Sabtu, 20 Desember 2014

Saat saya pulang ...

Suatu ketika saat pulang, Mbak saya bilang, "Maaf ya dek, nggak bisa nemenin lama-lama di rumah, gue mulai kuliah, Ibal keluar rumah terus, bapak ibu juga .. lo jadi harus jagain rumah, padahal udah jauh-jauh dari Jogja"

Saya cuma senyum. Saya pulang bukan buat jadi tamu yang harus dilayani ini itu, harus ditemenin kemana-mana. Saya pulang karena alasan simpel. Saya rindu rumah dan seisinya. 
Saya rindu rumah dengan segala suasana yang ada di dalamnya, yang membuat saya nyaman, yang membuat saya bisa bermanja dengan tanpa rasa bersalah, tempat saya beristirahat dari segala kesibukan di kampus ...

Saya rindu rumah, pun rindu ibu bapak dan kakak-kakak saya. Saya sebelum ini selalu berpikir bahwa saya punya banyak cerita untuk diceritakan, punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan ketika pulang. Tentang kuliah nya Mbak ucha, tentang kerjaan Mas ibal, tentang komunitas lukis cat airnya bapak, tentang liqo nya ibu dan tentang tentang lainnya yang sudah saya lewatkan selama saya absen dari rumah ...

Tapi, begitu kaki saya menjejak tanah kelahiran saya itu, ketika saya bertatap muka dengan wajah-wajah yang senantiasa saya rindukan, tiba-tiba semua pertanyaan itu sudah tidak lagi penting. Karena saya tahu, semuanya baik-baik saja ...

Ya, semuanya baik-baik saja ... :)

Sabtu, 13 Desember 2014


13/12/14


Saya itu pengen jadi seperti Rabi'ah Al-Adawiyah, seorang sufiyah yang menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Allah. Yang menempatkan Allah di seluruh bagian hatinya hingga tak ada lagi celah untuk dunia menyusup di dalamnya. Yang beribada karena mengharap ridha dari pujaan hatinya, Allah SWT, bukan karena ketakutannya akan neraka atau harapannya akan surga.

Rabi'ah al-adawiyah yang menolak lamaran hasan albashri seorang tabi'in sholeh karena hatinya tak dapat memilih selain Allah SWT.

Yang ada di hatinya hanya Allah, yang menjadi pusat dunianya adalah Allah, yang senantiasa menyedot perhatiannya adalah Allah, dan kepadaNya lah ia menyerahkan seluruh hatinya. Utuh. Tanpa ada secuil pun tertinggal. Hatinya hanya untuk Allah, Allah, dan Allah.

Dan mungkin begitulah seharusnya cinta. Ketika setiap detiknya hanya memikirkan orang tercinta. Ketika kerelaan untuk menyerahkan hati, pikiran, dan raga untuk yang terkasih.

Aaaah .. Aku ingin jadi seperti Rabi'ah Al-adawiyah, yang hatinya ada untuk Allah sepenuhnya ...

Minggu, 05 Oktober 2014

Idul Adha di Rumah

Setelah terhitung 9 tahun saya nggak ber-Idul Adha di rumah, akhirnya, untuk pertama kalinya saya berlebaran bareng keluarga kecil ini di Depok. Keputusannya sudah saya buat sejak sekitar minggu ke dua masuk kuliah. Well, saya merasa harus memberikan hadiah buat diri saya yang libur Ramadhan kemarin terpakai waktunya untuk ujian OSCE dan mengurusi OSPEK. Lagipula, momennya pas setelah ujian blok, dan ada jeda sejak hari rabu kemarin hingga hari ini. Hanya sebentar sih, cumannya, ketika kita lebih punya sedikit waktu untuk melakukan suatu hal, ketika itu pula waktu-waktu itu jadi terasa amat berharga, begitu bukan?

Dan, malam ini saya harus balik lagi ke Jogja. Mbak saya bilang, "Sumpah, dek, lo tuh udah nyaingin Bang Thoyyib tau ga yang tiga kali lebaran tiga kali puasa ga pulang-pulang?" Saya ketawa aja. Saya udah bilang, emang saya cuma pulang sampai hari Ahad ini. Saya ingin memanfaatkan waktu kosong yang ada, dimana dalam minggu-minggu ini saya nggak benar-benar dibutuhkan di kampus (well, karena kemarin masih sibuk difinalisasi kepanitiaan OSPEK, saya jadi nggak dimasukkin kepanitian-kepanitian pasca libur idul Fitri di kalam T.T, sedikit sedih sih, tapi saya jadi punya banyak waktu senggang ..), dan ego saya sudah mendesak untuk pulang. Jadi, tahun ini saya absen dari kepanitiaan Idul Adha di kampus, dan ngacir ke rumah. Karena saya juga nggak tahu, setelah ini, kapan lagi saya bisa pulang? Nggak ada jaminan saya akan pulang dalam waktu dekat, pun nggak ada jaminan saya akan pulang saat liburan, bukannya saya sok sibuk, tapi, hidup itu siapa yang tahu? Siapa yang akan jamin saat liburan saya masih hidup?

Nggak ada jaminannya, makanya, kalau bisa, saya ingin menghabiskan waktu-waktu senggang saya untuk 'beristirahat' di rumah, bergelung di antara riuh nya kondisi di rumah, bermanja di antara ibu bapak, dan kakak-kakak ...

Aah, memang seharusnya rumah adalah tempat berpulang ... tempat dimana hati kita berpulang...

Jumat, 05 September 2014

Happy Graduation, Mas Iqbal!

30 agustus 2014.

2014 ini menjadi tahun ke 9 saya tidak di rumah. Sejak memutuskan hengkang kaki di tahun 2006 lalu, saya hampir tidak mengikuti perkembangan yang ada di keluarga kecil saya di Depok sana. Mau bagaimana lagi, pendidikan di asrama selama 6 tahun memiliki peraturan ketat dalam penggunaan telepon, maupun sosial media pun juga izin keluar dan menginap.  Setelah 6 tahun saya keluar rumah kemudian memilih melanjutkan studi di Jogja. Ini tahun ketiga saya di Jogja, dan di tahun-tahun di mana saya tinggal di Jogja, yang saya pikir akan lebih intens lagi untuk pulang ke rumah ataupun sekedar menelpon dan menyapa melalui sosial media juga akhirnya hanya jadi sebuah wacana. Saya jarang pulang, pun saya jarang menelpon. Dan hampir nggak mungkin buat ditelpon dari rumah, kecuali ada urusan sangat penting pake banget.

Jadi, selama sembilan tahun saya absen dari rumah, saya hanya bisa terkaget-kaget melihat perubahan yang ada setiap saya pulang. Termasuk perubahan pada salah seorang kakak saya-yang hari ini mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa S1. Muhammad Iqbal Satria. Atau saya memanggilnya, Mas Iqbal, eh, lebih ke Masiqbal sih (diucapkan dengan tidak memberi jeda antara kata ‘Mas’ dan ‘Iqbal’), atau Mas Ibal. 

Jujur aja, saya beberapa kali kaget dengan perubahan Mas Iqbal yang hanya saya lihat setiap kali libur kenaikan kelas atau libur lebaran. Yah secara, cowok gitu. Setelah memasuki masa pubernya, pasti akan ada lonjakkan pertumbuhan yang lebih cepat secara fisik dan diikuti perkembangan secara kognitif ketimbang pertumbuhan seorang anak perempuan. Makanya, kalau saya lihat Mbak Nurza, kakak pertama saya, ya nggak akan beda jauh dengan yang saya lihat sebelum saya pergi dari rumah, karena beliau sudah mencapai masa pubernya sejak sebelum saya keluar rumah. Tapi, berbeda dengan Mas Iqbal.

Pernah suatu ketika di MTs, saya berniat menelpon rumah lewat wartel di pondok. Saat itu, yang ngangkat telpon Mas Iqbal-yang suaranya nggak lagi sama kayak sebelumnya (well, dia cowok -,-). Saya bilang, “Halo, Assalamu’alaikum”. Dia jawab, “Wa Alaikum salam, dengan siapa?” dalam hati saya, ‘Mampus, siapa nih? Kok gue nggak kenal suaranya? Masa salah nomer?’ Dan seketika itu juga saya tutup telponnya, karena nggak kepikiran kalau itu Mas Iqbal, dan saya bener-bener takut salah nomer. (Wartel, woy, kalau diterusin salah nomernya mah ngabis-ngabisin duit bulanan -,-). Tapi, masih di bilik telpon itu juga, saya mikir. Saya coba tekan ulang nomer rumah saya. “Halo, Assalamu’alaikum.” Ucap saya, berdoa supaya nggak salah sambung. “Wa alaikum salam” Jawab suara yang sama. “Ah mmm.. Ini Tyani, Bapak ada?” Kata saya akhirnya. “Oh ada, bentar ya dek”. Kata suara di seberang. ‘Dek’? Dan, akhirnya saya baru mikir kalau itu adalah Mas Iqbal yang sudah mulai mendewasa .. hehe ..

Well, dan sekarang Mas saya yang tumbuh menjadi pribadi yang nyentrik itu mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa strata 1. Yah, menurut saya kakak saya itu nyentrik. Mungkin, menurut Mas Iqbal  saya nyentrik, mengingat saya dan Mas Iqbal tumbuh di lingkungan berbeda, maka jalan pikiran kami pun terbentuk secara berbeda. Teman-teman saya banyak yang heran ketika liihat foto kakak saya yang pernah saya uplot di fb. Pun juga, mungkin, teman-teman Mas Iqbal heran juga ngeliat foto saya (itupun kalo ada yang lihat, hehe) …
Saya, sejujurnya, Cuma punya sedikit ingatan bareng Mas Iqbal, dan itupun hanya sampai saya kelas 6 SD. Selebihnya, saat saya mulai keluar rumah, saat itu pula Mas Iqbal berkembang menjadi pribadi yang mengesankan dan disibukkan dengan urusan-urusannya di kampus, baik organisasi, akademik, Band, dan lain-lain yang saya juga nggak apa persisnya.

Saya ingat waktu kecil, bahkan antara saya dan Beliau, masih lebih berani saya. (haha). Saya ingat gimana Mas Iqbal nggak mau ditinggal Ibu waktu di TK. Padahal, saya juga masuk TK yang sama, dan saya ditinggal Ibu (iyalah, orang Ibu saya nemenin Mas Iqbal yang nggak mau ditinggal). Saya juga ingat, gimana dulu, waktu SD, Saya sering dipalakkin sama Mas Iqbal karena uang jajan saya pasti sisa, dan uang jajan Mas Iqbal pasti habis duluan. Saya juga ingat gimana jahilnya beliau terhadap saya, yang anak bungsu. Sedikit-sedikit ngisengin saya sampai, waktu SD tuh, kayaknya rumah selalu rame karena teriakan-teriakan saya yang nggak suka diisengin sama Beliau. Saya juga ingat waktu, untuk pertama kalinya saya ke warung hanya berdua dengan Mas Iqbal, tanpa orang dewasa (saya lupa persisnya umur berapa, mungkin sekitar TK B), terus Mas Iqbal yang awalnya hahahihi ketawa-ketiwi dan sok jagoan itu jatoh kesandung batu di tengah jalan menuju warung, tiba-tiba nangis karena lututnya berdarah, dan saya yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi itu akhirnya memilih untuk turut menangis (hahahaha ..). Perjalanan ke warung itupun berakhir dengan pulangnya kami berdua dengan tangan kosong dan itupun dianter pulang sama tetangga yang kaget ngeliat kita berdua nangis di tengah jalan. Dan segala macam masa kecil yang kami habiskan berdua.

Jujur aja, waktu masuk pondok untuk pertama kalinya, saya ngerasa legaaaa bangeet karena pisah sama Mas Iqbal. Itu berarti nggak akan ada yang jahilin saya, ngisengin saya, atau malakkin duit saya. Itu juga berarti nggak ada perintah-perintah Ibu Bapak yang harusnya dilaksanain sama Mas Iqbal tapi malah dilempar sama si Mas yang satu itu ke saya (mentang-mentang saya anak bungsu -,-).

Tapi, ya … hanya sebatas itu. Dan di MTs pula, waktu itu saya kelas 3, saya sadar bahwa saya sayang banget sama Mas saya itu. Dan untuk pertama kalinya saya nangisin Mas Iqbal, di kelas conversation lagi (-,-). Ceritanya, saat itu, kami sedang latihan conversation, menceritakan tentang apa saja yang bisa diceritakan. Saat giliran saya, saya bercerita tentang Mas Iqbal, bagaimana jahilnya Beliau, bagaimana beliau nggak suka sayur dan demen banget makan daging, dan apaaa sajaa tentang beliau. Sebenarnya saya udah nulis dengan bahasa Inggris sebelum maju ke depan dan bercerita. Tapi, pas di depan, ketika saya mulai bercerita, satu kalimat, dua kalimat, seterusnya-dan seterusnya saya masih bisa mengingat apa kalimat selanjutnya yang harus saya ucapkan, tapi, yang hanya sampai di ingatan saya saja. Ternyata air mata saya mendahului suara saya untuk keluar. Untuk pertama kalinya, saya merasa kehilangan Mas Iqbal. “Ah, Sorry …” ucapku di tengah-tengah. “Can you continue your story, dear?” Miss dina, selaku pengampu pelajaran conversation bertanya pada saya, terlihat khawatir ketika saya menangis di depan. “Yes, Miss. Hold on a second.” Saya menghapus air mata saya, dan melanjutkan cerita saya ampai akhir.

Saya tahu, setiap saya pulang ke Depok, selalu ada yang berubah dari Mas Iqbal. Tapi Mas Iqbal, tetap Mas Iqbal. Kakak saya yang iseng, yang nggak suka sayur, yang suka ngasih barang-barang tanpa mikir, yang objektif dan rasional, yang disukai sama anak-anak kecil. Gimana pun, udah jadi sarjana atau belum, udah kerja atau belum, udah punya pacar atau bahkan udah punya istri pun Mas Iqbal tetep Mas Iqbal yang saya sayangi …

Happy graduation, Mas! Semoga ilmunya berkah, dan semoga ilmu yang Mas Iqbal miliki bisa membawa Mas Iqbal pada kebaikan-kebaikan yang menanti di masa depan nanti.

Doakan saya segera nyusul wisudaan! 2016 Insya Allah ~ :D




25 Tahun pernikahan Ibu Bapak

------

Saat menulis ini, usiaku jelang 20 tahun. Dalam hitungan hari-yg msh bs dihitung dengan jari tangan-saya akan menanggalkan status "late adolescent" dan masuk ke dalam "early adulthood" setidaknya begitu yg saya pelajari. 

Dan di usia saya yg 20 tahun ini juga, usia pernikahan Bapak Ibu saya telah mencapai seperempat abad. 25 tahun. 
Jujur saja, saya baru tahu kemarin, 21 Mei 2014 lalu kalau ternyata Bapak Ibu menikah di tahun 1989. Yang berarti saat menikah, usia kronologis keduanya adalah 29 tahun. 

29 tahun. Lalu, punya anak pertama yg diberi nama Nurza Sari Dhamayanti (perempuan, yg juga kakak pertama saya) di usia 30 tahun. Dua tahun setelahnya, ketika keduanya memasuki usia 32 tahun, keduanya dikaruniai anak kedua, kakak laki-laki saya, yg kemudian diberi nama Iqbal, Muhammad Iqbal Satria. Terakhir saya, dilahirkan dua tahun (atau malah tidak sampai 2 tahun) setelah Mas Iqbal lahir. Diberi nama "Chotimah" yg artinya akhir, dan tidak sengaja benar-benar menjadi penutup dari kakak-beradik ini. 

Saya baru ngeh kemarin kalau Ibu hamil di usia-usia yang mendekati usia "awas". Alias mendekati usia yg sebaiknya sudah tidak hamil lagi-menurut yg saya pelajari di kuliah (CMIIW). Di usia-usia ini, hamil menjadi suatu hal yg perlu dimonitor secara berkala, terutama jika sang ibu punya beberapa faktor resiko yang akan memperburuk kejadian kehamilan tersebut. Tapi, Alhamdulillah nya, mungkin kondisi ibu saya fit saat hamil ketiga anaknya, jadi mampu melahirkan anak-anaknya dengan kelahiran normal pula. 

Itu Ibu saya. Yang setiap melahirkan anak-anaknya senantiasa sendiri di dalam ruangan tanpa suaminya, Bapak saya. Ya ... Itu sih yang saya dengar dari Ibu. Tapi, mengingat Bapak saya takut jarum suntik dan alat-alat semacamnya, saya jadi percaya aja sama cerita Ibu. Hehehe ...

Itu Ibu saya yang baru pakai jilbab rutin setelah saya masuk TQIT Nurul Fikri Depok (sekarang jadi TKIT Nurul Fikri). Ketimbang saya sudah pakai jilbab sejak SD, hitungannya Ibu saya punya semangat belajar Islam yang besar, bahkan melampaui saya yang masih muda, pun ilmu dan pengetahuannya tidak kalah sama saya yang sudah mondok 3 tahun di pesantren dan lanjut 3 tahun di IC serpong. Kalau saya lagi di rumah, saya libur dari kegiatan liqo, tapi Ibu nggak pernah libur. Ibu senin ikut kajian tafsir, Rabu ikut kelas bahasa Arab (walaupun kata Beliau, sekarang beliau berhenti krn sdh sebulan tidak masuk karena sakit, dan waktu itu nemenin eyang di rumah sakit), dan Kamis liqo. Belum lagi kalau ada kajian di masjid dekat rumah. Saya? Kajian manhaj aja belum tentu datang ...

Itu Ibu saya, yang bahkan saat awal bertemu Bapak, masak saja masih diajari Bapak ... Tapi sekarang ... Masakan-masakannya sudah bisa diacungi dua jempol, atau kalau perlu 4 jempol sekalian... 

Lalu Bapak. Bapak saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam setiap pemikiran saya yang tercermin dalam setiap perilaku saya. Melalui diskusi-diskusi yang Bapak mulai ketika kami sedang berdua saja, atau beramai-ramai, di sana Bapak menanamkam nilai-nilai Islam dan moral pada anak-anaknya. 

Mungkin benar kalimat bahwa cinta pertama anak perempuan adalah pada Ayahnya. Lawan jenis yang saya cintai pertama kali adalah Bapak. Bapak adalah orang pertama yang mendukung saya masuk pondok, pun juga kuliah di Jogja. Dan Bapak juga yang menguatkan hati Ibu untuk mengizinkan saya keluar rumah. Juga menguatkan hati saya untuk bertahan pada pilihan saya. 

Bapak pula yang mengasah bakat kami bertiga di bidang lukis dan tulis terutama. Waktu kecil, setiap kali kami bertiga luang dan sedang kumpul, Bapak menggiring ketiganya untuk memegang kertas, krayon, pensil warna dan lain-lain untuk akhirnya menggambar objek yang sudah disusun Bapak. Lalu, setiap ada tugas kepenulisan, Bapak tidak sekadar menyuruh kami menulis sesuai umur kami. Tapi harus di atas itu. Saya ingat, waktu SD, saya pernah dapat tugas menulis kebudayaan masing-masing daerah. Karena Bapak berasal dari Solo, saya memutuskan untuk menulis tentang Solo. Di saat teman-teman saya menulis seperti anak SD pada umumnya, saya menulis tugas tersebut persis seperti makalah-makalah yang saya buat waktu SMA. Atas arahan Bapak, saya menulis tugas tersebut dimulai dari pendahuluan, lalu budaya Jawa, dilanjut budaya Jawa Tengah, baru saya menulis tentang kebudayaan Solo nya. Begitulah Bapak saya mengajarkan saya.

Kini, semangat Bapak mengasah bakat dalam melukis pun masih belum padam. Beliau masih menyibukkan diri dalam Komunitas Lukis Cat Air Indonesia. Dan sekarang gores-gores lukisan cat air nya sudah semakin halus, terhitung sejak pertama kali memulai menggunkan cat air, sekitar dua tahun lalu kalau tidak salah. Mungkin, Bapak sudah melampui aturan 10.000 jam, hingga sudah bisa digolongkan ahli. MUNGKIN lho ...

Begitulah orang tua kami, saya, Mas Iqbal, dan Mbak Nurza mengajari kami. Kini usia keduanya sudah 54 tahun. Kalau menurut WHO sudah bisa disebut lansia kategori
Middle Age atau usia pertengahan (adalah kelompok usia dari 45-59 tahun). Lansia. 

Dan, di usia sekarang, sudah berapa persen fungsi organ-organ tubuh keduanya telah berkurang? Mengingat adanya hukum 1%, dimana setiap bertambah satu tahun setelah seseorang memasuki usia 35 tahun, fungsi sebagian besar organ tubuhnya akan berkurang sebanyak 1% (CMIIW). Ditambah lagi kondisi Ibu yang tinggal mengampu satu buah ginjal saja, dan Bapak yang akhir-akhir ini sering stress berlebih pasca meninggalnya Mbah putri dan Mbah kakung Solo, yang berakibat pada perut yang sering sebah. 

25 tahun keduanya membangun rumah tangga, hingga kini anak-anaknya sudah mencapai usia dewasa semua. Saya sadar, tidak banyak hal yang bisa dibanggakan dari saya ataupun kakak-kakak saya bagi kedua orang tua kami. 

Kami-kami ini tidak sekali dua kali berantem sama Ibu atau Bapak. Nggak sekali dua kali juga mengecewakan keduanya. Mungkin juga nggak sekali dua kali kami lupa bahwa orang tua kami sudah mulai menua. Dimana sekarang mungkin bukan zamannya lagi kami meminta perhatian dari keduanya, tapi justru kamilah yang SEHARUSnya memberi perhatian lebih pada keduanya...

Tapi, untuk saat ini, buat saya yang tinggal jauh dari depok ini mungkin satu-satunya perhatian lebih yang bisa saya lakukan ketika jauh adalah hanya berdoa dan menelpon. Saya selalu nggak tahu kapan saya akan pulang, apalagi nanti ketika jadi dokter.... (amiin)

Karenanya, semoga Allah berkenan mengumpulkan kami sekeluarga kembali, baik di dunia maupun si surgaNya nanti ...  


25 Mei 2014 
Ditulis pasca hari ulang tahun pernikahan Bapak Ibu yang ke-25, pada tanggal 21 Mei 2014 lalu

ini yang bikin bapak sendiri, bukan saya. saya cuma bikin tulisannya .. :)

Rabu, 23 Juli 2014

Ramadhan tinggal 5 hari lagi ..

"Waktu, tuh sekarang cepet banget ya, nduk" Kata eyang putri semalam pas buka puasa.

Dan, sekarang ramadhan sudah tersisa 5 hari di tahun ini. tersisa 5 hari ya ...

Senin, 16 Juni 2014

Hujan Bulan Juni


Pengarang: Sapardi Djoko Damono

  tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Refleksi 20 tahun

Eciee yang buka blog lagi ... lama nggak nulis di sini (sebenernya lama nggak nulis sih, dimanapun, hehe). Dan baru sadar, selama saya kuliah, tahun kedua ini terutama, saya mulai jarang nulis. Mungkin bukan karena tidak punya waktu, tapi saya yang tidak mau menyediakan waktu ...

Well, itu bahasan lain, tapi masih terkait waktu. Di tahun ini, usia saya menginjak kepala dua (Astaghfirullah ... nggak sopan, nginjek-nginjek kepala ...ckckck). Akhirnya, untuk pertama kalinya saya bisa masuk ke kategori "adulthood", dimana proporsi tanggung jawab saya di tahun akan berbeda dengan sebelumnya sewaktu saya masih bisa disebut remaja tanggung. Tanggung mau dewasa, tapi dibilang anak kecil udah kegedan juga.

20 tahun.

Aduh, saya bahkan nggak tau mau nulis apa saking selama 20 tahun saya belum ngapa-ngapain. Belum punya karya. Masih belum begitu bermanfaat buat orang sekitar. Masih lebih banyak memanfaatkan orang lain ketimbang memberi manfaat buat orang lain. Masih suka ngerepotin orang lian ketimbang direpotin orang. Masih lebih suka mengeluh ketimbang bersyukur. Dan masih-masih yang negatif lainnya.

Masih banyak mimpi-mimpi yang belum tergapai, atau bahkan terbengkalai di sudut nurani, menanti untuk kembali dipanggil oleh saya. Sayangnya, sayanya masih terlalu malas untuk berlari. Sayangnya, saya masih terus berleha-leha menunggu "ditampar" seseuatu atau seseorang untuk tersadar.

Ahahaha epik banget rasanya. Saya sebenernya sudah sadar apa yang salah dalam diri saya. Sudah sdar juga dengan sifat-sifat buruk saya. Tapi sayangnya saya belum ada keinginan untuk merubahnya. Sayangnya, saya masih terlalu malas untuk sekadar melek dan memilih ...

Dan bahkan sekarang, saat ini, saya sudah mulai melupakan apa saja mimpi saya. Saya mulai mengalami regresi. Jika terus begini, tidak heran rasanya jika ada psikiater yang mendiagnosis saya mengalami skizofrenia.

Saya sudah 20 tahun, tapi saya masih tidak berguna. Payah.

Kamis, 24 April 2014

Penulis itu ...

"Penulis itu apa yang ia baca"
Itu kata-kata yang saya garis bawahi, dan saya catat khusus dengan gaya tulisan yang meliuk-liuk udah kayak ornamen di buku catatan saya (maksudnya sih biar saya inget gitu), waktu dapat kesempatan bertemu dengan seorang kakak angkatan di UGM, yang ternyata juga kakak kelas saya di IC (walaupun angkatan sangat jauh). Beliau melanjutkan (yang saya tulis berikutnya merupakan terjemahan bebas dari kata-kata beliau), ketika seorang penulis itu sudah lama tidak membaca, maka biasanya ia susah buat nulis, soalnya tidak tahu apa yang ingin ia tulis ....

Insan Cendekia : Syukur Tiada Hingga

[Re-Post dari tulisan Fitri Hasanah Amhar] 

Di kampus, formulir beasiswa pada umumnya suka nanyain tentang pernah nggaknya kita dapat beasiswa sebelumnya. Terus kalau pernah, ada kolom yang nanyain berapa besar beasiswa yang diterima per bulannya.

Saya nggak tau itu kolom diisi sama beasiswa yang pernah diterima semasa kuliah apa boleh dari dulu-dulu jaman sebelum kuliah. Pertama saya ngisi form itu adalah saat masih maba yang belum pernah dapet beasiswa di kampus. Terus saya kepikiran, dulu di IC-yang notabene beasiswa dari masuk sampai keluar- kalo diuangkan per bulan berapa besar, ya? Beasiswa selama di IC jaman saya dulu *aduh berasa udah lama banget* dari mulai uang masuk (uang pangkal), seragam, asrama, makan 3x sehari, SPP perbulan, suplemen (semacam makanan bergizi kayak susu kotak, telur rebus, kacang hijau, atau kue-kue basah dan sejenisnya) tiap sore, buku pelajaran, biaya study tour, berobat di poliklinik, dan lain sebagainya. Meskipun karena beberapa pasang surut pernah juga untuk suplemen mesti bayar (yang mau aja jadinya). Tapi overall, biaya kami perbulan sudah ditanggung. Kami tak perlu repot-repot bayaran. Dan tanpa tahu berapa besar biaya SPP saya—SPP kami setiap siswa IC— per bulan.

Kemudian, pada suatu kesempatan saya memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang guru. Saya menanyakan berapa nilai beasiswa IC jika diuangkanperbulan.

Kemudian guru saya jawab apa? Guru saya menyebutkan angka yang bahkan lebih besar daripada uang kuliah saya persemester (sengaja nggak saya cantumkan angkanya di kutipan kata-kata di bawah). Saya garis bawahi, angka beasiswa IC per bulan yang bahkan lebih besar dari uang kuliah saya per semester.
"Perbulan nya zaman fitri di angka: *sekian* (sekarang sudah lebih). (Monggo dikali 3 tahun) belum termasuk uang pangkal. Beruntung dan alhamdulillah, itu juga sangat berarti bagi orang tua. (Jujur saja: kami guru karyawan, yang pada punya anak, ingin juga anak-anaknya menikmatinya seperti anak-anak orang lain. Dididik ditempa sedemikian rupa. Apa daya belum seberuntung kalian. Malu rasanya kalau mau diungkapkan lebih jauh). Bersyukur kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu (kata opick)."

Apa yang saya rasakan saat itu? Sedih, terharu, campuraduk jadi satu. Sedih rasanya ketika menyadari bahwa guru-guru kami yang selalu penuh dedikasi itu, orang-orang terdekat kami itu bahkan bisa jadi ketika mengajar juga berharap putra-putri kandungnya juga ada di salah satu bangku di antara bangku kami. Para karyawan yang melayani kami sepenuh hati, memperbaiki keran rusak—atau fasilitas lainnya, menuangkan porsi sayur dan lauk ke nampan-nampan makan kami, mengobati kami di poliklinik, mungkin berharap anak-anak kandungnya dapat menikmati fasilitas sekolah dan asrama, serta betapa menyenangkannya sekolah di sini. Maka ya Allah, nikmatMu yang manakah yang pantas kami dustakan?

Sedih juga karena rasa-rasanya saya belum bisa jadi alumni yang membanggakan buat IC yang membawa hasil didikan super mereka dalam bentuk prestasi yang membanggakan. Masih jadi alumni yang biasa-biasa aja. Prestasi itu salah satu tanda syukur. Prestasi juga tanda terima kasih. Ah, Bapak Ibu guru dan karyawan, maafkan saya... :"

Dear teman-teman alumni IC di manapun berada, selalu ada harapan yang terbit ketika Bapak Ibu guru kita mengajar. Kala pagi berangkat mengajar, kala menyampaikan materi, kala meninggalkan kelas saat kita biasa ulangan harian, kala mendatangi asrama untuk membantu menerangkan kembali apa yang masih kita bingungkan. Ada harap yang terus terbit yang boleh jadi mereka lantunkan dengan ikhlas di setiap doa. Tentang perilaku kita, tentang perangai kita, tentang suksesnya kita. Juga ada harapan dari para karyawan yang melihat poster peserta OSN dipajang besar-besar di depan gedung sekolah, melihat medali serta capaian-capaian madrasah kita, berharap agar kelak kitalah kelak yang akan membawa perubahan pada bangsa.

Maka rasa-rasanya jahat sekali kalau kita berubah jadi lebih buruk daripada saat di IC dulu. Memang tidak ada sekolah yang menjamin lulusannya akan sangat baik di luar. Pesantren seagamis apapun. Tapi kalau ingat bahwa dedikasi serta keikhlasan para guru semasa kami di IC, para karyawan yang setiap hari membantu merawat fasilitas, memasakkan makan, serta melayani setiap hari, ah, mana tega... Bapak, Ibu, saya rindu.... :"

Pak, Bu, seperti yang selalu kami lantunkan depan ruang guru saat 25 November menjelang, 

"Tanpamu, apa jadinya aku..."

Semoga rahmat dan kasih sayang Allah selalu ada untuk Bapak dan Ibu semua. Ilmu-ilmu ini amal jariyah kalian, Pak, Bu. Kesetiaan kalian dalam melayani kami, biarlah jadi teladan bagi kami semua. Biarlah kami akan jadi saksi kebaikan  Bapak dan Ibu di hari akhir kelak. Semoga keluarga besar IC dikumpulkan semua di SurgaNya, ya Pak, Bu. Aamiin.

untuk IC, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat rindu
Jogja, 27 Maret 2014 22.30

Rabu, 26 Maret 2014

Kampanye Bising

Iya, jadi Pemilu legislatif yang jatuh tanggal 9 April 2014 itu membuat banyak keramaian baik di dunia maya maupun di dunia nyata ternyata. Isu-isu lama mulai diangkat, baik itu untuk memperburuk citra sebuah partai, orang perseorangan ataupun untuk mengingatkan kembali ke halayak tentang prestasi-prestasi sebuah partai atau orang perseorangan.

Dunia maya sendiri, ramai dengan pemberitaan partai A, partai B, partai lalalala dan lililili, tentang calon presiden Z yang mundur dari gubernur, calon presiden Y yang maen sinetron, atau calon-calon presiden lainnya. Di dunia nyata? well, sudah beberapa hari terakhir (saya nggak tau tepatnya) adalah jadwal kampanye terbuka partai-partai yang telah lolos verifikasi, tahun ini ada 12 partai nasional dan 3 partai lokal dari Aceh. Partai-partai ini sudah mulai memasang atribut-atribut di jalan-jalan, yang benderalah, yang baliholah, yang spanduk dan media-media lain. Walaupun, katanya, Pemilu tahun ini tak seramai pemilu-pemilu sebelumnya (ya, saya juga nggak ngeh sih, soalnya dulu-dulu masih belum boleh nyoblos, jadi hampir-hampir nggak peduli).

Waktu kampanye terbuka sudah dimulai, mulai juga aksi ke-15 partai ini, bergilir dari satu kota ke kota lainnya (mungkin yang partai lokal hanya di Aceh saja, saya nggak tau sih, tapi saya belum ketemu orang kampanye ketiga partai lokal ini di Jogja). Berusaha memutihkan, memerahkan, menghijaukan dan mewarna-warna lainnya masing-masing kota.

Ramai. Ramai banget pake sangat malah! ... Terutama untuk partai-partai yang kampanye dengan metode konservatif (halah bahasanya), yakni konvoi motor rame-rame keliling kota bawa bendera partai sambil memainkan knalpot (dimainin gasnya maksudnya, sampai menimbulkan suara-suara bising yang nggak enak didengar, bukan literally mainin knalpot yang dicopot, njuk, dimain-mainin). Menurut saya itu metode kampanye udah sangat jadul banget. Udah sejak saya kecil dilakuin, dan sekarang, menurut saya dan banyak orang udah nggak jamannya lagi kampanye dengan konvoi motor yang berisik gitu. masih banyak kok kampanye kreatif kalo partai-partai ini emang mau mikir gimana caranya kampanye yang lebih ngena ketimbang cuma menarik perhatian dengan suara bising kendaraan bermotor.

Sekitar 2 Minggu yang lalu partai PPP yang lewat daerah kos-kosan saya yang konvoi motor sambil bawa bendera hijau. Waktu itu posisi saya lagi makan bareng temen-temen PH KaLAM sekaligus rapat, tapi apadaya rapatnya jadi nggak efektif karena suara-suara bising tersebut. Tapi, yah massa yang dikerahkan PPP waktu itu ternyata nggak seheboh kampanye bising yang dilakukan partai banteng hari Selasa lalu. Partai yang punya simbol warna merah ini, entah dengan berapa jumlah massanya, pokoknya banyak banget pake sangat deh! konvoi keliling jogja, memenuhi setiap jalanan jogja yang emang nggak lebar-lebar amat. Alhasil jadilah hari itu jadi hari macet sejogja. Ditambah kebisingan-kebisingan yang ditimbulkan makin bikin hari yang panas itu jadi makin panas. Ya, saya sih terserah aja kalau mau bising-bising di tengah hutan, di tengah kota atau di tengah lautan. Lhah ini, di area kampus, di depan rumah sakit pula! (Kemarin rute kampanye partai ini melewati depan RSUP sardjito, yang berarti juga melewati depan fakultas saya).

Njuk, ngono yen enek pasien sing jantungan, piye jal? Mereka mah semangat-semangat aja mengkampanyekan partai mereka yang diusung. Ini nggak salah, partai manapun pasti semangat yak. Cuman, menurut saya caranya aja yang nggak ahsan. Masih ada banyak cara kreatif mulai dari kampanye penghijauan sampai kampanye door to door untuk mengenalkan partai mereka. Masih ada cara-cara halus yang bisa menyentuh hati masyarakat tanpa harus mengeluarkan suara-suara bising. apalagi di Jogja, yang notabenenya orang-orangnya halus plus lembut.

Kalau dari kampanye lapangannya aja udah terlihat brutal seperti itu, bagaimana jika akhirnya menduduki pemerintahan?

Yah, wallahu a'lam ... semoga siapapun pimpinan Indonesia nantinya, semoga beliau maju karena memang ingin mengabdi pada masyarakat ... Amiin ..

Blog Teman-Teman :)

Dasbor Blog adalah salah satu web yang wajib saya buka kalau lagi ngenet dari laptop. Walaupun saya nggak selalu nulis di blog, atau nulis tapi ngegantung dan akhirnya cuma jadi draft di dasbor, atau udah mau selesai sih tapi terus saya hapus semuanya dan log out hehehehe ...

kadang-kadang, eh sering malah, saya buka blog bukan buat nulis, tapi buat tahu kabar orang-orang. Buat tahu pemikiran-pemikiran orang-orang. Terutama temen-temen IC angkatan saya, dan lebih khusus lagi temen-temen IC yang udah jarang ketemu, atau mungkin yang sudah tidak terjangkau lagi kayak Anisa Firdaus atau Gian atau siapalah yang udah ke Jepang. Atau kayak doni yang sekarang di sumatera dan teman-teman lainnya.

Saya suka baca cerita-cerita mereka, saya suka ngedenger kabar dari temen-temen ini, yah walaupun sekarang udah ada facebook, twitter, whatsapp, line dan medsos lainnya, tapi, entah kenapa saya lebih suka tau cerita temen-temen ini lewat blog yang ditulis secara detil, panjang dan udah kayak cerita, nggak cuma timpalan-timpalan status, atau cerita hanya 140 karakter yang bisa menimbulkan ambiguitas atau hanya percakapan selewat-selewat di whatsapp atau bahkan karakter-karakter stiker yang ada line.

Ya simpelnya sih, saya jadi bisa tau cerita temen-temen tanpa saya harus bertanya 'apa kabar?'. Karena saya tipe orang yang malas memulai percakapan, terutama sama cowok, jadi saya lebih suka baca blog temen-temen-temen lebih banyak cerita warna-warninya hidup mereka, sekalipun yang di post tidak secara gamblang menceritakan pribadinya, tapi tulisan itu sudah cukup. Dan sekalipun saya jarang komentar juga sih di blog temen-temen, tapi paling nggak saya udah baca ... hehehe ...


Kamis, 20 Maret 2014

Masjid, Masjid aku datang

Hari ini tadi setelah diberitahu bahwa skill lab kosong saya langsung menuju sekre KaLAM yang bertempat di Masjid Ibnu Sina FK UGM lantai 2. Karena hijab sekre akhwat dan ikhwannya superdupertinggi, jadinya yang akhwat pun bebas tidur-tiduran tanpa perlu khawatir. Dan yah, seperti yang bisa ditebak, untuk menyimpan energi buat syuro sorenya saya akhirnya memutuskan untuk tidur di sekre KaLAM. Serius, rasanya saya udaaah lamaaa banget nggak tidur sepules itu di Masjid. Mengingat jaman SMA dulu masjid adalah tempat yang lazim digunakan untuk tidur (hahahaha, pas kajian tidur maksudnya).

Iya, saya kangen banget aktivitas-aktivitas sehari-hari yang dilakukan di masjid. Bukan cuma shalat atau kajian maksudnya. Saya kangen banget ngeliat masjid atau mushollah rame sama anak-anak yang pada belajar sampai dengan asyiknya tidur-tiduran di lantai masjid.Saya kangen banget ngeliat anak-anak non-rohis ngadain rapat di selasar masjid. Kangen ... Saya kangen aktivitas bejibun yang pusatnya di Masjid :)

Sejak MTs dulu, Masjid jadi tempat favorit saya, pake banget. Apalagi kalau liat masjid Assalaam yang superduper kece badai. Yang mampu menampung santrinya yang superbanyak juga. Dulu, waktu masih MTs, selalu pas ujian ada namanya belajar sore dan belajar pagi setelah shalat ashar dan setelah shalat shubuh. Waktu belajar ini, semua anak belajar di masjid didampingi oleh ustadzah-ustadzah pengampu pelajaran. Dulu tuh, seru banget momen belajar bareng ini, sampai nggak sedikit yang tidur-tiduran (bahkan ada yang tidur beneran). 

Lain lagi waktu di IC. di IC, masjid sudah jadi basecamp divisi saya, divisi Imtaq. Jadi, bisa dibilang kegiatan divisi kami berpusat di masjid. Tapi, terlepas dari kami-anak imtaq- yang memang lebih suka pakai masjid dan permadani dan komat (hayooo apaan tuh) buat kumpul ketimbang ruang OSIS, anak-anak OSIS lain, temen-temen MPS, kepanitiaan, juga kumpul angkatan acapkali kumpul di Masjid juga. Di timur masjid lah, di selatan, utara (yang pasti nggak di barat masjid sih hehe), di permadani alias perpustakaan masjid MAN Insan Cendekia, Atau bahkan di tengah-tengah masjid itu sendiri.

Saya suka ngeliatnya. Suka ngeliat Masjid jadi 'pusat peradaban' temen-temen waktu di IC dulu. walaupun sebenernya masjid IC nggak bagus-bagus amat, kalah jauh deh sama masjid Assalaam yang besar banget, apalagi sama MASKAM UGM -____-" Jauuuuuh ... Tapi, aktivitas di Masjid IC ini hidup. Yang istirahat, yang belajar, yang rapat merencanakan kegiatan OSIS ataupun angkatan, yang hanya sekedar ngobrol, sampai yang tilawah dan hafalan.

Saya jadi ingat, dulu, saat the golden age of Islam juga bukankah Masjid menjadi pusat peradaban para ilmuwan-ilmuwan Islam terdahulu? 

entahlah, wallahu a'lam ... tapi saya merasakan energi lebih ketika banyak aktivitas yang saya lakukan di masjid :) 

Kamis, 13 Maret 2014

Cetak Biru Ibu

Banyak saudara bilang, termasuk Ayah saya, saya itu cetak biru Ibu saya banget. Wajahnya, badannya, selera berpakaiannya sama persis sama Ibu waktu Beliau seumuran saya sekarang. Sampai, kalau silaturrahim keluarga besar di Ngawi orang-orang dewasanya rasa-rasanya sudah nggak perlu nanya, dan cukup bilang "wah, musti iki Mbak Iin kan?" (Nama kecil ibu saya Iin). Saya senyum aja.

Saya jadi inget waktu masih kecil karena masih belum keliatan mirip siapa-siapa, saya mikir jangan-jangan saya bukan anak siapa-siapa (hahahaha ... maaf bocah ini teralalu sering nonton telenovela charita de angel yang dulu sangat ngetrend sampai bikin berantem sama kakak cowoknya :p)

Well, mau dibilang nggak mirip siapapun, saya sudah nggak mau lagi mempertanyakan saya anak siapa, mempertanyakan kasih sayang kedua orang tua saya. Karena keduanya adalah orang tua yang sudah diberikan Allah buat saya yang kayak gini, cuma mereka yang tau betul cara menangani si bocah bungsu yang demennya sekolah jauh dari rumah ini.

Sejujurnya, saat saya di IC dulu, saya sempet minder sama temen-temen sekamar saya yang orang tuanya sangat kece badai pekerjaannya, ya.. yang dokter lah, ya yang duduk di kementrian lah dan lain-lain dan lain-lain ... Tapi, saya sekarang nggak mau lagi minder, karena kalau bukan karena didikan orang tua saya, saya nggak akan jadi saya yang sekarang, saya akan jadi mereka dong? Nggak seru kan kalau sama karakternya :P

Dan, beberapa hari lalu saya sempet demam naik-turun kayak roller coaster (bukan sayanya yang naik turun, tapi demamnya). Saya cuma lapor ke orang tua saya kalau saya sakit itu cuma pas hari pertama saya demam dan sukses sembuh setelah saya minum antangin JRG (hahahaha) ... Walaupun satu hari setelahnya ternyata saya demam lagi setiap siang sampai malam, tapi saya nggak bilang ke orang tua, sampai hari jumat pagi Ibu ngewasap, "Dek, udah sembuh demamnya?" Karena itu pagi, jadi saya bales, "Udah bu" gitu.

Sorenya, saya demam lagi, dan disitulah saya baru nelpon orang tua saya, menjelaskan keadaan saya yang demam naik turun ini, terus Ibu bilang, "Katamu udah sembuh, ibu tuh tadi pagi tanya kamu udah sembuh atau belum, soalnya Ibu tadi pagi juga demam, terus ngerasanin kamu ..." Uuugh, rasanya terharu banget nggak sih T.T (*banjir air mata*)

Ini bukan yang pertama kali, waktu MTs dulu juga pernah. Saat itu saya juga demam naik turun kayak kemarin, yang waktu itu dibilangnya gejala tifus, dan sialnya waktu itu saya juga lagi nggak punya uang cukup buat ngabarin ke rumah kalau saya lagi sakit, akhirnya saya diem-diem aja di poliklinik pondok rawat inap di sana. Sampai suatu ketika bulik saya sekeluarga datang, bilang katanya Ibu ngerasanin saya terus minta tolong beliau untuk jenguk saya di pondok (*makin banjir air mata* T.T)

Tuh kan saya anak Ibu ... Saya anak Ibu banget .. dan yah ...Tinggal sedikit waktu saya (karena saya nggak tau kapan Allah akan memanggil saya balik, atau saya nggak tau kapan sangkakala akan dtiup) untuk birrul wiladyn, kalau bisa saya pengen memaksimalkan waktu yang sedikit itu .. :')


Minggu, 16 Februari 2014

FAQ : Mahasiswa Kedokteran

Well, jadi di sini gue mau menjawab beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh anak-anak SMA ataupun anak-anak yang penasaran sama mahasiswa FK. Yah, kalo ada jawaban yang ngaco-ngaco  ya maap, soalnya gue juga bukan mahasiswa FK yang baik wkwkwkwkwk ..

Q1 : Masuk FK susah nggak sih?

A1 : Nggak. Serius nggak, tinggal masuk gerbangnya aja, bahkan kamu nggak perlu izin satpam.

Q2 : Maksudnya, ujian masuknya susah nggak?

A2 : Nggak, susahan keluarnya. Soalnya ujian masuknya kan sama kayak fakultas lain dari rumpun IPA. Yang diuji juga hampir kayak UN SMA, walaupun nggak semua yang diujikan di UN itu bakal kepake di kuliah.

Q3 : keluarnya susah tuh maksudnya gimana?

A3 : Iya soalnya, pas mau lulus itu harus bikin skripsi, terus nggak berhenti sampai situ, karena masih ada ujian OSCE (ujian praktik keterampilan medis) komprehensif, yang menguji keterampilan medis kita yang udah diajarin sejak semester satu sampe semester akhir, terus ada juga UKDI atau Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, yah semacam UN-nya dokter lah, yah, maksudku orang ujian perblok aja belom tentu bagus nilainya, ini harus ngulang semua blok, yah begitulah …

Q4 : Di FK itu belajarnya ada yang pake mayat ya?

A4 : Iya, untuk di lab anatomi. Di FK ada semboyan “mortuis vivat docent” yang artinya mayat-mayat yang menemani belajar anatomi ini adalah dosen kita juga, dengan cara yang lain. Kalau dosen-dosen yang lain mengajarkan dengan berbicara, kalau mereka, atau kita menyebutnya ‘cadaver’ mengajarkan kita melalui setiap pengetahuan yang ada di setiap jengkal tubuhnya. Makanya, setiap dari mahasiswa FK wajib menghormati cadaver, sebagaimana kita menghargai dosen-dosen lainnya.

Q5 : Ntar, ada sesi megang-megang mayat gitu?

A5 : Well, kalau itu tergantung kebijakan universitasnya. Kalau di kampusku nggak boleh, yang punya hak untuk ngutak ngatik cadaver itu hanya dokter, dosen, dan asisten dosen. Mungkin takut malah tambah ancur kali ya hehehe, jadi buat yang statusnya mahasiswa biasa Cuma dapet kesempatan belajar melalui melihat bagian-bagain yang udah diseksi (dipotong, dibuka, dll) sama yang berwajib, begitu …

Q6 : Susah nggak sih pelajarannya FK? Katanya berat ya kuliah di sana?

A6 : Susah atau nggak itu relatif. Kalo kayak aku yang kesasar, menurutku pelajarannya susah semua hehehe. Tapi, kayak pelajaran SMA aja, pasti ada yang susah ada yang gampang bagi yang menjalaninya. Nah, kalau berbiccara dari disiplin ilmu yang beda, jelas semuanya jadi susah. Sama aja kayak anak FK ngeliat pelajarannya anak teknik, pasti juga nggak ngedong.
Berat atau nggak itu … menurutku yang menjadikannya berat adalah tanggung jawab sebagai mahasiswa kedokteran yang nantinya akan menjadi dokter. Karena dokter akan-istilah kasarnya-‘bermain-main’ dengan nyawa manusia, ya kalau kita sebagai mahasiswa kedokteran nggak dengan serius mempelajarinya, nantinya pas udah jadi dokter, malah beneran Cuma main-main lagi …

Q7 : Masih bisa pergi main nggak sih sejak jadi mahasiswa kedokteran?

A7 : Masih. Masih banyak kok, di kampusku, yang menyempatkan diri untuk main di weekend-bahkan ke luar kota. Di sela-sela weekdays juga masih ada yang bisa main kok, tapi biasanya liat-liat juga jadwal kuliah besok, ya kalo ada responsi praktikum (ujian praktikum) ya, nggak usah anak FK, anak fakultas lain juga niscaya nggak bakal pada maen.

Q8 : jadi mahasiswa kedokteran masih bisa berorganisasi nggak, baik di skala fakultas, universitas, ataupun skala yang lebih luas?

A8 : Masih. Kalau di kampusku, kalau kita anak FK pasti dapet toleransi yang gede. Tapi, nantinya tetp harus sepinter-pinternya kita ngatur waktu. Kalau di fakultaku, banyak banget lembaga mahasiswa, jumlahnya mencapai 13 lembaga kalau nggak salah, dengan seratus sekian proker dalam setahun. Tuh, masih bisa kan kita ngadain aacara-acara sekalipun mahasiswa FK? Ya cumannya, kelemahan lembaga di FK, terutama di kampusku, kalau udah masuk minggu ujian, tiba-tiba sepi gitu orang-orangna, kalau lagi rapat rutin yang tersisa tinggal segelintir orang yang termasuk dalam orang-orang yang nggak khawatir sama akademik, seperti orang yang super cerdas, sama orang yang super pasrah, kayak saya hehehe….
Pun juga untuk organisasi extrakampus, masih bisa kok dijalanin, lagi-lagi balik ke diri sendiri, kita bisa nggak atur waktunya? Toh, pada kenyataanya saya banyak kenal anak-anak FK yang aktif, baik di dalam maupun di luar kampus, tapi IPK nya masih di atas rata-rata …

Q9 : Emangnya organisasi itu nggak ganggu akademik?

A9 : Kan, udah dibilang tergantung masing-masing orang. Kalau kita menganggapnya mengganggu, ya akan jadi beneran ganggu. Tapi, kalau buat aku pribadi, waktu organisasi itu, kita bisa dapet poin ‘belajar berorganisasi’ `belajar berinteraksi dan berkomunikasi’ (well, sebagai seorang calon dokter, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik), dan ‘belajar akademik’. Lhah kok bisa? Hehehe …
Ya, karena temen-temen di organisasi banyak yang lebih rajin belajar dan lebih pinter daripada aku pribadi, jadinya mau nggak mau, kalo lagi ngale-ngale (ato kalao bahasanya temenku, ngaso) di sekre lembaga, jatohnya pada review materi atau belajar buat praktikum yang akan dateng, akhirnya aku juga jadi belajar-secara nggak langsung. Begitulah kira-kira..

Q10 : Kuliah di FK lama ya? Berapa tahun kira-kira? Terus, kalau lama gitu kapan nikahnya?

A10 : Iya, kuliahnya lama. Kalo di kampusku kuliah S1 nya 3,5 tahun, itu murni, tapi kalo nanti harus ngulang mata kuliah atau penelitian skripsinya lama, yah itu bisa mundur entah sampai kapan. Terus, setelah itu koass atau dokter muda selama ±2 tahun berpindah-pindah dari satu klinik/rumah sakit ke klinik/rumah sakit lainnya. Habis itu masih ada internship atau magang selama ±1 tahun. Baru bisa diakui sebagai dokter umum. Jadi untuk bisa resmi jadi dokter umum perlu waktu 6,5 tahun kurang lebih.
Kalau nikah? Itu urusan lain … hehehehe .. toh nggak ada larangan mahasiswa, atau koass, atau dokter internship untuk nikah kok … :P


Rabu, 08 Januari 2014

Sudah #Setahun di KaLAM FK UGM

Sudah setahun rupanya saya di KaLAM, Keluarga Muslim Cendekia Medika FK UGM. Beramanah sebagai staff Media Opini di sana. Well, tapi saya bukan staff yang baik, yang pernah mengalami futhur parah selama hampir 1 semester (apa justru 1 semester full? entahlah). Sejak saat itu, saya bertekad nggak mau lagi berada dalam kondisi itu, dan semoga nggak akan lagi. Masa-masa futhur waktu itu membuat saya berantakan, amanah saya berantakan, akademik saya berantakan, ruhiyah saya juga berantakan, pokoknya semuanya deh.. Alhamdulillah sekarang saya udah balik lagi ...(*balik kemana pula?*)

Pokoknya saya bermasalah bangetlah, udah kerjaannya protes mulu, nggak ada aksi pula. Protesnya dilakukan dengan bahasa yang nggak ahsan juga, udah gitu ngomongnya ke kadiv dan para PH yang hatinya lembut dan perasa banget ... hadeuuuh, hadeeeuuh ...

Sampai akhirnya saya ngomong ke MR saya kalau saya ngerasa saya bermasalah sama KaLAM, dan dari sana MR saya bilang beberapa hari berikutnya, 'Dek, kamu temui Bu Ida ya buat diskusi'. Setelah ini dan itu, mungkin karena MR saya ngerasa kalau dibilangin sama mbak-mbak lagi saya udah nggak mempan, akhirnya saya langsung dirujuk ke ADKP kali ya .. (berasa penyakitnya udah akut sampai harus dirujuk ke RSUP, -___________-"), iya, ternyata yang saya temui adalah dr. Ida, .. saya diskusi banyak, tentang masalah saya, tentang KaLAM, tentang saya bilang, 'apa saya resign aja ya Bu dari KaLAM?' ... Tapi, waktu itu Bu Ida bilang suatu hal yang bikin saya berpikir ulang, beliau bilang, 'Ya, sekarang gini, Dek, kamu sekarang kan udah ngerasa banyak hal yang nggak pas dan harus diperbaiki di KaLAM, kalau kamu nanti resign dari KaLAM, terus siapa yang benerin? Udah gitu, Ibu yakin, kalau kamu keluar kamu malah lebih gelisah daripada sekarang.' Well, itu udah mendekati akhir semester 2, dan dari sanalah saya berpikir ulang tentang diri saya, tentang KaLAM, tentang keinginan saya untuk resign, dan tentang bahwa banyak PR yang menjadi hutang saya akibat mangkir mulu di tahun pertama ini.

Maka, Libur semester, sekaligus libur Ramadhan menjadi titik balik saya. Saya susun ulang visi dan tujuan saya masuk KaLAM, saya membenahi diri saya, bangkit dari kefuthuran dan memantaskan diri saya untuk tetap ada di KaLAM.. Dan di sinilah saya akhirnya ...

Nggak banyak yang bisa saya ceritain dari KaLAM, lebih karena saya banyak mangkir selama setahun kemaren. Jujur aja, saya nyesel dengan kondisi saya setahun ke belakang. Bukannya membawa manfaat tapi malah bawa petaka hehehehe ... di tahun kedua ini, apapun posisi saya nantinya di KaLAM, semoga saya bisa bermanfaat di sini, di KaLAM, di tempat dimana secuil hati saya tertinggal ... :')

Dan, seperti postingan saya sebelumnya, saya juga mau berterimakasih untuk semua PH KaLAM, baik akhwat maupun ikhwan yang udah saya repotin, yang udah saya bikin pusing mungkin, yang udah banyak memberi pelajaran buat saya, walaupun saya pernah bilang 'saya nggak banyak belajar tentang dakwah media di KaLAM', tapi saya belajar lebih dari itu, saya belajar bagaimana memanajemen diri, belajar tentang prioritas, belajar tentang berstrategi juga ... :')

Terima kasih, jazaakumullah khayr untuk Mbak Arinda terutama, yang udah sering secara langsung saya protes sampai beliau nangis, hehehe, Mas Syafiq juga selaku kabid ikhwan, terus buat Mbak Uli, sekjend KaLAM yang imut tapi berhati besar dan lapang, yang selalu senyum walaupun sering dapat protes (dapet protes sama aja dapet masalah baru hehe), Mas Albi, selaku mas'ul, maaf ya mas sering saya protes di belakang hehee, juga Mbak Rizka dan Mas Taufiq, kabid syiar, Mbak Yasmin dan Mas Miefta, kabid PU, Mbak, Rima, kabid kemuslimahan, Mbak Arum dan Mas Heri, kabid KF, Mbak Vio dan Mas Ilham, kabid jaringan, Mbak Ria dkk selaku skebend, Mbak Hanifah, Mbak Andin, dkk dari BKK .. Jazaakumullah khairan jazaa untuk bimbingannya setahun ke belakang .... :') Maaf untuk semua kata dan sikap yang tidak berkenan di hati ..

Dan, karena kita telah berkumpul di dunia ini karena kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, maka, semoga Allah mengumpulkan kita di surgaNya pula, bersama dengan para pejuang dakwah lainnya, dan bersama dengan RasulNya pula :') Amiin

Waktu Forga KaLAM 1434 H

Senin, 06 Januari 2014

Sudah #Setahun di BIMO Forsalamm

Sudah desember .... itu tandanya udah hampir suksesi di semua lembaga-lembaga di kampus. Termasuk di BIMO Forsalamm, Biro Informasi, Media, dan Opini.Lembaga yang pertama kali saya masuki di UGM ini, dan dengan tangan terbuka menerima saya-yang sangat bocah waktu itu. Yah, walaupun bisa dibilang sebelumnya bahkan nggak pernah terpikir saya akan berada di sini, mengingat waktu itu saya sudah mempersiapkan diri untuk ikut tes di BPPM Balairung.

Tapi, atas larangan dari Bapak, dan saran dari MR akhirnya di sinilah saya terdampar. Di lembaga yang, kalau kata Mbak Nea, HRD BIMO kepengurusan sebelumnya, bilang 'timbul tenggelam'.

Kalau saya mengingat lagi, saya masuk BIMO pas Mas ari masih jadi mas'ul BIMO dan Mbak Nea jadi HRD nya. Waktu itu, dengan degdegan saya langsung sms Mbak Nea setelah saya mengumpulkan formulir dan tugas-tugas syarat masuk BPPM Balairung (lhah kok?) hahahaha ... Iya bahkan sejak mengumpulkan formulir ke BPPM Balairung aja saya ragu-ragu, gimana kalau udah masuk? iya, jadilah saya melakukan manuver mac robert untuk membantu persalinan ibu yang ... *halah* ...

Pokoknya, hari-hari berikutnya saya wawancara sama mbak Nea. Ya tapi, nggak kayak wawancara sih, lebih kayak ngobrol. Di sana saya mengutarakan niat saya masuk media. Dan di sana pula Mbak Nea menjabarkan kondisi BIMO. kondisi 'timbul-tenggelam'nya. kondisi orang-orangnya. Dengan gamblang. Waktu itu kami ngobrol dari habis ashar sampai menjelang maghrib. Di depan perpus FK. Di hari itu, saya nggak berharap apa-apa dari BIMO, sebagaimana yang mbak Nea bilang, "Jangan berharap banyak dari BIMO, mengingat kondisinya yang timbul tenggelam, yang kadernya juga punya amanah besar di lain tempat selain di BIMO". Dan sampai akhir saya nggak pernah berharap apa-apa.

Job pertama yang saya terima adalah layouting dan desain untuk koran satu lembar 'Inspire', yang saya kerjakan lewat dari deadline sampai bikin bingung mbak Miski (yang waktu itu ngasih saya Job). Jujur aja, waktu itu saya belum pernah bikin layoutan untuk koran, jadi sebenarnya saya nungguin ayah saya yang lagi perjalanan ke Salatiga buat konsultasi dan tanya-tanya. Jadinya, jelas lewat deadline hehe ..

Kejadian yang saya ingat berikutnya adalah Mabit di Salimah, kontrakannya Mbak Nea dan Mbak Miski, yang ternyata juga kontrakannya Mbak Hanifah (kakak angkatan di prodi). Di sanalah saya ketemu mbak-mbak BIMO lainnya ... Mbak Rima, Mbak Henny, Mbak Fanny ... Dan di sana juga, untuk pertama kalinya saya mengalami diskusi antar mahasiswa yang saya rasa sangat kece. Sangart impressive, dan sangat idealis. Di sanalah Mbak Nea, selaku HRD memaparkan idealisme BIMO yang ingin dicapai sama pendahulu-pendahulu ...

Dan yang saya tahu, di pengurusan setelahnya, dimana yang beramanah sebagai ketua BIMO adalah mbak Triani, entah mengapa saya masuk di divisi redaksi.  Padahal saya masuk sebagai divisi artistik atau kalau di BIMO sebutannya CMC (creative Multimedia Center). Tapi, mungkin ini caranya Allah untuk menyiapkan saya untuk setahun setelahnya (yang mungkin akan saya bahas di lain postingan). Saya banyak belajar dari orang-orang kece di sini. Banyak memaknai cara berpikir mbak-mbak dan mas-mas divisi redaksi, yang notabene nya adalah mbak-mbak dan mas-mas yang pikirannya tajam dan idealis (well, saya satu-satunya anak 2012 di divisi redaksi, dan itu sudah berhasil membuat saya jadi anak bawang di BIMO). Banyak belajar tentang bagaimana berdakwah melalui media, melalui tulisan dan visual. Saya banyaak banget belajar di sini.

Dan karena saya nggak pernah mengharapkan apapun dari BIMO, saya jadi dapet lebih banyak dari sini. Walaupun BIMO sendiri mungkin nggak mendapatkan banyak hal dari saya.  Kalau dihitung-hitung, selama buletin inspiratif dua kali terbit saya cuma nulis riset. Yang itu dibantu sama mbak-mbak lainnya. Yang pertama dibantu mbak Fira (FIB 2011), yang kedua dibantu Mbak Fanny (TI 2009), dan keduanya begitu terbit majalahnya, yang saya tahu adalah artikel tulisan saya langsung dipangkas separonya hahaha .. *emang nggak bisa diharapkan*

Selebihnya saya nggak bantu banyak. Nggak bantu ngeliput acara, nggak nyelesein inspire yang jadi tanggung jawab saya. Dan nggak-nggak yang lainnya lagi. Mungkin, mbak-mbak udah sampe maklum kali ya sama saya yang 'anak bawang' ini hehehe ...

Tapi, kalau bisa, kalau masih diperkenankan, saya pengen lanjut di BIMO untuk satu tahun ke depan dan seterusnya ... Kalau bisa sih, saya jadi staff abadi sampai saya lulus nanti, biar enak. Saya rasanya pengen bayar utang-utang saya ke BIMO di tahun pertama, yang saya selalu mengada-adakan alasan kalau ada jarkom ngeliput, yang saya selalu lari kalau ada amanah yang nggak selesai. Dan saya-saya yang jelek lainnya ...

Karena di sini, di BIMO ini ada secuil hati saya tertinggal, semoga nantinya, di tahun entah ke berapa, dimana saya nggak lagi disibukkan dengan amanah organisasi di fakultas, saya bisa jadi staff BIMO yang baik ... :')

Dan saya ucapkan di sini aja, karena saya juga bingung mau ngomong gimana ke mbak-mbak, saya ucapkan terima kasih, jazakumullah khayr buat mbak-mbak PH BIMO untuk bimbingannya satu tahun ke belakang .. Mulai dari Mbak Nea dan rekan2 yang udah nerima saya dengan tangan terbuka, dan pikiran terbuka, Terus juga buat Mbak Triani yang udah banyak saya repotin, jujur, saya suka banget dengan cara mbak berpikir, saya terkesan dengan setiap diskusi yang kita lakukan (walaupun itu cuma sekitar 2 kali kalo nggak salah), Buat Mbak Rima, HRD setelah Mbak Nea, maaf ya mbak sering ilang-ilangan (terutama kalau ada artikel yang belum saya setor), Buat Mbak Uti, kadiv redaksi, Buat Mbak Miski juga, kadiv CMC yang sering saya isengin kalo lagi kumpul, Mbak Kiki kepala subdivisi Litbang, Mbak Fanny dan Mbak Henny yang adminkeu juga ... Matur nuwun sanget karena mengizinkan saya buat ada dan belajar di BIMO, maaf juga karena saya masih belum maksimal sebagai staff ... :')

Dan karena Allah sudah mempertemukan kita di dunia karena kecintaan terhadap-Nya, maka, semoga Allah mempertemukan kita pula di surga-Nya nanti  .. Amiin ..


BIMO Forsalamm sebelum saya masuk (jelas, saya ambil dr grup FB :p)

Waktu Buka puasa bareng, tapi saya lagi ada acara IAIC ...