Jumat, 23 November 2012

Ketika Jogja Hujan

Jogja hari ini basah dengan hujan yang, tumben, tidak putus sejak sebelum adzan dzuhur berkumandang. Rahmat-Nya yang akhir-akhir ini jarang sekali dirasakan oleh warga yang berdomisili di Jogja, termasuk saya.

Hari ini, saya punya cerita..

Semalamnya saya mencari sumber-sumber untuk tugas yang akhirnya nggak ketemu sampai saya sudah hampir frustasi, dan paginya saya berusaha memompa sepeda saya yang ternyata bannya bocor yang akhirnya bikin hari saya penuh emosi yang bergejolak.

Ditambah lagi beban tugas dari suatu acara LDK di ugm ini.. tanggung jawab yang tiada habisnya..keraagu-raguan yang setiap jam malah justru semakin besar...Arrrrgghh... rasanya saya mau meledak sajaaaa!!!!

Entahlah, yang pasti sampai dzuhur tiba, muka saya masih terlipat antara tegang, kaku, dan enggan tersenyum (pati orang yang melihat saya jadi ikutan jengkel, wah.. ternyata saya menyebar energi negatif ya..)

Lalu, jawaban itu datang justru ketika saya bertemu banyak orang yang memang saya butuhkan hari itu, Nikari, Mbak Khal, Fiya, Mbak Hasna, dan yang lainnya, orang-orang di sekelilingku yang senantiasa menguatkan hati...

Pada akhirnya, setelah diskusi dan perenungan yang mendalam, ditambah dengan masukan-masukan, saya membatalkan diri untuk ikut LDK dan memilih melanjutkan niatan saya untuk ikut Roadshow IAIC.. ya ..alasannya sederhana, karena saya ragu-ragu untuk ikut LDK tersebut, dan ketika saya ragu-ragu, saya nggak akan mendapatkan apapun..

Terus tiba-tiba sore itu, ketika 'keluarga cahaya' berkumpul, saya jadi ingat sepenggal kisah tentang mimpi saya sewaktu MTs dulu..

Jadi ceritanya saat saya MTs, saya ikut di tahfidzh club (kalau di UGM mungkin seperti GMMQ), nah, sebenarnya sore ba'da ashar itu jadwalnya muraja'ah hafalan, tapi entah kenapa sepulang dari masjid sore itu saya ngantuk banget dan akhirnya tertidur di lantai kamar sambil memeluk Al-Quran dan dalam keadaan masih pakai mukena.

Tapi, sore itu saya mimpi, Ustadzah Ummu, selaku pembina club dan pembimbing tahfidzh saya berkata dalam mimpi saya itu, 'Dek Setya, nanti kamu muraj'ah dengan syekh Yaser Arafat di taman ya..'. begitulah kira-kira seingat saya.. spontan saya kaget, ini beneran Yaser Arafat yang di palsetina itu? (Setelahnya saya tahu, kalau yang hadir di mimpi saya itu Yaser arafat ketika suatu waktu saya melihat buku di toko tentang biografi beliau dan di sana ada fotonya yang mirip dengan orang yang ada dalam mimpi saya).

Yasudah kelanjutan dari mimpi itu adalah saya jalan ke taman pondok saya dulu dengan sedikit berat, dan ternyata di sana sudah mengantri beberapa teman saya yang juga ingin muraja'ah dengan beliau. akhirnya saya menunggu dengan antar ragu-ragu dan nggak siap buat muraja'ah . Dan ketika sudah dekat giliran saya, saya baru sadar kalau ternyata, yang saya bawa itu adalah al ma'tsurat (semacam buku dzikir pagi dan sore) bukan al Quran.Akhirnya, entah kenapa saya ada sedikit lega karena harus mengulang ngantri, karena saya harus balik ke kamar buat mengambil Al-Quran tersebut.

Di kamar, saat saya mengambil Quran, ternyata ada salah seorang teman saya yang sudah balik dar muraja'ah, dan ketika saya tanya, 'kamu udah muraja'ah', dia menjawab sudah dan entah kenapa (sekali lagi, ini hanya dalam mimpi), dia menyebutkan banyak sekali juz yang sudah dimuraja'ah yang bahkan dalam dunia nyata belum dia hafal. Akhirnya saya malah minder.. saya ragu-ragu untuk balik lagi ke taman buat muraja'ah...

Dan ketika saya ragu-ragu tersebut saya bangun, dan menyesali karena belom sempat muraja'ah dengan seorang pahlawan palestina...

pelajaran yang saya ambil dari mimpi sederhana tersebut ada 2, yang pertama adalah dalam keadaan apapun saya saat ini, siap nggak siap, saya harus siap buat melakukan yang memang sudah jadi tugas saya, tanggung jawab saya, namun dengan tidak dibarengi keragu-raguan, karena pelajaran kedua yang saya ambil adalah ketika saya ragu-ragu saya tidak mendapat manfaat apapun, baik untuk diri saya, apalagi orang lain..:)

So, ayo kita tetapkan hati kita dalam keimanan kepada-Nya, sehingga kita tidak meragukan segala firman-Nya...

Dan akhir dari cerita ini, ketika saya pulang dari kampus malam itu, terguyur hujan.. saya sudah bisa kembali tersenyum...

memang itu seharusnya cerita hidup, happy ending, dan tersenyum di akhir, kan?

Selasa, 20 November 2012

Sebuah Euforia

Halo blog, halo semua.. selamat malam..

Dini hari yang begitu sepi kali ini, selain ditemani tugas yang menumpuk dari kampus, saya juga ditemani permainan piano Yiruma, 'Wait there' . Mengalun perlahan masuk ke telinga saya...

Jadi, ceritanya selama libur tahun baru hijriyyah minggu lalu sepanjang 4 hari, saya menghabiskan waktu di Salatiga dengan sebuah kegembiraan yang meluap-luap, sebuah euforia akan bertemu dengan keluarga Depok, yang dengan sedikit paksaan dari saya, akhirnya melajukan mobil ke Salatiga juga, setelah beberpa kali tidak jadi karena kondisi, baik Bapak maupun Ibu yang tidak memungkinkan untuk menmpuh perjalanan jauh...

Dan ternyata, saat saya tiba kamis siang itu, bukan hanya keluarga saya yang datang, tapi juga keluarga tante saya yang sama-sama berdomisili di daerah Jabodetabek. Selama 4 hari itu, sebagaimana liburan panjang yang di dalamnya berkumpul keluarga, baik jauh maupun dekat, saya melepaskan buku saya, walaupun laporan praktikum menunggu untuk dikerjakan di ransel saya, dan check list anatomi menunggu untuk dihafalkan di bagian lain ransel saya...

Karena momen ini sayang jika hanya dilewatkan di depan buku..., momen yang mungkin hanya bisa didapatkan setahun sekali, saat lebaran idul fitri.

Euforia. Kegembiraan saya meluap-luap tumpah ketika saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya sudah sangat saya kenal, namun ternyata waktu saya menilik kembali ke waktu-waktu di belakang saya, saya dan mungkin mereka juga jarang bertemu dengan saya, lebih karena pilihan-pilhan saya untuk sekolah di tempat yang jauh dari rumah..

Euforia. Rasanya ketika melihat wajah-wajah itu, wajah Ibu saya, wajah Bapak saya, Wajah Mbak Uca, dan keponakan saya, Adhia, semua beban dan ketidaksukaan akan pembelajaran di fakultas meluruh... Saya tahu, bahkan sebelum saya masuk fakultas kedokteran, saya adalah harapan mereka...

Kakak kelas saya pernah bilang, waktu saya berkata saya salah jurusan, bahwa paling tidak saya mencari alasan yang bisa membuat saya bertahan di kedokteran sampai waktunya saya lulus nanti, dan seumpamanya saya tidak mampu menemukan motivasi dari dalam diri saya, paling tdak saya mencarinya dari luar diri saya...

Dan saya tahu, yang mampu membuat saya bertahan adalah keluarga saya.. yang sudah banyak saya repotkan dalam proses saya msauk kedokteran, bahkan sebelum SNMPTN tulis tahun ini berjalan...

Euforia. Ketika saya merasakan pelukan hangat dari keluarga Depok, saya tahu.. saya bisa... saya mampu untuk terus bertahan...

Dan sekalipun itu adalah sebuah euforia yang menjadikan 4 hari minggu lalu menjadi seperti mimpi saat saya harus kembali menginjakkan kaki saya di Jogja, tapi saya tahu, saat ini, saya lebih siap untuk belajar di kedokteran, karena ada harapan keluarga saya dalam diri saya..

Dan ini saatnya saya tersenyum saat berangkat kuliah :)
                        ----Semoga Allah meridhoi---------

Sesungguhnya, Allah tidak pernah salah menempatkan kita, jika Allah menempatkan saya di kedokteran, pasti ada alasannya, entah karena Allah saya tahu saya mampu, ataupun karena Allah menyuruh saya belajar untuk mengejar ketinggalan saya sebelumnya, ataupun hal lain..Tapi, Allah menempatkan kita di suatu tempat, kondisi, situasi, pasti ada alasannya... dan itu pastilah yang terbaik untuk kita...:)

Selamat malam semua.. :D
 Selamat tidur...
  

Jumat, 16 November 2012

Rumah itu saya sebut 'Insan Cendekia'

Halo semua, apa kabar? selamat tahun baru Hijriah 1434 H... Semoga kita bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya..

Di sini saya mau menceritakan tentang sebuah rumah, 'rumah' saya yang lain.. dimana, setiap kali saya pulang ke dalamnya, ada banyak keluarga yang menyambut saya dengan hangat..

'Rumah' yang di dalamnya saya bisa berekspresi tanpa harus pakai 'topeng', karena di sini semuanya menerima saya dengan hati yang lapang

'Rumah' yang di dalamnya saya bisa berbagi cerita tentang suka duka tanpa harus enggan, segan, dan selainnya..

'Rumah' yang di dalamnya saya punya 'keluarga' yang peduli satu sama lain..

'Rumah' yang di dalamnya saya punya orang tua-orang tua yang hebat, sangat hebat malah...

'Rumah' yang sampai saat ini, saya masih belum rela meninggalkannya karena harus melanjutkan perjalanan...

ya. rumah itu saya sebut 'Insan Cendekia', keluarga itu saya sebut 'Gycentium Credas Disorator', dan orang tua itu adalah guru-guru saya yang hebat...

Hati..

Halo hati, apa kabar?

Kamu terlihat lesu dan tak bersemangat, adakah yang mengganggumu?

Ah, iya saya tahu perasaan itu, ketika semua perasaan menjadi satu, menggumpal, tercampur aduk, sampai kita tidak tahu lagi mana perasaan sedih, mana yang bahagia..

Dan ketika tertawa, terasa hanya menjadi sebuah kewajiban dalam etika kesopanan...

Halo hati, apa kabar?

Kamu terlihat ingin menangis, adakah yang mengganjalmu?

Ah, iya saya tahu rasanya, ketika rasanya ingin menangis, tetapi tak ada air mata yang keluar, sehingga yang tersisa hanyalah sesak di dada yang tak kunjung pergi...

Dan, sesungguhnya yang kamu, kita, butuhkan hanyalah sebuah pelukan hangat dari seorang terdekat, dan dukungannya...

Halo, hati apa kabar?

Kamu terlihat sangat sedih, adakah yang menghalangimu untuk tersenyum?

Sesungguhnya, hati.. jika saja kita mngingat sesuatu yang membahagiakan, menggantikan semua kesedihan, bersyukur dan mengecap manisnya hidup ini, tersenyum bukanlah hal yang sulit...

iya kan, hati?

Rabu, 14 November 2012

Edisi Praktikum Biokimia

Halo blog!

jadi mestinnya, saya lagi dikejar deadline koran inspire, tapi berhubung corel portabel saya yang udah setia nemenin saya sejak di IC tiba-tiba crash, yah.. bentar lah.. mengalihkan perhatian ulu, daripada saya terus-terusan ngamuk setiap kali corelnya ketutup tiba-tiba hehehehehe :D

Jadi, ceritanya hari ini saya praktikum biokimia untuk pertama kalinya. Topiknya sebenarnya untuk praktikum pertama ini adalah fosforilasi oksidatif (jangan tanya saya apa itu, saya juga belom praktikum hehehehe.. tapi paling nggak, buat kalian yang udah nyampe kelas 3 SMA, tau lah... *dokter nggak berdedikasi ya gini nih.. :P), entah hari apa, tiba-tiba pengumuman perubahan tema praktikum ditempel di gedung radiopoetra, FK UGM, yakni tema berubah menjadi 'Methomoglobin', langsung JDUAAAARR DEERRR DAARRRR DORRRR.. seketika saya lemes...

Saya jelasin dikit tentang MetHemoglobin. Jadi, Methemoglobin itu adalah bentuk abnormal dari hemoglobin, protein pengikat Oksigen dan karbondioksida yang ada di dalam darah. Nah, kalau di hemoglobin, untuk mengikat gas-gas tadi, dia punya inti Fe2+ (ferro), sementara di MetHb atau methemoglobin mengandung inti Fe3+ (ferri) yang ternyata punya pengaruh besar terhadap pengangkutan oksigen dan karbondioksia, karena Fe3+ atau ferri ini nggak punya afinitas sama sekali terhadap, baik, oksigen ataupun karbondioksida.

Jadi nanti saat praktikum, kami akan menghitung jumlah metHb yang ada dalam d***h seseorang, dengan cara menembakkan gelombang ke zat-zat yang sudah kita campur adukkan sebelumnya, yang terdiri atas specimen (bahan baku atau bahan dasarnya) dan reagen (yang ditambahkan ke specimen untuk perlakuan).

Praktikum kali ini yang buat saya adalah spesimen yang digunakan dalam praktikum ini, yak, mungkin bisa kalian tebak, yaitu sesuatu yang ... (tarik napas)...berwarna merah...

D***h

udah dari sehari sebelumnya saya udah nangis dan lemes waktu tau kalo harus pake specimen darah. dan seharian itu, sebelum praktikum biokimia saya udah nangis dan lemes banget, terus buat menguatkan hati, saya sms ke beberapa orang, minta dukungan dan doa, supaya saya kuat buat menghadapi 'sesuatu' yang akan datang tersebut di atas...

Hari ini tuh saya dobel praktikum, histologi terus nyambung biokimia, nah, waktu harusnya ngerjain post test histologi, konsetrasi saya udah pecah mikirin biokimia, badan, terutama kaki saya udah lemes banget, badan udah gemetar, sampe-sampe temen sekelompok saya megangin saya biar saya nya mau jalan hehehhe :p

Sampai di depan lab biokim, pas banget Nikari keluar, langsung saya meluk nikari, pake nangis dan gemetar nggak karuan. Ya.. Nikari taulah masalahnya, terus Nida juga dateng, temen-temen sekelompok juga beberapa orang temen sekelompok nya Nida yang tadi sempet belajar bareng waktu jeda kosong kuliah..

Rasanya jadi menguatkan hati...

tapi, pada akhirnya saya bener-bener masih menghindari darah dan nggak mau liat sampai akhir praktikum, sampai asdosnya bingung, (soalnya waktu ditawarin masang parafilm ke tube berisi drh, saya langsung nolak dengan tegas),

yah tapi yang penting ..

saya keluar lab biokimia dengan senyuman :)

Terima kasih ya buat semua temen-temen yang udah menguatkan hati saya :D

Semoga ke depannya saya lebih berani terhadap 'sesuatu' tersebut

hehehehhehe

Minggu, 11 November 2012

Minggu pagi

Halo, Minggu

Apa kabar?
apa yang sudah kita lakukan hari ini?
Apa yang sudah kita evaluasi hari ini?
Apa yang sudah kita amalkan hari ini?

Halo, iman

Apa kabar?
Masihkah kau bertahan dalam jalan-Nya?
Ataukah sudah menyimpang menuju suatu jalan lain?

Halo, hati

Apa kabar?
Masihkah kau terjaga dalam dekapan-Nya?
Ataukah sudah ada 'hal lain' yang mendekapmu dan akhirnya berpaling dari-Nya?

Halo, akal

Apa kabar?
Sudahkah kita berpikir untuk masa depan?
Ataukah masih stagnan terjerat masa lalu?

Halo, Diri

Apa kabar?
Sudahkah hari ini kita bersykur pada-Nya?
sudahkah hari ini kita meluruskan niat untuk beribadah kepada-Nya?

Yaa Muqallibul Quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinika wa thaa'atika..


Kamis, 08 November 2012

Dokter, tolong saya!

Halo blog!

2 bulan terakhir ini, saya masih sering menggalaukan keputusan saya masuk kedokteran. Entah kenapa saya jadi maju mundur buat mempertahankan posisi saya di FK ini, yah gimana pun pada awalnya saya masuk FK juga main-main, jadinya pas masuk jadinya mainan doang deh..

Padahal dokter itu long life learner, pembelajar seumur hidup. Sebab ilmu kedokteran berkembang terus, dan kalo mau memperhatikan, penyakit juga berkembang selama masa hidup kita di dunia, kalau nggak terus-terusan belajar, seorang dokter nggak akan bisa mengobati pasiennya...

Dan dokter itu komunikatif.. harus bisa membuat pasien nyaman dan mau diperiksa dengan hanya berkomunikasi yang tepat dan efektif. Sementara saya, masih suka gagu kalau ngomong dengan cara dokter, seperti yang diajarkan waktu skills lab (lab keterampilan medis).

Terus, dokter juga harus cepat menganalisis, supaya nggak kelamaan buat memberikan diagnosis, tapi tetep harus tepat. Saya nggak tau apakah saya bisa melakukan analisis dengan baik, baik sekarang maupun nanti.

Dokter juga harus punya rasa ingin tahu, kadang-kadang saya males buat tahu, apalagi sesuatu yang saya emang seharusnya saya nggak tahu, pengennya tetep nggak tahu aja, biar nggak jadi masalah.. (-______-")

tapi, Allah menempatkan saya di kedokteran pasti ada alasannya..

Entah karena Allah tahu saya mampu, atau karena Allah menyuruh saya belajar dengan masuk ke kedokteran... yang manapun pada akhirnya saya tetep harus belajar,,

Belajar berkomunikasi, belajar menganalisis, belajar keterampilan medis, belajar dasar-daasar medis.. yang saya sendiri nggak tahu bakal mulai menikmati belajar itu semua kapan.. toh sampai sekarang saya belum menemukan nikmatnya kuliah di kedokteran.., dan alhasil saya sering stres baik waktu di rumah maupun di kampus cuma gara-gara mikirin kedokteran..

dan saya masih phobia darah (walaupun sudah agak berkurang)...

Buat temen-temen yang baca tulisan ini, saya mohooon bangeeet sharing nya tentang menikmati kuliah ya... barangkali bisa saya aplikasikan di dunia saya... :)


Tiba-tiba Saya Kangen


Halooo blog…
Hari ini saya lagi bener-bener berubah haluan banget mood nya, apalagi setelah buka-buka akun sosmed.. ketemu temen-temen IC di sosmed..komen-komenan nggak penting.. ah rasanya jadi pengen memutar waktu lagi, back to the past, dimana saya masih bisa tatap muka sama mereka, ngerantau dari kamar ke kamar, dari kelas ke kelas, nge gabut nggak jelas di perpus, di depan RO…
I really missed them …
Also the teachers..
Di kuliah nggak ada lagi yang namanya bercanda di kelas sama guru-guru,, dan dengan kurang ajarnya minta ditraktir sama guru kalo nilai TO nya nggak ada yang di bawah 7… main-main ke rumah Bu Nova, Bu Penny masak-masak di sana, atau main ke kamar bu Evi buat nelpon atau sekadar numpang ngegosip dan ngeramein kamar bu Evi …
Ah  ya ampun…
Kangen banget nonton bareng lewat tv 14 inch di lobby gedung H, bubar pas iklan, dan mulai diteriakkin kalo udah mulai lagi..
Kangen banget apel pagi bareng dr depan wakamad… buru-buru lari-lari dari lantai atas ke bawah, kejar-kejaran sama hitungan dari PPBN
Kangen banget belajar, ngobrol, sama kumpul angkatan bareng di living room..
Kangen banget masak-masak bareng waktu mau makan-makan kelas… masak indomie 17 bungkus tiap kali makan-makan…pinjem kompor keputrian..
Kangen banget duduk-duduk di saung, makan indomie pake telor nya saung.. ngale-ngale sambil nungguin pelajaran seni mulai waktu hari sabtu..
Kangen banget duduk di pinggir lapangan bola, ngegalalu nggak jelas tentang temen-temen, rencana masa depan dan masih banyak lagi..
Kangen banget ngantri nelpon di telpon koin sebelah kopinma sore-sore habis kegiatan atau sebelum intensif sore..
Kangen banget ngerusuh buat kasih dukungan waktu gakic, tos bareng-bareng sekelas atau waktu murosalah dan perang cup…
Kangen banget buat salam ke orang-orang yang ditemuin di IC.. dengan salam, semuanya jadi terasa dekat, ramah, dan hangat..
Kangen banget buat remedial bareng-bareng sore-sore di depan ruang guru…
Kangen banget jalan-jalan bareng naik kereta atau bis atau angkot dari satu kota ke kota lainnya waktu liburan..

Dan masih banyak hal lagi yang saya kangenin yang bikin waktu saya jadi agak percuma.. *ngubek-ngubek tanah*..

Aduuh… tapi rasanya saya kangen bangettt…. .>,,,,<  because, there’re a lot of things that we couldn’t have it in another place except at Insan Cendekia boarding school, Serpong