Selasa, 13 Agustus 2013

menjejak usia dewasa

bismillah, sebelumnya, sugeng riyadi, kulo nyuwun ngapunten menawi kulo gadah lepat, njih ...
semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama ramadhan kemarin dan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang 'kembali' dan 'menang'! ..

Iya, sudah lama juga blog ini saya anggurin (bukan buah anggur ya), nggak kok, alasannya bukan karena saya sibuk, tapi lebih karena saya berpindah ke lain hati (halah), iya saya jadi lebih asik di tumblr, apalagi saya baru ganti tumblr, belum banyak orang yang tau, jadi mu ngepos apaaa juga siapa juga yang peduli ehehehehehe ... (ya kali, yang ini juga mau ngepos apa juga siapa yang peduli ehehehehe).

Oke, jadi sebenernya postingan ini udah kepingin saya post dari entah kapan, tapi baru kesampaian sekarang (karena mulai nganggur, ditinggal keluarga pulang ke depok), dan niatnya mau di post di tumblr biar ah... sudah lah .. toh lagipula tumblr nya berat banget dibuka .. (-->kebanyakan alasan banget ini ...)

yaudahlah daripada saya mulai ngalor ngidul dan tetiba malah jadi banyak nulis yang nggak jelas saya mulai aja.

jadi, ketika saya memasuki usia 19 tahun terhitung 28 Mei lalu, saya mulai banyak mikir tentang kedewasaan, jangan sampai ketika saya masuk usia 20 tahun, dimana orang menyebutnya sebagai dewasa muda, sikap dan pikiran saya masih jauh dari kedewasaan.

Apalagi ketika usia 20 tahun itu, saya juga harus mulai menyiapkan diri untuk berkeluarga (iya, nyiapin mental sama kebiasaan --> ini yang saya sebut dengan "diam-diam tapi progress"). Saya udah harus mulai serius untuk menemukan diri saya, (iya jujur aja, sampai sekarang saya masih kebingungan mendefinisikan jawaban dari pertanyaan "siapa saya?"). Saya juga harus mulai memikirkan visi dan tujuan saya hidup. Walaupun saya sudah tahu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, tapi jujur saja, saya belum benar-benar memaknai hal tersebut.

"Mengetahui" dan "memaknai" jelas beda artinya. Saya punya teori (iya, teori bikinan saya sendiri, jadi jangan coba-coba untuk disitasi buat karya tulis, njih, apalagi buat disertasi.. *ya, kaliiiiiiii*). Jadi, ketika masuk usia anak TK-SD lah ya ... itu waktunya anak-anak tersebut dikenalkan pada tujuan hidup, dan bagaimana caranya untuk mencapai hal tersebut. Cukup dikenalkan, karena sebelum baligh, mereka belum punya kewajiban untuk mengerjakan ibadah mahdhoh. kemudian masuk usia remaja, peralihan anak-anak menuju dewasa, maka mereka seharusnya dalam taraf 'tahu' bukan lagi kenal. Tapi mereka masih mencari cara yang pas untuk menuju tujuan hidup tersebut , seiring dengan pencarian jati diri para remaja tersebut. kemudian, ketika memasuki usia dewasa, seharusnya seseorang sudah dapat memaknai tujuan tersebut. Maksudnya memaknai di sini adalah, bertindak sesuai dengan tujuan, dan ketika dihadapkan pada pilihan pun mereka memilih dengan pasti sesuai apa yang menjadi tujuan hidup, plus dapat memaknai kejadian yang dilewati dalam jalannya mencapai tjuan ..

begitu, ya sebenernya yang paragraf atas itu agak sedikit nggak nyambung, dilewatin aja bacanya juga nggak pa-pa sih ehehehehehe...

Jadi, ceriteranya kurang lebih 10 bulan saya akan memasuki usia dewasa, dan inilah kesempatan terakhir saya untuk lebih memahami diri saya, biar ketika saya benar-benar masuk usia dewasa nanti, saya dapat menjadi lebi bijaksana, tidak lagi disibukkan dengan pencarian jati diri sehingga saya sudah bisa fokus memaknai setiap kejadian yang ada di sekitar saya, dan membuat saya jadi lebih bijaksana.

buat saya, menjadi bijaksana itu sama dengan menjadi dewasa. Penting. Apalagi untuk seorang calon ibu yang akan menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anaknya. Saya harus bisa dengan bijaksana dan cerdas memilih pendidikan yang seperti apa yang baik buat anak-anak saya nantinya, atau sikap mana yang harus saya ambil untuk memberi anak-anak saya pelajaran berharga, agar tidak hanya masuk kuping kanan langsung bablas angineee (halah, korban iklan), tapi juga membekas dalam hati dan aplikatif ...Soalnya, kadang-kadang saya ngerasa, daripada dibilangin, saya lebih suka dicontohin, lhah kalo saya aja begitu, ya anak-anak nantinya juga nggak jauh-jauh lah ya ...

Bijaksana dan dewasa juga penting dalam manajemen emosi dan pikiran. Kalau sekarang saya masih kesulitan dalam memanaj emosi dan pikiran saya hingga akhirnya saya gampang stress yang bikin saya sering muntah-muntah, gimana saya mau memanaj rumah tangga saya, yang jelas jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang memanaj diri saya sendiri. Ntar kalo saya lagi stress, semua saya marahin lagi ... *wah, tidak baik, tidak baik, ckkckckckck..*

Makanya, saya walaupun di suruh kuliah di UI, dan ibu sendiri yang minta, saya menolak dengan halus. Saya harus 'pergi' lagi dari rumah, mencari lebih banyak pengalaman, lebih banyak kejadian, bertemu lebih banyak orang, situasi, dan kondisi, hingga setiap yang saya temui itu bisa saya maknai, dan akhirnya saya terbiasa untuk memaknai ...

Bukannya kalo di UI juga bakal ketemu banyak hal? iya sih .. tapi saya nggak akan menghadapi kondisi dimana saya kehabisan beras pas lagi ramadhan, sementara saya tinggal sendirian di kontrakan, serta toko sembako deket rumah udah tutup gara-gara yang punya mudik entah kemana. Saya juga nggak akan menghadapi kondisi dimana saya bertengkar dengan diri saya sendiri karena nggak menemukan jalan keluar untuk masalah saya dan saya nggak bisa minta bantuan orang lain, karena cuma saya yang tahu masalahnya. Kalau saya di UI, jelas orang tua saya pasti tahu persis gimana saya, apa masalah saya soalnya saya tipe orang yang bakal cerita ke orang tua kalo ada apa-apa, dan ada di rumah akan menambah intensitas hal tersebut.

Simpelnya, kalo saya di UI, berarti saya nggak ngekos, nggak jauh dari rumah (yaiyalaaaah ya, orang UI sama rumah cuma 5 menit naik motor, kao nggak macet), kalo saya nggak jauh dari rumah, saya bakal ada di zona aman saya, dan saya bakal tetep dianggap 'adek' atau 'anak bungsu'. Udah bertahun-tahun jauh dari rumah aja, setiap kali balik saya jaid 'anak bungsu' lagi, apalagi kalo saya tiap hari ada di rumah. Saya nggak akan pernah keluar dari zona aman zaya .. eh saya ...

Dengan menantang diri saya untuk keluar dari zona aman saya, kedewasaan tersebut akan lebih cepat menguasai diri saya ..

begitu kira-kira ...

Yah, tapi orang beda-beda sih ...