Butuh teman makan?" Dan setelah ini dan itu, tempat makan pilihan kita hampir selalu warung itu, walau tempatnya pindah-pindah, di jalan ini maupun itu, kita tetap memilih cabang-cabang si warung. Pun pilihan makanan dan minumnya tetap sama. Hanya untuk sekadar berganti suasana ramainya jalan saja.

Setelah makanan dan minuman dipesan, dan nota berpindah tangan ke mas-mas pelayan, malam panjang kita resmi dimulai, bahkan tanpa perlu kata-kata "kamu kenapa?" atau sejenisnya. Kita hanya duduk di sana, mulai bercerita apa adanya, seperti biasanya, dan mengalirlah setiap masalah kita, sepaket dengan air matanya, sepaket dengan buang-buang tissuenya, sampai-sampai waitressnya bingung ketika harus menaruh makanan di meja kami.

Sebenarnya, mungkin, kita juga tidak tahu kenapa, tidak tahu apa solusi dari masalah kita. Tapi, kadang-kadang kita hanya butuh untuk berbicara, meracau, bercuap-cuap entah tentang apapun itu yang sedang mendesak untuk dikeluarkan. Dan aku tahu, masing-masing dari kita punya cukup telinga untuk saling mendengarkan di saat-saat itu.

Sebenarnya, mungkin semua masalah ini hanya alasan untuk bertemu denganmu, untuk didengar olehmu, untuk bisa menangis di sampingmu. Karena memang selalu menyenangkan mengetahui bahwa dirimu ada di sampingku, menghabiskan malam yang mendadak terasa sangat panjang, terutama di saat-saat aku sedang lemah. Karena selalu menenangkan mengetahui bahwa ada kamu, yang tanpa ragu-ragu akan datang jika diminta...


Rabu, 04 Maret 2015

Ketika Semua Memutuskan untuk Pindah

Kemarin, keluarga baytul quds (kontrakan nya Nida', dkk) tiba-tiba ngepost foto-foto rumah di grup Line Muslimah Community. Emang, seminggu terakhir, saya lihat Vilah dkk lagi sibuk ke sana kemari nyari rumah baru, berencana pindah dari kontrakannya yang di Pogung Lor sekarang. Ah, mereka mah kalo pindah nggak wacana. haha, nggak kayak rumah saya, yang wqalopun isinya cuma bertiga, saya, amel sama disho, tetep aja namanya pindah jadi wacana belaka. Soalnya nyari rumah yang harganya murah dengan jumlah sedikit orang susah ternyata ... --a

Dan, saya ternyata nggak sadar, ketika sejak kemarin saya menimbang-nimbang untuk gabung dengan penghuni kontrakan nya Nida' dkk (selanjutnya disebut baytul quds), ternyata amel sama disho udah lebih dulu memikirkan untuk boyongan ke pondok. Sebenarnya, yang harus pindah itu saya, mengingat usai lulus S1, saya masih akan tetep di jogja buat koas, dan ngantri internship, masih sekitar 3 tahun lagi pasca lulus S1. Sementara disho dan amel, habis lulus S1, ada kemungkinan balik ke daerah masing-masing, atau justru ambil S2 luar negeri? atau malah udah diambil jadi istri orang? (cc : amel).

Cumanya, saya nggak nyangka aja, kalo ternyata mungkin, MUNGKIN, perpisahan kehidupan kami bertiga, kayaknya bakal lebih cepet terjadi. (mewek deeh ...). Jeleknya, saya baru tahu tadi sore banget, pas di tengah-tengah nemenin anak-anak TPA ngewarnain. Dhilah pula yang bilang, bukan disho. Entah kenapa, mood saya buat ketawa ketiwi bareng bocil-bocil TPA pelita harapan itu langsung ludes. Pada mau pindah banget nih?

Hahahahaa, mungkin saya nya aja yang terlalu mellow. Padahal, mungkin, kalo semuanya udah pindah dan udah settle sih kayaknya bakal baik-baik aja. Tapi, gitu kan? kalo emang mau pisahan, harusnya sedih nggak sih? haha. Apalagi udah barengan 'tertinggal' di kontrakan kali code ini sejak 2,5 tahun lalu ....

Ah ... sedih rasanya, walaupun terasa lebay banget, pake acara mewek segala. Tapi, tetep aja, namanya pisah itu sedih. haha ... habisa udah terlalu terbiasa sama tingkahnya bocah-bocah serumah~