Kamis, 28 Maret 2013

Suatu Siang di Masjid Ibnu Sina

Bismillah...

Usai kegiatan tutorial tadi pagi, dengan banyak sebab dan alasan, kepulangan saya ke kontrakan tertunda. Mulai dari alasan nungguin kantor farmakologi buka buat ngumpulin laporan praktikum, mau share tentang adobe in design sama temen, sampai kunci kontrakan hilang ...

Saya nggak tahu yang mana yang jadi alasan utama saya nggak segera pulang, padahal kemarin-kemarin, kalau ada waktu untuk pulang siang saya sengaja cepet-cepet berkemas dan kabur dari kampus bahkan belum shalat dzhuhur sekalipun sebenernya waktu saya masih di kampus udah masuk waktu zuhur.

Kemaren saya baru aja selesai ujian tentamen anatomi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, usai ujian tentamen itu selalu menghadirkan euforia tersendiri buat temen-temen saya, termasuk saya juga sih...hhhehehehe.. kayaknya bebannya anak-anak FK itu jadi bukannya di ujian bloknya tapi malah di tentamen anatominya ,,

Dan emang sih, sampai saat ini juga, dan dari dulu yang namanya anatomi itu selalu punya prestige tersendiri di kalangan anak-anak kedokteran, saya juga nggak tau kenapa, mungkin karena menghafal nama-nama anatomi yang pake bahasa latin itu keliatan keren, apalagi waktu mengucapkannya di depan orang-orang non kedokteran, kayaknya tuh harus bilang WOW banget gitu...

terkait masalah anatomi ini, saya jadi inget kata salah seorang teman kampus saya yang sekarang jadi santri kalong di salah satu pondok tahfidzh di jogja. Beliau bilang, "Masa, gue setiap hari ngafalin istilah-istilah anatomi yang njelimet dan bikin rusuh di otak gue, tapi gue nggak ngafalin ayat-ayat Al-Qur'an yang sebenernya udah deket sama gue sejak kecil dan perintah agama lagi."

Ng.. oke, itu rasanya JLEB banget buat saya yang selama setengah tahun kuliah ini belum mulai menghafal lagi, padahal, waktu MTs saya punya target umur 20 saya udah jadi hafidzhoh, dan realitanya?

Ya.. Allah, betapa mudah sekali menomorduakan urusan agama...Apakah mungkin karena urusan ini di'tagih' dan dirasakan hasilnya masih nanti-nanti? dan segala macam urusan laporan praktikum dan sebagainya itu sudah ditagih di untuk esok hari sebagai jaminan IP yang bagus di lembar-lembar ijazah?

Padahal, hidup ini kan sebuah sekolah yang nggak akan ada habisnya, yang pembagian raport nya ntaaaaar banget...  yang penilainnya cuma Allah yang tahu, yang reward dan punishment nya kita terima dengan keadilan yang sebenar-benarnya adil.

Tapi, sering banget, kita, termasuk saya, lupa dengan semua tugas yang dikasih Allah. Masalahnya, dunia itu sekolah yang bikin kita terlena. Murkanya Allah belum tentu dateng pas kita udah tua, ia bisa dateng kapan aja. Ujiannya juga kapan aja. Ngerjain tugas atau nggak, balasannya akumulatif, dan seringkali kita nggak sadar sampai hari pembagian raportnya tiba. Lhah, gimana tuh?

Jangan tanya saya, saya juga nggak tahu... hehehhehe...

Yah.. semoga Allah senantiasa memantapkan hati kita di jalan-Nya, di jalan yang senantiasa diridhai oleh-Nya ... sehingga, waktu hari pengambilan raport ntar, yang kita terima adalah reward darinya,,, :) SEMANGAT!!

Sabtu, 16 Maret 2013

Ditulis dengan Indah ...

Kemarin dulu (entah kapan saya lupa), dan sekarang saya membaca postingan dari blog seorang teman (maaf saya nggak cantumin, soalnya saya belom izin ke orang nya :P). Postingannya, bukan postingan yang bikin kalian harus bilang WOW pake koprol atau naik-naik ke pohon sambil bilang "pucuk..pucuk..pucuk.." (#Eh lho?) ... Nggak kok .. postingannya postingan sederhana, isinya si teman saya ini mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang sahabatnya yang sekarang tinggal di salah satu daerah di Jawa Tengah (maaf ya saya nggak terang-terangan menyebut orangnya, lagi-lagi karena saya belum izin :)). 

Alkisah, mereka berdua sudah sahabatan sejak SMA dengan cara yang-kalau saya bilang agak sedikit aneh- karena biasanya persahabata cewek itu dipenuhi dengan curhat2, mereka lebih sering dipenuhi dengan jahilmenjahili hehehehe.. yah tapi, mungkin itu salah satu cara mereka untuk mengungkapkan rasa sayang :) ... Karena rasa sayang itu bentuknya beda-beda iya kan? Orang tua misalnya, kalau mereka marah, biasanya karena mereka sayang kita, bukan karena kesal atau nggak rela punya anak kayak kita ... *udah mulai ngaco*

Yak, balik lagi ke tujuan awal saya posting ini. Jadi, postingan di blog temen saya itu isinya tentang ucapan selamat ulang tahun kepada sahabatnya. Ia mengawalinya dengan kata 'hai.' tanpa menyebut kepada siapa postingan ini ditujukan. Buat saya yang emang kepo dan melankolis, satu kata itu mengundang banget untuk minta dibaca sampai ke bagian paling akhirnya. 

kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat ulang tahun dan do'a-do'a. sebenernya standar. tapi, entah kenapa hati saya terenyuh waktu membacanya.. Mungkin, karena teman saya itu menulisnya dengan hati. Mungkin karena ia menyertakan hatinya yang paling dalam di tulisan selamat ulang tahun untuk sahabatnya tersebut. Jadi, ketika saya membacanya, tulisannya jadi terlihat indah, sangat indah... 

Terlihat pure, mungkin juga karena teman saya itu menulis tanpa merasa perlu dibaca orang. Mungkin juga karena rasa sayang teman saya ke sahabatnya itu sangat dalam sehingga ia bisa menulis dengan begitu indah ...

Ah, sudah, makin lama saya nulis saya jadi makin iri .. hehehehe ...

Rabu, 13 Maret 2013

Yang melelahkan itu...

Yang melelahkan itu bukan dibentak-bentak, ditekan, dimarahin, dihukum fisik, ...

Yang melelahkan itu bukan jalan dari RS Sardjito ke stasiun Lempuyangan, ...

Yang melelahkan itu adalah ketika melakukan sesuatu, namun hati menolak mengerjakan. Meski lisan mengatakan hal yang kita lakukan adalah baik, bermanfaat, dan benar, namun karena hati telah menolak, pikiran pun tidak dapat menemukan sisi positif dari hal tersebut, dan pada akhirnya pekerjaan yang dilakukan jauh dari keikhlasan maupun cinta ...

Dan itu melelahkan ...

Sangat melelahkan ...

Padahal tahu, sangat tahu bahkan, bahwa untuk melakukan sesuatu haruslah disertai hati agar dapat bermanfaat, minimal untuk diri sendiri. Dan kadangkala pemahaman tentang apa yang sedang kita lakukan itu datangnya terlambat, bisa jadi hari itu juga, bisa jadi tahun depan, bisa jadi juga bertahun-tahun yang akan datang...

Makanya, kadangkala hati harus dibuat lapang selapang-lapangnya ... agar, sekalipun belum memahami makna dari apa yang dilakukan saat itu, setidaknya ada keikhlasan dalam menjalankannya, sehingga membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain ...


Dan sepanjang kemarin hingga kini, saya berdoa, Ya Allah .. berilah kami pemahaman seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, tentang makna hidup ini, tentang apa yang kami lakukan, agar kami dapat senantiasa ikhlas dalam menjalankan hidup ini, dan agar supaya kami dapat membawa manfaat bagi sesama kami .. Amiiin...


*Ditulis pasca DM 1 KAMMI angkatan Moh.Hatta yang melelahkan.. Semoga Allah melapangkan hati saya dan memberi saya pemahaman tentangnya ...:)

Senin, 04 Maret 2013

Menghadirkan Hati dan Cinta (Tentang Hati #4)


Di akhir liburan semester ganjil kemarin saya baru menemukan sesuatu yang waktu saya sadari ternyata sudah kira-kira setengah tahun hilang dari dalam diri saya.

Seusatu itu diperkuat lagi dengan adanya sms yang dikirim ngeni waktu aku tanya tentang buku referensi biokimia selain biokimia harper dan kemudian-tanpa sengaja-kita ngobrolin seorang asdos biokimia (nggak perlu sebut merk ya... :P), waktu itu Ngeni bilang kira-kira begini, "Beliau itu asdos biokim paling enak kali, beliau mengajar karena cinta ..."

Sudah bisa menebak saya kehilangan apa? (bukan, bukan kehilangan uang, apalagi pacar #eh? :P)

Iya, waktu saya telisik lagi ke dalam diri saya, memutar kembali memori saya tentang setengah tahun ke belakang selama 1 semester kemarin, saya menemukan diri saya kehilangan-apa ya menyebutnya- ... 'cinta' atau 'hati' dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan. Tapi, bukan berarti saya mencintai dunia, sob.

Saya punya pemahaman dan keyakinan kalau ketika kita melakukan sesuatu haruslah dipenuhi rasa cinta, dan menghadirkan hati di dalamnya, hanya dengan begitulah pekerjaan tersebut dapat membawa manfaat yang lebih besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tapi, ternyata satu semester kemarin saya lempeng-lempeng aja gitu. Suka nggak, nggak suka juga nggak. Hati saya nggak tertaut di FK ini, mungkin belum, akibat shock karena keterima (iya lho, dulu saya bener-bener nggak nyangka saya bisa masuk FK, karena saya mempersiapkan hal paling buruk yang bisa saya bayangkan, yaitu nggak keterima di UGM, saya sudah menyusun rencana lain bahkan..., tapi ternyata Allah menghendaki saya di berada di FK UGM, sesuai dengan harapan keluarga saya, entah itu keluarga Depok, Solo, Salatiga ataupun Madiun).  Jadi, saya kuliah dengan semrawut. Berkegiatan dengan semrawut. Kebanyakan kerjaan saya kuliah-pulang ke kosan-tidur, atau main, atau kabur dan menghilang seharian dari sebuah kerutinan yang monoton.

Kemudian, liburan kemarin, saya sadar, satu semeseter kemarin, kebanyakan saya nggak membawa manfaat banyak, entah itu bagi diri saya sendiri, atau bagi orang lain. Bahkan mungkin, malah banyak menyakiti hati banyak orang, dan banyak berbohong pada diri sendiri.

Dan di awal semester 2 ini, yang baru berjalan 1 minggu ini, yang saya harus lakukan adalah menghadirkan hati dan cinta saya pada setiap kuliah yang saya jalani, pada setiap kegiatan yang saya lakukan, pada setiap detik yang saya habiskan di Jogja, jauh kan dari rumah ... kalau nggak membawa manfaat, sayang dong?

Tapi sebelum semua itu, yang harus saya hadirkan dalam diri saya adalah pemahaman. Kalau kata seorang ustadzah, hati itu hadir ketika kita dapat memahami mengapa Allah membawa kita ke dalam kondisi tersebut.

Jadi, sekarang saya perlu tahu dan perlu memahami, mengapa Allah menempatkan saya di FK. Jawabannya bisa beragam, tapi mungkin yang paling bisa saya terima adalah, "Karena Allah tahu, dan karena Ia Maha Tahu segala hal, saya sanggup menjalani setiap kuliah dan aktivitas di fakultas ini" terlepas dari saya pintar atau tidak. Kemudian, bisa jadi juga "Karena Allah ingin menguji saya dengan nikmat ini, nikmat diterima di FK". Sebenernya masih banyak jawaban yang seliwer di pikiran saya yang kayaknya terlalu berat untuk dipikirkan sekarang, seperti misalnya "Karena Allah mengingkan saya membawa perubahan ke arah yang baik di fakultas ini". Tapi, yang satu itu ntar saja saya pikirkan pemahamannya, kalau saya sudah benar-benar settle di kelembagaan.

Kemudian saya simpulkan ada 2 jawaban buat saya dari pertanyaan, "Mengapa Allah menempatkan saya di FK":
1. Karena Allah tahu saya sanggup menjalani setiap aktivitas di fakultas ini,
2. Karena Allah ingin menguji saya dengan nikmat 'diterimanya saya di FK'

Karenanya, karena ini adalah sebuah ujian, ujian kehidupan tentunya, jadi saya harus menjalaninya dengan baik, agar Allah tidak menghinakan saya dengan ujian ini. Saya harus mempersiapkan segalanya dengan baik untuk ujian ini, sebagaimana saya mau melaksanakan ujian di setiap akhir blok kuliah saya, di setiap akhir semester saya baik di SD, SMP maupun SMA dulu.

Hampir saja quit dari halaqoh, kalau saja Allah nggak mengingatkan saya-dalam bentuk tak langsung tentu saja- berupa perenungan. Urusan halaqoh ini, padahal Allah telah memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki tabiat-sering-kabur halaqoh saya (waktu di MAN dulu, saya termasuk orang yang sering ngabur halaqoh, makanya saya nggak pernah mau jadi penanggung jawab kegiatan halaqoh hehehehehe). Kalau saja kemarin saya benar-benar mengungkapkan pemikiran saya untuk berhenti ikut halaqoh, entah apa yang akan saya dapati. Mungkin saja, Allah tidak mau lagi memberi saya kesempatan untuk mengkaji Islam lebih dalam lagi. Atau yang lebih parah, mungkin saja sekarang saya sudah melupakan kehadiran Allah dalam hidup saya. Siapa yang tahu? Allah selalu bisa dengan mudah memuliakan hamba-Nya, tentu mudah juga bagi-Nya untuk menghinakan hamba-Nya, termasuk saya. Na'udzubillahi min dzaliik .. saya hampir, benar-benar hampir untuk alasan yang sangat, sangat superficial yang menyangkut pencarian jati diri saya sendiri,,, Astagfirullahal 'adzhim ...

kayaknya memang saya, kita harus memperbanyak dzikir dan beritighfar. Dan juga berdo'a "yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinika thoo'atika" ... Ya Allah, yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati-hati kami pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Kalau saja saya nggak senantiasa berdoa itu setiap usai shalat, dan tentu saja doa-doa dari orang yang saya kasihi, Ibu saya misalnya, mungkin saja Allah nggak akan memberikan pemahaman kepada saya saat saya menginginkan berhenti dari halaqoh.

Nah, halaqoh itu kan isinya mengkaji lebih dalam tentang Islam. Dengan saya mengikuti halaqoh rutin, saya jadi punya bekal untuk menghadapi ujian yang sedang terlaksana buat saya. Sedikit-sedikit pemahaman saya dapatkan, terkait banyak hal. Terutama syummuliyatul Islam, bagaimana Islam, Diinullah dapat membawa saya pada sebuah keteraturan hidup, ketentraman hati dan kerinduan pada-Nya selaku sang Khaliq, yang telah menghadirkan saya ke dunia ini melalui Bapak dan Ibu saya (yang sekarang ada di rumah :), Ya... Allah betapa saya merindukan beliau berdua...)

Dan, tentu saja saya nggak boleh stagnan cuma ikut halaqoh. Untuk mencapai pemahaman saya butuh ilmu, dan Ilmu itu bisa diambil darimana saja. Dan saya tahu, di UGM banyak sekali kajian yang digelar oleh lembaga-lembaga LDF, LDK ataupun lembaga non kampus yang pasti punya banyak manfaat. Jadi,    saya nggak boleh lagi males dan absen bukan karena alasan yang syr'i untuk datang kajian! Sip, jadi udah satu hal yang masuk ke dalam 'list to do' saya. Ikut kajian. Semoga dengan ini Allah memberi pemahaman lebih mendalam pada saya :)

Kemudian, jawaban lain, "karena Allah tahu saya mampu untuk berada di FK UGM ini". Mungkin sekarang saya belum bener-bener settle di FK. nilainya masih hancur-hancuran sekadar untuk memenuhi kriteria lulus saja. diskusi tutorial masih sekadar menghadirkan fisik belaka belum mencapai menghadirkan hati dan pemikiran. Praktikum masih sekedar memenuhi 100% kehadiran. Dan lecture, sama seperti tutorial, masih sekedar menghadirkan fisik, dan sama pula dengan praktikum, masih sekedar untuk memenuhi kuota absen minimal 75%.

Padahal, kalau Allah saja telah memperkirakan saya mampu dengan menempatkan saya di FK, masa, saya ragu dengan hal tersebut? Apakah itu berarti saya meragukan Allah yang Maha Mengetahui segalanya? Astagfirullah... tuh kan, kadang kala kita tanpa sadar telah su'udzhon sama Allah, meragukan kehendak-Nya, dan menjudge bahwa hidup terkadang tak adil. Masya Allah, ternyata kemarin-kemarin saya futhur banget ya? (*parah banget baru sadar*).

Allah yakin, maka saya juga harus yakin bahwa saya bisa menjalani hidup di FK ini. Kalau kemarin yang saya lakukan hanya 'sekadar'nya, mestinya saya bisa lebih dari sekadarnya. Masa Allah menempatkan saya sekadarnya. Nggak kan? Pasti ada alasan yang lebih baik dari 'sekadar'nya. Dan saya mau alasan tersebut adalah bahwa saya mampu, benar-benar mampu, dengan seluruh kemampuan yang saya punya, yang sudah saya tempa di ponpes dan di IC dulu.

Dan kemampuan itu, saya yakin, nggak akan keluar dari dalam diri saya, kalau saya nggak menariknya keluar (atau mendorongnya keluar?) dari dalam diri saya. Tentu aja, urusan tarik menarik ini atau dorong mendorong ini nggak bisa sekadar tarik dengan badan yang lemas, dan pikiran negatif. Butuh effort lebih. Baca buku nya ditingkatin misalnya. Banyak nanya hal-hal yang nggak saya mengerti, misalnya. Dan nggak diem aja waktu tutorial juga salah satu effort yang mesti saya lakuin buat menarik semua yang ada dalam diri saya keluar. 

Oh iya, yang paling penting dari semua itu, adalah, saya harus berhenti 'melihat orang lain'. Saya punya kehidupan, saya adalah saya. Saya harus berhenti bergantung pada orang lain untuk beberapa hal. Say harus berhenti 'melihat orang lain'. Yang harus saya lakukan adalah, jujur pada diri sendiri, dan mulai menjadi diri sendiri. :)

Well, kayaknya kerjaan saya banyak nih... harus segera bikin 'List To Do' dan memperbaiki Life Plan yang saya bikin secara asal-asalan waktu SMA dulu (*ups, ketahuan :P) ... dan yang utama, saya harus mulai bergerak! 

Kata Afifah Afra dalam bukunya 'And The Star Is Me' -- Hiduplah bagai Air, air akan punya manfaat lebih ketika ia bergerak--

Siip!! Semangat semuanya !!!!




--Lega juga setelah mengeluarkan segala uneg-uneg yang beberapa hari ini menggumpal di dalam dada, dan seringkali membludak di waktu-waktu yang tidak seharusnya menjadi emosi yang tak terkendali--

Sabtu, 02 Maret 2013

Tertawa

kemarin, seorang teman dari keperawatan, Mimi namanya, menulis di buku harian saya,

Buat tiyani... hehe paling suka deh liat tyani ketawa hehehe jadi pengen ikutan ketawa jadinya ^^

Ya.. Allah... betapa beberapa hari terakhir ini senyuman dan tawa jarang sekali saya tampilkan di wajah saya, frustasi berkepanjangan yang tidak jelas asal usulnya... yang ketika ditelusuri berujung pada sebuah kebohongan besar pada diri sendiri...

Ya... Allah, kapan saya bisa lebih jujur pada diri saya sendiri?

FORGA KaLAM 1434 H

Yep, tadi banget, bener-bener baru tadi banget dari jam setengah 8 sampe setengah 12 tadi, gue mengikuti satu kegiatan awal untuk pengakraban dari salah satu BSO (badan semi otonom) fakultas yang juga merupakan LDF alias Lembaga Dakwah Fakultas, yakni KaLAM atau yang punya kepanjangan Keluarga Cendekia Muslim Medika... iya jangan tanya gue dari mana asal usulnya, gue bukan angkatan pertama nya sih ..hehehheheheh :P

Gue di KaLAM ini di divisi Media Opini, yang kalo kata kadiv gue, kak syafiq, gue itu terjebak di media, karena udah di media opini kalam, dii medisina juga, terus dari dulu ngurusinnya buletiiin mulu ... #nggakpenting.

Yang mau gue sorot di sini adalah, entah kenapa gue bingung banget waktu ditanya harapan masuk Kalam, masuk media opini... terus entah kenapa gue jawabnya, "Nggak ada yang spesifik sih," emang, insya Allah sama kayak yang lain secara umum. Tapi di atas kepentinga umum, gue punya kepentingan pribadi yang menjadi alasan utama gue berada hari ini, di BSO manapun.

Iya, alasan pribadi gue yang juga merupakan alasan utama adalah, gue pengen bisa bermanfaat di bidang yang gue bisa, di bidang yang emang udah jadi suatu concern buat gue. Dan dengan menjalaninya terus, gue bisa nambah ilmu sekalian, kan dalam perjalanannya pasti ada kritikan ada saran masukan, dan dari sanalah gue harus belajar. Nggak banyak. Cuma itu alasan gue. biar gue bisa jadi orang yang bermanfaat. Daripada gue masuk di bidang yang gue nggak punya kemampuan di dalamnya, kewirausahaan misalnya, yah yang ada nanti malah nggak amanah.. plus pake dongkol ngejalaninnya hehehhehe...

tapi, entah kenapa satu alasan besar ini, tadi, gue nggak bisa ngungkapin di depan temen-temen media yang hadir... tapi di blog yang dibaca dari mana-mana (walopun kebanyakan yang baca pasti temen seangkatan di IC) justru gue jabarkan dengan panjang kali lebar hehehehheheh ... maaf ya mbak Arinda dan kak Syafiq ... :)

Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Hati #3

Ya Allah.. Sesungguhnya hati ini milik-Mu ya Allah...

Kuasanya ada di tangan-Mu,

Mudah saja bagi-Mu untuk membolak-balikan hati ini dan seluruhnya semudah membalikkan telapak tangan,

Karenanya Ya Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu...

Jika engkau berkenan untuk membalikkan hati ini, balikkanlah ke sisi dimana Engkau lah yang berada di sisi tersebut ...  sehingga hati ini senantiasa dapat 'melihat'-Mu dan semakin tunduk kepada-Mu...