Selasa, 26 November 2013

Semuanya Lelah

Saya tahu, semuanya sedang lelah ... Semuanya, mungkin, saat ini sedang dalam titik terlelahnya, Dimana yang satu enggan menanggapi perkataan lainnya, inginnya menggeleng tak setuju, tapi yang keluar justru amuk emosi dalam hati. karena lelah ... inginnya mengangguk setuju dengan semangat, namun hanya anggukan lemah, pasrah yang terlihat ... karena semuanya sedang lelah.

Semuanya sedang lelah ...

Beberapa mencoba tersenyum. Memaksakan diri mungkin. Untuk membuat yang lain tersenyum, tapi yang ada hanya senyum tegang, senyum yang tak senyum. Karena semuanya sedang lelah.

Semua aktivitas beberapa bulan, beberapa minggu, beberapa hari terakhir mungkin memang menyedot habis semua perhatian kita, energi, senyum, dan semua hal positif dari kita. Hingga menyisakan lelah dalam hati...

Semuanya bertanya, kapan berakhir? kapan selesai? Semua menjerit, semua mengeluh, semua Lelah ...

Kau juga merasakannya juga kan?

Karenanya, aku mohon, tidak perlu lagi ada dzhan di antara kita, tidak perlu ada debat di antara kita, tidak perlu ada lagi pertengkaran-pertengkaran tak berarti di antara kita ... Kita cari solusinya tanpa harus mengerutkan wajah, menengangkan urat nadi dan semua aktivitas yang membuat semua keadaan ini semakin melelahkan ...

Kau juga merasakannya kan? Semua atmosfer kelelahan ini ... Sudah ya? Sudah, kita tak perlu lagi adu mulut, adu pendapat, adu argumen, tidak perlu lagi saling menyalahkan, saling tuduh, saling tikam ... sudah ya? Sudah cukup ...

Sudah ya?

Karena kita semua lelah ... Karenanya, biarkan, paling tidak sedikit kedamaian untuk diri sendiri dengan menghindari setiap dzhan, dan setiap debat ... cukup terima saja ... terima saja ... Ada saatnya kita paham kenapa harus selelah ini, kalau tidak sekarang, mungkin esok hari, mungkin lusa, mungkin atau hari-hari berikutnya ...

Ada saatnya kita akan paham, Ada saatnya ....

Kamis, 21 November 2013

Random yang lain lagi

Kalau lagi berdiam diri begini, dan di kontrakan sendirian, kadang-kadang gue suka membiarkan Tv menyala, playlist di hape muter, lampu menyala semua, SEMUA, kipas angin muter, laptop nyala dan kadang-kadang muter fim sekalipun yang dibuka tetep aja blogger atau tumblr.

Buat apa? Nggak tau. Gue juga nggak tau buat apa. Tapi gue nyaman aja dengan 'keramaian' itu. Dan dalam 'keramaian' yang gue buat itu, gue suka tiba-tiba tenggelam dalam pikiran gue. Gue suka berpikir yang kemaren udah lalu, menguang kembai memori menyenangkan yang pernah gue lalui. Terus, pikiran gue kadang-kadang suka nyerempet ke memori yang nggak enak, yang bikin gue jadi berpikir, jangan-jangan kejadin itu berhubungan dengan kejadian yang kemaren, atau malah kejadian besok. Dan seterusnya- dan seterusnya.

Tapi, kadang-kadang gue mikir tentang kondisi sekarang. Kondisi gue sekarang, kondisi lingkungan gue, dan macam-macam sekarang lainnya. Kadang-kadang, tiba-tiba muncul ide konsep tentang suatu hal yang akan dan sedang gue jalani, yang menurut gue bagus. Tapi, gue nggak tau sih menurut pandangan orang lain. Gue ngomong gini bukan berarti gue nggak diskusi ke banyak orang. Pernah ide-ide itu gue lisankan sama petinggi-petinggi. Tapi, gue seringkali nggak mendapat tanggapan, apresiasi, atau bahkan ide gue diabaikan? Makanya, akhir-akhir ini kalo punya ide, lebih suka gue godok sendiri dalam pikiran gue. Dan entah kapan akan gue lisankan ....

Terus, gue juga suka mikir tentang banyak orang, tentang betapa hebatnya mereka, tentang betapa cupunya gue,  tentang si A, tentang si B, tentang keputusan-keputusan yang mereka pilih, tentang bagaimana mereka menjalani hidup dengan kondisi mereka. Gue suka mikirnya, bikin gue mikir, sudah sejauh apa gue bergerak mengumpulkan bekal buat perjalanan pasca dunia. Gue suka mikirnya, soalnya bikin gue jadi memutar alur berpikir gue buat senantiasa menemukan hal positif dari orang-orang yang gue pikirin. Dan kalaupun gue mentok-mentok tetep menemukan hal negatif lebih banyak, maka itu pelajaran buat gue.

Gue juga suka mikir tentan diri gue sendiri. Dari semua yang gue pikirin, mungkin diri gue menyedot lebih banyak perhatian. Tentang sudah sebaik apa diri gue di mata Allah. Tentang keputusan-keputusan yang gue pilih, tentang langkah yang gue ambil, tentang gue yang masih banyak nggak benernya daripada benernya. Tentang gue. Dan masalahnya ketika gue mulai berpikir tentang gue, yang ada hanyalah stumpuk masalah ... hahahaha ... dan di sana gue menemukan, bahwa gue nggak mudah memaafkan diri gue sendiri, dan nggak banyak menghargai diri gue sendiri ... miris sebenernya, ketika gue bisa menemukan banyak hal positif tentang sekitar gue, tentang orang lain, tapi gue sulit menemukan kebaikan gue sendiri.

Well, yah entahlah, masalah ini selalu berujung pada pertanyaan sih .... jadi sampai sekarang, gue belom menemukan jawabannya ...

Selasa, 19 November 2013

Tarbiyah dari Allah

'Tarbiyah dari Allah adalah tarbiyah yang sebenar-benarnya' ... Itu kata Murabby saya dulu. Well, tapi emang begitu kan?

Jadi ceritanya, di ulang tahun saya yang ke-19, saya minta sama Allah untuk didewasakan. Saya minta Allah untuk mendewasakan saya. Dan syaangnya kedewasaan itu bukan suatu hal yang bisa didapat secara instan, seperti benda murahan yang bisa ditemukan dimana saja. Butuh proses yang panjang, dan dalam proses tersebut tentu ada segala macam pendidikan ...

Dan, sejak ulang tahun saya itu, saya mulai merasakan proses tarbiyah pendewasaan saya. Oh ... tentu tidak semudah itu sampai saya sadar bahwa ini adalah proses tarbiyah dari Allah. 7 bulan. Setelah 7 bulan saya baru sadar. Saya jadi Project officer kaderisasi, saya jadi PJ mabit yang pesertanya nggak seberapa, saya jadi ini dan jadi itu, saya dihadapkan pada permasalahan dalam diri saya yang akhirnya berimbas pada proses memandu AAI saya, dan lain sebagainya yang udah saya jalani selama 7 bulan sejak ulang tahun saya itu  adalah tarbiyah dari Allah untuk mnedewasakan saya. BUkan berarti kejadian sebelum ulang tahun saya bukan untuk pendewasaan saya. Karena saya waktu itu mintanya sebelum umur 20 tahun, paling tidak saya sudah matang secara mental dan pikiran, jadi inilah yang Allah beri. Keadaan dimana, saya harus banyak berpikir tentang kepekaan, kebijaksanaan. Inilah yang Allah beri, saya ditempatkan di posisi dimana saya dihadapkan pada banyak keragu-raguan dan diuji dengan keinginan saya dari dulu, eksistensi, di sinilah, mungkin, Allah ingin melihat sejauh mana kedewasaan saya dapat memilih ....

Tarbiyah dari Allah adalah yang sebenar-benarnya tarbiyah, tentu ujiannya juga sebenar-benarnya ujian ... saya yakin, dan saya merasakannya, berat memang, terutama kalau saya masih menggantungkan segala hal pada yang bukan selain Allah, seperti saat kemarin ... tapi, Allah sudah janji tidak menempatkan hamba-Nya dalam kesulitan yang tidak dapat ditanggung oleh hamba-Nya, maka saya percaya kalau ujian ini lulus, kalau proses tarbiyah ini saya lulus, maka saya akan lebih dewasa ketimbang sebelumnya ... :')

Terima kasih Allah .. maaf, karena akhir-akhir ini saya banyak mengeluh ....

Senin, 18 November 2013

Roadshow IAIC 2013

Tahun ini, angkatan gue jadi panitia Roadshow. Dan, seperti tahun lalu, Alhamdulillah tahun ini gue berkesempatan datang ke IC buat meramaikannya.

Walaupun dengan keberangkatan yang dramatis, dan ninggalin acara-acara di kampus (emang itu sih salah satu tujuannya haghaghag *jangandicontoh*) akhirnya gue tetap keukeh jalan ke IC dan dilanjut menetap di rumah sampai hari selasa berhubung jadwal kuliah kosong sampai hari kamis.

Dan, seperti setiap kali ke IC sehabis lulus. Selalu ada rindu untuk mengulang setiap detik perjalanan hidup yang udah gue dan teman-teman lakuin di IC. Selalu ada menyesal terselip kenapa dulu nggak memaksimalkan diri ketika berada di asrama tercinta ini. Tapi, yah, namanya juga udah lulus, yang harus dilakukan sekarang adalah mengabdi. Mengabdi buat IC karena IC sudah memberikan banyak hal yang nggak bisa diberikan oleh sekolah lainnya ke anak didikannya. Pendidikan yang memadai, fasilitas, guru-guru, suasana yang nggak pernah bisa didapat dimanapun selain di sini.

Karena IC sudah memberikan banyak hal, dan gue yakin, bukan cuma gue yang ngerasain hal itu, makanya banyak alumni yang akan dengan ringan tangan membantu guru-guru IC setiap kali beliau-beliau ini dalam kesulitan. Banyak alumni yang nggak akan segan-segan membantu adik-adik di IC sebagai bentuk terima kasihnya terhadap sekolah ini. Dan akan begitu seterusnya ...

Karena itu pulalah, nggak akan ada yang dengan enggan mengurusi roadshow. Capek mungkin iya, pusing mungkin iya, tapi buat IC? apa sih yang nggak .... hehehehehe *malah jadi gombal*

Dan buat gue pribadi, kembali ke IC selalu menjadi pendongkrak semangat gue terutama ketika gue dalam keadaan down kayak akhir-akhir ini. Roadshow kemarin, ngeliat antusias adek-adek yang pada mau masuk kedokteran (iya, soalnya yang nanya-nanya ke gue yang pada mau masuk kedokteran) dan semangat mereka buat mencapai cita-cita itu bikin gue ikut semangat lagi. Ngeliat kekhawatiran mereka akan ujian-ujian yang ada di hadapan mereka kayak ngeliat diri gue dulu ... dan itu berarti juga mengingat betapa semangatnya gue dulu, ngotot bahkan, buat masuk fakultas kedokteran.

Tapi sangat disayangkan kita nggak bisa invasi asrama mereka pas malem-malem buat sesi sharing karena nggak dapet izin. hahahaha ... padahal seneng banget bisa liat semangat mereka. Akhirnya acara malam itu diganti sama evaluasi acara. Banyak banget evaluasinya. Gue seneng sih diadain eval, cuma yang gue sesali adalah, evalnya nabrka shalat isya', dan lebih gue sesali adalah, gue nggak mencegah, atau menyetop hal itu terjadi ...

Yah, semoga hal itu terulang lagi ... over all, roadshow kemarin cukup menyenangkan, ditambah pul adapat akabr angakatan gue bakal ketambahan keluarga baru Januari nanti (gue post di tempat lain ya ceriatanya ...) ...

Dan, selalu IC dan pernak-perniknya selalu punya caranya sendiri menghibur setiap 'keluarga'nya, selalu punya caranya sendiri untuk membangkitkan semangat setiap anggota 'keluarga'nya ... :')

Random nomer sekian

well, rasanya udah lama banget nggak ngerandom di blog. Dan mungkin ini juga karena rasa 'capek' gue yang menyerang gue akhir-akhir ini. Iya, emang gue akhir-akhir ini sering ngerasa capek. bukan secara fisik. Kalo capek secara fisik mah bisa hilang dengan tidur, tapi capek mental?

Jadi ceritanya, kuliah dan kegiatan kampus yang udah jalan beberapa bulan ini, entah kenapa banyak banget menyita perhatian gue. Entah karena posisi dan tanggung jawab yang udah mulai beda karena udah punya 'adik', dan karenanya, karena menerima posisi dan amanah yang beda itu dalam keadaan nggak siap, akhirnya gue jadi canggung. Atau entah karena sebab lain ...

Jadi karena lelah yang semakin menjadi-jadi setiap harinya, hampir semua amanah terbengkalai (oke, gue sadar kok gue nggak profesional), sms dari kakak2 di kampus nggak gue bales, telpon nggak gue angkat, dan segala macam lainnya. Kadang-kadang di saat yang seperti itu, mestinya gue bisa gambar atau nulis buat menuangkan semua perasaan dan pikiran, tapi mungkin karena guenya yang udah terlalu capek dengan semua teknis yang nggak selesai-selesai dibahas, akhirnya ekspresi itu nggak keluar. Gue sempat mengalami rasa dimana gue stagnan. Nggak bisa nulis apapun. Tangan gue kaku sampe rasanya apapun yang gue gambar nggak pas dengan bayangan gue. Semuanya jelek. Semuanya aneh. Gue mikir. Mungkin, ini ada hubungannya sama rasa 'capek' gue.

Iya emang, sejak masuk kuliah tahun kedua ini, gue ngerasa, gue ngak punya banyak waktu buat diri gue sendiri. Cuma sekali. Itupun nggak berakhir dengan bahagia. Entah karena guenya yang nggak meluangkan waktu, entah karena gue yang akhir-akhir ini sulit nolak, atau entahlah ...

Dan alhasil, semua lelah itu numpuk di otak, di hati, di badan sampai menjamur. Gue bosen sama semuanya, gue capek. Dan hal itu berujung pada gue kuliah, gue ngelakuin pekerjaan udah kayak robot dan kayak orang buta. terprogram, dan nggak tahu kemana dan buat apa ngerjain hal tersebut. Hal ini berujung pada gue yang ngerasa kehilangan sama diri gue sendiri. Lhah, bingung kan? Iya, gue sendiri juga bingung. Gue bingung mencari diri gue. Gue kehilangan diri gue sendiri ...

Akhirnya gue memutuskan untuk 'memberikan waktu untuk diri sendiri'. Gue bolos kuliah hari kamis dan jumat yang cuma masuk 1 jam seharinya, cuma buat memberikan waktu untuk berpikir dan sedikit bermalas-malasan. Serta sedikit menjauh dari hiruk pikuk keadaan kampus yang kondusif buat mikir. Tapi nggak berhasil. Yang ada gue malah nangis. Capek. Capek dan capek, dan akhirnya dua hari bolos cuma habis buat mengeluh. Gue menyimpulkan, kalo gue harus menjauh dari kampus, nggak bahkan yang lebih ekstrem, menjauh dari jogja untuk mendinginkan kepala gue, dan untuk berpikir lebih rasional. Yah, terserah kalo mau bilang gue mau 'lari'. Untung banget hari Roadshoaw bertepatan dengan jadwal kosong minggu depannya, dan langsung gue tangkep kesempatan ini, untuk berdiam diri di Depok barang cuma 2-3 hari. Gue rasa cukup. Cukup buat mikir, cukup untuk mendinginkan kepala, cukup untuk kembali memupuk semangat, dan segala cukup lainnya ....

Kalau akhirnya nggak merasa cukup? Maka, yang diperlukan akhirnya adalah bersyukur untuk menjadikannya cukup ...


Dan well, di sinilah gue akhirnya. di rumah. memberikan porsi lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga. Memupuk semangat dengan ketemu temen-temen IC dan adek-adek IC yang semangat nanya-nanya kehidupan kampus. Semangat mereka bikin gue mikir kembali, dulu, saat gue masih berada di posisi mereka, gue punya semangat yang sama. Dan masa baru dua tahun semangat itu udah melempem? Emangnya kerupuk? Ketemu adek-adek IC bikin gue mikir lagi tentang tujuan gue masuk kampus, dan macam-macam tujuan lainnya melalui keputusan-keputusan yang udah gue ambil ...

Bertemu keluarga gue lagi setelah sekian lama bikin gue mikir lagi, keputusan-keputusan yang udah dan akan gue ambil. Gue refleksikan dari kehidupan keluarga ini dulu dan sekarang, yang gue yakin sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan gue ke depannya ...

Well, benar kan, yang gue butuhkan hanya keluar dari rutinitas dan teknis yang semakin mengungkung setiap harinya, dan memberikan porsi lebih untuk diri sendiri untuk akhirnya menemukan kembali diri gue? untuk akhirnya menghilangkan lelah ini ...

Buktinya? Buktinya gue bisa nulis sepanjang ini lagi ... walaupun isinya ngerandom ....

hope this is not the end ...

Selasa, 29 Oktober 2013

Yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang ...

Akhir-akhir ini sebenernya lagi banyak amanah besar yang saya pegang. Tapi karenanya, saya jadi keteteran. Sebenernya saya juga bingung, kenapa saya bisa keteteran, padaha akademik juga jadwalnya lagi nggak sepadat itu, secara amalan yaumiyyah juga nggak sekacau semester 2 lalu ...

Tiba-tiba saya jenuh buat semuanya. Termasuk nulis (inipun maksain diri untuk segera nulis untuk evaluasi diri). termasuk gambar. termasuk hal-hal lain yang saya suka. Perubahan posisi dari tahun pertama ke tahun kedua jelas membawa perbedaan, saya paham itu, ketika dari posisi dibina menjadi membina. Perubahan amanah, perguliran amanah juga jelas saya paham, seperti yang pernah ustadz taufan katakan di kajian manhaj, "kalau tidak berani untuk mengemban amanah, untuk apa kalian berada di barisan dakwah ini?" Saya sudah meneguhkan hati kembali untuk beramanah di lembaga, untuk bersama temen-temen lainnya menguatkan dakwah ini, tapi, kenapa jenuh itu datang secepat ini?

Ketika saya telisik menelisik (belum sampai menelusuri lebih dalam), saya paham, karena kita di sini masih 'sendiri-sendiri'. Kita jalan sendiri-sendiri, bergerak sendiri-sendiri, sekalipun satu jama'ah. Hati kita nggak terkait, tangan kita nggak tergenggam satu sama lain, ya jadi, kalau jatuh, jatuh saja, nggak ada yang nopang, nggak ada yang bantu.

Jujur aja, di lembaga lain, saya merasa sendiri membangun dakwah di sana. Sudah barang tentu, saya mudah lelah. karena kalau diumpamakan, jalan rame-rame bakal lebih nggak berasa capeknya ketimbang jalan sendiri. Iya, mungkin saya masih jalan sendiri, jadinya, saya gampang jatuh, dapat amanah besar dikit aja, langsung jatuh, ngeluhnya lebih banyak daripada kerjanya, futhurnya lebih sering daripada kondisi iman yang fit, karena mungkin, kita masih menganggap, lembaga lain ya urusannya lembaga lain.Padahal, mungkin, banyak temen temen yang ngerasa sama sama saya, yang ngerasa sendirian di lembaga lain. Yang butuh uluran tangan agar, saat berjuang menegakkan kalimat laa ilaha illallah itu, ia kuat, dan tak mudah jatuh, sekalipun banyak rintangannya ...

iya, yang saya butuhkan, tak lebih, tak kurang adalah support ... rangkulan hangat, senyum cerah teman-teman, kepedulian teman-teman ... nggak lebih nggak kurang ... dan saya percaya, kalian nggak akan ninggalin saya kan?

*Ya Allah sesungguhnya hati-hati kami teah berhimpun padaMu dalam ikatan agama Mu

Kemana Saya?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, ketika saya sadar akhir-akhir ini amanah saya banyak yang keteteran. Kemana saja saya? Waktu 24 jam saya kemana saja?

Saya juga nggak tahu, apakah waktunya memang sebegitu cepat, hingga semua amanah ini tak terselesaikan, atau, saya kemana? Saya juga nggak tahu, saya kemana.

Akhir-akhir ini saya suka menghilang dari diri saya sendiri, dan ketika saya sadar, tahu-tahu saya sudah jauh menyimpang, dan saya, jujur saja, bingung bagaimana caranya untuk kembali? Saya mikir, saya dimana? Tapi, saya juga nggak tahu, saya dimana, makanya saya bingung caranya balik?

Saya masih nyari, salah saya dimana. Dan, entahlah .. sebenernya banyak alasan, banyak banget alasan, tapi saking banyaknya, saya sampe nggak paham lagi ...

*tiba-tiba saya jadi bingung saya nulis apa .. -__________-


Kamis, 10 Oktober 2013

Benci

kadang-kadang saya membenci sesuatu lebih karena saya nggak bisa melakukannya, atau saya nggak bisa menggapainya, atau saya nggak bisa atau saya nggak bisa menjawab pertanyaan yg muncul akibat sesuatu tersebut, atau saya nggak bisa bahkan untuk sekadar memimpikannya ...

kadang-kadang saya membenci sesuatu karena realita saya yang nggak bisa apa-apa, dan saya yang sering banget tiba-tiba jadi pesimis, 


wallahu a'lam 

Sedikit menyesal

Iya, saya sedikit menyesal jadinya (atau malah sangat menyesal), menerima tawaran gabung di penelitian,
Padahal saya tahu, saya orang yang paling nggak suka sama penelitian, tuh kan jadinya malah nggak maksimal, malah jadi useless…
Ya gini nih, kalau niatnya nggak bener, nggak berdasar atas pencarian ridho Allah, udah pasti dan udah jelas ada menyesal, ada kecewa, ada perasaan nggak bersalah waktu membengkalaikan amanah …
tapi, untuk disuruh meluruskan niat, berat, sulit, walaupun bukan nggak bisa, hanya .. sulit, 
Bismillah … Yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinika wa thoo’atika

Sabtu, 07 September 2013

Prestasi Juga Dakwah

Tadinya saya mau ngepost tentang PALAPA kemaren, tapi entah kenapa saya kelamaan memutar memori dan malah tenggeam dalam memori-memori itu yang ujung-ujungnya bikin saya stagnan nulis. Jadinya, saya nulis ini aja 'Prestasi Juga Dakwah' berhubung sore tadi saya baru dapet kabar gembira dari almamater saya dulu, MAN Insan Cendekia Serpong.

Menurut kabar yang beredar di sosial media, MAN ICs+MAN ICg dapet 19 medali di OSN 2013 yang diadakan di Bandung. semua medali yang tercampur antara emas, perak, perunggu itu kembali menghiasi MADRASAH saya dengan kilauan warnanya dan kecemerlangan prestis di balik medali yang hanya simbolis dari kecerdasan anak-anak sekolah saya.

Nggak sia-sia lah sekolah saya memanggil semua alumni-alumninya yang sebelumnya sudah sukses di olimpiade-olimpiade ketika mereka masih di IC untuk mengajar adik-adiknya yang akan mengikuti jejak mereka. Dan nggak sia-sia juga para alumni yang ngebela-belain datang ke IC sekalipun di tengah-tengah ujian buat ngajar (yaa, bukan saya sih, temen-temen saya itu...).

Yah, dan tagline "Kampus prestasi, mandiri, dan islami" yang tertulis di depan pintu masuk IC juga bukan hanya tulisan tak bermakna. Madrasah ini sudah membuktikannya, kemandiriannya, keislamiannya, serta segudang prestasinya.

Dulu (entah kapan, haha), ketika saya masih diizinkan untuk menjadi salah satu anak yang mewakili IC di kancah oimpiade sains tingkat kabupaten, dan masih diizinkan mengikuti setiap pelatihan-pelatihan tanpa terkendala, saya inget banget temen-temen seperjuangan itu berusaha sampai titik darah penghabisan, membaca buku-buku yang jauuuh melampaui pelajaran anak SMA, tidak hanya untuk prestis pribadi ataupun sekolah, tapi juga untuk dakwah. Mereka belajar untuk mengharumkan nama Madrasah yang seringkali dicap sebagai sekolah abal-abal, karena sering jadi plihan ke sekian dari semua SMA-SMA yang dipilih.

Iya, prestasi itu juga dakwah. Mereka, teman-teman saya yang diberi kesempatan untuk beraksi di ajang nasional maupun internasional selalu mengatakan dengan bangga, 'Saya anak Madrasah'. Biar semua orang tahu, kalau kami, anak-anak muslim juga tak kalah berprestasi. Hal ini juga mereka lakukan untuk mendongkrak semangat teman-teman madrasah lain yang masih belum terdengar namanya, bahwa anak madrasah juga nggak kalah kece dari anak-anak SMAN biasa ...

Karena berprestasi juga dakwah, ia bukan sekadar prestis atau ego,, ia lebih dari sekadar itu,
            Karena setiap dari kita adalah da'i

*oke, sebaiknya saya segera belajar juga, supaya bisa menjadi kader yang bukan hanya organisatoris, tapi juga prestatif :)

Selasa, 13 Agustus 2013

menjejak usia dewasa

bismillah, sebelumnya, sugeng riyadi, kulo nyuwun ngapunten menawi kulo gadah lepat, njih ...
semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama ramadhan kemarin dan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang 'kembali' dan 'menang'! ..

Iya, sudah lama juga blog ini saya anggurin (bukan buah anggur ya), nggak kok, alasannya bukan karena saya sibuk, tapi lebih karena saya berpindah ke lain hati (halah), iya saya jadi lebih asik di tumblr, apalagi saya baru ganti tumblr, belum banyak orang yang tau, jadi mu ngepos apaaa juga siapa juga yang peduli ehehehehehe ... (ya kali, yang ini juga mau ngepos apa juga siapa yang peduli ehehehehe).

Oke, jadi sebenernya postingan ini udah kepingin saya post dari entah kapan, tapi baru kesampaian sekarang (karena mulai nganggur, ditinggal keluarga pulang ke depok), dan niatnya mau di post di tumblr biar ah... sudah lah .. toh lagipula tumblr nya berat banget dibuka .. (-->kebanyakan alasan banget ini ...)

yaudahlah daripada saya mulai ngalor ngidul dan tetiba malah jadi banyak nulis yang nggak jelas saya mulai aja.

jadi, ketika saya memasuki usia 19 tahun terhitung 28 Mei lalu, saya mulai banyak mikir tentang kedewasaan, jangan sampai ketika saya masuk usia 20 tahun, dimana orang menyebutnya sebagai dewasa muda, sikap dan pikiran saya masih jauh dari kedewasaan.

Apalagi ketika usia 20 tahun itu, saya juga harus mulai menyiapkan diri untuk berkeluarga (iya, nyiapin mental sama kebiasaan --> ini yang saya sebut dengan "diam-diam tapi progress"). Saya udah harus mulai serius untuk menemukan diri saya, (iya jujur aja, sampai sekarang saya masih kebingungan mendefinisikan jawaban dari pertanyaan "siapa saya?"). Saya juga harus mulai memikirkan visi dan tujuan saya hidup. Walaupun saya sudah tahu tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, tapi jujur saja, saya belum benar-benar memaknai hal tersebut.

"Mengetahui" dan "memaknai" jelas beda artinya. Saya punya teori (iya, teori bikinan saya sendiri, jadi jangan coba-coba untuk disitasi buat karya tulis, njih, apalagi buat disertasi.. *ya, kaliiiiiiii*). Jadi, ketika masuk usia anak TK-SD lah ya ... itu waktunya anak-anak tersebut dikenalkan pada tujuan hidup, dan bagaimana caranya untuk mencapai hal tersebut. Cukup dikenalkan, karena sebelum baligh, mereka belum punya kewajiban untuk mengerjakan ibadah mahdhoh. kemudian masuk usia remaja, peralihan anak-anak menuju dewasa, maka mereka seharusnya dalam taraf 'tahu' bukan lagi kenal. Tapi mereka masih mencari cara yang pas untuk menuju tujuan hidup tersebut , seiring dengan pencarian jati diri para remaja tersebut. kemudian, ketika memasuki usia dewasa, seharusnya seseorang sudah dapat memaknai tujuan tersebut. Maksudnya memaknai di sini adalah, bertindak sesuai dengan tujuan, dan ketika dihadapkan pada pilihan pun mereka memilih dengan pasti sesuai apa yang menjadi tujuan hidup, plus dapat memaknai kejadian yang dilewati dalam jalannya mencapai tjuan ..

begitu, ya sebenernya yang paragraf atas itu agak sedikit nggak nyambung, dilewatin aja bacanya juga nggak pa-pa sih ehehehehehe...

Jadi, ceriteranya kurang lebih 10 bulan saya akan memasuki usia dewasa, dan inilah kesempatan terakhir saya untuk lebih memahami diri saya, biar ketika saya benar-benar masuk usia dewasa nanti, saya dapat menjadi lebi bijaksana, tidak lagi disibukkan dengan pencarian jati diri sehingga saya sudah bisa fokus memaknai setiap kejadian yang ada di sekitar saya, dan membuat saya jadi lebih bijaksana.

buat saya, menjadi bijaksana itu sama dengan menjadi dewasa. Penting. Apalagi untuk seorang calon ibu yang akan menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anaknya. Saya harus bisa dengan bijaksana dan cerdas memilih pendidikan yang seperti apa yang baik buat anak-anak saya nantinya, atau sikap mana yang harus saya ambil untuk memberi anak-anak saya pelajaran berharga, agar tidak hanya masuk kuping kanan langsung bablas angineee (halah, korban iklan), tapi juga membekas dalam hati dan aplikatif ...Soalnya, kadang-kadang saya ngerasa, daripada dibilangin, saya lebih suka dicontohin, lhah kalo saya aja begitu, ya anak-anak nantinya juga nggak jauh-jauh lah ya ...

Bijaksana dan dewasa juga penting dalam manajemen emosi dan pikiran. Kalau sekarang saya masih kesulitan dalam memanaj emosi dan pikiran saya hingga akhirnya saya gampang stress yang bikin saya sering muntah-muntah, gimana saya mau memanaj rumah tangga saya, yang jelas jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang memanaj diri saya sendiri. Ntar kalo saya lagi stress, semua saya marahin lagi ... *wah, tidak baik, tidak baik, ckkckckckck..*

Makanya, saya walaupun di suruh kuliah di UI, dan ibu sendiri yang minta, saya menolak dengan halus. Saya harus 'pergi' lagi dari rumah, mencari lebih banyak pengalaman, lebih banyak kejadian, bertemu lebih banyak orang, situasi, dan kondisi, hingga setiap yang saya temui itu bisa saya maknai, dan akhirnya saya terbiasa untuk memaknai ...

Bukannya kalo di UI juga bakal ketemu banyak hal? iya sih .. tapi saya nggak akan menghadapi kondisi dimana saya kehabisan beras pas lagi ramadhan, sementara saya tinggal sendirian di kontrakan, serta toko sembako deket rumah udah tutup gara-gara yang punya mudik entah kemana. Saya juga nggak akan menghadapi kondisi dimana saya bertengkar dengan diri saya sendiri karena nggak menemukan jalan keluar untuk masalah saya dan saya nggak bisa minta bantuan orang lain, karena cuma saya yang tahu masalahnya. Kalau saya di UI, jelas orang tua saya pasti tahu persis gimana saya, apa masalah saya soalnya saya tipe orang yang bakal cerita ke orang tua kalo ada apa-apa, dan ada di rumah akan menambah intensitas hal tersebut.

Simpelnya, kalo saya di UI, berarti saya nggak ngekos, nggak jauh dari rumah (yaiyalaaaah ya, orang UI sama rumah cuma 5 menit naik motor, kao nggak macet), kalo saya nggak jauh dari rumah, saya bakal ada di zona aman saya, dan saya bakal tetep dianggap 'adek' atau 'anak bungsu'. Udah bertahun-tahun jauh dari rumah aja, setiap kali balik saya jaid 'anak bungsu' lagi, apalagi kalo saya tiap hari ada di rumah. Saya nggak akan pernah keluar dari zona aman zaya .. eh saya ...

Dengan menantang diri saya untuk keluar dari zona aman saya, kedewasaan tersebut akan lebih cepat menguasai diri saya ..

begitu kira-kira ...

Yah, tapi orang beda-beda sih ...

Kamis, 18 Juli 2013

----

detik-detik menjelang ujian blok 1.6 .. kisaran 5 jam lagi ujian karena ada penundaan .. <Ujiaaaan apaaa cobaaa yang ditundaaaaa ck,>

Jangan ditanya deh udah sejauh mana saya belajar, dari kemaren juga belajarnya gini-gini aja, megang fotokopian, tidur, bangun, buka komputer, pegang fotokopian lagi, tidur lagi ... aand so on ...

Kalau ditanya siap nggak? Ya masalahnya adalah .. setiap orang seringkali nggak siap kecuali harus ada paksaan . Ya mulainya ujian itu yang jadi paksaan ...

yaudahlah ..... lanjutan nya nanti lagi habis ujian ..

Selasa, 09 Juli 2013

Kembali bertemu Ramadhan

Alhamdulillah Allah masih memberikan rahmatnya untuk kita yang masih dengan sehat, baik fisiknya, mentalnya, sosialnya, maupun ruhaninya untuk merasakan nikmatnya angin segar di hari pertama bulan Ramadhan tahun ini. Semoga hingga Idul Fithri tiba nanti, Allah tetap dengan tangan terbuka memberi rahmat kesehatan tersebut pada kita amiin ..

Ramadhan kali ini buat saya, Ramadhan pertama yang saya jalani sebagai mahasiswa, di kota orang tanpa asrama, dan sendirian (berhubung teman2 sekontrakan udah pada pulang, sekalipun nanti balik lagi sih..). Target Ramadhan tahun ini, saya ingin bisa mendewasakan diri, dengan terlebih dahulu mendewasakan ruhani saya yang masih suka bolong-bolong tilawah dan membiarkan hafalan saya lari begitu saja. Lebih banyak bersyukur, lebih banyak melakukan rabthul 'am, lebih banyak ikhlas, lebih banyak istighfar yang terucap, dan lebih banyak muhasabah diri, mengingat umur saya tahun depan sudah tidak lagi belasan. 

Ah iya, ketika akan menginjak umur 20 itu, ada yang harus dipersiapkan lebih ... mengingat umur dua puluh, kata orang, adala umur dewasa. Mendewasakan pikiran dengan banyak memaknai kejadian termasuk salah satu yang harus dipersiapkan ... (halah, kok jadi ngelantur kemana-mana)..

Yah sudahla, sebelum semakin jauh menyimpang, saya mau mengucapkan,

Sugeng shiyam, menawi kulo wonten lepatipun, kulo nyuwun pangapunten, sugeng nglaksanaken ngibadah Ramadhan .. :)

Selasa, 18 Juni 2013

Harus ada yang berubah

jam di rumah saya menunjukkan pukul 06.35 ketika saya membuka blog. Keramaian dari kendaraan yang hilir mudi di jembatan sudah mulai terdengar, maklum hari pertama SBMPTN tahun ini, dan well, sangat amat kontras dengan suasana di dalam rumah yang masih pada tepar gegara semalam pada begadang ngerjain tugas dan belajar untu UAS, oh ya terkecuali saya tentunya, selain karena saya nggak UAS (dan memang nggak ada UAS di prodi kami), saya juga terbilang tidur cepat semalam.

Oke, itu cuma prolog. 

Intinya adalah, entah sudah sejak kapan saya merasa jauh dari AL-Qur'an, jauh dari Allah, jauh dari kebaikan. Rasanya hati saya kebas. Mungkin berawal dari kekecewaan, berlanjut jadi futhur... yang akhirnya malah berkepanjangan. 

Saya bukannya kecewa sama dakwah, saya cuma kecewa sama manajemennya (sama aja nggak? hehe). Tapi saya nggak membencinya saya cuma sedikit kecewa. Dan kesalahan saya adalah, saya TIDAK BERUSAHA merubahnya, tapi malah LARI. 

Saya baru sadar terakhiran, mengapa hati saya terasa begitu lelah. Ya karena saya terus-terusan melarikan diri dari Dakwah untuk menghindari kekecewaan, dan ya,,, ternyata itu SALAH.Bahkan saya tidak memperbaiki hal tersebut dengan hati, Astaghfirullah, ternyata saya sudah sejauh itu dari Al-Qur'an hingga hal-hal yang seperti ini luput oleh saya. 

Saya sadar itu kebodohan saya akibat dari sifat kekanakan saya. Dan karena kebodohan saya itu, entah sudah berapa banyak hati-hati yang lembut dan sangat perasa sudah tersakiti. Berapa banyak orang yang akhirnya telah menggugurkan kepercayaannya pada saya, dan berapa banyak jiwa yang hatinya saya buat kesal.

Astaghfirullah ...

Saya pikir, saya sudah berubah menjadi lebih dewasa dalam menghadapi masalah. Ternyata malah ada penuruna kualitas diri saya. Dari yang tadinya bisa memaknai masalah, sekarang malah lari dari masalah. 

Astaghfirullah ...

Dan bodohnya lagi, saya juga belum tahu kapan kebodohan saya berakhir? Sebenernya saya sudah terlalu lelah untuk berlali, tapi untuk bangkit berdiri .........

Astagfirullah ...

Dan saya sudah terlalu jauh dari Al-qur'an .........................................................................................................................................................................................................................................................................

Jumat, 14 Juni 2013

setiap kali mendengarnya dimainkan secara langsung di hadapan saya, napas saya selalu langsung tercekat seolah semua oksigen yang ada di bumi tak mencukupi untuk konsumsi paru-paru saya,,

begitu juga ketika saya memposisikan diri untuk memulai lagi memainkannya ...

Kapan saya bisa memainkannya lagi?

saya merindukan ketika suara-suara gesekan itu dihasilkan oleh tangan-tangan saya, yang entah sudah berapa tahun saya tinggalkan ...

Namun, tetap saja seketika saya memikirkan untuk memainkannya, napas saya langsung tercekat kembali ...

                      Saya ingin bisa berdamai ...

Selasa, 11 Juni 2013

Lelah ...

iya, saya memang sedang lelah akhir-akhir ini. Lelah untuk satu hal terutama, yang saya juga sedang mencari akar masalah dan penyelesaiannya ...

Jadi, kalau akhir-akhir ini saya sering membangkang, ya mungkin karena rasa lelah yang berkepanjangan itu .. yang saya juga lupa kapan mulainya, dan entah kapan akan berakhir ...

Terlalu banyak ekspektasi yang tak terbayarkan oleh realita, terlalu banyak karya tak terapresiasi, terlalu banyak pertanyaan tak terjawab, dan ide yang biarkan lewat begitu saja ...

Saya lelah .. idealita mungkin tak selalu sama dengan realita, tapi kalau di tempat lain saya bisa mendapat suatu realita yang bisa disebut indah, mengapa di sini tidak?

Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, karena toh, saya juga salah, ketika ternyata iman saya masih compang-camping, karena itu akan berefek pada keikhlasan dan pelurusan niat serta pengistiqomahan saya ...

Saya juga tidak ingin menyalahkan siapapun itu yang posisinya berada di atas atau sejajar dengan saya, karena sebenarnya semua merasa sama. Satu dalam keterpecahan, sebut saja begitu.

Dan ketika semua merasa seperti ini, apakah agenda kultural cukup? Saya juga tidak tahu ... Saya juga masih mencari jawabnya.

Dan sejauh ini, yang saya harapkan hanya sebuah apresiasi dan pengakuan eksistensi terhadap kemampuan saya  ...

         


Lagi-lagi, lagi-lagi, eksistensi karya saya 'mati' di satu tempat,,
          Karenanya saya tidak akan pernah merasa hidup jika saya terus menetap, karena eksistensi karya berkerabat dekat dengan eksistensi diri, akhirnya konsekuensi dari rasa lelah itu adalah saya terbang dan hinggap di lain tempat, di mana saya merasa lebih hidup ............


Sekali lagi, maaf saya merasa lelah ...

          *doakan saja ini tidak berkepanjangan yang akhirnya malah membuat saya kecewa yang juga berkepanjangan ..                        

Selasa, 04 Juni 2013

Saya kira...

Saya kira saya sudah beranjak dewasa ..
     ternyata saya tetap saja bocah

Saya kira saya sudah semakin memaknai hidup
    ternyata saya hanya sekadar memandang dari pandangan seorang anak bocah

Dan keika saya sadar semuanya hanya kata-kata dramatis tanpa pemaknaan ,,,

saat itulah saya sadar, saya ternyata belum banyak mensyukuri hidup

Rabu, 29 Mei 2013

Terima Kasih :')

Terima kasih untuk semua pihak yang udah ngucapin Selamat Ulang tahun buat saya,
Terima kasih untuk doa-doanya, harapan-harapannya ...

Lewat jalur manapun, (halah udah berasa apaan aja), baik yg lewat sms subuh-subuh, sms ngegantung yg lanjutannya di FB di gurp angkatan, yang sms pake narsis, yang lewat telpon (ini mah fix banget dari keluarga haha...), yang lewat wall FB, message FB maupun yang ngumumin di beberapa grup, yang lewat twitter, baik yang nulis langsung ataopun nge retweet, yang lewat kejutan di taman medika dengan alasan nyuruh saya ngisi formulir pemandu AAI, sampai yang naruh kejutan di keranjang sepeda saya (walopun akhirny saya nggak pulang naik sepeda, untung saya ngecek sepeda saya dulu sebelum pulang hehehehe),, atopun yang nereakin selamat ulang tahun di lorong ruang kuliah tepat sebelum ujian :')

Terima kasih semuanya, beberapa ucapan ada yang bikin saya banjir nangis nggak berhenti-henti, bikin sayapengen meluk bantal (lhah?) hahaha...

Semoga Allah mengabulkan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan ... dan di umur baru ini, semoga saya bisa semakin dewasa dalam memaknai hidup :) ...

Minggu, 26 Mei 2013

Pelukis

Ayah saya mau pameran lukisan bulan juni nanti bersama-sama dengan Komunitas Lukis Cat Air Indonesia di Bandung ...

Ah, akhirnya ayah saya jadi pelukis beneran, :)

Kamis, 23 Mei 2013

hujan ...

untuk semua masalah yang tiba-tiba hadir malam ini, untuk semua perasaan yang tidak terdefinisikan ini, untuk semua emosi yang menggelegak naik ke kepala hendak meledak,, kumohon.. mengalirlah bersama hujan malam ini ... agar ketika aku terbangun dari tidurku nanti yang ada hanyalah senyum terindah yang dapat kuberikan pada dunia esok hari :')

Kamis, 16 Mei 2013

Kak Urfa sayang.. Barakallah lakumaa ya kaka :)

"kakak saya tersayang mau diambil orang. such an undescribable thing.." -Nisa Karima-

Iya, buat saya hal itu juga hal yang sulit didefinisikan. Antara senang, sedih, gado-gado dah. 

Dan, akhirnya setelah prosedur izin yang agak sedikit membuat emosi menggelegak, akhirnya saya memutuskan untuk tetap jalan ke Bandung, dengan ongkos pas-pasan. Buat saya, saya nggak boleh sampai melewatkan momen dimana salah seorang 'kakak' saya akhirnya menyempurnakan separuh diinnya.

Kenapa saya begitu ngotot untuk menghadiri walimahan kak urfa?

Karena buat saya, Kak Urfa adalah orang yang sangat-sangat berpengaruh dalam hidup saya. Walaupun saya nggak tau kakaknya ngerasa gitu juga atau nggak hehehe...

Sekalipun mungkin hubungan saya dengan kak urfa nggak sedekat Maryam atau Nikari atau Anisah dulu waktu di IC... tapi Kak Urfa selalu punya tempat spesial di ingatan saya, dalam hidup saya, maupun di hati saya :)

Melalui Kak Urfa lah, Allah mengenalkan saya pada dakwah. Kalau waktu itu Kak Urfa nggak mencantumkan nama saya di dalam jejeran divisi IMTAQ, sekalipun saya udah masuk MPS, mungkin ghirah dakwah saya nggak sampai segininya saat sampai kuliah...

Melalui Kak Urfa juga, Allah menempatkan saya dalam satu forum lingkar dakwah #liqo' yang akhirnya di kuliah ini menjadi salah satu sarana penjagaan internal diri saya ...

Melalui Kak Urfa pula, Allah memahamkan saya pada sebuah ikatan keluarga yang berasaskan paa ukhuwah islamiyah, yang tak terputus selama setiap jiwa seorang muslim masih menghamba pada-Nya Yang Maha Kuasa...

Melalui Kak Urfa lah, Allah menghendaki saya menjadi da'iyah yang akhirnya memilih 'berjalan' pada lini i'lamy. Karena saat itu saya jadi distribusi dan staf redaksi buletin akhwat, yang ketika saya menjabat menjadi koordinator menggantikan kak Urfa, saya menjadi pimrednya, menggantikan kak urfa juga tentunya ...

Melalui Kak Urfa lah, semua hal yang berkaitan dengan dakwah pada diri saya dimulai ...

Karenanya, rasa hormat saya, rasa sayang saya, rasa cinta saya pada Kak Urfa juga nggak kalah dari Nikari, Maryam, ataupun Anis yang dulu di IC sempat satu liqoan ... Atau bahkan nggak kalah juga dari calon suaminya #eh? :P


Karenanya, saya sayang Kak Urfa, saya cinta Kak Urfa karena Allah ... :)

Baarakallah, kakak untuk pernikahannya lusa, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah yang akan melahirkan generasi qurani dan rabbani :)

Semoga Allah mengukuhkan dan melingkupi keluarga kak Urfa senantiasa dalam naungan-Nya yang hangat dan menenangkan ... :)

Dan teriring doa dari ku, dari kota pelajar,, 
                      Terima kasih, kakak, untuk semua hal yang sudah kakak ajarkan dan kenalkan pada              saya ...:)




Hari ini..

Hari ini akhirnya saya 'meledak'. Untuk semua hal yang sudah menggumpal lama dalam pikiran dan hati saya, yang selama beberapa hari terakhir senantiasa mengalihkan pikiran saya dari hal-hal pokok.

Bukan, bukan untuk sesuatu hal yang spesifik bisa saya sebutkan, karena satu masalah yang hari ini datang, kecil sih, ternyata memicu semua emosi yang terakumulasikan dalam hati saya, emosi negatif dari semua masalah yang akhir-akhir ini senantiasa 'menyandung' kaki saya, bahkan 'menyelengkat' hampir benar membuat saya 'jatuh' dan jika saya akhirnya bisa tetap 'berdiri' walaupun masih 'berpegangan' pada orang lain, maka itu adalah kehendak Allah ..

Allah menginginkan saya untuk berdiri, maka, saya harus tetap berdiri...

Senin, 13 Mei 2013

Sabar ty,,

Sabar ya Ty,,,

Semuanya ada waktunya, dijalanin aja dulu, buka hati selebar-lebarnya, kelelahanmu bukan apa-apa dibandingkan lelahnya Ibu Bapak untuk mengurusimu, mencari nafkah untukmu

Sabar ya Ty,,

Mungkin memang harus begini jalanmu, nggak pa-pa, cukup pahami ini rencana Allah, skenarionya Allah, maka pasti ada sesuatu yang lebih indah di akhir skenarionya jika kamu mengikutinya dengan baik, dengan ikhlas

Sabar ya Ty,,,

Mungkin hal-hal yang kamu inginkan sekarang, yang menurutmu baik untukmu dan katamu mendesak, sebenarnya mungkin nggak betul-betul mendesak, coba dipikirin lagi, dievaluasi lagi, dimuhasabahi lagi, betulan nggak sebenarnya kamu butuh?

Sabar ya Ty,,,

Kalau emang butuh, usahanya jangan hanya dengan berbicara dan ngedumel, PASTI ada ikhtiar yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkannya kan?

Sabar ya Ty,,,

Memang katanya hidup itu berputar, nggak dapat yang kamu inginkan sekarang ya mungkin karena emang bukan rezekimu sekarang, mungkin juga emang bukan giliranmu, nanti PASTI ada giliranmu, PASTI ...

Makanya Ty,, jangan menyerah untuk tetap ikhtiar, jangan berhenti untuk terus berdoa

Karena rencana Allah selalu indah, maka semua ikhtiar dan doamu akan membuahkan hasil yang indah pula pada waktunya :)

  ...........yang diperlukan hanya kesabaran yang ekstra yang disertai keihlasan ..........

Minggu, 12 Mei 2013

Sekelumit doa di perjalanan


Ya Allah, sesungguhnya hari ini adalah milik MU, begitu juga dengan raga ini, jiwa ini, dan hati ini…

Maka, Ya Allah, luaskanlah hatinya, sebagaimana Engkau meluaskan lautan dan langit, agar ketika masalah datang menghadangnya, maka ia dapat menerimanya tanpa ada dengki atau dendam yang tertinggal

Perdalamlah pemahamannya, sebagaimana Engkau membuat jurang-jurang dan palung-palung yang dalam, agar ketika masalah menghambat jalannya, ia dapat memahaminya bahwa ini adalah rencanaMu, takdir Mu, dan memahami bahwa rencana Allah selalu indah

Kuatkanlah hatinya, sebagaimana Engkau membuat baja yang kuat, agar ketika masalah datang di hadapannya ia tidak serta merta jatuh begitu saja, melainkan tetap berdiri tegar bak karang yang diterjang ombak

Serta, peluklah ia selalu dalam dekapanMu, agar seandainya hal yang paling buruk terjadi, yakni ia terjatuh di tengah-tengah menghadapi masalah, maka ia jatuh dalam pelukanMu yang Maha Agung …


*sekelumit doa yang senantiasa saya panjatkan setiap kali saya mengayuh sepeda saya pagi hari menuju ke kampus :)

Jumat, 10 Mei 2013

-----

tadi waktu lg surfing di sosmed, lbh spesifik lg, fb, gue nemu foto yg ada kalimatnya, dimana gue ngerasa kalimat itu gue banget, terutama gue yang sekarang,,

I am in competition with NO ONE. I run my OWN race. I have NO desire to play the game of being better than ANYONE, in anyway, shape or form. I just aim to IMPROVE, to BETTER than I was BEFORE. That's ME, and I'm fine...

 Yup, udah nggak tau sejak kapan, mungkin sejak SMA, gue udah nggak ngerasa harus bersaing dengan siapapun kecuali diri gue sendiri. Udah nggak mikir lagi gue berada di rengking berapa, si anu dapate nilai berapa, si itu dapet nilai berapa, apakah gue lebih baik daripada si anu dan si itu, atau gue lebih buruk nilainya.

Gue juga udah lama nggak peduli lagi si anu dapat piala apa, atau medali apa. Gue dapet kesempatan untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya aja, udah gue syukurin banget banget pake sangat. Kalopun gue bisa dapet hal-hal sejenis prestasi, itu berarti adalah side effect dari usaha gue mengkaji ilmu selama ini.

Buat gue, prestasi terbaik yang pernah gue dapatkan adalah, gue bisa masuk MAN INSAN CENDEKIA Serpong. Dimana di sana gue menemukan dan mendapatkan banyak hal... nggak cuma ilmu yangakan disimpan sebagai memori implisit (nah lo gue lupa, CMIIW ya), tapi juga hal-hal lain seperti, 'rumah', 'keluarga', serta 'pemahaman'.


and That's ME ... :)
 
 

Minggu, 14 April 2013

Mohon Maaf Pembaca! #pentingnya bertabayun

Assalamu'alaikum wr wb

Untuk semua pembaca, dan terutama untuk Anaknya nenek Artija dan segenap keluarganya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya .. *menunduk dalam-dalam, dan membungkukkan badan* *beristighfar banyak-banyak*

beberapa hari yang lalu saya mengepos di blog saya tentang sebuah berita Nenek Artija (silakan cari di google kalau belum tahu) yang saya sitasi dari Islamedia. Sejujurnya saat saya mengepos berita tersebut, saya cuma mengambil dari 1 sumber, Islamedia, dan dengan penafsiran saya sendiri. Memang itu sekali-kalinya saya mengepos tentang sebuah issu (waaopun emang belom pernah sih sebelumnya saya mengepos tentang issu) tanpa menelusuri jejak infonya dari awal, dan dengan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Saya baru sadar kalau saya tidak mencermati setiap katanya waktu tadi saya buka blog yang akhir-akhir ini sepi pengunjung, tapi ternyata ada komentar dari anonim yang menjelaskan secara singkat duduk perkara kasus yang saya pos tersebut dan mengingatkan saya betapa pentingnya bertabayun. Saat itu saya cepat-cepat beristigfar sebanyak mungkin, Semoga Allah mengampuni saya yang nggak bertabayun sehingga jadi su'udzhon dan mengampuni pembaca ang jadi salah tafsir gara-gara tulisan saya. (Amiiiin)


Sebenarnya saya selama ini kalau ada issu yang sedang panas lebih suka kalem sambil menelusuri jejak info yang benar seperti apa dari berbagai media dan dari berbagai sudut pandang orang, itu kan yang disebut bertabayun? Tapi mungkin, ini emang skenario dari Allah ketika sekalinya saya tidak bertabayun dan malah jadi su'udzhon, saya langsung ditegur oleh orang yang saya tidak tahu namanya (karena tidak mencantumkan namanya) dengan halus. Saya bersyukur yang mengingatkan saya masih manusia dan masih dengan cara yang halus, kalau Allah yang mengingatkan saya dengan adzab Nya, na'udzubillahimindzaliik ...

Makanya, saya di sini sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang merasa dirugikan, karena takut merugikan banyak pihak lebih jauh lagi, jadi postingannya saya hapus. kemudian untuk kakak/bapak/ibu anonymous yang sudah mengingatkan saya, saya mau mengucapkan jazakumullah khairan katsiiran semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang sebanyak-banyaknya ...

Allahummaghfirlanaa...

Allahummaghfirlanaa...

Allahummaghfirlanaa...

astaghfirullahal a'dzhiim ...

Wassalamu'alaikum wr wb

Pindah Rumah

hari ini seorang personil dari rumah kami pindah. Meninggalkan sejuta cerita dan goresan kenangan di dinding-dinding, lantai, langit-langit, pintu-pintu dan setiap elemen yang ada di rumah kami.

Satu keceriaan berkurang dari rumah kami, dan satu tawa telah pindah ke rumah yang mungkin lebih berhak mendapatkannya ...

Jujur saja, beberapa hari terakhir rasanya cukup sedih memikirkan kekosongan rumah ini dengan berkurangnya satu orang yang kebetulan membawa barang yang agak sedikit besar. Dan benar saja ... rasanya setelah kepindahannya rumah kami jadi lebih kosong ...

Nida' ... Semoga rumah barunya berkah :)

Sering-sering main ke rumah kami ya ... (Kata disho, sekarang bahasanya sudah "Sering-sering main ya" bukan "Pulangnya jangan kemaleman ya" :'( )

Sabtu, 13 April 2013

Guing-guling pasca ujian

Hahahaa.. judulnya agak-agak ya -,-

nggak tau, saya rasanya pengen banget guling-guling ngelngker-lingker habis ujian kemarin ..

tapi belom bisa, soalnya banyak amanah menanti... T.T

Ayo semangat Tyani!!!!

Sabtu, 06 April 2013

Sekelumit Impian


Waktu kumpul anggota BIMO Forsalamm 1434 H perdana kemarin, salah seorang anggota redaksinya, Kak Muharrir, berkata waktu diminta Mbak Triani untuk mengungkapkan mimpinya untuk BIMO Forsalamm ke depannya, 
Mimpi itu gratis, kan ya? Makanya di sini saya bermimpi yang muluk-muluk, karena katanya mimpi itu gratis ... 
Iya, waktu itu saya  mikir, bener juga ya, bermimpi itu gratis, tis. Nggak bayar, dan nggak dilarang. Nggak ada ketentuan dan nggak ada undang-undangnya. Nggak realistis juga nggak pa-pa. Kalau mimpi memikirkan realita, ya nggak jadi mimpi dong ..., karena realita terlalu keras, tugas kita adalah menarik mimpi ini untuk terwujud dengan menabrak realita yang ada, terabas terus, berhenti boleh, tapi sebentar aja, buat lihat-lihat kondisi dan langkah apa yang harus diambil berikutnya ... Tapi berhentinya keterusan, ya nanti nggak jadi tercapai dong mimpinya ...

Jadi, sama kayak Kak Muharrir, di sini saya mau menuliskan mimpi-mimpi saya, dan karena mimpi itu gratis, jadi saya mau bermimpi yang nggak kalah muluk sama Kak Muharrir yang bermimpi menjadi mentri perindustrian ... hehehehheh ... (yang baca, mohon di-amin-in ya ..:), terima kasih) 

1. Yang pertama banget, Impian saya dari kecil, yaitu jadi hafidzhoh ... dan karena sayan nya males-malesan dari jaman kapan tau, akhirnya targetan saya juga mundur..., sebenernya dulu saya nargetin, umur 20 saya udah jadi hafidzoh, tapi karena bener-bener masih banyak banget yang harus dihafal dan diulang, jadi mungkin berubah jadi "di umur 20-an saya akan jadi hafidzhoh" hehehehehe... Dan akhirnya saya menargetkan, sebelum saya jadi dokter, sayaa harus udah jadi hafidzhoh, dan itu masih sekitar 5 tahun lagi..lagipula, saya sudah menjanjikan sebuha mahkota untuk orang tua saya di surga nanti karena hafalan saya, jadi, SEMANGAT TYANI!!!!

2. Saya mau belajar di Belanda. Saya mau ambil S2 Biologi di Belanda. Di sana, secara rinci, saya belum tahu sih mau ngapain, tapi saya terinspirasi dari buku nya Hanum Rais yang "99 Cahaya di Langit Eropa", saya mau menelusuri jejak keislaman di Eropa dan merangkumnya jadi satu buku yang nggak kalah bagus dari bukunya Hanum Rais :) ,, (jadi ini saya mau belajar atau mau jalan-jalan? hehehehhehhe)

3. Saya mau dan HARUS balik lagi ke Indonesia. Ngapain? Ya... bayar utang lah ... Indonesaia sudah memberikan banyak pengajaran pada saya, apalagi waktu di MAN dulu, saya gratis tis sekolahnya dibiayain sama negara, jadi, saya HARUS balik lagi ke Indonesia dan berkontribusi di negara saya. Kalau Kak Muharir mau berkontribusi di negara ini melalu posisi menteri, saya nggak pengen jadi menteri, saya pengen berkelana menyusuri Indonesia dari desa yang satu ke desa yang lain, jadi dokter umum di sana sekaligus edukator buat anak-anak dan orang tuanya ... Saya mungkin nggak ngajarin mereka ilmu fisika yang ribet atau matematika yang bikin pusing, saya cuma mau mengajarkan ilmu nya Allah, tentang proses yang terjadi di alam dan mengenalkan ke orang-orang ini tentang Sang Pencipta alam ini ... Supaya, nggak ada lagi orang yang nggak mengenal Tuhannya, karena Man 'arafa rabbahu, qad 'arafa nafsahu Barang siapa yang mengenal Tuhannya, maka ia mengenal dirinya sendiri. Kalau kita mengenal diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan kepada siapa kita harus menghamba, niscaya, dunia ini  akan bersih dari kemakshiyatan ...

4. Terus, mimpi saya berikutnya, Saya mau membangun generasi qur'ani dari rahim saya. Kalau saya punya anak-anak nanti, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya, bahwa apapun masalah yang dihadapi anak-anak saya nantinya, solusinya adalah Al-Qur'an ... Akan lebih baik jika anak-anak saya nantinya adalah hafidzh-hafidzhoh ayat-ayat Allah, tapi saya berharap mereka memahami dengan baik makna Al-Qur'an, fungsinya dan mengapa ada Al-Qur'an, Karena sesunggunya Al-Qur'an itu firman-Nya, dengan Al-Qur'an Allah berbicara, dan itu mungkin cara yang paliiiing mudah untuk kita, ummat nabi Muhammad untuk berbicara dan berinteraksi dengan Sang Penciptanya ... CMIIW.

Segini dulu deh, saya masih mikir-mikir saya mau bermimpi apalagi...

Mimpi saya terlalu idealis ya? maklum, mahasiswa hehehehehe... Nggak papa, kalau terlalu realistis nggak jadi mimpi dong :) 
Susah mencapainya? Iyalah ... Namanya juga mimpi yang muluk, saya juga nggak tau akan beneran tercapai atau nggak hehehehehhe, makanya Saya selalu berdoa, Semoga Allah senantiasa menguatkan hati saya, iman saya, jiwa saya, akal saya, fisik saya, dan meluaskan pemahaman saya terhadap hidup, terhadap apa yang saya terima setiap harinya, sehingga saya tidak termasuk orang yang merugi ...

Begitu kira-kira ...

Okesip, Fren, yang penting tuh 
DARE TO DREAM!

Ada Apa Dengan Kita? #KisahKita1

Ada apa dengan kita?

Sudah lama kita tidak bertatap muka secara langsung, tidak hanya lewat sosial media, atau bahkan lewat foto?

Tapi, kita juga tidak pernah lagi sekadar berkirim pesan singkat, walaupun isinya cuma satu kata, "hai" .. yah paling tidak, dengan kata itu, kita tahu bahwa kita ada, dan masih ingin berhubungan.

Ada apa dengan kita?

Sudah putuskah tali silaturrahim antara kita? Atau kau sudah enggan berbicara tentang "Kita" dan menafikan kehadirannya, dan kini tinggal "Kau" dan "Aku" ?

Tidak, tidak, tidak

Aku tidak mau berprasangka yang tidak baik tentang Kita.

Maaf ya, Kalau pikiranku yang terlalu liar ini malah berprasangka yang tidak-tidak.

Aku cuma merindukan Kita ... :)

Kamis, 28 Maret 2013

Suatu Siang di Masjid Ibnu Sina

Bismillah...

Usai kegiatan tutorial tadi pagi, dengan banyak sebab dan alasan, kepulangan saya ke kontrakan tertunda. Mulai dari alasan nungguin kantor farmakologi buka buat ngumpulin laporan praktikum, mau share tentang adobe in design sama temen, sampai kunci kontrakan hilang ...

Saya nggak tahu yang mana yang jadi alasan utama saya nggak segera pulang, padahal kemarin-kemarin, kalau ada waktu untuk pulang siang saya sengaja cepet-cepet berkemas dan kabur dari kampus bahkan belum shalat dzhuhur sekalipun sebenernya waktu saya masih di kampus udah masuk waktu zuhur.

Kemaren saya baru aja selesai ujian tentamen anatomi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, usai ujian tentamen itu selalu menghadirkan euforia tersendiri buat temen-temen saya, termasuk saya juga sih...hhhehehehe.. kayaknya bebannya anak-anak FK itu jadi bukannya di ujian bloknya tapi malah di tentamen anatominya ,,

Dan emang sih, sampai saat ini juga, dan dari dulu yang namanya anatomi itu selalu punya prestige tersendiri di kalangan anak-anak kedokteran, saya juga nggak tau kenapa, mungkin karena menghafal nama-nama anatomi yang pake bahasa latin itu keliatan keren, apalagi waktu mengucapkannya di depan orang-orang non kedokteran, kayaknya tuh harus bilang WOW banget gitu...

terkait masalah anatomi ini, saya jadi inget kata salah seorang teman kampus saya yang sekarang jadi santri kalong di salah satu pondok tahfidzh di jogja. Beliau bilang, "Masa, gue setiap hari ngafalin istilah-istilah anatomi yang njelimet dan bikin rusuh di otak gue, tapi gue nggak ngafalin ayat-ayat Al-Qur'an yang sebenernya udah deket sama gue sejak kecil dan perintah agama lagi."

Ng.. oke, itu rasanya JLEB banget buat saya yang selama setengah tahun kuliah ini belum mulai menghafal lagi, padahal, waktu MTs saya punya target umur 20 saya udah jadi hafidzhoh, dan realitanya?

Ya.. Allah, betapa mudah sekali menomorduakan urusan agama...Apakah mungkin karena urusan ini di'tagih' dan dirasakan hasilnya masih nanti-nanti? dan segala macam urusan laporan praktikum dan sebagainya itu sudah ditagih di untuk esok hari sebagai jaminan IP yang bagus di lembar-lembar ijazah?

Padahal, hidup ini kan sebuah sekolah yang nggak akan ada habisnya, yang pembagian raport nya ntaaaaar banget...  yang penilainnya cuma Allah yang tahu, yang reward dan punishment nya kita terima dengan keadilan yang sebenar-benarnya adil.

Tapi, sering banget, kita, termasuk saya, lupa dengan semua tugas yang dikasih Allah. Masalahnya, dunia itu sekolah yang bikin kita terlena. Murkanya Allah belum tentu dateng pas kita udah tua, ia bisa dateng kapan aja. Ujiannya juga kapan aja. Ngerjain tugas atau nggak, balasannya akumulatif, dan seringkali kita nggak sadar sampai hari pembagian raportnya tiba. Lhah, gimana tuh?

Jangan tanya saya, saya juga nggak tahu... hehehhehe...

Yah.. semoga Allah senantiasa memantapkan hati kita di jalan-Nya, di jalan yang senantiasa diridhai oleh-Nya ... sehingga, waktu hari pengambilan raport ntar, yang kita terima adalah reward darinya,,, :) SEMANGAT!!

Sabtu, 16 Maret 2013

Ditulis dengan Indah ...

Kemarin dulu (entah kapan saya lupa), dan sekarang saya membaca postingan dari blog seorang teman (maaf saya nggak cantumin, soalnya saya belom izin ke orang nya :P). Postingannya, bukan postingan yang bikin kalian harus bilang WOW pake koprol atau naik-naik ke pohon sambil bilang "pucuk..pucuk..pucuk.." (#Eh lho?) ... Nggak kok .. postingannya postingan sederhana, isinya si teman saya ini mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang sahabatnya yang sekarang tinggal di salah satu daerah di Jawa Tengah (maaf ya saya nggak terang-terangan menyebut orangnya, lagi-lagi karena saya belum izin :)). 

Alkisah, mereka berdua sudah sahabatan sejak SMA dengan cara yang-kalau saya bilang agak sedikit aneh- karena biasanya persahabata cewek itu dipenuhi dengan curhat2, mereka lebih sering dipenuhi dengan jahilmenjahili hehehehe.. yah tapi, mungkin itu salah satu cara mereka untuk mengungkapkan rasa sayang :) ... Karena rasa sayang itu bentuknya beda-beda iya kan? Orang tua misalnya, kalau mereka marah, biasanya karena mereka sayang kita, bukan karena kesal atau nggak rela punya anak kayak kita ... *udah mulai ngaco*

Yak, balik lagi ke tujuan awal saya posting ini. Jadi, postingan di blog temen saya itu isinya tentang ucapan selamat ulang tahun kepada sahabatnya. Ia mengawalinya dengan kata 'hai.' tanpa menyebut kepada siapa postingan ini ditujukan. Buat saya yang emang kepo dan melankolis, satu kata itu mengundang banget untuk minta dibaca sampai ke bagian paling akhirnya. 

kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat ulang tahun dan do'a-do'a. sebenernya standar. tapi, entah kenapa hati saya terenyuh waktu membacanya.. Mungkin, karena teman saya itu menulisnya dengan hati. Mungkin karena ia menyertakan hatinya yang paling dalam di tulisan selamat ulang tahun untuk sahabatnya tersebut. Jadi, ketika saya membacanya, tulisannya jadi terlihat indah, sangat indah... 

Terlihat pure, mungkin juga karena teman saya itu menulis tanpa merasa perlu dibaca orang. Mungkin juga karena rasa sayang teman saya ke sahabatnya itu sangat dalam sehingga ia bisa menulis dengan begitu indah ...

Ah, sudah, makin lama saya nulis saya jadi makin iri .. hehehehe ...

Rabu, 13 Maret 2013

Yang melelahkan itu...

Yang melelahkan itu bukan dibentak-bentak, ditekan, dimarahin, dihukum fisik, ...

Yang melelahkan itu bukan jalan dari RS Sardjito ke stasiun Lempuyangan, ...

Yang melelahkan itu adalah ketika melakukan sesuatu, namun hati menolak mengerjakan. Meski lisan mengatakan hal yang kita lakukan adalah baik, bermanfaat, dan benar, namun karena hati telah menolak, pikiran pun tidak dapat menemukan sisi positif dari hal tersebut, dan pada akhirnya pekerjaan yang dilakukan jauh dari keikhlasan maupun cinta ...

Dan itu melelahkan ...

Sangat melelahkan ...

Padahal tahu, sangat tahu bahkan, bahwa untuk melakukan sesuatu haruslah disertai hati agar dapat bermanfaat, minimal untuk diri sendiri. Dan kadangkala pemahaman tentang apa yang sedang kita lakukan itu datangnya terlambat, bisa jadi hari itu juga, bisa jadi tahun depan, bisa jadi juga bertahun-tahun yang akan datang...

Makanya, kadangkala hati harus dibuat lapang selapang-lapangnya ... agar, sekalipun belum memahami makna dari apa yang dilakukan saat itu, setidaknya ada keikhlasan dalam menjalankannya, sehingga membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain ...


Dan sepanjang kemarin hingga kini, saya berdoa, Ya Allah .. berilah kami pemahaman seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, tentang makna hidup ini, tentang apa yang kami lakukan, agar kami dapat senantiasa ikhlas dalam menjalankan hidup ini, dan agar supaya kami dapat membawa manfaat bagi sesama kami .. Amiiin...


*Ditulis pasca DM 1 KAMMI angkatan Moh.Hatta yang melelahkan.. Semoga Allah melapangkan hati saya dan memberi saya pemahaman tentangnya ...:)

Senin, 04 Maret 2013

Menghadirkan Hati dan Cinta (Tentang Hati #4)


Di akhir liburan semester ganjil kemarin saya baru menemukan sesuatu yang waktu saya sadari ternyata sudah kira-kira setengah tahun hilang dari dalam diri saya.

Seusatu itu diperkuat lagi dengan adanya sms yang dikirim ngeni waktu aku tanya tentang buku referensi biokimia selain biokimia harper dan kemudian-tanpa sengaja-kita ngobrolin seorang asdos biokimia (nggak perlu sebut merk ya... :P), waktu itu Ngeni bilang kira-kira begini, "Beliau itu asdos biokim paling enak kali, beliau mengajar karena cinta ..."

Sudah bisa menebak saya kehilangan apa? (bukan, bukan kehilangan uang, apalagi pacar #eh? :P)

Iya, waktu saya telisik lagi ke dalam diri saya, memutar kembali memori saya tentang setengah tahun ke belakang selama 1 semester kemarin, saya menemukan diri saya kehilangan-apa ya menyebutnya- ... 'cinta' atau 'hati' dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan. Tapi, bukan berarti saya mencintai dunia, sob.

Saya punya pemahaman dan keyakinan kalau ketika kita melakukan sesuatu haruslah dipenuhi rasa cinta, dan menghadirkan hati di dalamnya, hanya dengan begitulah pekerjaan tersebut dapat membawa manfaat yang lebih besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tapi, ternyata satu semester kemarin saya lempeng-lempeng aja gitu. Suka nggak, nggak suka juga nggak. Hati saya nggak tertaut di FK ini, mungkin belum, akibat shock karena keterima (iya lho, dulu saya bener-bener nggak nyangka saya bisa masuk FK, karena saya mempersiapkan hal paling buruk yang bisa saya bayangkan, yaitu nggak keterima di UGM, saya sudah menyusun rencana lain bahkan..., tapi ternyata Allah menghendaki saya di berada di FK UGM, sesuai dengan harapan keluarga saya, entah itu keluarga Depok, Solo, Salatiga ataupun Madiun).  Jadi, saya kuliah dengan semrawut. Berkegiatan dengan semrawut. Kebanyakan kerjaan saya kuliah-pulang ke kosan-tidur, atau main, atau kabur dan menghilang seharian dari sebuah kerutinan yang monoton.

Kemudian, liburan kemarin, saya sadar, satu semeseter kemarin, kebanyakan saya nggak membawa manfaat banyak, entah itu bagi diri saya sendiri, atau bagi orang lain. Bahkan mungkin, malah banyak menyakiti hati banyak orang, dan banyak berbohong pada diri sendiri.

Dan di awal semester 2 ini, yang baru berjalan 1 minggu ini, yang saya harus lakukan adalah menghadirkan hati dan cinta saya pada setiap kuliah yang saya jalani, pada setiap kegiatan yang saya lakukan, pada setiap detik yang saya habiskan di Jogja, jauh kan dari rumah ... kalau nggak membawa manfaat, sayang dong?

Tapi sebelum semua itu, yang harus saya hadirkan dalam diri saya adalah pemahaman. Kalau kata seorang ustadzah, hati itu hadir ketika kita dapat memahami mengapa Allah membawa kita ke dalam kondisi tersebut.

Jadi, sekarang saya perlu tahu dan perlu memahami, mengapa Allah menempatkan saya di FK. Jawabannya bisa beragam, tapi mungkin yang paling bisa saya terima adalah, "Karena Allah tahu, dan karena Ia Maha Tahu segala hal, saya sanggup menjalani setiap kuliah dan aktivitas di fakultas ini" terlepas dari saya pintar atau tidak. Kemudian, bisa jadi juga "Karena Allah ingin menguji saya dengan nikmat ini, nikmat diterima di FK". Sebenernya masih banyak jawaban yang seliwer di pikiran saya yang kayaknya terlalu berat untuk dipikirkan sekarang, seperti misalnya "Karena Allah mengingkan saya membawa perubahan ke arah yang baik di fakultas ini". Tapi, yang satu itu ntar saja saya pikirkan pemahamannya, kalau saya sudah benar-benar settle di kelembagaan.

Kemudian saya simpulkan ada 2 jawaban buat saya dari pertanyaan, "Mengapa Allah menempatkan saya di FK":
1. Karena Allah tahu saya sanggup menjalani setiap aktivitas di fakultas ini,
2. Karena Allah ingin menguji saya dengan nikmat 'diterimanya saya di FK'

Karenanya, karena ini adalah sebuah ujian, ujian kehidupan tentunya, jadi saya harus menjalaninya dengan baik, agar Allah tidak menghinakan saya dengan ujian ini. Saya harus mempersiapkan segalanya dengan baik untuk ujian ini, sebagaimana saya mau melaksanakan ujian di setiap akhir blok kuliah saya, di setiap akhir semester saya baik di SD, SMP maupun SMA dulu.

Hampir saja quit dari halaqoh, kalau saja Allah nggak mengingatkan saya-dalam bentuk tak langsung tentu saja- berupa perenungan. Urusan halaqoh ini, padahal Allah telah memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki tabiat-sering-kabur halaqoh saya (waktu di MAN dulu, saya termasuk orang yang sering ngabur halaqoh, makanya saya nggak pernah mau jadi penanggung jawab kegiatan halaqoh hehehehehe). Kalau saja kemarin saya benar-benar mengungkapkan pemikiran saya untuk berhenti ikut halaqoh, entah apa yang akan saya dapati. Mungkin saja, Allah tidak mau lagi memberi saya kesempatan untuk mengkaji Islam lebih dalam lagi. Atau yang lebih parah, mungkin saja sekarang saya sudah melupakan kehadiran Allah dalam hidup saya. Siapa yang tahu? Allah selalu bisa dengan mudah memuliakan hamba-Nya, tentu mudah juga bagi-Nya untuk menghinakan hamba-Nya, termasuk saya. Na'udzubillahi min dzaliik .. saya hampir, benar-benar hampir untuk alasan yang sangat, sangat superficial yang menyangkut pencarian jati diri saya sendiri,,, Astagfirullahal 'adzhim ...

kayaknya memang saya, kita harus memperbanyak dzikir dan beritighfar. Dan juga berdo'a "yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinika thoo'atika" ... Ya Allah, yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati-hati kami pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Kalau saja saya nggak senantiasa berdoa itu setiap usai shalat, dan tentu saja doa-doa dari orang yang saya kasihi, Ibu saya misalnya, mungkin saja Allah nggak akan memberikan pemahaman kepada saya saat saya menginginkan berhenti dari halaqoh.

Nah, halaqoh itu kan isinya mengkaji lebih dalam tentang Islam. Dengan saya mengikuti halaqoh rutin, saya jadi punya bekal untuk menghadapi ujian yang sedang terlaksana buat saya. Sedikit-sedikit pemahaman saya dapatkan, terkait banyak hal. Terutama syummuliyatul Islam, bagaimana Islam, Diinullah dapat membawa saya pada sebuah keteraturan hidup, ketentraman hati dan kerinduan pada-Nya selaku sang Khaliq, yang telah menghadirkan saya ke dunia ini melalui Bapak dan Ibu saya (yang sekarang ada di rumah :), Ya... Allah betapa saya merindukan beliau berdua...)

Dan, tentu saja saya nggak boleh stagnan cuma ikut halaqoh. Untuk mencapai pemahaman saya butuh ilmu, dan Ilmu itu bisa diambil darimana saja. Dan saya tahu, di UGM banyak sekali kajian yang digelar oleh lembaga-lembaga LDF, LDK ataupun lembaga non kampus yang pasti punya banyak manfaat. Jadi,    saya nggak boleh lagi males dan absen bukan karena alasan yang syr'i untuk datang kajian! Sip, jadi udah satu hal yang masuk ke dalam 'list to do' saya. Ikut kajian. Semoga dengan ini Allah memberi pemahaman lebih mendalam pada saya :)

Kemudian, jawaban lain, "karena Allah tahu saya mampu untuk berada di FK UGM ini". Mungkin sekarang saya belum bener-bener settle di FK. nilainya masih hancur-hancuran sekadar untuk memenuhi kriteria lulus saja. diskusi tutorial masih sekadar menghadirkan fisik belaka belum mencapai menghadirkan hati dan pemikiran. Praktikum masih sekedar memenuhi 100% kehadiran. Dan lecture, sama seperti tutorial, masih sekedar menghadirkan fisik, dan sama pula dengan praktikum, masih sekedar untuk memenuhi kuota absen minimal 75%.

Padahal, kalau Allah saja telah memperkirakan saya mampu dengan menempatkan saya di FK, masa, saya ragu dengan hal tersebut? Apakah itu berarti saya meragukan Allah yang Maha Mengetahui segalanya? Astagfirullah... tuh kan, kadang kala kita tanpa sadar telah su'udzhon sama Allah, meragukan kehendak-Nya, dan menjudge bahwa hidup terkadang tak adil. Masya Allah, ternyata kemarin-kemarin saya futhur banget ya? (*parah banget baru sadar*).

Allah yakin, maka saya juga harus yakin bahwa saya bisa menjalani hidup di FK ini. Kalau kemarin yang saya lakukan hanya 'sekadar'nya, mestinya saya bisa lebih dari sekadarnya. Masa Allah menempatkan saya sekadarnya. Nggak kan? Pasti ada alasan yang lebih baik dari 'sekadar'nya. Dan saya mau alasan tersebut adalah bahwa saya mampu, benar-benar mampu, dengan seluruh kemampuan yang saya punya, yang sudah saya tempa di ponpes dan di IC dulu.

Dan kemampuan itu, saya yakin, nggak akan keluar dari dalam diri saya, kalau saya nggak menariknya keluar (atau mendorongnya keluar?) dari dalam diri saya. Tentu aja, urusan tarik menarik ini atau dorong mendorong ini nggak bisa sekadar tarik dengan badan yang lemas, dan pikiran negatif. Butuh effort lebih. Baca buku nya ditingkatin misalnya. Banyak nanya hal-hal yang nggak saya mengerti, misalnya. Dan nggak diem aja waktu tutorial juga salah satu effort yang mesti saya lakuin buat menarik semua yang ada dalam diri saya keluar. 

Oh iya, yang paling penting dari semua itu, adalah, saya harus berhenti 'melihat orang lain'. Saya punya kehidupan, saya adalah saya. Saya harus berhenti bergantung pada orang lain untuk beberapa hal. Say harus berhenti 'melihat orang lain'. Yang harus saya lakukan adalah, jujur pada diri sendiri, dan mulai menjadi diri sendiri. :)

Well, kayaknya kerjaan saya banyak nih... harus segera bikin 'List To Do' dan memperbaiki Life Plan yang saya bikin secara asal-asalan waktu SMA dulu (*ups, ketahuan :P) ... dan yang utama, saya harus mulai bergerak! 

Kata Afifah Afra dalam bukunya 'And The Star Is Me' -- Hiduplah bagai Air, air akan punya manfaat lebih ketika ia bergerak--

Siip!! Semangat semuanya !!!!




--Lega juga setelah mengeluarkan segala uneg-uneg yang beberapa hari ini menggumpal di dalam dada, dan seringkali membludak di waktu-waktu yang tidak seharusnya menjadi emosi yang tak terkendali--

Sabtu, 02 Maret 2013

Tertawa

kemarin, seorang teman dari keperawatan, Mimi namanya, menulis di buku harian saya,

Buat tiyani... hehe paling suka deh liat tyani ketawa hehehe jadi pengen ikutan ketawa jadinya ^^

Ya.. Allah... betapa beberapa hari terakhir ini senyuman dan tawa jarang sekali saya tampilkan di wajah saya, frustasi berkepanjangan yang tidak jelas asal usulnya... yang ketika ditelusuri berujung pada sebuah kebohongan besar pada diri sendiri...

Ya... Allah, kapan saya bisa lebih jujur pada diri saya sendiri?

FORGA KaLAM 1434 H

Yep, tadi banget, bener-bener baru tadi banget dari jam setengah 8 sampe setengah 12 tadi, gue mengikuti satu kegiatan awal untuk pengakraban dari salah satu BSO (badan semi otonom) fakultas yang juga merupakan LDF alias Lembaga Dakwah Fakultas, yakni KaLAM atau yang punya kepanjangan Keluarga Cendekia Muslim Medika... iya jangan tanya gue dari mana asal usulnya, gue bukan angkatan pertama nya sih ..hehehheheheh :P

Gue di KaLAM ini di divisi Media Opini, yang kalo kata kadiv gue, kak syafiq, gue itu terjebak di media, karena udah di media opini kalam, dii medisina juga, terus dari dulu ngurusinnya buletiiin mulu ... #nggakpenting.

Yang mau gue sorot di sini adalah, entah kenapa gue bingung banget waktu ditanya harapan masuk Kalam, masuk media opini... terus entah kenapa gue jawabnya, "Nggak ada yang spesifik sih," emang, insya Allah sama kayak yang lain secara umum. Tapi di atas kepentinga umum, gue punya kepentingan pribadi yang menjadi alasan utama gue berada hari ini, di BSO manapun.

Iya, alasan pribadi gue yang juga merupakan alasan utama adalah, gue pengen bisa bermanfaat di bidang yang gue bisa, di bidang yang emang udah jadi suatu concern buat gue. Dan dengan menjalaninya terus, gue bisa nambah ilmu sekalian, kan dalam perjalanannya pasti ada kritikan ada saran masukan, dan dari sanalah gue harus belajar. Nggak banyak. Cuma itu alasan gue. biar gue bisa jadi orang yang bermanfaat. Daripada gue masuk di bidang yang gue nggak punya kemampuan di dalamnya, kewirausahaan misalnya, yah yang ada nanti malah nggak amanah.. plus pake dongkol ngejalaninnya hehehhehe...

tapi, entah kenapa satu alasan besar ini, tadi, gue nggak bisa ngungkapin di depan temen-temen media yang hadir... tapi di blog yang dibaca dari mana-mana (walopun kebanyakan yang baca pasti temen seangkatan di IC) justru gue jabarkan dengan panjang kali lebar hehehehheheh ... maaf ya mbak Arinda dan kak Syafiq ... :)

Jumat, 01 Maret 2013

Tentang Hati #3

Ya Allah.. Sesungguhnya hati ini milik-Mu ya Allah...

Kuasanya ada di tangan-Mu,

Mudah saja bagi-Mu untuk membolak-balikan hati ini dan seluruhnya semudah membalikkan telapak tangan,

Karenanya Ya Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu...

Jika engkau berkenan untuk membalikkan hati ini, balikkanlah ke sisi dimana Engkau lah yang berada di sisi tersebut ...  sehingga hati ini senantiasa dapat 'melihat'-Mu dan semakin tunduk kepada-Mu...


Sabtu, 23 Februari 2013

good bye days-YUI

Songwriters: YOSHIOKA, YUI (PKA YUI)

Dakara ima ai ni yuku soki metanda
Pokketo no kono kyokou kimi ni kikasetai

Sotto Voryuumu wo agete tashikamete mita yo

Oh Good-bye days ima kawaru ki ga suru kino made ni so long
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Katahou no earphone wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan

Umaku aisete imasu ka? tama ni mayou kedo

Oh Good-bye days ima kawari hajimeta mune no oku alright
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru deshou?
Sono toki egao de Yeah hello! my friend nantesa
Ieta nara ii no ni...

Onaji uta wo kuchizusamu toki soba ni ite I wish
Kakkoyokunail yasashi sa ni aete yokatta yo

La la la la Good-bye days

So I'm going to go see you right now, that's what I've decided
I want to have you listen to this song, that I have in my pocket

Quietly, I turned up the volume, to make sure that it was there

Oh good-bye days, right now I've got the feeling that things are going to change; so long to everything up until yesterday
An uncool kindness is at my side
~With you

I pass one ear phone over to you
And this moment slowly streams over to you

Can you really love me? Even though I sometimes lose my way

Oh good-bye days, right now things inside my heart have begun to change, alright
An uncool kindness is at my side
~With you

If possible, I'd like to not have sad feelings
But they'll come to me, won't they?
In those times, it would be good, if only I could say
"Yeah, hello! My friend", with a smile

When we both are humming the same song, I wish for you to be by my side
I'm glad that we were able to meet each other, with such an uncool kindness

... Good-bye days

Back to Campus

waktu gue nulis postingan ini, hujan deras di depok menemani gue. well, semesta mendukung perasaan gue yang lagi sedih nih, sedih karena harus kuliah lagi (:P), and the most, sedih karena harus ninggalin Depok lagi untuk yang kesekian kalinya.

Sejujurnya, gue sampai saat ini masih belom bener-bener terbiasa buat pergi ninggalin rumah buat belajar sekalipun gue udah ngejalaninnya selama 6 tahun setengah sejak gue lulus SD. Waktu MTs emang ketidakterbiasaan itu gue realisasikan dengan nangis, secara masih bocah gitu lho! Dan waktu di MAN gue realisasikan dengan sindrom balik ke IC, alias badmood tiba-tiba pas H-1 sampe balik lagi ke IC.

Dan sekarang? Ya kali gue masih mau nangis? Hey, I'm an adult now (secara usia :p) ... iya, kalo jujur-jujuran, iya gue sedih harus ninggalin rumah lagi sementara semua orang di keluarga gue tetep di Depok. Gue sedih, tapi, yaudahlah ya.. kalo sedih mulu mah kapan gue senengnya?

Okey, cheers up girl!! :)

"there's no way to go back, but there are many ways that lead you to the bright future. Choose the one you like the most, so you'll enjoy your life, your job, and yourself :) "

Minggu, 17 Februari 2013

Tentang Sepatu Cantik

Hari ini gue berkesempatan menghadiri nikahan nya mbak Amrih, sodara gue, di Cikeas. Seperti biasanya gue, dateng ke acara apapun, kemanapun, kapan pun, style nya gitu-gitu aja. pake rok item, dengan baju modal minjem, jilbab segi empat pake model IC, bros, kaos kaki, plus sendal gunung yang kini udah mangap depannya minta disuapin lem. Kontras banget sama Ibu dan mbak gue yang dandan cakep banget plus pake sepatu yang ada hak nya.

Tapi, ya namanya juga gue, mikir ke depan lah, daripada nanti gue jatoh ato kenapa-napa kalo harus pake sepatu tinggi, akhirnya gue keukeuh pake sendal ceper yang mangap-mangap. Jalan ke sono, setelah nyasar jauh banget, belok kanan belok kiri, serong kana serong kiri, maju mundur, belok, maju lagi terus luuruuuuuus akhirnya nyampe juga di tempat resepsi yang ternyata belom mulai dan membuat kite-kite para tamu yang diundang beserta keluarga menunggu dengan muka-muka mulai laper karena dihadepin sama menu-menu yang entah kenapa didisplay di luar ruang resepsi.

Selama masa menanti masuk ruangan, gue duduk dan entah kenapa gue mulai mengamati model-model sepatu yang dipakai para tamu wanita dari bocah-bocah mungil nan tengil nyampe ibu-ibu yang sudah berumur. Dan betapa terkejutnya gue waktu ngeliat kira-kira 80% wanita yang hadir dari anak-anak sampe nenek itu pada pakai high heels ataupun wedges ... oh gosh!!! Bocah lho!!! sepupu-sepupu gue yang masih pada SD kelas 1-2, yang masih pada unyu-unyu nggak jelas udah pada lari-larian maen petak umpet, petak jongkok, benteng atau apalah-gue nggak sempet nanya mereka maen apa- itu pada pake sepatu berhak!!!

gue jadi ngerasa --- Zaman sudah berubah ya?--- [-,-"]

sampai sekarang aja sekali-kalinya gue pake sepatu hak tinggi pas latihan wisuda dan wisudaan SMA kemaren, dan itu rasanyaaaaaaa ....

Yang ini ... udah nggak ngerti lagi deh ..