Minggu, 14 April 2013

Mohon Maaf Pembaca! #pentingnya bertabayun

Assalamu'alaikum wr wb

Untuk semua pembaca, dan terutama untuk Anaknya nenek Artija dan segenap keluarganya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya .. *menunduk dalam-dalam, dan membungkukkan badan* *beristighfar banyak-banyak*

beberapa hari yang lalu saya mengepos di blog saya tentang sebuah berita Nenek Artija (silakan cari di google kalau belum tahu) yang saya sitasi dari Islamedia. Sejujurnya saat saya mengepos berita tersebut, saya cuma mengambil dari 1 sumber, Islamedia, dan dengan penafsiran saya sendiri. Memang itu sekali-kalinya saya mengepos tentang sebuah issu (waaopun emang belom pernah sih sebelumnya saya mengepos tentang issu) tanpa menelusuri jejak infonya dari awal, dan dengan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Saya baru sadar kalau saya tidak mencermati setiap katanya waktu tadi saya buka blog yang akhir-akhir ini sepi pengunjung, tapi ternyata ada komentar dari anonim yang menjelaskan secara singkat duduk perkara kasus yang saya pos tersebut dan mengingatkan saya betapa pentingnya bertabayun. Saat itu saya cepat-cepat beristigfar sebanyak mungkin, Semoga Allah mengampuni saya yang nggak bertabayun sehingga jadi su'udzhon dan mengampuni pembaca ang jadi salah tafsir gara-gara tulisan saya. (Amiiiin)


Sebenarnya saya selama ini kalau ada issu yang sedang panas lebih suka kalem sambil menelusuri jejak info yang benar seperti apa dari berbagai media dan dari berbagai sudut pandang orang, itu kan yang disebut bertabayun? Tapi mungkin, ini emang skenario dari Allah ketika sekalinya saya tidak bertabayun dan malah jadi su'udzhon, saya langsung ditegur oleh orang yang saya tidak tahu namanya (karena tidak mencantumkan namanya) dengan halus. Saya bersyukur yang mengingatkan saya masih manusia dan masih dengan cara yang halus, kalau Allah yang mengingatkan saya dengan adzab Nya, na'udzubillahimindzaliik ...

Makanya, saya di sini sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang merasa dirugikan, karena takut merugikan banyak pihak lebih jauh lagi, jadi postingannya saya hapus. kemudian untuk kakak/bapak/ibu anonymous yang sudah mengingatkan saya, saya mau mengucapkan jazakumullah khairan katsiiran semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang sebanyak-banyaknya ...

Allahummaghfirlanaa...

Allahummaghfirlanaa...

Allahummaghfirlanaa...

astaghfirullahal a'dzhiim ...

Wassalamu'alaikum wr wb

Pindah Rumah

hari ini seorang personil dari rumah kami pindah. Meninggalkan sejuta cerita dan goresan kenangan di dinding-dinding, lantai, langit-langit, pintu-pintu dan setiap elemen yang ada di rumah kami.

Satu keceriaan berkurang dari rumah kami, dan satu tawa telah pindah ke rumah yang mungkin lebih berhak mendapatkannya ...

Jujur saja, beberapa hari terakhir rasanya cukup sedih memikirkan kekosongan rumah ini dengan berkurangnya satu orang yang kebetulan membawa barang yang agak sedikit besar. Dan benar saja ... rasanya setelah kepindahannya rumah kami jadi lebih kosong ...

Nida' ... Semoga rumah barunya berkah :)

Sering-sering main ke rumah kami ya ... (Kata disho, sekarang bahasanya sudah "Sering-sering main ya" bukan "Pulangnya jangan kemaleman ya" :'( )

Sabtu, 13 April 2013

Guing-guling pasca ujian

Hahahaa.. judulnya agak-agak ya -,-

nggak tau, saya rasanya pengen banget guling-guling ngelngker-lingker habis ujian kemarin ..

tapi belom bisa, soalnya banyak amanah menanti... T.T

Ayo semangat Tyani!!!!

Sabtu, 06 April 2013

Sekelumit Impian


Waktu kumpul anggota BIMO Forsalamm 1434 H perdana kemarin, salah seorang anggota redaksinya, Kak Muharrir, berkata waktu diminta Mbak Triani untuk mengungkapkan mimpinya untuk BIMO Forsalamm ke depannya, 
Mimpi itu gratis, kan ya? Makanya di sini saya bermimpi yang muluk-muluk, karena katanya mimpi itu gratis ... 
Iya, waktu itu saya  mikir, bener juga ya, bermimpi itu gratis, tis. Nggak bayar, dan nggak dilarang. Nggak ada ketentuan dan nggak ada undang-undangnya. Nggak realistis juga nggak pa-pa. Kalau mimpi memikirkan realita, ya nggak jadi mimpi dong ..., karena realita terlalu keras, tugas kita adalah menarik mimpi ini untuk terwujud dengan menabrak realita yang ada, terabas terus, berhenti boleh, tapi sebentar aja, buat lihat-lihat kondisi dan langkah apa yang harus diambil berikutnya ... Tapi berhentinya keterusan, ya nanti nggak jadi tercapai dong mimpinya ...

Jadi, sama kayak Kak Muharrir, di sini saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya, dan karena mimpi itu gratis, jadi saya mau bermimpi yang nggak kalah muluk sama Kak Muharrir yang bermimpi menjadi mentri perindustrian ... hehehehheh ... (yang baca, mohon di-amin-in ya ..:), terima kasih) 

1. Yang pertama banget, Impian saya dari kecil, yaitu jadi hafidzhoh ... dan karena sayan nya males-malesan dari jaman kapan tau, akhirnya targetan saya juga mundur..., sebenernya dulu saya nargetin, umur 20 saya udah jadi hafidzoh, tapi karena bener-bener masih banyak banget yang harus dihafal dan diulang, jadi mungkin berubah jadi "di umur 20-an saya akan jadi hafidzhoh" hehehehehe... Dan akhirnya saya menargetkan, sebelum saya jadi dokter, sayaa harus udah jadi hafidzhoh, dan itu masih sekitar 5 tahun lagi..lagipula, saya sudah menjanjikan sebuha mahkota untuk orang tua saya di surga nanti karena hafalan saya, jadi, SEMANGAT TYANI!!!!

2. Saya mau belajar di Belanda. Saya mau ambil S2 Biologi di Belanda. Di sana, secara rinci, saya belum tahu sih mau ngapain, tapi saya terinspirasi dari buku nya Hanum Rais yang "99 Cahaya di Langit Eropa", saya mau menelusuri jejak keislaman di Eropa dan merangkumnya jadi satu buku yang nggak kalah bagus dari bukunya Hanum Rais :) ,, (jadi ini saya mau belajar atau mau jalan-jalan? hehehehhehhe)

3. Saya mau dan HARUS balik lagi ke Indonesia. Ngapain? Ya... bayar utang lah ... Indonesaia sudah memberikan banyak pengajaran pada saya, apalagi waktu di MAN dulu, saya gratis tis sekolahnya dibiayain sama negara, jadi, saya HARUS balik lagi ke Indonesia dan berkontribusi di negara saya. Kalau Kak Muharir mau berkontribusi di negara ini melalu posisi menteri, saya nggak pengen jadi menteri, saya pengen berkelana menyusuri Indonesia dari desa yang satu ke desa yang lain, jadi dokter umum di sana sekaligus edukator buat anak-anak dan orang tuanya ... Saya mungkin nggak ngajarin mereka ilmu fisika yang ribet atau matematika yang bikin pusing, saya cuma mau mengajarkan ilmu nya Allah, tentang proses yang terjadi di alam dan mengenalkan ke orang-orang ini tentang Sang Pencipta alam ini ... Supaya, nggak ada lagi orang yang nggak mengenal Tuhannya, karena Man 'arafa rabbahu, qad 'arafa nafsahu Barang siapa yang mengenal Tuhannya, maka ia mengenal dirinya sendiri. Kalau kita mengenal diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan kepada siapa kita harus menghamba, niscaya, dunia ini  akan bersih dari kemakshiyatan ...

4. Terus, mimpi saya berikutnya, Saya mau membangun generasi qur'ani dari rahim saya. Kalau saya punya anak-anak nanti, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya, bahwa apapun masalah yang dihadapi anak-anak saya nantinya, solusinya adalah Al-Qur'an ... Akan lebih baik jika anak-anak saya nantinya adalah hafidzh-hafidzhoh ayat-ayat Allah, tapi saya berharap mereka memahami dengan baik makna Al-Qur'an, fungsinya dan mengapa ada Al-Qur'an, Karena sesunggunya Al-Qur'an itu firman-Nya, dengan Al-Qur'an Allah berbicara, dan itu mungkin cara yang paliiiing mudah untuk kita, ummat nabi Muhammad untuk berbicara dan berinteraksi dengan Sang Penciptanya ... CMIIW.

Segini dulu deh, saya masih mikir-mikir saya mau bermimpi apalagi...

Mimpi saya terlalu idealis ya? maklum, mahasiswa hehehehehe... Nggak papa, kalau terlalu realistis nggak jadi mimpi dong :) 
Susah mencapainya? Iyalah ... Namanya juga mimpi yang muluk, saya juga nggak tau akan beneran tercapai atau nggak hehehehehhe, makanya Saya selalu berdoa, Semoga Allah senantiasa menguatkan hati saya, iman saya, jiwa saya, akal saya, fisik saya, dan meluaskan pemahaman saya terhadap hidup, terhadap apa yang saya terima setiap harinya, sehingga saya tidak termasuk orang yang merugi ...

Begitu kira-kira ...

Okesip, Fren, yang penting tuh 
DARE TO DREAM!

Ada Apa Dengan Kita? #KisahKita1

Ada apa dengan kita?

Sudah lama kita tidak bertatap muka secara langsung, tidak hanya lewat sosial media, atau bahkan lewat foto?

Tapi, kita juga tidak pernah lagi sekadar berkirim pesan singkat, walaupun isinya cuma satu kata, "hai" .. yah paling tidak, dengan kata itu, kita tahu bahwa kita ada, dan masih ingin berhubungan.

Ada apa dengan kita?

Sudah putuskah tali silaturrahim antara kita? Atau kau sudah enggan berbicara tentang "Kita" dan menafikan kehadirannya, dan kini tinggal "Kau" dan "Aku" ?

Tidak, tidak, tidak

Aku tidak mau berprasangka yang tidak baik tentang Kita.

Maaf ya, Kalau pikiranku yang terlalu liar ini malah berprasangka yang tidak-tidak.

Aku cuma merindukan Kita ... :)