Senin, 28 Desember 2015

"Ketika ekspresi rindu adalah doa, semua cinta adalah jalan surga ..." 

-OST. Tuhan Maha Romantis

Berharap

"Bapak bakal mampir jogja ga?"

"Blom tau nih dek ... Dimana2 macet gilak ...Jalur ke jogja apalagi...
Ini jalan dari Solo ke salatiga, di boyolali sampe salatiga macet merayap"

"Apa tyani yang ke salatiga aja?"

"Di Salatiga dah ga ada siapa2 ...Bulik utik dah pulang, enes dah ke bandung, ara ga tau kemana, Bulik runik hari ini pulang surabaya. Dah sepi, bapak sama ibu tanggal 29 besuk pulang juga ..."

Sulit sekali untuk tidak berharap lebih dari yang diperlukan. Begini nih yang seringnya bikin kecewa. Berharap sendiri, kecewa sendiri. #pffft ...

Mendewasa, Ty ... mendewasa ...

Minggu, 27 Desember 2015

Utopia - Hujan | Official Video

Perjalanan

Aku selalu menyukai perjalanan. Dengan apa pun. Dari perjalanan, aku belajar banyak. Ada lebih banyak waktu untuk berkontemplasi ketika dalam perjalanan, ketimbang saat menetap dalam satu tempat, dan terkungkung dalam hiruk pikuk tempat tersebut; sibuk dengan hal-hal yang membuat pikiran penuh dan menguras energi.


Selalu begini. Jika ingin menulis memori yang terlalu menyenangkan, ujung-ujungnya cuma bisa bengong di depan laptop sambil terus memutar memorinya. Entah mengharap apa dari pekerjaan bengong tersebut.

Ada terlalu banyak cerita yang ingin saya tulis tentang hari kemarin, tentang kisah berminggu-minggu sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya ...

Tapi, saya cuma bengong. Dan berpikir, waktu berjalan cepat sekali ya?

Minggu, 20 Desember 2015

Hari 8 : What is Power?

Hari in kami membahas salah satu bab dari buku pathology of power karya paul farmer. Saya memang belum selesai membaca sampai akhir Bab, tapi mendengar komentar teman-teman di kelas saat sesi diskusi, ada pertanyaan yang sampai detik ini masih mengganggu saya, what is power exatcly?

Sebenarnya apa itu power? Jika mendengar beberapa komnetar teman yang mengatakan bahwa, baik gender ataupun ras yang memiliki ‘risiko’ untuk terdiskriminasi, akan diperparah bila mereka juga miskin. Jadi mereka tidak hanya terdiskriminasi karena gender mereka atau karena ras mereka tapi karena miskin. Dan faktor ‘miskin’ inilah yang acapkali membuat diskriminasi ini menjadi lebih parah. So then, apakah power berarti money?

Seorang teman mengatakan –ketika ditanya, power itu kekuasaan. But somehow, realitanya dewasa kini kekuasaan sulit didapat tanpa uang. Kita membutuhkan uang untuk bisa mengontrol banyak hal yang ada di dunia ini. Dan perilaku orang berkuasa yang ‘mendominasi’ dengan kekuatannya juga sedikit banyak dilakukan untuk uang.

Tapi kemudian muncul pemikiran lagi; jika ada pekerja seks komersial –yang katakanlah dalam semalam ia bisa mendapatkan ‘penghasilan’ 150 juta secara konstan setiap malamnya, maka sebulan ia bisa mempunyai uang 150x30 sekitar 450juta. Tapi, di mata masyarakat yang namanya pekerja seks komersial sekaya apapun ia tetap mendapatkan stigma masyarakat dan ujung-ujungnya juga nggak akan bisa terlepas dari ‘diskrimansi’. Ia tetap tidak punya power di mata masyarakat.

So, what is power?

Kemudian, teman saya itu bilang, tapi dengan penghasilan seperti itu dia pasti punya kuasa atas pekerja seks-pekerja seks lainnya. Bisa jadi ia adalah pekerja seks kelas atas yang mendominasi. Kemudian saya berpikir ‘ohiya bisa jadi.’ Dan akhir dari pemikiran saya ini, saya menyimpulkan bahwa semuanya akan kembali pada hal pertama yang kami pelajari di modul ini, that everything is socially and culturally constructed; even beautiful, even love, even power itself ....

17 Desember 2015

Hari 7

Hari ini saya belajar bahwa Ternyat a ada banyak ilmu di luar ilmu kedoketran yang sebenarnya sangat berguna untuk menunjang kesembuhan pasien. Tidak hanya sekadar ilmu fisiologi, anatomi, biologi; tapi juga sosial. Hari ini saya belajar memandang suatu msalah dari kacamata yang lain. Kacamata antropolog. Dan hari ini saya belajar bahwa sebagai seorang yang nantinya (mungkin) akan menjadi dokter, jangan sampai kita –jajaran tenaga medis ini- mengobati hanya penyakit pasien saja. karena terkadang, penyakit tersebut letaknya bukan hanya pada penyakitnya, tapi sosial.

Maka, hari itu kami membuktikan statement WHO yang menyatakan bahwa sehat bukanlah hanya sekedar tidak adanya penyakit, tapi juga sehat secara fisik, mental dan sosial.

16 Desember 2015

Hari 6

Hari ini saya semkain belajar bahwa teknologi memang benar-benar seperti pedang bermata dua.

Bahkan orang pintar dan terpelajar pun bisa menggunakannya untuk merendahkan martabat jenisnya sendiri, sadar atau tidak sadar. Bisa jadi yang membuat itu adalah arogansi yang ada dalam diri mereka, hingga menganggap jenisnya sendiri –dengan ‘status’ yang berbeda, (misal status pekerjaan, pendapatan, dan lain sebagainya) lebih rendah martabatnya daripada dirinya sendiri.

Teknologi, sains dan perkembangannya bisa dengan mudah membuat manusia-manusia hidup semakin arogan dan egois.

16 Desember 2015

Hari ke 5 : Teknologi dan Martabat Manusia

Hari ini (lagi-lagi) saya belajar bahwa perkembangan teknologi memang semenyeramkan itu. Mungkin bisa dibilang bahwa perkembangan teknologi adalah pedang bermata dua. Jika tidak digunakan dengan bijak dan pada kadar tertentu, ia bisa berbalik menjadi ‘tuan’ bagi manusia (mengingat kuliah hari kemarin tentang etika yang disampaikan oleh Doktor Kusmaryanto). Ia bisa meninggikan martabat manusia –yang menciptakannya; tapi bukannya tidak mungkin juga bisa merendahkan martabat manusia.

Mungkin dari cerita-ceritanya kak Sandeep kita cukup dapat banyak contoh where the technologies can dehumanize us. Tentang bagaimana orang-orang gelandangan ini digusur dari jalanan-jalanan, dan menerima obat begitu saja –seolah-olah memang itu yang mereka butuhkan (medicine is also technology). Meskipun kenyataannya mungkin mereka lebih membutuhkan care ketimbang teknologi. Tapi kita juga cukup tahu tentang bagaimana teknologi bisa membawa manusia pada peningkatan quality of life nya; seperti kuliah tentang nanoteknologi, plastic surgeary, skin anti aging, dan lain sebagainya itu.

Berarti hari ini saya belajar, bahwa ada dua opsi dalam menggunakan atau memandang kemajuan teknologi. Dan kita tidak bisa hanya memandang kemajuan teknologi ini dari opsi yang diuntungkan saja –karena ternyata ada juga manusia-manusia yang tersingkirkan dan ‘terlabeli’ dengan adanya kemajuan teknologi. Jangan sampai manusia –yang katanya adalah sebaik-baik makhluk; justru direndahkan martabatnya dengan teknologi yang diciptakannya sendiri. 

11 Desember 2015

Hari 4 : Etika, kemanusiaan, dan teknologi

Lagi, setiap kali kuliah hari itu berakhir saya semakin merasakan bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang teknologi (kalau boleh meminjam istilah yang digunakan prof laksono adalah dari unconscious incompetent menjadi conscious incompetent).

Hari ini saya belajar bahwa yang sebenarnya ‘diusung’ oleh kajian etika adalah nila-nilai kemanusiaan. Bahwa manusia adalah makhluk ‘termulia’ di muka bumi, thus, semua teknologi itu tidak bisa mengalahkan kemuliaan manusia –karena sejatinya teknologi adalah alat, dan manusia adalah pencipta teknologi tersebut. Tapi jika mau menilik fenomena hari ini, tidak sedikit manusia-manusia yang justru lebih menghargai dan menilai tinggi suatu teknologi ketimbang manusia itu sendiri.

Hari ini saya juga belajar bahwa seringkali teknologi tidak berkembang bukan karena teknologi itu tidak mencapai kemajuan atau penelitinya yang tidak kompeten, melainkan adanya hegemoni mayoritas yang ‘terlihat’ mengintimidasi. Meski seringkali pandangan kita –sebagai (calon) dokter terbatasi oleh nilai-nilai yang hanya kita pegang sendiri dan membuatnya menjadi tidak lagi objektif. Sementara melihat suatu perkembangan teknologi secara komprehensif dari berbagai sudut pandang adalah hal yang sulit. Mungkin ini juga yang dialami oleh pemegang kebijakan yang duduk di bangku pejabat saat memukul palu untuk ‘membolehkan atau tidak’ suatu teknologi berkembang. Tapi, pun pandangan kita terbatas. Karenanya, saya tidak sepakat dengan istilah yang teman saya gunakan ‘budaya timur yang konvensional’. Lalu, budaya timur yang modern seperti apa? Apakah yang kebarat-baratan? Apakah budaya barat itu budaya modern? Ataukah ada budaya barat yang konvensional? Yang disebut konvensional atau modern itu seperti apa?

Well, pandangan kita terbatas hanya pada diri kita dan lingkungan di sekitar kita. Sebelum kita duduk di bangku yang sama dengan pejabat tersebut, atau duduk berhadapan, mungkin otak kita masih belum satu frekuensi tentang kemajuan sebuah teknologi dan impact nya bagi ‘manusia’ dan ‘kemanusiaan’.

10 Desember 2015

Hari 2 : Tentang Teknologi

Di hari kedua duduk di kelas ini, saya belajar, bahwa saya ternyata benar-benar sangat tidak tahu apa-apa tentang perkembangan teknologi. Bahwa ternyata teknologi begitu cepat dalam berkembang, dan juga bahwa ternyata perkembangan teknologi mempengaruhi konstruksi sosial suatu masyarakat dan begitu juga sebaliknya.

Mungkin perkembangan teknologi yang sangat cepat adalah gambaran dari sifat manusia yang tidak pernah puas, atau bahkan rakus; sementara alat pemuas kebutuhan (jika meminjam istilah ekonomi) sangat terbatas. Penelitian, penemuan, atau apalah sebutannya adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang semakin lama juga semakin berkembang karena ketidakpuasan manusia.
 
Awalnya mungkin manusia hanya butuh punya anak, bereproduksi, regeneratif. Gendernya apapun tidak masalah, bahkan mungkin cacat pun tidak apa. Tapi kini dengan ditemukannya gene reduction dalam ART –dimana gen-gen ‘jahat’ dieliminir sebelum kelahiran embrio; manusia menginginkan anaknya sempurna fisiknya, kognitifnya bahkan mereka bisa memilih gender yang mereka inginkan –atau butuhkan.
Awalnya mungkin manusia hanya membutuhkan kosmetik –alat pemoles kecantikan temporer untuk membuat wajah-wajah yang biasa saja –atau mungkin wajah cantik, tapi kepribadian minder untuk mempercantik wajah mereka, tapi kini mereka lelah dengan lepas pasang kosmetik mungkin hingga plastic surgery mereka samakan dengan put on cosmetic. Mereka ingin –mereka butuh, sebuah kecantikan yang permanen.

That’s it. Kebutuhan manusia berkembang. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi dengan teknologi-teknologi hari, mereka akan mencari teknolog-teknologi untuk memenuhi kebutuhan sekundernya hingga kebutuhan sekunder tersebut tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan primer. Hari itu saya juga belajar, bahwa betapa mengerikannya perkembangan teknologi yang sangat cepat, sementara di satu sisi degradasi moral terjadi secara besar-besaran. Ketika adanya pergeseran nilai moral jauh dari moral yang dianut manusia hari ini atau di masa dulu, bisa jadi teknologi yang berkembang ini tidak lagi terkontrol. Dan bukannya tidak mungkin, manusia merasa menjadi tuhan dengan segala penemuannya. Tapi, jangan-jangan di satu sisi manusia merasa menjadi tuhan, jangan-jangan di sisi lain sebenarnya mereka sedang menjadi budak-budak teknologi yang mereka ciptakan sendiri.

Who knows? 

9 Desember 2015

Hari 1 di modul HET

Sekitar tiga tahun lalu, saya pernah membuat sebuah cerpen science fiction untuk diikutkan dalam sebuah lomba. Cerpen ini berkisah tentang cyborg yang menggantikan manusia dalam melakukan kerja-kerja di pabrik karena manusia dianggap tidak efektif dalam melakukan kerja. Saat membuat cerpen itu saya berpikiran tentang sebuah teknologi, juga bagaimana teknologi tersebut dapat mempengaruhi hidup orang banyak. Saat itu saya berdiskusi dengan ayah saya tentang cyborg, tentang teknologi juga kemanusiaan dan merangkumnya dalam cerpen.

Saya dulu membuat cerpen ini dengan konteks seluruh bumi menjadi satu kesatuan wilayah. Jadi teknologi cyborg ini untuk seluruh dunia. Ini pemikiran saya dulu, tahun pertama masuk di fakultas ini. Tapi ternyata ada nila-nilai yang berubah yang saya dapatkan setelah mengikuti kuliah hari pertama di modul HET ini.

Kuliah tentang enhancement, etika, perkembangan bioteknologi di hari pertama ini membuka wawasan saya, dan membuka pikiran saya yang masih sangat sederhana. Ada banyak 'Oh' yang saya dapatkan hari itu, seperti Oh, ternyata teknologi itu tidak hanya semacam robot-robotan yang nyata bentuknya, tetapi rekayasa genetika, vaksin, obat pun juga temasuk teknologi (jika boleh mengutip kata dokter Sandeep saat diskusi, bahwa semua hal bisa menjadi enhancement tergantung dari konteksnya); juga Oh ternyata berpikir tentang etika itu tidak hanya berdasar pada intuisi saja alias pada hati -seperti saat saya membuat cerpen tentang cyborg tersebut, tapi juga bagaimana menganalisis baik buruknya sebuah kemajuan teknologi bagi orang banyak -dan tentu saja ada pengaruh politis yang tidak dapat dipungkiri di sana; juga Oh ternyata dalam mempertimbangkan etis atau tidak kita butuh suatu standar 'normal' -yang bisa jadi berbeda saat kita bergeser dari tempat kita duduk sekarang ke tempat lainnya,

Di hari pertama di duduk bersama dengan teman-teman di modul HET ada banyak pemahaman baru juga pertanyaan baru yang muncul, yang entah akan terjawab atau tidak hingga akhir blok ini nanti, karena permasalahan etika dan teknologi tidak bisa diselesaikan hanya dengan 2 minggu kuliah dimodul ini




7 Desember, 2015

Modul 4.3 : Exploring the Human Enchancement Technology


Ini kelas kami selama 2 minggu terakhir. Dan foto ini diambil di ruang teater perpustakaan FK UGM; usai mini seminar dan panel diskusi di hari terakhir kelas. kemarin jumat :') Yang duduk berjejer di depan itu Tim koordinator blok nya (kecuali hasna yang pake baju biru paling kanan). Ada kak Sandeep, Bu Erlina, prof Narto, dan Dokter Wika dari Center of Bioethics and Medical Humanity. Kurang dokter Azid yang hari itu masih jaga di rumah sakit.

Kelas ini nggak seperti kelas lainnya. Di kelas ini kami nggak belajar klinis, kami nggak ada praktikum, skill lab ataupun tutorial. Jadwal kami setiap harinya selama 2 pekan terakhir ini konstan dari jam 8 sampai jam 3 sore yang isinya antara kuliah dan diskusi, kuliah diskusi, kuliah diskusi. Atau movie session dan diskusi. Atau reading analysis. Beberapa kali kamu juga kuliah dengan teleconference bersama Benjamin, seorang antroplogis (orang luar negeri tentunya) yang pernah meneiliti kaum LGBT di Indonesia (kalao tidak salah) selama 3 tahun. Pernah juga kuliah teleconference dengan Paul Mason, seorang medical anthropologist.

Selebihnya, kami kuliah dengan para pakar teknologi dan etik di UGM, dan sesei terserunya adalah kesempatan untuk berdiskusi baik yang teknis maupun filosofis dengan beliau-beliau ini. Somehow, kami-kami ini merasa,wow, kemana aja kita selama ini? Saking sangat banyak wawasan kami yang terbuka hanya dalam waktu 2 pekan.

Di setiap topik selalu ditekankan, 'everything is depend on its social construct and so that everything is socially and culturally constructed' even beautiful, even love, even science itself.' Jadi, kami diajak bagaimana berpikir kritis dengan melihat konteks yang ada. Berpikir etis dengan membandingkan satu konteks dengan konteks lainnya.

And, this class is so awesome, with awesome teachers and awesome classmates :')

Kalo kuliah biasa, nggak akan ada yang nanya sampai sebanyak itu, sekritis itu .... whoaaa ..

note : setelah ini akan saya uplot commentaries dari day 1-last ...

Jumat, 18 Desember 2015

Hari Terakhir

Dalam hitungan satu setengah jam, saya akan masuk kelas untuk terakhir kalinya di S1 ini. Terkadang saya merasa, wow, the time past quickly, isn't it?

Tapi kalau dipikir, nggak juga. Ada waktu-waktu yang saya merasakan berjalan sangat lambat, seperti waktu menjalani tahun pertama kuliah, blok 4.2 juga blok elektif termin 2 ini, blok exploring the human enhancement technology.

Saya bersyukur saya menutup pembelajaran S1 ini dengan 'terjebak' di kelas HET ini. Somehow, dalam rentang waktu 2 minggu duduk di kelas ini, pikiran kami jadi lebih terbuka. Sangat amat terbuka bahwa ternyata ilmu kedokteran itu sempit cakupannya, dan ada banyak ilmu di luar ilmu kedokteran yang harus kami pelajari untuk menunjang profesi dokter.

Setelah kuliah ini selesai nanti, saya ingin bercerita lebih panjang tentang kelas ini, juga ingin meng-upload commentaries (semacam diari) yang kami tulis setiap harinya di discussion forum di portal akademik fk.

Setelah ini yang menanti saya untuk 2 bulan ke depan hanya tinggal ujian-ujian, remed-remed, juga skripsi. Kemudian ...

Ah.

Welcome to reality :')

Tapi, kalau dipikir-pikir sedih juga ...

Minggu, 13 Desember 2015

Terbatas

Seberapa jauh kita mau ikhtiar untuk berdakwah dan menabrak keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki untuknya?

Seberapa jauh?
Seberapa rela?
Seberapa ikhlas dan sabar?
Jika benar, semoga ini adalah memang ujian agar aku naik ke tingkat berikutnya. Jika benar, semoga ini adalah memang ujian atas niatan, amal, maupun ilmu yang ada dalam pribadi ini.

Semoga bukan azab atas kelalaian diri ini, atau atas ego yang tidak pernah mampu diri ini taklukan..

*Lillah, Lillah ... agar lelahnya tak sekadar lelah ..

Sabtu, 12 Desember 2015

Praktikum Medical Logistic : Banjir Kali Code



Yogyakarta menghadapi hujan besar selama sepuluh hari berturut-turut dengan intensitas yang bervariasi. Curah hujan tertinggi terjadi di daerah Boyolali dan Sleman. Pada hari ke-7, lahar dingin turun dari Gunung Merapi mengancam penduduk sepanjang kali Code dan Gajahwong. Level air di daerah Code dan Gajahwong naik hingga 3-5 meter, dengan aliran deras yang bercampur material vulkanik seperti abu vulkanik, batu-batuan, dan lumpur. 

Tim 11 adalah tim bantuan bencana yang dikirim oleh Fakultas Kedokteran UGM ke daerah banjir Kali Code. Tim ini beranggotakan 10 orang dengan rincian : 2 orang dokter umum, 2 orang dokter spesialis anesthesi, 1 orang dokter spesialis bedah, 3 orang perawat, 1 orang ahli gizi, dan 1 orang psikolog. Tim 11 berada di lokasi banjir selama 7 hari. Hari pertama Tim 11 tiba dan langsung melkaukan koordinasi dengan dinas kesehatan setempat dan relawan lain untuk pembagian lokasi kerja dan penanganan. Hari kedua Tim 11 menuju lokasi yang telah ditunjuk, mendirikan tenda pos pelayanan kesehatan, dan memberikan pelayanan kesehatan gawat darurat bagi korban dan pengungsi. Hari ketiga dan keempat Tim 11 selain melakukan pelayanan kesehatan, juga turut menyisir dari ujung ke ujung Kali Code untuk mencari korban yang masih terjebak banjir. Hari kelima Tim 11 menyisir lokasi yang masih terisolir. Hari keenam, Tim 11 melakukan promosi kesehatan di pos pelayanan kesehatan, termasuk promosi kesehatan tentang mencuci tangan dan kebersihan lingkungan. Di hari ketujuh, Tim 11 melakukan evaluasi internal dan evaluasi bersama dengan dinkes setempat; serta persiapan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Dalam proses pengiriman Tim 11 sebagai tim bantuan bencana terdapat beberapa kendala yang dihadapi, seperti cuaca yang tidak mendukung karena hujan deras, yang berimbas pada gangguan komunikasi jarak jauh akibat sinyal yang terganggu, serta kurang lancarnya komunikasi dan koordinasi dengan relawan lain di awal kedatangan tim. Namun, secara umum kegiatan operasional seperti memberikan pelayanan kesehatan dan pertolongan pertma bagi korban dan pengungsi dapat berjalan lancar. Demikian laporan ini dibuat sebagai dokumentasi tim manajemen bencana FK UGM dan agar dapat menjadi evaluasi dan refleksi bagi tim bantuan bencana berikutnya.

Note : 
Ini praktikum di blok lalu tentang disaster management. Sebenarnya udah pengen ngupload tulisan ini ke blog beberapa minggu lalu, tapi baru kesampaian hari ini *ada yang sok sibuk, haha*

Jadi ceritanya, tulisan di atas adalah report yang ditulis oleh saya sebagai tim leader
dari sebuah tim bantuan bencana yang dikirim FK UGM ke Kali Code yang sedang mengalami musibah banjir. Sebenarnya praktikumnya nggak benar-benar turun ke lapangan; tapi 'on the table' alias simulasi kasus dengan imajinasi. Jadi, ada skenario kasus, terus ada blanko logistik yang harus kami -satu kelompok praktikum ini-isi. Report yang dikumpulkan terdiri atas tiga hal : blanko logistik yang sudah lengkap, rencana tindakan medis lapangan, sama report yang saya tulis di atas ini.

Nah, bagian terseru adalah ketika kami harus melengkapi balnko logistik yang terdiiri atas tiga blanko : blanko logistik persola, blanko logistik tim, dan blanko logistik operasional. Hari itu, kami mendiskusikan akan membawa berapa baju, berapa celana, bawa alat mandi apa aja, bawa jas hujan atau bawa payung, bawa senter atau bawa lampu emergency, bawa perahu karet atau nggak, bawa tenda berapa banyak, bawa stetoskop pribadi atau kelompok, bawa tensimeter berapa banyak, kita mau bawa bawa obat apa aja. Waktu itu, kita diskusi mau bawa apa aja udah serasa kita mau turun ke lapangan beneran, seru banget deh. Kita berantem mau bawa telor asin atau telor bebek atau telor ayam buat logistik makanan, meski ujung-ujungnya yang ditulis di blanko kita bwa nasi bungkus. Kita berantem perlu bawa truk atau nggak, dan ujung-ujungnya ditulis kita motoran ke kali code, haha ...


Rabu, 02 Desember 2015

Bukan Kebetulan

Kemarin, dalam satu hari, saya bertemu dengan banyak orang yang sebenarnya saya paling hindari hari itu. Tapi, Allah berkehendak lain. Meski saya sudah menghindar, tetap saja Allah pertemukan. Wallahu a'lam mengapa.

Orang-orang yang saya temui hari itu, mengingatkan saya pada satu hal yang sama, "InsyaAllah ini bukan kebetulan. Allah berkehendak seperti ini atasmu. Jadi, pasti ada alasannya."

Iya, pasti ada alasannya. Mengapa saya harus di sana, dalam waktu itu, bertemu dengan orang-orang itu. Pasti ada alasan mengapa Allah tidak membiarkan saya menghindar. Mengapa Allah menginginkan saya ada di sana, pasti ada alasannya. Meski entah apa. Meski alasan itu belum tentu akan diketahui detik ini, hari ini; bisa jadi baru akan diketahui bertahun-tahun setelah hari itu.

Pasti ada alasannya. Pasti ada pelajarannya. Bukan kebetulan. Hanya saja saya cukup bersabar untuk belajar atau tidak ya?

-Semoga niat ini tidak bergeser dari menuju kepada-Nya. InsyaAllah.

Wallahu a'lam.

Selasa, 01 Desember 2015

Paham

Ada banyak hal yang saya nggak paham begitu menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dulu, saya banyak mempertanyakan hal-hal yang saya nggak paham ini. Tapi nggak banyak juga yng saya dapatkan jawabannya. Semakin saya tanyakan, semakin saya binung, dan seringpula justru jawaban itu ada ketika saya tidak menanyakannya. Tapi menjalakannya.

Jadi, sekarang meski tidak paham mengapa, saya memilih untuk tetap berjalan, sambil berdoa semoga Allah berkenan memperdalam pemahaman saya agar saya peka terhadap petunjuk-Nya. Dan biasanya jalan ini lebih mudah mendapat kepahaman, ketimbang terus-terusan bertanya, tanpa bertindak apapun.

Ihdinash shiraathal mustaqiim ...


Minggu, 29 November 2015

Tidak ada perjuangan yang tidak melelahkan.

Tapi semoga perjuangannya lillah, hingga meski lelah ia tetap berkah. Meski lelah, tapi tak ada kecewa. Meski lelah, ia tetap membawa seonggok jiwa ini semakin dekat ke arah surga.

Maka, meski lelah, meski berat, berangkatlah memenuhi panggilan ...

"Berangkatlah kamu dengan rasa ringan maupun berat ..." (QS 9 : 41)

Minggu, 22 November 2015

Bergantung

Ya Rabb, mengapa bergantung pada-Mu begitu sulit, sementara bergantung pada mahkluk-Mu begitu candu?

Padahal Engkau menjanjikan banyak hal. Dan menepati banyak hal.

Dan makhluk-Mu, meski menjanjikan banyak hal, tapi belum menepatinya.

Ya Rabb, mengapa bergantung pada-Mu begitu sulit, sementara bergantung pada makhluk-Mu begitu candu?

Minggu, 15 November 2015

Pengen ngepost ini :) : Tutorial 11.12





Terima kasih buat seluruh personel tutorial 11 yang sangat kece badai XD untuk 1,5 tahun ++ nya~ yang heboh, yang penuh gosip, penuh aksi dan atraksi, penuh narsis juga eksis, penuh perjuangan, dan penuh-penuh lainnya ...

Selamat berjuaaaaang di blok elective dan koasnya. Hope we'll be a good doctor soon ...

Kamis, 12 November 2015

Semakin Dekat

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, hari ini saya dan teman-teman seangkatan telah menyelesaikan Blok 4.2 tentang health system dan disaster management. Hari ini kami ujian blok CBT, meski H-2 ujiannya diundur 2 jam; tapi Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti.

Blok 4.2 sudah terlewati. Berarti dengan ini kami sudah melewati 20/21 masa S1. Tinggal satu blok lagi, usai sudah masa kuliah kami (kecuali tentu saja yang berniat extend). 3,5 tahun berasa secepat kedipan mata. Benar-benar cepat sekali rasanya begitu kita berada di penghujung semester.

Januari, sudah mulai OSCE kompre, Februari yudisium, Maret koas gelombang 1, Mei wisuda ... Insya Allah, jika semua berjalan lancar.

Ya rabb, sudah dekat sekali, ternyata ..

Dokter Berduka

Selamat Hari Kesehatan Nasional untuk seluruh rakyat Indonesia. Di hari yang sama, 51 tahun lalu, Kementrian Kesehatan berdiri di negara ini. 12 November 1964. Lantas apa yang membuat kita berduka, hai para dokter dan calon dokter di hari berdirinya Kemenkes ini?

Tentu akan sangat banyak jawabannya mungkin. Mulai dari masalah BPJS yang masih tidak kunjung kelar, pemberitaan media tentang dokter yang semakin menjerat dan mengkiat kinerja dokter, hingga ke tataran kemahasiswaan terkait pendidikan profesi mungkin atau internship?

Internship, sebuah program pengabdian wajib bagi seluruh mahasiswa fakultas kedokteran pasca pendidikan profesi (koas/dokter muda) yang berlangsung sekitar satu tahun; dan dengan selesainya internship, maka seorang dokter akan mendapatkan kompensasi berupa diberikannya Surat Izin Praktik (SIP). Melalui sebuah grup whatsapp yang berisi sekumpulan dokter dan mahasiswa kedokteran alumni SMA saya, saya tahu bahwa program ini pun masih banyak kacaunya. Regulasi yang masih samar, pendanaan yang kurang dari pemerintah, sampai wahana yang kurang. Dan program ini pula yang seringkali membuat dokter-dokter umum menjadi pengangguran. Jadi jangan dikira, kami-kami yang mahasiswa kedokteran ini, lantas akan mudah mendapatkan pekerjaan menjadi dokter di rumah sakit besar. Pun di antara kami, ada pula kesulitan-kesulitan. Ada pula kendala-kendala untuk mencapai ke sana. Untuk bisa menjadi dokter di rumah sakit pun kami juga melamar kerja, memasukkan CV, interview, dan lain-lain. Tidak beda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Dokter juga melamar kerja. Dan yang lebih penting lagi, untuk melamar kerja, dokter membutuhkan SIP. dan untuk mendapatkan SIP, kami-kami ini harus melalui proses yang panjang dan lama; salah satunya internship.

Secara umum, internship diadakan sebagai bentuk pengabdian dokter di fasilitas kesehatan yang berada di daerah-daerah, meski ada pilihan daerahnya. Tapi tentu saja, untuk menunjang hidup di pedalaman itu, dokter diberi 'pesangon' 2,5 juta per bulan. itu yang saya tahu, dan sepertinya itu belum termasuk bayar asuransi dan lain-lain; karena dari pembahasan grup wa tadi, bahkan internship yang programnya bisa dibilang program pengabdian saja, support dana dari pemerintah tidak memadai.

Dan begitulah, hingga hari kemarin, kami mendapat kabar seorang dokter internship meninggal dengan diagnosis encephalitis post morbili. Dokter Andra, panggilannya. Beliau internship di daerah Maluku, Kep,Aru. yang transport keluar-masuk daerah tersebut sulit. Yang pengobatannya pun terkendala biaya. Kami berduka atas kepergian seorang teman sejawat kami dalam masa tugasnya di Maluku, dalam masa pengabdiannya bagi bangsa. Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya lah kami kembali.

Selamat jalan dokter Andra, meski saya tidak mengenalmu. Tapi saya turut berduka cita. Semoga segala dosa diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan....

(mengenakan pita hitam)

Rincian kejadian (saya ambil dari grup profesi dokter Alumni SMA saya) : 

Hari ini kami mengikuti sebuah kisah lewat Group WA IDI Kaltim, tentang perjuangan seorang Dokter Internship di Kepulauan Aru.
Turut berduka cita … rest in peace dr Dionisius Giri Samudra

11 November 2015 (12.00 WITA)
Emergency Call untuk semua sejawat yang bisa membantu junior kita Dokter Internship di Maluku Tenggara.
Pasien a/n dr. Dionisius Giri Samudra. Dokter internship RSUD Cendrawasih Dobo, Maluku Tenggara Kepulauan Aru.
Kondisi saat ini: febris dengan penurunan kesadaran. Data trombosit: 50.000 Butuh segera evakuasi untuk mendapatkan perawatan selanjutnya di pusat pelayanan kesehatan lanjutan.

11 November 2015 (16.00 WITA)
Perkembangan terakhir:
1. Sarana transportasi semua sudah ready. Yang bermasalah adalah keadaan dr.Andra yg untransportable.
2. Pemerintah daerah telah membantu dengan maksimal mengenai transportasi dan segala sarana, intinya pemerintah daerah tidak lepas tangan, bahkan mereka yang mempersiapkan semuanya.
4. Diagnosis sementara masih encephalitis viral dd morbili
5. Ada dua orang Sp.PD yang di Dobo dan langsung menangani dr.Andra yang selalu terpantau.

11 November 2015 (17.00 WITA)
Perkembangan terakhir:
Pasien terintubasi dengan GCS e1m1v1, dengan Epinefrin 6mcg, TD: 87/65, N: 150, T: 40 derajat, saturasi: 80%.
Diagnosis sementara: Encephalitis.
Pasien rencana akan dirujuk ke Tual, namun tidak transportable. Namun orang tua tetap ingin dirujuk.
Demi patient safety, saat ini ditahan dulu di RSUD Dobo, jangan ditransport dulu, apalagi pakai speedboat, risiko ombak besar dan medan yg berat.

Perkembangan terakhir:
Sedang dikoordinasikan oleh 221:
1.Pesawat jet dari Halim Perdanakusuma direct to Timika dengan membawa team medis dari ER, Emergency Response group RS Bunda Jakarta.
2. Pesawat ATR dari Timika ke Dobo PP. Sedang menunggu availability pesawat2 tsb. Team medis menurut info sdh siap deploy dari Jakarta.
Tapi sementara ini, usahakan tetap stabilisasi pasien di RSUD Cendrawasih dengan semua kemampuan yang ada dan jangan ditransfer dulu.
Orangtua dr.Andra sudah di Dobo. Kondisi pasien belum dapat dipindahkan dengan aman karena dicari fasilitas transport yang aman.

Perkembangan terakhir:
Pesawat yang masih bisa landing di runway Dobo adalah sejenis ATR 42. Sudah coba dikontak ke semua unsur potensi penerbangan yang ada, baik charter flight, TNI-AU, POLRI. Sampai saat ini, belum ada airline yang berani menyanggupi untuk mendarat di Dobo dikarenakan panjang runwaynya pas-pas-an. Sekitar 1200 m, pilot banyak yang tidak berani ambil risiko. Untuk rute Halim Perdanakusuma to Timika, masih bisa dijangkau dengan charter flight jet. Untuk rute Timika to Dobo masih belum ada yang berani.

11 November 2015 (18.00 WITA)
Telah meninggal dunia. dr. Dionisius Giri Samudra (Andra), dokter Internsip penempatan RSUD Cenderawasih Dobo Kepulauan Aru. Penempatan periode Mei Tahun 2015, karena Encephalitis Post Morbilli. Meninggal di RS Dobo pukul 18:16 WIT. Rencana evakuasi jenazah akan dilakukan besok atas koordinasi Pemda Kabupaten Kepulauan Aru dan Pemda Kabupaten Tual.


-------------------------------------------------------------------------------------------------

catatan :
Sengaja saya post di blog, supaya hal ini tidak hanya jadi konsumsi kami-kami yang memang bergelut di profesi ini. Agar pemberitaan media tidak melulu tentang hal-hal negatif tentang dokter, entah itu tentangdokter yang lalai, tentang dokter dengan medical representation, atau hal-hal lainnya. Ketahuilah, di antara dokter-dokter yang diberitakan negatif, masih banyak dokter yang dedikatif terhadap profesinya. :)

Selasa, 10 November 2015

Kewajiban dan Hak Dokter dan Pasien

Kewajiban Dokter :
-Mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR)
-Mempunyai Surat Izin Praktik (SIP)
-Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar praktik operasional
-Menghormati hak pasien
-Memberikan penjelasan secara lengkap tentang kondisi pasien, tindakan medis dan terapi yang akan dijalani serta biayanya (inform)
-Meminta persetujuan pasien sebelum melakukan tindakan medis (consent)
-Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian/kemampuan yang lebih abik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan/pengobatan
-Membuat dan memelihara rekam medis
-Merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang pasien, bahkan setelah pasien meninggal. Rahasia ini hanya dapat dibuka untuk (1) kepentingan pasien; (2) permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka menegakkan hukum; (3) permintaan pasien sendiri; atau (4) berdasarkan ketentuan perundang-undangan, misal saat ada wabah (outbreak)
-Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya
-Menambah ilmu pengetahuan dan mengembangkan ilmu kedokteran

Hak Dokter ;
-Mendapat perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar operasional
-Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi daan standar praktik operasional
-Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan atau keluarga pasien
-Menerima imbalan jasa
-Menolak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan etika, hukum, agama, dan nurani
-Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien, jika menurut penilaiannya kerjasama dengan pasien sudah tidak ada gunanya (pasien tidak kooperatif), kecuali dalam keadaan gawat darurat
-Menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya, kecuali dalam keadaan darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya
-Hak atas privacy dan ketentraman bekerja
-Mengeluarkan surat keterangan dokter
-Menjadi anggota perhimpunan profesi

Kewajiban Pasien :
-Memberikan informasi yang benar dan jujur tentang masalah penyakitnya
-Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
-Mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku di sarana pelayan kesehatan
-Memberikan imbalan jasa atas pelayanan medis yang diterima

Hak Pasien :
-Hak menentukan keputusan sendiri (the right to self determination)
-Hak memperoleh pelayanan kesehatan
-Hak untuk memperoleh informasi dan perlindungan
-Hak untuk alternatif kedua (second opinion)
-Hak untuk memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis
-Hak untuk melihat dan mendapatkan data rekam medis
-Hak untuk terjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadinya
-Hak untuk menuntut ganti rugi akibat kelalaian yang dilakukan oleh dokter


Noted!


Sumber ;
Slide lecture dr. Beta Ahlam G., Sp.F dengan judul "Legal Aspect in Medicine" dalam kuliah untuk Pendidikan Dokter 2012 FK UGM Blok 4.2 Health system and disaster management.

Senin, 09 November 2015

Hujan siang tadi

Hujan turun sesiangan tadi. Bukan hanya rintik kecil yang numpang lewat; seolah menggoda manusia yang sudah beberapa pekan terakhir terpanggang oleh teriknya matahari siang. Siang tadi benar-benar hujan. H.U.J.A.N. Dan kini, hawa hujan masih tersisa. Mendung yang menggelantung di langit; petrichor yang menyeruak masuk ke hidung seketika pintu-pintu dan jendela-jendela ruangan di buka; juga hawa dingin yang menyapa kulit, merasuk masuk melalui celah-celah baju dan jaket.

Siang tadi benar-benar hujan. Dalam bulir yang besar. Deras. Lama. Menyenangkan mengetahui hujan kembali ke sini. Aku kira, ia sudah bosan untuk turun ke bumi, mengingat kini bumi sudah sangat rusak, juga -mungkin terlihat jelek dari atas sana. Aku lupa, kalau hujan juga berasal dari bumi.

Siang tadi benar-benar hujan. Menyenangkan rasanya menghirup petrichor yang sudah lama tak tercium. Hampir-hampir lupa betapa menenangkannya petrichor itu. Menyenangkan rasanya melihat mendung di langit-langit bumi; ia menandakan bahwa hujan tidak hanya sekali akan turun. Meski mendung belum tentu hujan. Dan hujan dapat turun tanpa mendung.

Siang tadi benar-benar hujan.


                                           Rindu ini sedikit terobati.


                                                                                   Allahumma shayyiban naafi'an.



------------------------------------------
Hari kemarin, usai hujan deras sesiangan.
Merindu hujan, merindu rumah.

Rabu, 28 Oktober 2015

Jatuh Cinta pada Ide Tentang Seseorang

Awalnya judul ini gue dapetin di buku Teman Imaji-nya Kak Mutia Prawitasari. Ketika Kica, si tokoh utama diperingatkan oleh Kak Rasya agar jangan jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Tapi, setelah kemaren ngerandom bareng anak kampus dan berujung pada nobar film Paper Town-nya John Green, gue jadi mengingat kalimat itu lagi.

Film Paper Town ini dengan cukup jelas menggambarkan kalimat yang gue pake sebagai judul. Jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Film ini berkisah tentang Quentine yang biasa dipanggil Q dengan Margo, tetangganya yang baru. Bagaimana Q, laki-laki yang -sangat tidak mau terlibat masalah- jatuh cinta pada Margo -yang selalu tertarik akan misteri. Bagi Q, karena ketertarikan Margo akan misteri, ia menjadi bagian dari misteri itu. Bagi Q, Margo adalah misteri. Semua orang, termasuk Q memandang Margo sebagai sesosok gadis sempurna, yang sangat menikmati kehidupannya. Ia enjoy dengan petualangan-petualangan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia melakukan perjalanan yang tidak pernah dilakukan oleh anak SMA dengan bahagia. Dan ia memiliki segalanya, teman, pacar, perhatian, populer. Semakin keduanya beranjak dewasa, semakin keduanya tidak pernah berbicara. Hingga suatu ketika Margo menyelinap diam-diam ke kamar Q melalui jendela. Memintanya menjadi partnert 'balas dendam' nya atas perselingkuhan pacarnya. Q tidak menyangka hari itu akan datang. Hari dimana akhirnya mereka berdua berbicara kembali.

Lalu, sehari setelah kejadian balas dendam itu, Margo menghilang. Entah kemana. Anehnya, ia meninggalkan petunjuk pada Q, kemana ia menghilang. Dari sanalah Q -dibantu oleh teman-temannya mulai mencari Margo dengan segala petunjuk yang ada. Di akhir cerita, akhirnya Q bertemu dengan Margo setelah memutuskan menunggu di Paper Town. Dan menyatakan cintanya pada Margo.

Tapi, Margo mulai perlahan menjelaskan ini itu yang membuat Q sadar bahwa, yang ia  cintai adalah Margo yang ada dalam pikirannya. Yang ia cintai adalah ide tentang Margo yang ia bangun. Dan mungkin bukan Margo itu sendiri.

Begitu. Dan setelah dari sana, beberapa temen kecewa karena akhirnya gitu aja. Tapi menurut gue ceritanya bagus. Pemaknaannya bagus. Mungkin banyak yang mengangkat tema tentang cinta, either itu happy end atau sad end. Tapi, Paper Town nggak happy end, tapi juga nggak sad end. John Green membuatnya akhirnya menjadi adil. Adil untuk Margo yang ingin menemukan dirinya -yang bukan image yang ia bangun selama ini. Adil untuk Q yang akhirnya sadar bahwa ia bukan jatuh cinta pada Margo, tapi pada ide tentang Margo.

Mungkin, di kehidupan sehari-hari pun, nggak jarang terjadi. Yang namanya jatuh cinta pada ide tentang seseorang. Seringkali orang membangun image dalam dirinya sendiri tentang seseorang yang ia cintai secara berlebihan. Melebih-lebihkannya, menyimpannya dengan sangat rapih. Padahal jangan-jangan, orang yang kita cintai tidak benar-benar seperti apa yang kita bayangkan. Pada akhirnya, karena kita membangun image baik yang berlebihan itu, kita juga jadi membangun image diri kita yang bukan diri kita. Alias kita jadi -tidak-menjadi-diri-sendiri-saat kita mencintai.

Dan, lebih jangan-jangan lagi adalah, jangan-jangan jatuh cinta itu cuma ada dalam pikiran kita. Bukan hati kita ...


Ternyata, jatuh cinta itu tidak sederhana.

Senin, 26 Oktober 2015

Meletus

Aku kira, balon hijau yang kemarin meletus, sudah sepenuhnya meletus. Sudah semua udaranya keluar dan memecah belah dinding karet si balon.

Ternyata tidak.

Balonnya tidak benar-benar meletus. Ia tidak pecah. Hanya udaranya saja yang keluar melalui pintu masuk. Tapi masih ada sisa udara di dalamnya.

Dan kini, balon itu diisi udara lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi....
      Dan entah masih butuh berapa "Lagi" untuk menggambarkannya,

Hingga pemiliknya tak sadar, balonnya sebentar lagi (mungkin) pecah.

DOR!

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hari Dokter Nasional bersama Pendidikan Dokter Reguler 2012


Selamat Hari Dokter Nasional -24 Oktober 2015- Untuk seluruh dokter dan calon dokter di Indonesia! :)

Especially for everyone in School of Medicine batch 2012, Gadjah Mada University :)

Bersamamu aku tumbuh.
Bersamamu aku berkembang.
Sebentar lagi masing-masing dari kita menjejak ranah realita. Kehidupan klinik yang jauh dari idealita yang diajarkan di bangku perkuliahan.
Semoga kita tidak tumbang dalam perjalanan menuju cita-cita untuk meraih gelar kemuliaan.
Kita kuat, dan saling menguatkan.

Dan,
kita sehat dan harus mensehatkan ...

Tidak ada yang mudah dalam mencapai impian yang besar.
Tapi bersamamu, aku yakin kita mampu melewati ketidakmudahan itu ..
Hingga tanpa sadar kita sudah berjalan bersama dengan guru-guru kita, kakak-kakak kita, sesama spesies berjas putih ...

Kita kuat, dan saling menguatkan.

Kita adalah (calon) dokter. Dan sejak kita mendeklarasikan diri untuk menjadi (calon) dokter, hidup kita sudah bukan milik kita lagi, hidup kita sudah bukan sekadar mempersoalkan diri kita lagi; tapi hidup kita sudah menjadi milik pasien ...

Sudah siapkah kita?

Tidak apa, kita kuat, dan saling menguatkan :)


Foto diambil : 
Jumat, 23 Oktober 2015; Jam 11 lewat sekian usai kuliah panel tentang Interprofesional Education. 
Blok 4.2 : Health System. Di depan KPTU FK UGM.

Jumat, 23 Oktober 2015

Janji


Jumat lalu, melalui telepon seluler

"Dek, kamu besok ada kuliah?"
"Nggak, Bu. Tapi besok pagi tyani ngisi. Terus siangnya tyani ngurusim acara krn panitia."
"Oh besok Ibu sama Bapak balik ke Depok. Kalo kamu kosong Ibu mampirin Jogja. Kalo km sibuk ibu lgsg ke Depok."
"....."
"Gitu ya Dek?"
"Hari Minggu aja Ibu ke sininya ..."
"Ibu senin ada jadwal ngaji, Bapak udah mulai detlen majalah"
"....."
"ya kamu kan sibuk toh ..."
"Mmm siang deh bu ke sininya. Nnti tyani kan cuma konsum, siang udah selesai palingan ..."
"Eh jangaan.. Kalo ada kerjaan gitu dikerjain sampai selesai lah, dek .."
"....."
"Nanti Ibu ke tempatmu kalo Ibu Bapak ke jogja aja ya ..."

"...."
Nanti itu kapan ya?


Kapan ya terakhir kali percaya sama kata 'nanti'?
Kapan terakhir kali benar-benar percaya sama janji?

Kalau sudah begini, cuma bisa berdoa, semoga masih bisa bertemu, entah besok, lusa, satu bulan lagi, satu semester lagi, atau bahkan bertahun-tahun kemudian saat diri ini menyandang gelar baru ...

Semoga, semoga, Ya Allah ...

 

Senin, 19 Oktober 2015

Cermin : Hening

Kita sama-sama terdiam. Sama-sama bingung harus memulai darimana pembicaraan kita.
"Jadi ..."
"Jadi ..." tanpa sengaja, kita berujar bersamaan, berniat dulu-duluan memecah kesunyian yang menyiksa. Tapi kemudian tak ada satu pun dari kita yang melanjutkan. Hening lagi. Kita sama-sama menunggu. Meski entah menunggu apa. Kita sama-sama terdiam. Meski entah karena apa. Kita sama-sama tidak berani memandang satu sama lain. Meski, kita tahu kita sama-sama merindu.

Hening masih belum pecah. Masih belum ada dari kita yang berniat untuk melanjutkan kata "Jadi" yang terucap tadi. Aku mengulum bibir. Ragu-ragu mau berbicara. Kamu pun gelisah, sedari tadi memutar-mutar jam tangan yang melingkar di lenganmu, kebiasaanmu sejak dulu jika sedang gugup.

Kita sama-sama gugup. Gelisah ingin bersuara. Gelisah ingin berbicara banyak hal. Mengobrol ini itu. Ngalor ngidul sampai jauh dari topik awal. Seperti dulu lagi.

Tapi kita masih sama-sama diam. Hening ini semakin menyesakkan, beriringan dengan suara detikkan yang tiada habisnya.

Kita sama-sama menunggu. Meski entah menunggu apa. Kita sama-sama menunggu keheningan ini pecah entah oleh apa saja, atau siapa saja!

Kita masih menunggu. Dan hening masih menggantung ...



Note :
tadinya mau di post pas ada lomba cermin di salah satu grup wa. tapi entah kenapa urung saya post di sana. Jadi saya post di sini saja. karena namanya cerita mini. Jadi ceritanya emang cuma segini. Bahkan saya aja ga tau maknanya apa. wkwkwkwk ....

Rabu, 14 Oktober 2015

Sedang sangat ingin pulang. Meski entah kemana.

Salatiga, 14 Oktober 2012

Minggu, 11 Oktober 2015

Tahun ke-10

Diingatkan Fitri tadi, sepulang rapat, sepulang makan; Ternyata, tahun ini sudah tahun ke-10 berada di perantauan. Sudah separuh dari usia diri ini.

Sudah dapat apa Ty selama 10 tahun terakhir?

Kamis, 08 Oktober 2015

*Bukan Copy Paste

ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis ingin menulis
Husnudzhon alias berpikir positif terhadap sesuatu memang sulit dilakukan, karena manusia cenderung berpikiran negatif.

-Suatu ketika dalam ruang terapi
I got all I need when I got You and I
I look around me, and see sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night
Can’t stop my heart when You shinin’ in my eyes
Can’t lie, it’s a sweet life
I'm stuck in the dark but You're my flashlight
You're gettin’ me, gettin’ me through the night

(Flashlight, Jessie J) 

Rabu, 07 Oktober 2015

Sudah bulan sekian ...

Sudah bulan sekian. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian tahun. Tinggal sekian bulan lagi menuju pergantian status, dari mahasiswa preklinik menjadi mahasiswa klinik.

Sudah bulan sekian. Sisa sekian bulan menuju pergantian tahun. Semoga diri ini diberi kesadaran, diperdalam pemahaman, dan diperluas hatinya.

Sudah sekian bulan, sekian tahun berada di tempat ini. Kapan sadar?

Gedung Radiopoetro FK UGM
10.56 WIB

Minggu, 04 Oktober 2015

Bersyukur atas . . .

Berysukurlah ketika kita masih diringankan langkahnya untuk datang ke forum ilmu. Bersyukurlah ketika hati kita merasa tidak nyaman ketika berbuat yang tidak baik. Bersyukurlah karena masih bisa bersyukur.

Karena itu berarti Allah masih mau memberikan 'Nur'nya dalam hati kita ...

*refleksi dua hari ini ...
Bersyukur Ty ...

Rumah di Ujung Jalan

Rumah itu berada tepat di ujung jalan. Rumahnya bukan rumah kokoh yang dibangun dengan beton, bata, atau sejenisnya. Ia hanya rumah kecil dengan dinding kayu yang bisa rubuh kapan saja. Awalnya aku mengira rumah itu hanya gubuk kosong atau pos penjagaan yang sudah tidak terpakai. Tapi, sekali waktu aku lewat di depannya, ada seorang kakek-kakek duduk di bangku kayu di depannya. Bangku yang juga sama reotnya dengan rumah itu. Sekali waktu yang duduk di sana seorang nenek-nenek. Dan sekali waktu keduanya duduk berdua di depan. Keduanya tidak melakukan apapun. Hanya duduk saja di sana, menikmati cuaca Jogja yang akhir-akhir ini memanas beberapa derajat.

Tapi keduanya terlihat menikmati suasana saat duduk di depan rumah reot itu. Entah karena keluhannya sudah terpendam jauh selama hidupnya, atau karena memang tidak ada keluhan lagi yang perlu dikeluhkan? Atau memang sebenarnya tidak perlu ada keluhan. Karena kebahagiaan adalah sebuah persepsi. Pun keluhan dan masalah juga buah dari persepsi.

*Semoga ketidaknyamanan ini hanya sesaat.
Baytul Quds, di siang yang panas, di hari-hari kesabaran dan 
keridhaan akan takdirnya Allah sedang sangat dibutuhkan. 
Fashbir Shabran Jamiilan.

Menjadi Peduli

Tertanggal kemarin malam, seorang teman mengepost di salah satu grup whatsapp, seperti ini : Mau nanya

"Tak usahlah kita memperdulikan orang yang tak peduli dengan kita"
 adakah yang salah dengan kalimat ini?
*jawab besok aja kalau berkenan

Pertanyaan ini teggelam oleh pengumuman lomba menulis  akhirnya. Sebenarnya saya punya pemikiran tentang ini, tapi saya sepertinya enggan muncul di grup massal selain untuk memberi emoticon terompet (haha).

Saya juga pernah punya pertanyaan yang sama. Dengan kalimat yang sama, tapi yang kalimat 'jawab besok aja'-nya nggak ada. Haha. Di satu sisi, seperti jawaban seorang teman, nggak ada yang salah dengan kalimat ini. Tapi toh ini semua bergantung pada individu masing-masing akhirnya. Bergantung pada pilihan hidupnya, because life is choice. Apakah ketika ada yang kita akan tetap memperdulikan orang yang bahkan nggak sedikit pun peduli dengan kita, atau kita memilih bersikap yang sama dengan orang tersebut. Dia tidak peduli dengan kita, so, kita juga tidak perlu peduli dengan mereka.

Kalimat ini pun, salah atau tidaknya akan bergantung pada konteks situasi dan kondisinya. Saya merasa kalimat ini sangat salah ketika konteksnya adalah mengajak kepada kebaikan dan melarang pada kemunkaran, atau lebih simpelnya bolehlah disebut dalam dakwah. Dalam berdakwah, orang setidak peduli apa pun, toh kita tetap harus, wajib, kudu, berdakwah ke orang tersebut, karena kita nggak tau pintu hidayah yang mana yang akan dibukakan oleh Allah untuknya. Rasulullah pun begitu, tetap mengajak orang-orang mentauhidkan Allah, meski orang-orang tersebut menolak, juga tidak peduli alias abai. Kita pun, sebagai pewaris risalah para nabi punya kewajiban yang sama. Memperdulikan orang yang tidak peduli. Membuat orang-orang yang tidak peduli ini agar jadi peduli. Dan jangan sampai yang sudah peduli malah jadi nggak peduli.

Saya jadi ingat waktu forum pekanan, di suatu pagi, dimana kami membahas tentang kesabaran, ada salah seorang teman yang bilang, bahwa 'mengajak orang itu nggak ada kata selesai, nggak ada kata orangnya udah nggak bisa diajak lagi, atau orangnya udah nggak bisa diapa-apain lagi nih', kalau sudah begitu, berarti kitanya yang mungkin sedang lelah. Orang itu masih bisa diajak sebenarnya, setidakpeduli apapun ia, kita mengenal Umar bin Khattab, kita mengenal Khalid bin Walid yang sangat memusuhi Islam, tapi berkat kesabaran Rasulullah dan para sahabat dalam mengajak pada ketauhidan, akhirnya Allah membukakan pintu hati keduany hingga kini kita mengenalnya sebagai salah satu sosok sahabat Rasul yang sangat membela Islam.

Iya itu. Tapi kalo konteks lainnya adalah misal kita mau pakai baju, atau kita mau presentasi atau apa, terus kita mengkhawatirkan presepsi orang alias kita takut dengan tanggapan orang, padahal orang lain juga belum tentu peduli atau bahkan nggak peduli sama sekali, ya yang kayak gini mah buat apa peduli. Eh, atau ini jadinya malah 'Tidak usah memperdulikan tanggapan orang, toh mereka belum tentu peduli'. Haha. Yah, jadi beda konteks deh. Haha.

Yah, pokoknya intinya gitulah.

Kamis, 01 Oktober 2015

Sampai Jumpa RumahKita, RumahWacana!

Kepindahan kami -anak-anak RumahKita, rumah di kolong jembatan teknik, Kali Code, sebenanrya sudah tertunda berkali-kali. Maklum, ketiga orang penghuninya adalah detlener sejati. Haha. Atau procastinator? Akhirnya, saat benar-benar akhir september tiba -bertepatan dengan hari dimana kita harus membangunkan Green Day atas permintaannya melalui lagu "Wake Me up When September End"- itu barulah ketiga bocah ini, dibantu oleh seorang "Bundo" si 'Afifah, mau pindahan total. Lemari, juga kasur dan setumpukkan kardus-kardus berisi entah apa, diangkut oleh pick up yang ditemui sedang nangkring di pinggir jalan, bareng sama supirnya.

Pindah. Akhirnya RumahKita yang sudah sejak tiga tahun lalu mewacanakan untuk pindah rumah -tapi tetap saja hanya jadi wacana- benar-benar pindah di tahun keempat kuliah. Dan pisah rumah (bukan pisah ranjang, karena emang kagak ada ranjangnya). Dua orang mondok dengan rajinnya di Inayatullah, Jalan Monjali. Dan satu orangnya bermalas-malasan di kontrakan yang baru. Tetap saja lebih sering tidur ketimbang belajarnya. Haha. Meski pindahannya pun pas di hari terakhir kontrakan habis. Di hari dimana Ibu kontrakan nyamperin ke rumah, nanyain, memastikan bahwa kami benar-benar akan pindah. Haha.

Pasti, akan merindukan masa-masa tiga tahun di RumahKita, sama para penguhinya, sama rumahnya, sama Ibu kontrakannya, sama tetangga-tetanggnya, sama suasana turun dari jembatannya. :) Pasti akan sangat merindukan :)

Welcome to Baytul Quds

Rumah ini bernama Baytul Quds, entah karena apa. Entah siapa yang memberi nama atau memilih namanya. Dulunya berlokasi di daerah Pogung Lor, yang berjarak sepelemoaran batu dari warung SS di Pandega Marta. Tapi kini, rumah ini sudah pindah, bergeser beberapa kilo meter dari sana, menyebrangi ring road utara, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meski ini bukan pertama kalinya saya ke sini, bukan pertama kalinya pula saya tidur di sini, tapi hari ini (sebenarnya terhitung sejak kemarin), saya resmi menjadi salah satu penghuni Byatul Quds ini. Barang-barang saya, kini sudah turut pindah, bukan hanya orangnya seperti saat masa-masa OSCE KBK 3 kemarin. Haha. Kini, penghuninya genap 10 orang dengan saya, kesemuanya adalah anak prodi dokter 2012. Rumah ini jadi sedikit lebih ramai. Semoga juga menjadi lebih baik :)

Minggu, 27 September 2015

Besok itu ...

Besok itu responsi farmako. Empat hari setelahnya ujian blok.

Lusa angkut-angkut barang ke kontrakan baru. Meski belum ada barang yang selesai di packing.

Tapi, kalo sendirian di kontrkan gini, mau ngapa-ngapain jadi ogah-ogahan yak. Bersyukur di awal kuliah di jogja nggak memutuskan untuk ngekos sendirian. Entah jadi apa kerjaan saya ... *meski ga tau ada hubungannya atau nggak* yasudahlah ...

Belajar Ty ...

Jumat, 25 September 2015

Hari ini, Instalasi Gawat Darurat, Anafilaksis

Hari ini, seorang teman berinisial R datang ke ruang tutorial dengan masker. Hidungnya tidak berhenti bersin. Matanya berair. Semakin lama diskusi di ruang tutorial itu berjalan, semakin parah pula pileknya, matanypun semakin berair. Usai diskusi berjalan, si R tanya, "Eh Ty, mataku bengkak ya?" Dan begitulah awalnya.

Sekitar jam sepuluhan, separuh anak kelompok tutorial saya tak sengaja bertemu saya dan A yang terdapar di pelataran Grha Wiyata depan lift lantai 2 karena nggak dapet ruangan. Tiba-tiba, seseorang dari separuh itu bilang (tapi saya lupa siapa gitu yang bilang, haha.) "Eh Ty, temenin R ke IGD yuk! Makin parah nih kayaknya alerginya." Dan saya dan A langsung mengiyakan, dan jalanlah kami ke IGD lewat jalur 'adem' alias jembatan yang menghubungkan FK dengan Sardjito di lantai 3, haha. Well, sepanjang perjalanan, jujur aja saya deg-degan karena R perlahan napasnya mulai setengah-setengah. Mulai sesak napas. Matanya terus berair nggak berhenti. Setiap saya tanyain "Mau duduk dulu po?" Dia cuma nunjuk ke depan, maksudnya 'jalan aja terus', tapi bahkan ngomong aja beliau udah kesulitan karena napasnya yang sudah mulai tersengal. Di lift turun ke bawah kami terpisah karena liftnya ga cukup. Saya R, An sama Al turun duluan ke IGD. Kita masuk ke IGD lewat jalur 'pegawai' haha. Saya nuntun R sampai ke meja dokter triase sambil degdegan. Ya gimana ga degdegan, orangnya aja udah makin ga bisa napas, jalan aja udah nyender di sepanjang dinding rumah sakit. Al sama An jalan duluan ke depan, ke meja administrasi, sementara saya sambil nyeret R, menghampiri dokter triase, "Dok, maaf ini temen saya mau periksa." Terus dokter dan perawat IGD langsung sigap menolong R yang udah susah payah berdiri, diambilin bed troli yang terdekat, dibopong untuk naik ke atasnya.

Dokternya tanya, "Ini kenapa mbak?"

Saya jawab sesuai yang saya tau aja, "Alergi dok. Alergi obat."

"Habis makan obat apa emang?"

"Neu*****n, dok"

Terus habis kejadian itu Al dan An masuk karena bingung sama administrasinya, dan teman-teman lainnya yang terpisah di lift tadi, dan saya keluar ngegantiin Al dan An ngurusin administrasi, meski saya juga ga tau apa yang harus diurus di sana ._.

Dan ternyata selama ngurus administrasi itu, R masuk ruang resusitasi, dan saat itulah dokter triase memanggil tim dokter dan bilang kalau R pasien level 1.

Dan ternyata (lagi), entah kenapa hari itu IGD Sardjito sangat amat full sekali banget. Waktu kami-kami ini nunggu di depan IGD, satu ambulan bersambut ambulan lainnya yang bawa pasien, belum ditambah mobil pribadi atau taksi yang juga bawa pasien untuk ke IGD. Kami sampai heran, waktu jamnya kami field visit ke IGD pasiennya kurnag dari sepuluh dan bisa bangetlah dihitung dengan jari. Hari ini, hari dimana salah seorang teman kami harus masuk IGD, dokter-dokter bahkan sampai bingung siapa yang harus dikeluarkan dari ruang resusitasi karena ada pasien lain yang masuk dan membutuhkan tindakan cepat.

Kalau ceritanya dari teman T yang sempat menjaga R di dalam ruang resusitasi beberapa saat, bilang kalo tadi aja tensimeter, pulseoxymeter nya gantian dari pasien ke pasien lainnya dengan cepat. Hari itu, kami bersekian yang berada di penghujung blok emergency ini, cukup takjub dengan field visit kedua kami ke IGD -meski tanpa dosen pembimbing. Tapi, kami menyaksikan langsung ke-hectic-an IGD seperti di film-film. Dan bahkan, teman saya si R itu ketika sudah stabil aja nggak dapet ruang dan dimonitoring di koridor IGD bersama dengan tiga pasien lainnya ...

Yah tapi begitulah ... hari ini. Hari yang mendadak juga menjadi hectic buat kami :)

Minggu, 20 September 2015

RumahKIta : Rumah di Kolong Jembatan #2

Sudah dua hari terakhir, begitu pulang dari luar dan kembali ke rumah ini, rumah ini menjaid lebih lenggang daripada sebelum-sebelumnya. Meski sudah terbiasa sendirian di sini karena waktu libur yang berbeda, tapi kali ini, tidak ada lagi yang kutunggu. Tidak ada lagi yang kembali kemari.

aah, aku juga harus cepat pergi.

Sabtu, 19 September 2015

RumahKita : Rumah di Kolong Jembatan #1

Pernah tidak merasa kamu ingin melakukan sesuatu, tapi semakin kamu pikirkan, semakin kamu ucapkan semakin kamu tidak ingin melakukannya? Dan itulah yang terjadi padaku hari ini. Sebelum akhirnya tertidur tadi, aku sudah berkali-kali memikirkan bahwa aku harus segera membereskan barang-barangku, mempacking nya dalam kardus-kardus kosong yang entah dari mana. Aku harus segera berpindah tempat. Hari ini, atau besok. Tapi ..

semakin aku memikirkannya, semakin aku tidak ingin melakukannya.

Jumat, 18 September 2015

Jangan Melupakan

Bila ada kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu, yang harusnya dilakukan bukanlah melupakan masa lalunya. Bukan pula melupakan diri sendiri atau hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu. Tapi maafkanlah. Maafkan orang lain yang berbuat tidak menyenangkan padamu di masa lalu. Maafkan lingkungan di masa lalu yang membuatmu menjadi seperti ini. Dan utamanya, maafkan diri sendiri yang mungkin berbuat tidak menyenangkan di masa lalu.

Karena, melupakan bukanlah solusi. Melupakan hampir sama dengan menghindari situasi. Dan sebenarnya akan selalu ada ruang -yang entah kapan akan muncul- untuk kita mengingat kembali masa lalu yang menurut kita tidak menyenangkan itu. Dan bila sewaktu-waktu tuang itu muncul di tempat dan waktu yang tidak tepat, akan membuat diri kita gagap akan masa kini, langkah kita mendadak jadi tertahan oleh masa lalu. Mau tidak mau, disadari atau tidak, jika kita hanya melupakan masa lalu tanpa memaafkannya, kita akan selalu terkekang dengannya.

Sementara bila memaafkan, itu berarti kita telah menerima. Menerima masa lalu sebagai bagian dari diri sendiri. Menerima diri kita yang tidak sempurna. Mungkin, itu yang disebut dengan berdamai dengan hati?

Penjagaan

Kalau kita mau berpikir dan kita memang meminta untuk dijaga hati dan raga kita oleh Allah SWT, sebenarnya ada banyak hal yang memang sudah Allah lakukan untuk penjagaan diri kita. Mulai dari peringtan-peringatan kecil, seperti ketidaknyamanan hati dalam menjalankan aktivitas atau mungkin yang nyata-nyata melalui teguran orang lain, atau fenomena buruk yang menimpa kita, mungkin seperti motor jatuh hingga spion patah atau ponsel menddak rusak atau laptop mendadak mati tidak mau menyala. Apapun. Tinggal kita mau peka atau tidak. Tinggal kita mau berpikir untuk memahami atau tidak.

Hanya saja, kadang-kadang hati kita terlalu bebal untuk memahami tanda dan peringatan Allah untuk segera menarik diri dari hal yang tidak Ia sukai, dan kita memilih untuk tetap melakukannya.

Atau ketika sudah tidak menyadari semua penjagaan dan peringatan dari Allah, mungkin saat itu juga sebenarnya hati kita sudah terlalu hitam, hingga tak mampu setitik pun cahaya mengalihkan kita dari segala kemaksiatan yang kita lakukan. Na'udzubillahi min dzalik ...

Kamis, 17 September 2015

Adik Binaan

"Jangan berharap adik-adik binaan kita jadi keren kalau kita sendiri nggak beproses jadi lebih keren dari kita sebelumnya."

Itu kalimat yang terlontar dari Nanda, selaku koordinator dewan pertimbangan KaLAM 1436 H saat syuro tadi sore. Kita ceritanya sedang evaluasi kinerja detim, juga evaluasi adik-adik di KaLAM dan, terlontalah kalimat itu yang bikin kita jadi berkca kembali pada diri sendiri.

Jadi, kalau adik binaan lagi futhur, lagi ga semangat beramanah atau lagi nggak semangat ibadah, coba cek lagi ke diri sendiri -selaku yang ngebina adik-adik, entah itu di mentoring, entah itu di tutorial PAI, entah itu di lembaga atau di manapun lah. Jangan-jangan sebenarnya diri sendiri yang lagi futhur dan berimbas ke adik-adik binaan kita.

Untuk kedua kalinya, jadi, semangat dan selamat berproses menjadi lebih keren dari diri kamu yang sebelumnya. Selamat dan semangat membina generasi yang lebih keren dari diri kamu yang juga sedang berproses menjadi keren. (halah, bahasanya ribet amat dah haha) ..:)

Rabu, 16 September 2015

Jas Koas #2

Saya : Za, aku kayaknya mau bikin jas koas di tempat Ibu mu aja Za. Boleh?
Izza : Oh, boleh Ty Boleh.
Saya : Nanti aku langsung fitting di tempat Ibumu atau gimana, Za?
Izza : Langsung lah Ty. Emang mau dimana lagi?
Saya : Okay, sekalian biar aku bisa ketemu Ibumu. Aku pengen ketemu Ibumu.

-terus mendadak hening-

Saya : Eh kok, berasa aku mau ngelamar kamu ya?
Izza : Haha, iya, makanya aku jadi hening haha ..

Orang yang saya ceritakan di atas namanya Izza. Fildzah Izzazi Achmadi, seorang teman yang baru saya kenal di bangku kuliah, dan ternyata memasuki tahun keempat ini tetap jadi teman sebelah saya kalo lagi kuliah, haha. Awalnya sih karena kami teman satu kelompok tutorial dan praktikum selama dua tahun, dan punya hobi yang nggak jauh beda, menulis dan membaca, termasuk juga baca manga dan anime jepang.

Yang saya lihat Izza adalah seorang yang sangat menyayangi orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Waktu masih satu tutorial, saya demen banget ngerecokin Izza kalo lagi makan siang. Suka minta makan siangnya yang dibekali sama Ibu. Ngeliat Izza ngebekal, jadi kangen rumah aja. Kangen jaman SD (yaelah, Ty jauh amat, haha). Di balik kesederhanaannya dan kerendahanhatinya, Izza adalah seorang pekerja keras. Ia bukan ornag yang mudah menyerah, pun bukan orang yang mudah mengeluh. Sejujurnya saya banyak mindernya sama beliau. Minder karena saya masih sering angkuh, juga arogan juga sombong atau hal-hal yang sejenislah, padahal nilai akademik nggak seberapa, prestasi nggak ada, karya apalagi. Kebalikanlah sama Izza. Meski dari prestasi kita sebelas dua belas (haha), tapi karya Izza nyata. Ia sudah melahirkan sekitar 3 novel dan beberapa antologi karya yang sudah dibukukan meski nggak ikut-ikutan forum kepenulisan seperti saya ini. Kalau kayak gini nih yang bikin saya jadi ngerasa sombong. Nyombongin organisasi padahal karya nggak ada. #pfffft

Saya kagum banget sama ini orang. Memang kalau dibandingkan sama anak IC, yang udah tinggal bareng selama tiga tahun dan lanjut bareng-bareng di kuliah, kenal sama Izza belum seberapalah, tapi, rasanya saya banyak banget dapat pelajaran, dapet dorongan motivasi, dapet teman seperjalanan yang keren kayak Beliau. *duh, semoga orangnya ga baca, takut nanti dia terbang nggak balik-balik, kuliahnya masih banyak euy, haha*.

Dan kalau ketemu orang keren kayak gini, saya jadi pengen tau orang tuanya kayak gimana, pengen tau lingkungan rumah yang membesarkan dirinya kayak apa. Termasuk Ibunya Izza ini (karena posisinya saat masuk kuliah, Ibu Izza menjadi single parent). Saya ingin tahu Ratu hebat macam apa yang mampu membesarkan pribadi yang seperti Izza ini. Pekerja keras yang humble banget, juga humoris, juga menyenangkan. :)

Semoga bisa mendapatkan kesempatan bertemu Beliau -dulu-dulu saya cuma rajin ngasih salam ke Ibunya Izza. Haha.

*cuman pengen cerita aja*

Iri

Jarang-jarang saya buka timeline facebook. Dan hari ini atas dasar iseng dan bosan ditambah kosongnya jadwal kuliah, akhirnya saya membuka sosmed yang emang jarang saya buka itu. Jelas notifnya ga banyak, karena saya emang bukan orang penting dan jarang posting sesuatu di facebook. Saya scroll lah timeline facebook sampai time yang saya ga tau itu kapan, haha.

Ngeliat banyak banget foto wisudaanya kakak kelas juga temen-temen yang kuliahnya ambil D3, terus foto teman-teman yang habis dari negara inilah negara itulah, juga foto teman yang sedang beraktvitas kece di organisasi ini itu, atau yang habis KKN. Aah, iri rasanya melihat mereka.

Sementara semua orang bergerak melangakah dari tempatnya berdiri sekarang, sementara itu pula saya merasa bahwa saya tidak bergerak kemana-kemana. Hanya berdiri di tempat yang sama, dengan kegalauan yang sama, dan mungkin dilengkapi dengan rasa tidak bersyukur. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang kelewat cepat, meski tahu satu-satunya cara untuk menyesuaikan diri adalah juga dengan turut berubah, turut melangkah meninggalkan diri saya yang saat ini.

Sudah tahun keempat. Sudah mau lanjut ke jenjang studi berikutnya. Sudah bukan jamannya lagi galau tidak jelas yang bahkan tidak tahu galau kenapa dan solusinya apa, haha. Bergerak, Ty. Bergerak bersama perubahan yang lain. Meski harus menyeret langkah kaki atau merangkak, bergerak Ty. Bergerak meninggalkan diri yang hari ini menuju diri yang lebih baik.

Aku tahu kamu bisa, Ty.

*Semoga wisuda Mei 2016 bukan hanya wacana*

Rabu, 09 September 2015

Jas Koas

Hari ini teman-teman dari danus angkatan sudah mengumumkan jadwal fitting untuk jas koas. Jas koas loh. JAS KOAS. padahal ini masih pertengahan blok 4.1.

Ternyata koas benar-benar sudah di depan mata. Terus saya harus gimana?

yasudahlah nggak usah dijawab, nggak usah dipikir dijalanin aja. Maaf sedang sangat malas berpikir akhir-akhir ini dengan kabar ini itu yang berseliweran di otak tanpa bertemu penyelesaiannya.

Jumat, 04 September 2015

Pola Pikir

Dengan mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu, dapat mengubah pola pikir kita pula.
Sudah beberapa pekan terakhir saya menjalani terapi. Karena terapi yang saya jalani adalah Cognitive Behavioural Therapy, jadi di sini saya diajak untuk memperbaiki pola pikir saya dengan cara mengubah cara pandang saya terhadap hal yang saya takuti. Dan saya dapati cara ini mulai sedikit-sedikit memperbaiki pola pikir saya. Walau hanya sedikit-sedikit. Tidak apa. Toh, semuanya butuh proses.

#sebenarnyapengenceritapanjang
#tapimalesnulisdanmalesmikirdanharusngerjaintutorial
#lebihpengenbatagor
#yasudahlah
 .....

Selasa, 01 September 2015

Kepulangan

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, teman-teman saya, satu per satu, kembali dari pengabdiannya di desa-desa di seluruh penjuru Indonesia, setelah dua bulan di sana. Satu per satu kembali ke kota pelajar ini, memulai lagi rutinitas kehidupan seperti sebelumnya, ngampus, organisasi, laprak, makalah, dan lain-lainnya . . .

Senang bertemu kalian kembali...
Senang mendengar cerita-cerita kalian, entah yang lucu, sedih, baper, nyebelin, ngeselin, yang mana pun,
Senang melihat kalian kembali dengan selamat, sehat sentosa, . . .

aah, kangen ... :')

Rabu, 05 Agustus 2015

Pasca OSCE

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, OSCE KBK 3 telah berlalu dengan segala bentuk pengalamannya. Mulai dari persiapannya yang menyulap Baytul Quds lantai dua jadi ruang belajar sepenuhnya, baik itu kamar-kamar maupun ruang tengahnya hingga hari-H nya yang begitu mendebarkan.Semasa persiapan kami mengklaim lagu 'I really like you' nya Carly Rae Jepsen sama lagu 'stiker syahrini' nya Eka Gustiwana jadi soundtraack yang senantiasa menemani selama seminggu persiapan OSCE. Hahaha ...

Setiap harinya, semkain dekat dengan hari H ujian, semakin kencang pula debaran jantung kami. Mencoba menebak-nebak kasus apa yang kira-kira keluar, siapa pengujinya, akan seperti apa penampilan kami. Setiap harinya sejak usai shubuh hingga larut malam kami mengoceh tak jelas tentang hal-hal yang terkait ujian, menulis berlembar-lembar resep obat yang mungkin akan diminta untuk dituliskan saat ujian. Mulai membuka bungkus makanan dengan gunting jaringan atau scalpel saking benda-benda itu memang berserakan di antara kertas-kertas dan buku-buku, membuat kami harus berhati-hati saat ingin duduk.

Maka, usai OSCE, Baytul Quds yang selama seminggu terakhir selalu ramai dari sebelum shubuh hingga larut, mendadak sepi. Dari bersekian orang memang paling banyak yang ujian tanggal 3 Agustus, tapi masih ada yang ujian di tanggal 4. Tanggal 3 malam menjadi momen terakhir orang-orang ini memegang perkakas OSCE. Dan tanggal 4, usai shubuh, begitu keluar kamar, baytul quds benar-benar sepi. S.E.P.I. Mungkin semua orang tepar, kehabisan energi setelah seminggu energinya habis untuk mempersiapkan OSCE haha ...

Aah ... ini menjadi yang terakhir, Insya Allah. Semester depan sudah berganti menjadi OSCE Komprehensif. Entah akan jadi apa kontrakan Baytul Quds saat waktu itu tiba haha. Entah akan menjadi zombie selama berapa hari saat akan melalui hal tersebut. Yasudah dipikir nanti saja. Haha.

Sekarang mari beralih mengurusi skripsweet :)

Sabtu, 01 Agustus 2015

Jelang OSCE KBK 3


Sudah seminggu terakhira saya mengungsikan diri ke kontrakana Baytul Quds (yah walaupun kontrakan itu juga bakal jadi kontrakan saya juga nantinya). Belajar bareng buat persiapan OSCE untuk tanggal tiga nanti. Dan Cuma balik ke kontrakan buat mandi dan ganti baju aja.  Walaupun kata temen saya udah aja mandinya s.1.d.d.1 atau s.p.r.n aja hahaha (hayolooh apaan nnooh haha). 


Sudah bisa dipastikan baytul quds akan ramai dengan bocah-bocah dari muslimah community PD reguler 2012. Dan memang begitulah adanya. Waktu saya datang, garasi udah semacam dealer motor seken, haha. Mulai dari depan sampe belakang udah penuh sama motor dengan berbagai macam merk dan warna. Lanjut, masuk dan naik ke lantai dua , ternyata anak-anak baytul quds udah bikin rangkaian stase di sana mulai dari stase IPM-neuro-mata’THT-bedah minor-konseling-MME-IV line insertion-catheter. Tapi sampai hari ini kita belum muter buat OSCE like test. Dan pada akhirnya membiarkan seluruh lantai dua penuh dengan kertas-kertas resep obat bukan resep makanan yang berserakan, juga ceklis ujian, buku-buku panduan praktik klinis dokter layanan primer, kapita selekta FK UI sampai buku blok dari Blok 1.2 sampai blok 3.6. Habis itu, saat mulai mereview materi teorinya, semua bocah yang ada di situ mulai bertanya-tanya pada diri sendiri yang ternyata disuarakan : selama tiga tahun kita belajar apa ya? Kok mendadak kalo lagi kayak gini lupa semua . . . T.T

Mulai melancarkan lidah dengan kalimat-kalimat,

“Selamat pagi pak, perkenalkan saya dokter Setyani, dokter jaga siang ini, dengan Bapak siapa?”

atau kalimat,

“Baik pak, jadi tadi Pak X mengeluhkan sakit kepala sudah seminggu terakhir ya Pak? Sudah diobati dengan paracetamol namun sakitnya tidak hilang, kemudian tidak ada mual tidak ada demam, tidak ada batuk atau pilek ya Pak? Begitu Pak ada yang mau ditambahkan lagi dari yang saya simpulkan tadi Pak?”

Atau kalimat,

“Selamat pagi Pak, saya dokter Setyani, dokter jaga siang ini, benar ini dengan Bapak X usia yy, kemarin didiagnosis dengan demam berdarah, dan saat ini akan dipasang infus dengan cairan ringer laktat 20 ml dalam satu jam, ya Pak?”

Atau kalimat,

“Baik pak, setelah ini saya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada fisik bapak untuk menegakkan diagnosisnya ya, Pak. Kalau dari kesimpulan yang Bapak jabarkan tadi saya curiga Bapak terkena demam typhoid atau typhus. Jadi setelah ini saya akan memeriksa bagian perut Bapak, nanti akan kita lihat apakah benar typhus atau bukan. Nanti saya mungkin akan tekan-tekan sedikit pak perutnya, akan saya ketuk, dan akan saya dengarkan dengan stetoskop pak. Mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi saya akan berusaha untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut Pak dengan profesional. Bagaimana Pak, bisa kita lanjutkan?”

Dan semua kalimat-kalimat itu harus diucapkan dengan sangat cepat tanpa jeda, sebelum waktu lima belas menit setiap stasenya habis. (Habis ujian bisa dipastikan air sebotol lebih langsung habis, langsung tepar, langsung lapar hahaha).

Untuk OSCE KBK 3, dari tiga kali OSCE akan jadi osce yang paling sedikit stasenya. Tahun pertama ada 9 stase, tahun kedua ada 11 stase. Untuk tahun ini hanya ada 7 stase dengan satu stase bedah minor, satu stase emergency (IV line dan katheter), satu stase konseling dan empat stase lainnya adalah stase IPM. Integrated Patient Management. Stase yang harus diselesaikan tidak hanya pada edukasi seperti tahun pertama dan kedua saja, tapi juga sampai menulis resep obat dan surat rujukan ke lab atau ke dokter spesialis, bukan ke KUA atau ke mantan (?) jika diperlukan. Itulah yang bikin dari kemarin kami-kami ini dengan rajin menulis berlembar-lembar prediksi resep obat yang kira-kira akan diujikan besok. Hmmm ... mungkin setelah OSCE kami bisa menerbitkan satu buku resep ... obat hehehe ... (siapa gitu yang mau beli, haha).

Entah kenapa OSCE memang ujian yang selalu menghabiskan energi paling banyak, memebutuhkan waktu lebih banyak untuk belajar, dan menghabiskan uang paling banyak buat beli alat-alat medis buat latihan. Untung (atau malah nggak untung ya?) setahun Cuma sekali, setiap akhir semester genap.  Tempo hari saya maen ke kontrakan Mbak Rima. Di sana, di sela-sela waktu yang dipakai buat bercanda dan bermain (aslinya sih masak siomay, tapi kebanyakan becandanya haha), saya menyempatkan diri menyelesaikan membaca ceklis ujian. Ceklis lho, bukan materi. Itu baru ceklis. Dan semua orang menanggapi dengan sama, atau mungkin karena beliau-beliau ini tidak sefakultas dengan saya? yah kira-kira tanggapannya adalah ‘rajin bangeet, ujian masih minggu depan udah belajar dari sekarang’. Maunya juga belajarnya H-1 aja atau H-60 menit haha, tapi masalahnya belajar dari dua minggu sebelumnya aja tahun lalu masih ada satu stase yang nggak lulus, dan sekian stase yang dijalani dengan grogi. Apalagi H-1 baru belajar T.T. OSCE itu bukan Cuma masalah teori sih ... tapi juga kelancaran berbicara, kepiawaian menanggapi masalah dan keluhan pasien, juga terbiasa memegang alat-alat medis yang akan diujikan.

Dan dengan terbiasa pada akhirnya jadi memupuk kepercayaan diri pada harinya ujian nanti, hingga paling tidak ada sekian persen rasa grogi yang berkurang. Meski tetap ada sekian persen ruangan yang ada dalam diri ini untuk rasa grogi yang muncul ketika berhadapan dengan pasien simulasi dan dokter penguji. Mungkin, ini yang disebut sebagai alah bisa karena biasa?

Whoaa yasudah, nulis ini saya jadi makin grogi. Haha. Mohon doanya buat yang iseng baca tulisan ini, haha. Saya maju senin siang besok. Semoga Allah memampukan saya dan teman-teman saya, semoga ilmu kami dapat bermanfaat ~ Amiin

*s.1.d.d.1 = signatura 1 kali 1 hari
s.p.r.n = signatura pro re nata = tandai seperlunya