Jumat, 31 Desember 2010

Dirimu di hatiku....

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
                Shafira tertegun membaca setiap kata yang tertulis di chatbox miliknya di facebooknya. Ia membaca nama yang tertera di chatbox itu. Muhammad Naufal. Ni orang… Bathin Shafira.
Shafira  :Nyanyi Lu Fal’?-Enter-
Naufal   :Iya. Kenapa?-Enter-
Shafira  :Kagak. Untung di facebook, kalo nggak, kaca udah pecah kali Fal’.-Enter-
Naufal   :Hehehehe, Tapi, ini bener Shaf. –Enter-
Shafira  :Apanya  yang bener? Kacanya pecah?-Enter-
Naufal   : Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…Meski kau bukan milikku… -Enter-
Shafira  : ????-Enter-
Naufal is offline…
                “Ah! Gombal si Naufal! Apa sih maksudnya!” Teriak Shafira kesal sendiri dengan pernyataan Naufal yang nggak jelas itu.
                “Udah ah ngantuk!” Ucap Shafira akhirnya yang kemudian langsung me-sign out­ akun facebook miliknya dan segera merebahkan tubuhnya di kasur. Kalau dipikir-pikir, sampai saat ini sudah 10 kali Shafira di-‘tembak’ sejak ia masuk SMA kelas X. Enam kali waktu masih duduk di bangku kelas X, dan empat kali lagi saat ia duduk di bangku kelas XI ini. Itu yang jelas-jelas berbicara “aku suka kamu” atau “aku cinta kamu” dan sejenisnya. Belum lagi yang nggak jelas kayak Naufal tadi. Entah Cuma sekadar PDKT, tiba-tiba kasih boneka, coklat. Ah! Aneh-aneh deh pokoknya!
                Shafira bingung, emang dia semenarik itu bagi lawan jenis ya? Kayaknya, tampang dia juga nggak cantik-cantik amat. Standar lah untuk ukuran remaja putri. Sikap? Pada dasarnya, Shafira emang supel. Dia bisa berteman, ngobrol, interaksi sama siapa saja, dari segala jenis golongan. Mulai dari golongan tua, muda, laki-laki, perempuan. Di SMA nya saja, siapa sih yang nggak kenal Shafira Naylah?  Senior yang selalu nolongin juniornya, rengking paralel, tim olympiade matematika,ketua ekskul saman, bendahara OSIS lagi!
                Shafira nggak tau aja kalau adik-adik kelasnya bikin Shafira Fals Club! Wow! Agak lebay sih, tapi yang emang gitu kenyataannya. Wajah Shafira emang nggak cantik, tapi kepribadian Shafira menarik bagi orang lain. Hitung-hitung, dengan kepribadiannya itu Shafira jadi selalu dapat bantuan dari teman-temannya kalau dia lagi susah.
                Sudah jam setengah dua belas, tapi Shafira masih belum bisa juga untuk menutup matanya. Kata-kata Naufal di chatbox  tadi terbayang terus di benaknya. Ah! Seandainya itu bukan Naufal, pasti sudah dia lupakan sejak tadi. Tapi ini…Naufal! Muhammad Naufal! Orang yang selalu ada dalam hatinya sejak tiga tahun lalu! Entahlah, Shafira juga tidak tahu mengapa. Virus merah jambu itu begitu saja menyusup ke dalam hatinya. Membuatnya sulit bernafas ketika bertemu Naufal. Membuat jamtungnya berdetak lebih cepat saat nama Naufal disebut. Ah…Naufal…Naufal…
                Mereka satu SD, satu SMP, dan sekarang satu SMA! Bosen? Yah…Sedikit banyak mereka bosen juga sih…dari  11 tahun mereka satu sekolah, 7 tahun mereka sekelas! Kelas 1-4 SD mereka nggak sekelas. Sisanya? Yah…seperti yang diketahui, bahkan sampai detik ini mereka masih sekelas  di kelas XI IPA 2. Satu bagian di Pengurus Harian OSIS lagi! Yaiyalah! Gimana nggak? SI Naufal kan’ ketua OSIS!
                “Udah cukup!” teriak Shafira lagi sambil menutupkan bantal ke wajahnya. Ia memaksakan dirinya untuk tidur.
###
Pesona Indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkan mu
Wajahmu mengalihkan duniaku…
                Lagi-lagi Shafira dibuat tertegun oleh Naufal. Gimana nggak? Lihat kan yang ditulis Naufal di messagebox nya Shafira di akun facebooknya. Tidak Tuhan! Jangan Naufal lagi! Bathin Shafira berteriak.
Comment
Shafira  : Gombal Fal! Gombal! Ketua OSIS gw gombal!
Naufal   :Ye…ini beneran Shaf!
Shafira  :Maksud loe apa sih Fal’?
---
Shafira  :Fal, maksud loe apa sih?
Naufal   :Kalau mau tau maksud gw, besok, dateng aja ke lapangan rumput di belakang komplek rumah loe!
Shafira  : ????
Naufal   :Udah dateng aja! Pulang sekolah. Gw tunggu.
Diam-diam hati Shafira kebat-kebit. Kalau Naufal beneran ‘nembak’ dia, dia harus gimana? Nolak? Nerima? Ah…gimana dong? Shafira emang suka Naufal. Tapi,…entahlah. Shafira sendiri juga bingung harus bagaimana.  Apa gw usah datang aja ya? Lihat besok aja dah!
 Yah…akhirnya, malam ini Naufal sukses membuat Shafira sulit tidur lagi.
###
                Tapi, sore itu sepulang sekolah, ada rapat OSIS dadakan. Ada masalah dengan acara besar OSIS untuk akhir semester ini. Entahlah, masalah dengan pencairan dana OSIS dari sekolah, masalah missedcommunication dengan sekolah, dan segala macam masalah lainnya yang ternyata nggak Cuma sekali rapat langsung beres. Tapi juga harus membicarakan lagi ke pembina OSIS serta bagian kesiswaan. Aduh! Gimana ini? Bathin Shafira kacau. Tapi Naufal nggak bilang apa-apa. Shafira bingung. Ia  penasaran dengan ‘lapangan di belakang komplek’ tapi masalah kebendaharaan masih menumpuk! Ia harus segera merapihkan data kebendaharaan sebelum besok! Kalau tidak bakal lebih lama lagi selesainya masalah-masalah ini. Ah…
                Shafira mencari-cari Naufal. Entah kemana si ketua OSIS itu. Sepertinya usai koordinasi dengan bagian kesiswaan dia menghilang. Kemana dia? Tadi ada pas rapat OSIS.
                “DIO!” Panggil Shafira. Yang dipanggil menoleh. “Liat Naufal nggak?” tanya Shafira.
                “Ng…Dia udah pulang daritadi Shaf’. Katanya ada ‘keperluan penting’. Tapi aku nggak tahu ya… coba cari dulu di ruang OSIS.” Jawab Dio si ketua 1 OSIS.
                “Gimana sih Naufal! Bendaharanya masih ribet, ketua umumnya malah pulang!” Sungut Shafira. Dio hanya tersenyum menanggapi.
                “Masih ada masalah apa Shaf’? Sini aku bantu, udah jam setengah enam, nati kamu nggak pulang-pulang lagi…” Ujar Dio menawarkan diri.
                “Nggak, nggak usah deh Yo’, aku bawa aja ke rumah, udah terlalu sore… duluan ya Yo’!” Ucap Shafira akhirnya dan langsung berlari membereskan arsip-arsipnya kemudian pulang ke rumah.
                ***
                Usai shalat Maghrib Shafira langsung ke meja belajarnya, bermaksud membereskan arsip-arsip kebendaharaannya lagi. Tapi kemudian ia ragu. Entah mengapa ada perasaaan tidak enak dalam dirinya. Sesak rasanya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Setelah menguatkan hatinya ia mencoba kembali fokus. Tapi, ya seperti sebelumnya! Hatinya tidak tenang, entah apa yang mengganggunya.
                Ia berhenti sejenak. Akhirnya memutuskan untuk pergi ‘ke lapangan belakang komplek’ yang disebut Naufal. Tapi masa iya Naufal masih nungguin aku? Shafira menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya. Dan segera minta izin untuk beli makanan kecil ke alfamart depan komplek ke ibunya.
                Entah apa yang membuat hati Shafira begitu berdebar tidak tenang sehingga membuat ia berlari menuju ke lapangan. Cepat. Cepat. Ia tidak punya waktu lagi, begitu bathinnya berkata. Cepat. Cepat.
Ahhh…
                Tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi, lihatlah! Lihat apa yang telah disiapkan Naufal untuknya. Shafira terpana melihatnya. Terkejut hingga tak dapat berkata apa-apa. Sebuah rangkaian bunga mawar besar berbentuk hati sebesar seperempat lapangan. Shafira melangkahkan kakinya mendekat ke rangkaian tersebut.
                “Ah, adik yang namanya Shafira?” tanya seorang bapak-bapak yangbaru saja datang-mungkin untuk melihat keadaan lapangan.
                “Ah iya pak.”
                “Ini ada surat dari dik Naufal, katanya buat Shafira. Tapi dia baru saja balik. Baru beberapa menit yang lalu.” Kata bapak itu sembari memberikan suratnya ke Shafira.
                “Ah iya, makasih pak.” Ucap Shafira. Ia tertegun dan segera membuka suratnya.
Teruntuk : Shafira Naylah
Shaf, aku udah nungguin kamu daritadi, tapi kamu nggak dateng juga. Aku pikir kamu masih sibuk dengan bendahara. Maaf ya ninggalin kamu begitu aja tadi, tapi aku buru-buru ke sini buat segera nyelesein bunga mawarnya.
Itu buat kamu. Tanda bahwa aku sayang kamu. Sejak dulu Shaf. Sejak pertama kali kamu memanggil namaku. Aku sudah sayang kamu…
Temanmu,
M. Naufal

                Shafira tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia segera berlari. Bermaksud mengejar Naufal. Terus berlari ke arah rumah Naufal. meninggalkan keributan yang ada di tengah jalan. Terus. Berlari. Sampai rumah Naufal…
                “Permisi, tante, Naufalnya ada?” Tanya Shafira begitu ia sampai di depan rumah Naufal dan menemui ibunya.
                “Ah, belum pulang tuh, Shafira. Tunggu di dalam yuk!” Kata ibunya Naufal sembari membuka pintu pagar dan mempersilakan shafira masuk.
                “Sebentar ya Shaf, tante teleponin, biar ia cepet pulang, dia belum pulang daritadi. Katanya ada masalah apa OSIS atau gimana…” Ibunya Naufal segera menelpon Naufal. Hanya saja terlihat lebih panik daripada biasanya. Telpon itu tidak diangkat.
                “Yaudah deh tante, besok aja saya ketemu di sekolah…” kata Shafira akhirnya. Tapi, entah kenapa ia merasa…
                Kriiiiiiiiiiiiiiingggggggg!! Telpon rumah Naufal berbunyi mengagetkan Ibunya Naufal dan Shafira.
                “Sebentar Shaf, mungkin itu Naufal…” Ibunya segara mengangkat telpon.
                “Apa?! Nggak mungkin!!” Brak! Gagang telpon itu jatuh begtiu saja dari tangan Ibunya Naufal.
                “Kenapa tante?!” Shafira segera mendatangi ibunya Naufal yang ternyata sudah menangis dan jatuh terduduk.
                “Naufal!!! Naufal…” Ucapnya tergagap.
                “Naufal kenapa tante?” tanya Shafira yang entah kenapa ikut mengalirkan air mata.
                “Naufal tertabrak truk dan meninggal!!!!” jerit Ibunya Naufal sembari terisak.
                Tiba-tiba apa yang dilihat Shafira semuanya kabur. Dan menggelap. Tidak mungkin Naufal…
                ***
Itu buat kamu. Tanda bahwa aku sayang kamu. Sejak dulu Shaf. Sejak pertama kali kamu memanggil namaku. Aku sudah sayang kamu…


                

TRIP TO KOTA TUA :Perjalanan Tak Terlupakan

28 Desember 2010. Ide itu muncul entah dari beberapa hari yang lalu. Tercetus dari salah seorang temanku, Alam Afif…alias AAM! Si anak Tangerang. Melalui message yang dikirimkan dari grup “gycentium credas disorator” atau grup angakatanku,  Aam menyebarkan pesan singkat dan padat :
kepada semua gycentiboy and gycentigirl yang mao ikut jalan2 k kota tua & museum sekitar pada hari selasa tanggal 28 desember 2010....
diharapkan langsung membalas pesan ini ato memberi tahu gua k nomor ini 08821054xxxx...
dan nanti kumpulnya di museum fatahilah.....

selamat liburan..”
Tapi saat itu juga aku langsung berfikir bahwa aku nggak akan bisa ikut. Udah jelas alasannya, it’s too far from my house, dan nggak ada yang bisa nganterin. Akhirnya aku menutup pikiran-pikiran untuk ikut

 Semalam sebelumnya.
            Yah…memang godaan itu bisa datang dari mana-mana. Bahkan dari teman terdekat sekalipun…
Malam itu Nikari mengirim sms-yang bener2 short, tapi akhirnya jadi perbincangan panjang tentang ke kota tua yang menggodaku untuk membujuk orangtuaku supaya membolehkan aku ikut ke Kota Tua. Berikutah kira-kira sms nya (tanpa ada perubahan sedikit pun)
Nikari    : Ti, ikut ke kota tua yuuuk.. XD
Aku       : kpn nis? Syp aja yg ikut? ak pngn tp tkt g da tmen ny
Nikari    : Ad aku, maryam, bella, byk d. bsk jlnya.. yuuk.
Aku       : kmpul dmana? jam brp?
Nikari    : kmpl d museum fatahilah jam 8. Mau g ti?
Aku       : jauh bgt# yg dketan dkit dong nis# rmh mu sma museum jauhan mana?
Nikari    : jauhan museum lah. Ak jg mkir gt si. Ap tyani mw k rmh ak dl trus k museum brg? Atw gmn?
 Aku      : kyk gtu aja deh# ak mnt almt mu dong nis#
Nikari    :(ngasih alamat lngkap, plus angkutan2 umum yang hrs dinaiki)
Aku       : bella beneran ikut nik? Co nya syp ja yg ikt?
Nikari    : bella si ktny mw ikt. Cwony tuh aam, trus.. g tw lg ak ti.lmyn byk si.ikt y ti?
Nikari    : Kira2 bela ara imo eja maryam arik irfan faiz akmalanis arsy arum ngeni hime ma gw. (kt aam)
Aku       : kykny g bs ikt d# g da yg ngnter nik## tp g tw jga kalo bella atw ank dpok lain ny ikut..mgkn bisa..eh pny nomr ny bella g?
Aku       :itu bneran jam 8 nik? Trus akmal? Dy trbg dr aceh?
Nikari    : Kg tau. Ms sgituny --“
Aku       : jam 8 tu jam krja# psti mcet dah# msa ntar ak brgkt stngah 6?
Nikari    : G tw jg. Nih nmrny bella 0815xxxxxxx. Cb aj tny bella ti.
Aku       : sip#mkasi nik#
Aku (untuk Bella)           :ass# bella, ini tyani. Bel, bsk km ikt ke i kota tua brg aam g?
Nikari    : Ti, bela mw tuh jln brg. Lg ol dy. Mw ktm dmn?
Aku       : oh ak ol dah#
Nah gitulah kira-kira.                                               
            Di antara sms-sms itu, akhirnya aku berbicara dengan kedua orang tuaku. Yang intinya, sebenarnay boleh tapi kalo ada yang nganter, atau harus bareng temen dari depoknya. Waktu aku bilang bella-yang rumahnya di Srengseng-ikut, Ibu ngotot aku harus berangkat bareng Bella. Terus waktu aku bilang Ibu Faiz-temen SD-ku, yang rumahnya ke rumahku lebih deket daripada rumah bella-ibu langsung bilang “Yaudah bareng Faiz aja dek!”. Jreng! “Mending bareng Bella bu!’ kataku sembari beranjak dari kamar Ibu…
            Yaudah akhirnya aku mulai menyalakan komputer dan mengkoneksikannya ke internet. Masuk ke akun facebook dan mulai OL…
            Begitu bisa masuk ke akun facebook aku langsung membuka chatbox dan mencari nama Nabilla K. Aku to the point  nanyain perihal kepergian ke kota tua bersama Aam dkk. hHooo…ternyata Bella nggak jawab sms-ku karena kepentok pulsa! Setelah pembicaraan yang alot antara aku-Bella dan Irfan, akhirnya disepakati, besok, kami anak-anak Depok kumpul jam setengah 8 di Stasiun Depok Baru.
            Dan selesailah satu masalah…

Hari-H
            Ah…setumben-tumbennya aku pas liburan gini mandi jam stengah 6. Tadinya aku mau mandi jam setengah 7, trus berangkat ke Stasiun jam 7-an. Tapi, nggak tau kenapa, usai Shalat shubuh perutku sakit nggak karuan sampai nggak baca Qur’an, yaudah akhirnya sekalian aja mandi. Selesai mandi, aku bongkar-bongkar tas koper-ku yang kubawa dari asrama dan belom kubongkar sama sekali. Weits, ternyata…aku NGGAK BAWA baju pergi sama sekali. Aku Cuma bawa kaos-kaos oblong sama baju-baju yang nggak bisa dipakai lagi. Waduh! Udah kayak gini, eh ibu udah marah-marah gara-gara aku belum siap sementara ini udah jam setengah 7! Oh God! Aku lagi nggak mau kena marah nih… akhirnya pelan aku membuka kamar kakakku. Brak! Eh…nggak jadi pelan dah…
            Dan terlihatlah mbak Uccha yang masih tidur dengan tenangnya.
“Mbak, aku pinjem baju dong. Mau jalan nih…aku nggak bawa baju dari asrama…” kataku berhati-hati. Uuuuuhhhfff untung mbak Uccha nggak marah, dan langsung minjemin baju walaupun matanya masih merem-melek. Setelah diburu-buru dan sempet kesulitan buat makai jilbab paris-yang harus didobel, akhirnya aku berangkat jam 7 juga…
            Karena udah terlalu diburu-buru, dan akunya udah keburu panik, akhirnya di perempatan Gundar, aku salah naik angkot 129.
Datang masalah lainnya…
Mestinya aku naik angkot 112! Angkot 129 tuh arah Pasar Minggu! Aku cengok abiss begitu angkot ini melaju lewat UI. Sempet-sempetnya aku Lola dulu. Lhah! Ini kan bukan Margonda! Teriakku dalam hati, sementara sms-sms dari bella terus-terusan masuk menanyakan keberadaanku.
Aku       : bel, gimana nih, gw salah naik angkot…
            Akhirnya hanya itu yang bisa aku sms ke Bella. Entah gimana caranya aku kembali ke alam sadarku! Aku turun tepat di pertigaan-yang aku sendiri nggak tau daerah apa itu!. Nyebrang. Dan nyari angkot 129 yang arahnya berlawanan. Dan balik lagi ke perempatan Gundar. O my God! This is my first time to riding angkot by myself! Berkesan bgt dah!
            Nggak lama, aku sampai (lagi) di perempatan Gundar, nyebrang (lagi), dan naik angkot 112! Yang kali ini bener-bener angkot 112! Yeah! Melaju ke stasiun Depok Baru!
Aku       : bel, aku dah di Margonda nih…
Sms-ku dengan riang (?) ke Bella yang udah nyampe dari jam setengah 8 (waktu aku di Margonda itu udah jam 8 kurang lima menit) dan katanya belum ada yang dateng, sekalipun itu Irfan yang kemaren berkoar-koar untuk nggak ngaret.
            Sampai di depan stasiun Depok Baru udah jam 8. Aku langsung nelpon Bella, menyakan keberadaannya sekarang. “Di depan loket” katanya. Yaelah, masuk stasiunnya aja gw nggak tw, apalagi loketnya bel! Batinku berbicara. Gimana nih?
            Ah…Allah emang baikkkkkk bgt! Di saat aku lagi bingung, di sana ada pertolongan! Irfan lewat di depanku! Wuahahahahaha…ternyata dia juga baru dateng! Spontan aku manggil si Irfan dan menutup pembicaraanku dengan Bella. Irfan nengok sambil kaget. Eh…kaget nggak ya? atao malah cengengesan? Nggak ngerti. Aku lupa pokoknya, akhirnya kita jadi jalan bareng (baca: Irfan jalan di depanku, trus aku jadi buntutnya gtuh…) ke Stasiun. Hohohoho…ternyata langsung disambut sama om-om. Nggak om-om juga sih, Cuma tampangnya doang, tapi masih kelas 2 SMA kok! Yups! Dia Salman, salah satu personil Depok Community. Terus jauh di belakang Salman, di sanalah Bella berada. Hahahahhahha…
Sepuluh menit lagi kereta Depok Express berangkat.
Tapi, satu orang lagi belom dateng. Faiz. Ditelpon 3 orang nggak diangkat. Di sms apalagi!
Masalah lain lagi datang…
            Ah…keretanya udah jalan. Tapi Faiz belum datang! “naik kereta berikutnya! Kereta berikutnya jam sepuluh menit lagi.” akhirnya Irfan memutuskan. “Faiz tinggal!” katanya.
Sepuluh menit kemudian.
“Udah ayo jalan!” Ajak Irfan dan Salman. Dan begitulah akhirnya, kita meninggalkan Faiz…
Terselesaikan.

Stasiun Kota Jakarta
            Weits. Selidik punya selidik, ternyata… BELOM ADA YANG DATENG SELAIN 4 ANAK DEPOK+NIKARI!!!! Oh My Gosh! Where’s Aam?
Bella(via telepon): “Am’! Lu dimana? Kita udah nyampe tau! Hah?! Apa?! Lu masih stasiun serpong? Dompet ketinggalan? AAM!!!!”
Masalah lain lagi…
            Yah…dan ternyata Aam dan anak-anak tangerang lainnya still in Serpong. Gara-gara dompet Aam yang tertinggal itu…kita (aku, bella, irfan, salman, nikari, dan Yuska-yang kita temui di museum fatahillah-dan dia udah dateng dari jam setengah 8! Sementara ini udah jam 9!) harus menunggu sampai jam 11…
            Bahkan sampai Nopul, Ali, plus Faiz-yang akhirnya naik kereta sendiri ke Jakarta Kota udah dateng, Anak Tangerang+Arum-yang dateng dari arah Bekasi-belum juga dateng!. Sampai aku, bella,  nikari udah keliling-keliling museum Fatahillah, naik turun-keluar lagi, mereka belum datang… Ya Rahman…,,, akhirnya…

10.30 depan Museum Fatahillah
            Jreng! Jreng!Jreng! Lihat siapa yang datang? Aam dan pasukannya!!!! Mereka adalah Ngeni, Akmal, Rouf, Arsy, Maryam, Anisah, dan Arum. Woy!!! Langsung aja si Aam dibantai dengan kata-kata oleh anak2 Depok!!!!....
            Yah…dari sinilah dimulai Trip kita di Kota Tua… aku nggak akan banyak cerita, tinggal lihat foto-fotonya aja! lihat foto-fotonya di :http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=1833967045&sk=photos ...Serrrrrrrrrruuuuuuuuuuuuuuuu…..
            Terakhir, perjalanan ini ditutup dengan naik sepeda dan muter-muter depan museum Fatahillah sama foto-foto…
            Dan kita, anak Depok jalan balik dengan kereta jam 17.10, anak Tangerang pulang dengan kereta jam 17.25, Arum, anak bekasi langsung pulang habis ashar bareng ibunya yang baru selesai belanja, anak Jakarta nggak tau pulang jam berapa naik busway…
Buat aku yang anak bungsu, perjalanan ini berkesan banget. Sebab, ini pertama kalinya aku naik angkot sendiri tanpa saudara ataupun orang tua, sekalipun nyasar, pertama kali juga buatku naik kereta bareng2 temen-temen SMA, pertama kali juga keluar bareng-bareng temen-temen satu sekolah setelah beberapa tahun terakhir aku nggak pernah jalan bareng temen sebayaku…













Kamis, 30 Desember 2010

Yiruma - River Flows in You




Yiruma, seorang pianis asal Korea Selatan ini (setelah aku googling ke sana kemari) ternyata udah mulai main piano sejak umurnya 5 tahun! umru segitu aku baru bisa makan bersih! jiaahahahahah...perbedaan yang sangat jauh...

Yiruma dulunya berkewarganegaraan dobel,UK atau United Kingdom sama Korsel itu sendiri.tapi pada bulan Juli 2006 dia meninggalkan kewarganegaraan UK nya dan masuk ke Republik Korea Selatan untuk ikut wajib militer.

Yiruma lulus dari The Purcell Of Specialist Music School (London) pada bulan Julin 1997, kemudian dari Kings College pada bulan Juni 2000.


Musik-musik karyanya sangat laris di US maupun Eropa sabagaimana juga laris terjual di Asia. Karyanya yang terkenal antara lain :"Kiss the Rain", "May Be" dan "River Flows in You" (First Love).

Senin, 27 Desember 2010

Tiga Kata


Aku kira ini bukanlah suatu masalah yang pelik. Aku kira ini hanya masalah sepele. Hanya tinggal mengatur sedikit emosi kita, maka jadilah! Tapi ternyata ini beda! Ini lebih rumit dari yang dibayangkan! Hal itu selalu mengaduk-aduk hatiku, membuatku mual! Tapi ini menyenangkan, membuatku melayang… aku menikmatinya. Tapi di saat yang bersamaan juga menolaknya.
Aku terdiam terpaku. Di malam hari yang begitu gemerlap itu, ia mengatakannya. Tiga kata. Hanya tiga kata! Tapi…efeknya membuatku tidak tidur selama tiga malam! Kata-kata yang dulu aku kira hanyalah…argh! Tidak tahulah apa namanya! Tapi tiga kata itu mengaduk-aduk perutku, mengacak-acak memoriku, membuatku tidak dapat berpikir jernih. Tiga kata itu membuat mataku perih, berkali-kali menangis, berhari-hari tidak tidur. Tiga kata itu menyiksaku! Tapi tiga kata itu begitu manis memabukkan…dan ketika tersadar aku telah jauh terjerat.
 “Aku cinta kamu.” Ucapannya begitu santai, tapi cukup untuk memicu jantungku berdetak lebih cepat hingga aku kira jantungku akan segera berhenti karena kelelahan berdetak.
Aku terdiam. Mematung. Di malam yang gemerlap itu, aku pulang dengan gemetar. Tidur pun tidak nyenyak. Berkali-kali tiga kata itu terulang dalam benakku. Ya Allah, kenapa urusan hati ini begitu rumit? Astaghfirullah…
Ya…Muqallibul qulub tsabbit qulubuna ‘ala dinika wa tho ‘atika…
***
Malam itu…
Sepulang dari rapat panitia acara pentas seni sekolah yang diadakan tiap semester itu aku bertemu dengannya. Dia menungguku. Duduk diam di depan pagar rumahku. Aku tercengang. Terkaget-kaget.
Melihatku sampai di depan rumah dia menoleh padaku dan berdiri.
“Kenapa? Kok di sini?” tanyaku.
“Aku nungguin kamu ”
“Nungguin aku? Kenapa?”
“Aku mau ngomong!”
“Kenapa nggak besok aja di sekolah? Lagian ini udah malam, udah jam sembilan. Kamu nungguin dari tadi?”
“Yah…belum lama kok! udah sekitar dua jam yang lalu lah…” dia tersenyum manis.
“Yeee…itu sih udah lama! Di dalam aja deh…biar enak.”
“Nggak kok. Cuma sebentar aja. Nggak lama. Kalau besok, aku takut nggak sempat…”
Aku mengerutkan keningku. Heran. Dia menungguku selama dua jam hanya untuk-‘ngomong sebentar’?
“Yaudah, apaan?” aku menunggu. Dia terdiam. Tiba-tiba senyumnya hilang. Wajahnya berubah menjadi tegang. Dia menarik nafas dalam-dalam. Dan raut mukanya menjadi santai kembali. Tersenyum dengan senyumannya yang paling manis.
“ Ra’, aku cinta kamu.” Aku terdiam. Tercengang. Seketika itu juga, degup jantungku menjadi lebih cepat.
“Ee….?” Aku bingung mau berkata apa.
Tiba-tiba sebuah ringtone HP terdengar  dari arahnya.
“Eh, bentar ya Ra!” Selama ia menelpon entah siapa, selama itu pula jantungku berdetak lebih cepat. Aku msih tak mempercayai apa yang barusan ia katakan.
“Eee, yaudah Ra’. Cuma itu kok. Aku pamit ya…Assalamu’alaikum.” Ucapnya sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Kemudian segera pergi meninggalkan Rara yang masih tak  percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Aku masuk ke dalam rumahku dengan perasaan tak karuan. Besok, ya besok! Besok harus kutanyakan padanya perihal ini! Bathinku.
Usai shalat Isya’ dan witir aku mencoba memejamkan mataku. Tapi tidak bisa! Tiga kata yang diucapkannya tadi selalu terngiang dalam benakku, membuatku sesak setiap kali mengingatnya. Astaghfirullahal Adzhim… lafadzhku memohon ampun pada Allah. Ingat Ra’! Jaga hati! Teriakku dalam hati.
***
Semalam Rara benar-benar tidak tidur. Akhirnya, usai shalat Shubuh ia bisa juga tidur selama sekitar satu jam. Ah…benar-benar deh! Urusan perasaan adalah urusan yang paling dibenci Rara. Ia sudah sering mewanti-wanti teman-temannya agar tidak terlibat urusan seperti itu selama ia SMA, karena menurutnya anak SMA itu masih kecil. Masih belum mapan untuk merasakan cinta. Masih terlalu rapuh. Dan sekarang, lihatlah! Ia kena batunya! Kalau sudah begini, kemana ia harus melangkah?
Rara berjalan dengan gontai ke sekolahnya. Sepanjang jalan tadi, ia memikirkan bagaimana ia harus memulai berbicara padanya. Juga bingung bagaimana memanggilnya. Setahu Rara, Rara bukanlah orang terlalu suka bergaul sama anak cowok. Takut malah! Kalau nggak benar-benar penting, ia nggak akan ngomong sama anak cowok. Lha, kok sekarang malah ada yang ngomong cinta sama dia. Aduh! Gawat nih…sepintas tadi ia teringat kata-kata Shabrina “Aku tuh anak Rohis yang parah Ra’. Aku udah bikin berapa anak cowok ngmong suka ke aku coba…Seandainya, aku bisa lebih jaga sikap, mungkin, nggak bakal kayak gitu Ra’…”. Rara tertegun. Berarti aku udah termasuk parah dong? Bathinnya berkecamuk. Ah! Sudahlah! Rara nggak mau ambil pusing!
Rara segera ke kelasnya yang terletak di ujung koridor ini. Di sana ia segera mencari-cari dia. Tengok kanan-tengok kiri.
                “Cari siapa Ra?” Tanya Abid, ketua kelasnya.
                “Itu Bid, Rakha udah datang belum, Bid?”
                “Ohh Rakha. Kamu nggak tau ya? Kemarin itu hari terakhir Rakha di sini.” Jawab abid santai.
                “Maksudnya apa Bid?” Tanya Rara heran.
                “Rakha pindah hari ini ke Singapur. Jauh ya?” Jawab Abid lagi, kali ini sambil cengengesan. Dalam hati, Rara jengkel juga sama Abid. Nggak liat apa aku panik nyariin Rakha, eh si Abid malah cengengesan sambil dengan santainya bilang kalau Rakha udah pindah.
                “Kamu yakin, Bid?”
                “Seratus persen yakin Ra’!” wajah Abid menunjukkan keyakinannya yang katanya seratus persen itu. Hhhhhhh… Rara menghela nafas. Ya Rabb, gimana ini?
                Selama pelajaran berlangsung Rara tidak bisa konsentrasi penuh. Apalah itu antigen! Apalah itu sudut elevasi dan depresi! Apalah itu kesetimbangan! Ah, yang Rara tahu tiga kata yang diucapkan Rakha semalam selalu terngiang dalam benaknya! Ya…Rahman, jangan sampai aku juga masih teringat dengan kata-kata itu dalam setiap shalatku…
                ***
                Sekarang, Rara benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Nomor telepon Rakha yang ia dapat dari Novi, sekertaris kelas, tidak dapat dihubungi. Nomor HP nya apalagi nomor rumahnya! Rara menghempaskan dirinya di kasurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang yang glow in the dark  itu. Ia mengingat-ingat setiap kejadiannya bersama Rakha di sekolah.
                Waktu kelas satu, ia tidak dekat dengan Rakha, tidak kenal malah! Baru kelas dua ini ia kenal Rakha. Sejak ia sekelas dengannya. Terus? Kita jarang interaksi kok…Apa ya? Paling pinjem pulpen. Mmmm…pinjem penghapus? Terus apalagi? Rara memutar lagi memorinya selama beberapa bulan terakhir.
 Kalau Cuma interaksi yang gitu-gitu aja, gimana dia bisa…Argghhh! Aku nggak ngerti ah! Rara menyerah. Ia beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi. Ambil wudhu, kemudian shalat Isya’. Sialnya, dalam shalat nya, terngiang lagi kata-kata Rakha malam itu. Rara terdiam usai shalatnya. Ia berdiri lagi. Mencoba mengulangi shalat Isya’nya yang sama sekali nggak khusyu’ itu.  Ah bodo ah! Teriak Rara dalam hati sembari menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan masih mengenakan mukenanya.
Dan malam itu akhirnya Rara dapat terlelap tidur setelah berhari-hari ia terganggu dengn tiga kata itu.
***
Hari ini Rara sudah mencoba melupakan Rakha dan kejadian malam itu. Toh, mereka nggak akan bertemu dalam jangka waktu yang panjang, insya Allah. Jarak Jakarta-Singapura kan nggak kayak jarak Jakarta-Bandung. Jauuuuuuhhhh. So, kenapa mabil pusing?
Hari ini, normal. Kembali seperti semula. Rara bisa konsentrasi ke pelajarannya. Rara sekarang ngerti apa itu Aglutinasi, apa itu sudut depresi, atau pun kesetimbangan yang beberapa hari lalu dipelajarinya.
                Ahhhh…Akhirnya Rara bisa bernafas lega. Kejadian itu tidak lagi mengganggunya kini. Mungkin, Rakha salah kali…pikirnya, berhusnudzhon.
                ***
                Malam itu bintang terlihat begitu indah. Langitnya cerah. Tidak lagi mendung seperti kemarin-kemarin. Jarum jam di dinding kamar Rara menunjukkan pukul dua belas malam ketika Rara selesai mengerjakan tugas makalah yang harus dikumpulkan besok. Hoaaaaaammmm…Rara menguap lebar.
                Ia baru saja akan beranjak tidur ketika ia mendengar bunyi batu yang dilemparkan ke jendelanya beberapa kali. Rara segera meraih dan mengenakan jaket dan jilbabnya. Ia membuka gordennya sedikit. Mencari sumber batu dilempar. Pluk! Sekali lagi batu menyambar kaca jendela Rara. Untung nggak pecah! Bathin Rara. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka lebar-lebar jendelanya, tidak peduli nyamuk-nyamuk masuk ke dalam kamarnya.
                Ia tercengang dengan apa yang ia lihat. Ia mengucek matanya untuk mengecek kalau ia tidak bermimpi.
                “Rara! Turun dong!” Ucapnya di bawah sana.
                “Rakha? Kamu ngapain malem-malem begini?” tanya Rara masih tidak percaya. Ia segera berlari turun dengan mengendap-endap, takut Abinya bangun. Bisa berabe kalau abinya tahu Rara ketemuan malam-malam dengan anak cowok pula!
                “Kamu bukannya udah berangkat ke Singapur Kha?” Tanya Rara sesampainya ia di bawah.
                “Nggak. Masih besok kok. Aku Cuma mau nng…gimana ya ngomongnya.” Rakha menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
                “Sebelumnya maaf ya malem-malem gini…” Ucap Rakha akhirnya.
                “Ng, aku juga belum tidur kok Kha’. Baru selesai ngerjain makalah.” Ucap Rara sambil melempar senyum. Ah! Senyum itu! Senyum itulah yang selama ini bikin hati Rakha kebat-kebit. Sekalipun ia hanya melihat dari jauh. Seandainya Rara tahu…
                “Aku…ng…Aku mau minta maaf kemarin udah ngomong yang nggak-nggak…” Kata Rakha lagi masih dengan menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Rara masih menunggunya.
                “Ohh, aku kira kamu mau ngomong apa. Malem-malem gini…” Ucap Rara enteng, sekalipun dalam hatinya ia masih deg-degan dan terulang lagi kejadian malam itu.
                “Tapi, itu aku bener Ra’! Aku nggak bohong! “ Sanggah Rakha. Rara tercengang. Ni orang emang ya seneng banget bikin orang nggak tidur! Bathin Rara dongkol.
                “Tapi, itu, aku Cuma mau klarifikasi aja, aku…bukannya minta kamu jadi apalah itu, kekasih atau semacamnya! Nggak! Aku nggak minta itu. Cuma…” Rakha kelihatan bingung dengan apa yang diucapkannya. Nah, apalagi Rara!
                “Udahlah Kha’! Jodoh ada di tangan Allah kok… kamu nggak perlu khawatir kamu nggak dapet jodoh…,” Ucap Rara akhirnya setelah merke berdua membisu beberapa saat lamanya.
                “Bukan! Bukan itu! Eh…iya! Maksudku itu bener  tapi…Ngg” Rakha bingung lagi.
                Rara tersenyum. “Toh, kalau aku jodohmu juga, Insya Allah, Allah akan mempertemukan kita lagi kok Kha’…” Ah…senyuman Rara emang selalu bisa menyejukkan hati Rakha. Rakha tersenyum, mengangguk.
                “Ah…udah malem Ra’. Makasih ya Ra’…Aku balik. Besok aku berangkat ke Singapura. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sekali lagi, makasih Ra’…” Ucap Rakha mengakhiri percakapan tengah malam itu.
                “Iya, hati-hati ya Kha’.” Ucap Rara sembari melambaikan tangannya.
                “Ah iya. Aku lupa!” kata Rakha yang kemudian membalikkan badannya kembali ke Rara sambil merogoh tas punggungnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
                “Ini buat kamu Ra. Bukan apa-apa kok, Cuma hadiah perpisahan. Tanda terimakasih udah mau jadi temen aku.”  Kata Rakha sambil menyerahkan sebuah boneka teddy bear coklat. Kecil. Tapi imut. Mata Rara berbinar-binar menerimanya.
                “Mestinya kamu nggak usah repot begini Kha’!” ujar Rara sambil menerima hadiahnya.
                R akha hanya tersenyum menanggapi. “Udah, tidur gih Ra’. Besok kamu sekolah kan…” ujar Rakha akhirnya.
                “Iya. Dah Rakha. Assalamualaikum. Aku duluan ya…” Ucap Rara sambil melambaikan tangannya seraya masuk ekmbali ke dalam rumahnya. Rakha terus memperhatikan Rara hingga ia menghilang di balik pintu rumahnya. Ah…Rara, Rara…Seandainya kau tahu, hati ini sudah lama terpaut padamu. 
                Rara…Rara…seandainya kau tahu, kejadian-kejadian yang hanya sekadar pinjam pulepen atau penghapus itu terekam begitu kuatnya dalam memoriku…
                Seandainya kau tahu, kau sudah membuat hatiku kebat-kebit sejak pertama kali kau tersenyum padaku…
Rara…Rara… Ah sudahlah Kha’! Kalau jodoh juga nggak kemana!  Batin Rakha sembari berlalu pergi dari rumah Rara.
***
Rakha
                Sore itu, Rakha langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dia harus mengklarifikasi perkataannya kemarin! Entah mengapa ia yakin kalau ia sudah membuat Rara tidak tidur bermalam-malam karena perkataannya kemarin.
                Tapi, malam itu ketika bertemu dengan Rara, pikirannya tiba-tiba blank. Entah apa yang harus is katakan pada Rara. Ah! Lihatlah Rara tersenyum kepadanya. Dia nggak marah. Dia tersenyum. Senyuman yang terus-terusan membuat hari-hari Rakha dipenuhi olehnya.
Ah…Rara…Rara.
                Rakha berjalan gontai mencari taxi menuju ke bandara. Dalam hatinya ia berharap bahwa Raralah yang akan menjadi pendamping hidupnya.
                ***
Rara
                Sekembalinya Rara ke kamar, kembali ia tidak bisa tidur. Ah! RAkha…Rakha, hobi banget sih bikin orang nggak bisa tidur! Rara tersenyum memandang teddy bear yang ada di tangannya.
                Yah…kalau jodoh mah nggak ke mana! Tegas Rara dalam hati. Kemudian ia terlelap hingga pagi datang.
                ***   
Depok, 26 Desember 2010
23.13 WIB
N.Ch.

Kamis, 23 Desember 2010

Ketika Aku Membenci Ibu


Ini hanya cerita lama. Cerita yang mungkin menurut sebagian besar orang tidak menarik.Tapi, biarkanlah aku menceritakannya padamu, biar hati ini lega karena telah mengungkapkannya-apa yang selama ini selalu kutahan dan kusimpan dalam-dalam.
Sore itu, angin berhembus pelan, masuk perlahan melalui celah jendela kamarku yang terbuka sedikit.Semburat merah masih mengawang di langit sore yang meninggalkan kesan damai dalam hati.Aku terdiam.Menarik nafas panjang. Hhhhhhhhhhhhh… teringat akan Ibu yang sedang menjalani operasi di rumah sakit. Mataku memerah.Panas.Menghela nafas lagi.Mulutku komat-kamit, berdo’a bagi keselamatan Ibu.
Padahal, baru saja, tidak lama kok…baru enam bulan terakhir ini, sejak aku masuk SMA, aku baru dekat dengan Ibu.Baru sering berbagi cerita semasa sekolah dengan Ibu. Baru sering hang outbersama ibu, ke mall, mencari baju, wisata kuliner, atau bahkan kalau rezeki ibu belum turun, hanya sekadar mencuci mata sambil bercerita. Tidak lama kok, baru enam bulan terakhir ini aku sering bercerita soal cinta yang sedang melanda hatiku.Baru saja.Belum lama.Enam bulan bukan waktu yang lama.Hanya seper tigapuluh dari kehidupanku sejak aku lahir hingga sekarang.
Tidak.Aku tidak dekat dengan Ibu sejak kecil.Bagiku, sosok ibu sulit dijangkau.Sosok ibu bagai diselimuti kabut.Sewaktu kecil, aku sering iri dengan adik sepupuku. Tante Septi, adalah ibu idaman menurutku. Beliau tidak pernah memarahi anaknya sebab kesalahannya.Sementara aku?Bahkan, aku mengerjakan sesuatu yang disuruh Ibu pun, aku masih dimarahi.Entah kenapa.
Sesak.Aku teringat waktu aku masih duduk di Taman Kanak-Kanak dulu.Ibu tidak pernah menemaniku di dalam kelas. Sampai aku menangis pun, pada akhirnya, Bu Meta, salah satu guruku lah yang menggendongku, mengajakku bermain, mendiamkanku. Ibu tidak pernah masuk ke dalam kelasku. Hanya berdiri memandang di depan kelas, bahkan pergi dari TK ku. Sekali aku keluar mengejar Ibu, beliau pasti menyuruhku masuk ke dalam kelas lagi.Berkata dengan nada ketus, “Udah sana! Balik ke kelas! Jangan jadi anak manja!”aku menangis saat itu, ditonton seluruh anak-anak di Taman Kanak-Kanak. Sejak saat itu, aku berpikir bahwa ibu tidak sayang padaku.Ibu tidak peduli pada anaknya.
Hhhhhhhhh…aku menghela nafas lagi.Kali ini air mataku benar-benar menetes sebutir-sebutir di pipiku.Sewaktu di Sekolah Dasar, segemilang apapun prestasi yang kudapat, ibu tidak pernah memberiku hadiah.Tidak pernah mengungkitnya di depanku.Hanya seulas senyuman tipis di bibirnya.Hanya itu.Dulu, aku iri.Iri dengan teman-temanku.Setiap kali masuk tahun ajaran baru, bu guru atau pak guru pasti bertanya kepada para anak-anak yang berprestasi, termasuk aku, “Dapat apa dari ayah dan ibunya?”dan setiap anak menjawab dengan semangat, “Dapat tas pak!”atau“Dapat sepatu pak!”dan yang lebih mengesankan lagi “Dapat sepeda pak!”. Jujur, aku iri dengan mereka yang mendapat apresiasi  atas prestasi yang diraihnya.
Dulu juga, setiap kali aku bercerita masalahku kepada Ibu.Ibu tak pernah menanggapi. Dengan santai beliau berkata, “itu kan salahmu!”atau “Cobalah berpikir dari sisi orang lain, jangan hanya dari dirimu sendiri!”.Dulu, aku yang masih kecil, kesal dengan tanggapan ibu, yang menurutku-tidak menghasilkan jalan keluar.
Aku juga kesal, kalau sudah membahas PR dari guru.Ibu SAMA SEKALI tidak pernah membantuku.Pasti ngeles kalau ibu sudah lupalah, ibu sedang sibuklah, dan macam-amacam alasannya.Makanya, aku tidak pernah bertanya apapun kepada ibu.Tidak pernah bercerita apapun pada ibu.Rasanya hanya interaksi kosong di antara kita.
Hingga akhirnya, saat SMP, aku masuk sekolah berasrama yang jauh dari rumah. Sengaja! Aku bosan dengan suasana rumah! Aku ingin menghindari ibu sejauh-jauhnya! Aku nggak tahan berada dekat ibu! Aku nggak tau harus berbicara apa kalau berhdapan dengan ibu! Aku ingin menghindari suasana kosong ini.Ingin suasana baru.Tidak ingin diam saja.Aku iri dengan teman-temanku yang punya ibu yang baik.Bahkan, ibu hanya mengantarku dan langsung pulang, ketika seharusnya aku masuk ke sekolah asrama.
Aku benci mengakui ini. Aku benci mengakui bahwa, ketika ditinggal ibu, aku merasa kehilangan beliau! Aku benci mengakui setiap kali melihat teman-teman dijenguk oleh ibunya, aku juga teringat akan ibu! Aku benci mengakui bahwa ternyata aku butuh ibuku! Aku benci mengakui bahwa setiap air mata yang menetes dari mataku adalah untuk ibuku! Dan aku benci mengetahui bahwa aku nyaman berada dekat dengan ibuku…
Aku benci.
Aku benci. Tapi, ternyata memang ini yang kurasakan! Kerinduan yang mendalam ini memang tertuju pada ibuku! Bukan kakak-kakakku, bukan ayahku, apalagi teman-temanku. Kerinduan ini memang untuk ibuku! Bukan untuk siapa-siapa… hanya untuk ibu…
Hhhhhh…aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.Menatap langit yang masih memerah.Tes…tes…Ibu… seandainya aku tahu lebih cepat.
Seandainya aku tahu lebih cepat, bahwa ibu tidak pernah mau tinggal di kelasku sewaktu aku TK adalah agar aku yang anak bungsu tidak selalu bergantung pada ibu.Agar aku yang anak bungsu, berani menghadapi orang-orang yang ada di sekitarku. Seandainya aku tahu lebih cepat, bahwa ibu sebenarnya selalu membicarakanku yang mendapat prestasi di depan teman-temannya, dan beliau tidak pernah mau memujiku berlebihan adalah agar aku tidak mudah puas dengan apa yang sudah kuterima. Seandainya aku tahu lebih cepat bahwa, ibu selalu berkata “itu kan salahmu!”atau “Cobalah berpikir dari sisi orang lain, jangan hanya dari dirimu sendiri!” adalah agar aku benar-benar berpikir objektif, agar aku selalu mengintropeksi diriku sendiri dan tidak melulu menyalahkan kondisi ataupun orang lain. Seandainya aku tahu lebih cepat, bahwa ibu sebenarnya berusaha dengan keras mencari jawaban-jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan setiap kali membahas PR di luar sepengatahuanku.
Dan seandainya aku tahu lebih cepat, bahwa selama aku bersekolah di sekolah berasrama, ibu selalu menangis untukku. Setiap kali makan makanan yang kusukai, ibu menangis, memikirkan “Anakku di sana makan apa ya? Apakah dia makan makanan yang disukainya? Atau hanya sekadar makan nasi dengan tempe?”. Setiap kali ibu nonton tv, ibu menangis dan berpikir “di sana anakku nggak bisa nonton film yang disukainya bersamaku lagi. Dia harus belajar terus-terusan…”. Setiap kali ibu tidur di kasurnya, ibu menangis, lagi-lagi berpikir tentang aku, si anak bungsunya, “di sana, apakah anakku tidur dengan nyaman?”. Seandainya aku tahu lebih cepat, bahwa di setiap sujud ibu, ibu menangis, menghamba pada Yang Maha Esa, agar aku, si anak bungsunya, yang tidak penah dekat dengannya, yang selalu menghindarinya, yang selalu  mencacimakinya walau hanya dalam bathin, selalu sehat, sukses, bahagia, dan mendapatkan lingkungan yang baik.
Seandainya aku tahu lebih cepat bahwa ibu selalu khawatir akan diriku…
Selalu khawatir setiap kali aku pulang telat dari sekolah…
Selalu khawatir ketika aku sakit, sekalipun aku tidak memberitahunya. Ibu tahu aku sakit! Padahal, menelponnnya saja aku tidak! Ibu tahu aku banyak masalah! Padahal berbicara dengannya saja aku tidak! Ibu selalu tahu kondisiku! Padahal…aku menjauhinya…
Ya…Allah… Seandainya aku dekat dengan ibu lebih cepat…
Isak tangisku mengeras ketika memikirkan ibu.Harap-harap cemas.Khawatir jika ibu kenapa-napa.Khawatir jika aku tak lagi dapat bertemu dengan ibu…Hhhhhhhhhh…aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.Merebahkan kepalaku di atas bantal.Menatap langit-langi kamar dengan air mata yang masih terus mengalir.
Ibu…
Tok! Tok! Tok! Pintu kamarku diketuk pelan. “Dik?” Tanya sebuah suara di luar sana.
“Ya Mas?” jawabku berusaha menyembunyikan getar dalam nada suaraku.
“Ibu telepon tuh, katanya mau ngomong sama kamu!”
“Lho?!Operasinya udah selesai Mas?”
“Udah dari beberapa jam yang lalu kok…Cepet gih, ditungguin tuh!”
“Iya! Iya!” aku menyeka air mataku dan segera berlari keluar kamar, menyambar gagang telepon yang dipegang kakakku yang lain.
“Halo, Assalamu’alaikum?” ucapku pelan.
“Wa ‘alaikum salam Dik…” jawab ibu. Suaranya terdengar amat lelah.
“Ibu?Ibu gimana operasinya…?” tanyaku menahan tangis.
Kemudian ibu bercerita panjang tentang pengalamannya sehari penuh di rumah sakit.Sesekali tertawa.Sesekali mengeluh.Sesekali serius.Dan tertawa lagi.
“Yaudah Dik, belajar gih, besok ada ulangan apa?” Tanya ibu seakan mau mengakhiri teleponnya.
“Nggak ada ulangan kok Bu.”
……. Sesaat kita berdua diam. Meresapi setiap pembicaraan.
“Bu?” panggilku.
“Hmm?”
“Aku sayang Ibu, Aku mau minta maaf sama Ibu, selama ini aku nggak pernah berbakti sama Ibu…” tangisku pecah tak tertahankan. Entah bagaimana caranya, aku merasa bahwa di seberang sana Ibu tersenyum menanggapi setiap tangisku. Beliau menunggu lama sekali hingga aku selesai menangis.
“Ibu tahu kok.Ibu juga sayang adik. Sayang banget…”
“Maaf ya Bu…”
“Maaf kenapa?Nggak ada yang perlu dimaafin, dalam hidup yang namanya salah adalah sesuatu yang biasa, tinggal bagaimana kita menghadapinya saja.Ibu nggak pernah merasa didurhakai kok…hahahaha” Ibu tertawa kecil menanggapi.Aku tersenyum. Menghapus air mataku.
“Udah sana belajar! Udah ya…Assalamualaikum”
“Wa’alaikum salam…” aku menutup gagang telepon. Terisak kembali.
Ya…Allah, betapa Engkau telah memberiku Ibu yang amat baik bagiku…
Terima kasih Allah…