Sabtu, 20 Desember 2014

Saat saya pulang ...

Suatu ketika saat pulang, Mbak saya bilang, "Maaf ya dek, nggak bisa nemenin lama-lama di rumah, gue mulai kuliah, Ibal keluar rumah terus, bapak ibu juga .. lo jadi harus jagain rumah, padahal udah jauh-jauh dari Jogja"

Saya cuma senyum. Saya pulang bukan buat jadi tamu yang harus dilayani ini itu, harus ditemenin kemana-mana. Saya pulang karena alasan simpel. Saya rindu rumah dan seisinya. 
Saya rindu rumah dengan segala suasana yang ada di dalamnya, yang membuat saya nyaman, yang membuat saya bisa bermanja dengan tanpa rasa bersalah, tempat saya beristirahat dari segala kesibukan di kampus ...

Saya rindu rumah, pun rindu ibu bapak dan kakak-kakak saya. Saya sebelum ini selalu berpikir bahwa saya punya banyak cerita untuk diceritakan, punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan ketika pulang. Tentang kuliah nya Mbak ucha, tentang kerjaan Mas ibal, tentang komunitas lukis cat airnya bapak, tentang liqo nya ibu dan tentang tentang lainnya yang sudah saya lewatkan selama saya absen dari rumah ...

Tapi, begitu kaki saya menjejak tanah kelahiran saya itu, ketika saya bertatap muka dengan wajah-wajah yang senantiasa saya rindukan, tiba-tiba semua pertanyaan itu sudah tidak lagi penting. Karena saya tahu, semuanya baik-baik saja ...

Ya, semuanya baik-baik saja ... :)

Sabtu, 13 Desember 2014


13/12/14


Saya itu pengen jadi seperti Rabi'ah Al-Adawiyah, seorang sufiyah yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Allah. Yang menempatkan Allah di seluruh bagian hatinya hingga tak ada lagi celah untuk dunia menyusup di dalamnya. Yang beribada karena mengharap ridha dari pujaan hatinya, Allah SWT, bukan karena ketakutannya akan neraka atau harapannya akan surga.

Rabi'ah al-adawiyah yang menolak lamaran hasan albashri seorang tabi'in sholeh karena hatinya tak dapat memilih selain Allah SWT.

Yang ada di hatinya hanya Allah, yang menjadi pusat dunianya adalah Allah, yang senantiasa menyedot perhatiannya adalah Allah, dan kepadaNya lah ia menyerahkan seluruh hatinya. Utuh. Tanpa ada secuil pun tertinggal. Hatinya hanya untuk Allah, Allah, dan Allah.

Dan mungkin begitulah seharusnya cinta. Ketika setiap detiknya hanya memikirkan orang tercinta. Ketika kerelaan untuk menyerahkan hati, pikiran, dan raga untuk yang terkasih.

Aaaah .. Aku ingin jadi seperti Rabi'ah Al-adawiyah, yang hatinya ada untuk Allah sepenuhnya ...