Minggu, 16 Februari 2014

FAQ : Mahasiswa Kedokteran

Well, jadi di sini gue mau menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh anak-anak SMA ataupun anak-anak yang penasaran sama mahasiswa FK. Yah, kalo ada jawaban yang ngaco-ngaco  ya maap, soalnya gue juga bukan mahasiswa FK yang baik wkwkwkwkwk ..

Q1 : Masuk FK susah nggak sih?

A1 : Nggak. Serius nggak, tinggal masuk gerbangnya aja, bahkan kamu nggak perlu izin satpam.

Q2 : Maksudnya, ujian masuknya susah nggak?

A2 : Nggak, susahan keluarnya. Soalnya ujian masuknya kan sama kayak fakultas lain dari rumpun IPA. Yang diuji juga hampir kayak UN SMA, walaupun nggak semua yang diujikan di UN itu bakal kepake di kuliah.

Q3 : keluarnya susah tuh maksudnya gimana?

A3 : Iya soalnya, pas mau lulus itu harus bikin skripsi, terus nggak berhenti sampai situ, karena masih ada ujian OSCE (ujian praktik keterampilan medis) komprehensif, yang menguji keterampilan medis kita yang udah diajarin sejak semester satu sampe semester akhir, terus ada juga UKDI atau Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, yah semacam UN-nya dokter lah, yah, maksudku orang ujian perblok aja belom tentu bagus nilainya, ini harus ngulang semua blok, yah begitulah …

Q4 : Di FK itu belajarnya ada yang pake mayat ya?

A4 : Iya, untuk di lab anatomi. Di FK ada semboyan “mortuis vivat docent” yang artinya mayat-mayat yang menemani belajar anatomi ini adalah dosen kita juga, dengan cara yang lain. Kalau dosen-dosen yang lain mengajarkan dengan berbicara, kalau mereka, atau kita menyebutnya ‘cadaver’ mengajarkan kita melalui setiap pengetahuan yang ada di setiap jengkal tubuhnya. Makanya, setiap dari mahasiswa FK wajib menghormati cadaver, sebagaimana kita menghargai dosen-dosen lainnya.

Q5 : Ntar, ada sesi megang-megang mayat gitu?

A5 : Well, kalau itu tergantung kebijakan universitasnya. Kalau di kampusku nggak boleh, yang punya hak untuk ngutak ngatik cadaver itu hanya dokter, dosen, dan asisten dosen. Mungkin takut malah tambah ancur kali ya hehehe, jadi buat yang statusnya mahasiswa biasa Cuma dapet kesempatan belajar melalui melihat bagian-bagain yang udah diseksi (dipotong, dibuka, dll) sama yang berwajib, begitu …

Q6 : Susah nggak sih pelajarannya FK? Katanya berat ya kuliah di sana?

A6 : Susah atau nggak itu relatif. Kalo kayak aku yang kesasar, menurutku pelajarannya susah semua hehehe. Tapi, kayak pelajaran SMA aja, pasti ada yang susah ada yang gampang bagi yang menjalaninya. Nah, kalau berbiccara dari disiplin ilmu yang beda, jelas semuanya jadi susah. Sama aja kayak anak FK ngeliat pelajarannya anak teknik, pasti juga nggak ngedong.
Berat atau nggak itu … menurutku yang menjadikannya berat adalah tanggung jawab sebagai mahasiswa kedokteran yang nantinya akan menjadi dokter. Karena dokter akan-istilah kasarnya-‘bermain-main’ dengan nyawa manusia, ya kalau kita sebagai mahasiswa kedokteran nggak dengan serius mempelajarinya, nantinya pas udah jadi dokter, malah beneran Cuma main-main lagi …

Q7 : Masih bisa pergi main nggak sih sejak jadi mahasiswa kedokteran?

A7 : Masih. Masih banyak kok, di kampusku, yang menyempatkan diri untuk main di weekend-bahkan ke luar kota. Di sela-sela weekdays juga masih ada yang bisa main kok, tapi biasanya liat-liat juga jadwal kuliah besok, ya kalo ada responsi praktikum (ujian praktikum) ya, nggak usah anak FK, anak fakultas lain juga niscaya nggak bakal pada maen.

Q8 : jadi mahasiswa kedokteran masih bisa berorganisasi nggak, baik di skala fakultas, universitas, ataupun skala yang lebih luas?

A8 : Masih. Kalau di kampusku, kalau kita anak FK pasti dapet toleransi yang gede. Tapi, nantinya tetp harus sepinter-pinternya kita ngatur waktu. Kalau di fakultaku, banyak banget lembaga mahasiswa, jumlahnya mencapai 13 lembaga kalau nggak salah, dengan seratus sekian proker dalam setahun. Tuh, masih bisa kan kita ngadain aacara-acara sekalipun mahasiswa FK? Ya cumannya, kelemahan lembaga di FK, terutama di kampusku, kalau udah masuk minggu ujian, tiba-tiba sepi gitu orang-orangna, kalau lagi rapat rutin yang tersisa tinggal segelintir orang yang termasuk dalam orang-orang yang nggak khawatir sama akademik, seperti orang yang super cerdas, sama orang yang super pasrah, kayak saya hehehe….
Pun juga untuk organisasi extrakampus, masih bisa kok dijalanin, lagi-lagi balik ke diri sendiri, kita bisa nggak atur waktunya? Toh, pada kenyataanya saya banyak kenal anak-anak FK yang aktif, baik di dalam maupun di luar kampus, tapi IPK nya masih di atas rata-rata …

Q9 : Emangnya organisasi itu nggak ganggu akademik?

A9 : Kan, udah dibilang tergantung masing-masing orang. Kalau kita menganggapnya mengganggu, ya akan jadi beneran ganggu. Tapi, kalau buat aku pribadi, waktu organisasi itu, kita bisa dapet poin ‘belajar berorganisasi’ `belajar berinteraksi dan berkomunikasi’ (well, sebagai seorang calon dokter, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik), dan ‘belajar akademik’. Lhah kok bisa? Hehehe …
Ya, karena temen-temen di organisasi banyak yang lebih rajin belajar dan lebih pinter daripada aku pribadi, jadinya mau nggak mau, kalo lagi ngale-ngale (ato kalao bahasanya temenku, ngaso) di sekre lembaga, jatohnya pada review materi atau belajar buat praktikum yang akan dateng, akhirnya aku juga jadi belajar-secara nggak langsung. Begitulah kira-kira..

Q10 : Kuliah di FK lama ya? Berapa tahun kira-kira? Terus, kalau lama gitu kapan nikahnya?

A10 : Iya, kuliahnya lama. Kalo di kampusku kuliah S1 nya 3,5 tahun, itu murni, tapi kalo nanti harus ngulang mata kuliah atau penelitian skripsinya lama, yah itu bisa mundur entah sampai kapan. Terus, setelah itu koass atau dokter muda selama ±2 tahun berpindah-pindah dari satu klinik/rumah sakit ke klinik/rumah sakit lainnya. Habis itu masih ada internship atau magang selama ±1 tahun. Baru bisa diakui sebagai dokter umum. Jadi untuk bisa resmi jadi dokter umum perlu waktu 6,5 tahun kurang lebih.
Kalau nikah? Itu urusan lain … hehehehe .. toh nggak ada larangan mahasiswa, atau koass, atau dokter internship untuk nikah kok … :P


3 komentar: